Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Pressure Dan Penyesalan Seorang Kakak


__ADS_3

Kali ini Nadira tak bisa bersikap pura-pura tenang lagi. Setelah Arash selesai menghujam miliknya beberapa kali sampai memuntahkan lahar, Nadira menangis cukup kencang di ruang markas yang menjadi saksi bisu perlakuan kasar Arash terhadap tawanan nafsunya itu.


"Diam! Pake lagi seragam kamu!" Arash melempar seragam Nadira yang nyaris koyak ke atas tubuh Nadira yang polos tak tertutup sehelai benang pun.


Nadira terus menangis. Rasanya sial sekali menjadi dirinya. Entah sampai kapan Nadira akan ada di dalam posisi ini.


"Cepet lah! Aku harus pulang," kata Arash yang sudah memakai kembali pakaiannya.


Nadira tetap menangis perih setengah histeris. Masa depannya sudah benar-benar hancur, seolah tak akan ada lagi kesempatan untuk dirinya meraih kebebasan dan kebahagiaan di masa depan.


"Malah mewek! Kalo mama nggak nelpon terus, aku nggak akan berhenti sampai di sini aja! Aku akan bikin kamu sesak nafas dan nyesel karena udah bersikap kurang ajar pada seorang Arash!"


Nadira ingin berhenti menangis, tapi menahan isak malah terasa lebih membuat dadanya sesak. Perlahan dia memunguti pakaian dalam, memakainya sambil tak berhenti terisak.


Arash menatapnya tanpa rasa bersalah. Dia malah merasa puas karena sukses membuat Nadira ada pada titik terendahnya saat ini.


*


*


Sesampainya di rumah, Nadira pergi ke kamar mandi lalu mengguyur sekujur tubuhnya di bawah shower. Masih dengan seragam yang dipakainya.


"Aaargghhhhhhh!" teriaknya sangat histeris lalu mencakar-cakar beberapa bagian tubuhnya dengan sengaja.


Nadira tak ingin pergi dari kamar mandinya, dia ingin meluruhkan setiap sentuhan Arash padanya. Nadira menangis di bawah guyuran shower itu tiada henti, sangat lama, benar-benar lama sampai dia tak ingat lagi dimana dirinya berada sekarang.


Galang pulang ke rumah setelah beberapa hari tak pulang. Jika uangnya habis, maka ia akan pulang. Dia pulang masih dengan sisa lebam di wajah.


"Nad!" seru Galang sambil mencari keberadaan adiknya.


Galang tak menemukan Nadira di ruang bawah. Dia lantas naik ke lantai dua rumah untuk mencari Nadira di kamarnya.


Tok tok, "Nad! Pinjem duit dong, gope aja! Buat bayar tagihan pay later nih!" seru Galang lagi sembari mengetuk pintu kamar Nadira.


Dia cukup sabar menunggu tapi lama-lama kesal karena tak ada jawaban dari dalam kamar.


"Woy, Nad! Ayo lah, jangan pura-pura tidur! Uang mahar yang dikasih si Arash malam itu masih ada kan? Sini kakak pinjam!" seru Galang mulai tak sabaran.


Setelah menunggu cukup lama tetap tak ada jawaban, Galang langsung saja nyelonong masuk ke dalam kamar sang adik dan tetap tak melihat keberadaan Nadira. Galang hanya melihat tas sekolah dan handphone yang tergeletak begitu saja di atas kasur.


"Nad!" Galang mendekat ke arah pintu kamar mandi dan hanya mendengar suara shower yang masih mengalir deras.


"Nad! Kakak ambil sendiri aja dari dompet kamu ya, nanti kalo tante Dewi ngasih jatah kakak, kakak balikin duitnya ke kamu," seru Galang tiada jemu walau tetap tak mendapat jawaban.

__ADS_1


Tetap tak ada jawaban. Tadinya Galang tak ingin peduli, tapi terdorong rasa penasaran, Galang iseng memutar knop pintu kamar mandi dan ternyata memang tidak dikunci.


"Nad!" Mata Galang terbeliak kaget melihat adiknya tergeletak begitu saja tak sadarkan diri dengan tubuh basah kuyup di bawah guyuran shower itu.


"Kamu kenapa, Nad?" Galang mematikan keran showernya lalu mencoba membangunkan Nadira. Galang mengangkat tubuh lemas itu tak peduli walau dirinya harus kebasahan.


"Nad! Ya ampun, Nad ...." Galang panik tak karuan. Galang membaringkan Nadira di atas karpet lalu mencari handuk untuk mengeringkan tubuh adiknya.


Galang membuka seragam Nadira dan melihat sekujur dada Nadira sudah dipenuhi dengan tanda merah. Sejenak Galang terdiam dan dia tahu kalau itu pasti ulah Arash.


Beberapa saat Galang terdiam dan merasa menyesal. Galang beranggapan kalau adiknya tertekan karena perlakuan Arash, dan itu semua berawal karena dirinya.


"Maafin Kakak, Nad ...." gumam Galang penuh sesal. Tapi semuanya sudah terlambat sekarang. Untuk kali pertama, Galang menangis, menangis di hadapan adiknya yang pingsan terkulai lemas. Galang juga kebingungan, apa yang harus dia lakukan setelah ini?


*


*


Di saat Nadira sedang mengalami tekanan yang hebat, Arash masih bisa tertawa-tawa menikmati dunianya.


Malam ini Arash ditantang untuk balapan oleh beberapa komunitas bermotor yang memang rutin mengadakan event balap di sebuah sirkuit ilegal. Di saat malam kian larut, maka sebuah jalan akan disterilkan oleh para pemuda geng motor itu untuk dijadikan arena balap.


Hingar bingar kian terasa saat malam telah menuju puncaknya. Bukan semata uang taruhan yang bernilai belasan juta, tapi tujuan utama para pembalap adalah untuk menasbihkan diri sebagai pembalap jalanan terbaik dan mendapat semua penghormatan.


"Lo pasti babat habis lawan lo malam ini, Rash!" semangati Irfan lalu memastikan kalau Arash siap untuk memulai balap.


"Charger apaan?" tanya Jimmy agak loading.


"Colokan! Buat bikin stamina sama energi On lagi! Alaaah, sok polos lo, Jim! Lo juga kan punya, Si Astri! Itu dia charger lo!" jelaskan Pradit dengan perumpamaan.


"Bentar bentar, charger itu kan yang dicolokin ke konektor! Lo salah lah dit, yang charger itu gue! Yang minta dicharge itu yaa si Astri!"


"Ya kira-kira begitu lah! Sama aja kan?"


"Ya beda lah! Kalo menganalogikan sesuatu itu harus relate, Bro!"


"Yaelaa, sama aja lah Jim."


"Berisik banget kalian! Perkara charger aja diributin! Fokus lah, si Arash harus menang malam ini! Pastikan nggak ada sabotase, pokoknya nggak boleh nggak, malam ini si Arash harus menang!" kata Irfan mencoba melerai Pradit yang Jimmy yang selalu meributkan hal remeh.


"Malam ini prize-nya apaan? Duit aja? Nggak ada extras?" tanya Pradit.


"Katanya selain duit, pemenang balap malam ini juga bakalan dapat malam panas sama si Kate! Itu dia! Layanan plus plus akomodasi!" jawab Irfan lalu menunjuk pada seorang perempuan seksi berpakaian serba minim yang sedang memegang bendera bermotif papan catur sebagai sign untuk memulai dan mengakhiri balapan.

__ADS_1


"Wadidaaawww! Super bonus itu, Rash! Bisa mantap mantap sama si Kate kan bonus yang nggak boleh dilewatkan!" goda Pradit dan dia yang paling antusias. Matanya tak bisa tak jelalatan jika melihat perempuan seksi.


"Kalo gue menang, gue akan serahkan bonus itu buat lo!" kata Arash yang sudah stand by di atas tunggangannya.


"Serius? Lo nggak mau?" tanya Pradit girang.


"Nggak!" jawab Arash dengan tegas. Nadira sudah lebih dari cukup bagi Arash. Arash memang bukan tipe player yang suka celap celup sana sini.


"Oke oke! Gue akan berdoa semoga lo menang!"


"Threesome boleh, kan? Bagi dua lah sama gue!" kata Jimmy yang diam-diam juga mau.


"No way!" sahut Pradit.


"Maruk amat lo, Dit!"


Arash dan Irfan hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua temannya itu. Mereka memang tak bisa tahan kalau melihat wanita seksi. Beda dengan Arash dan Irfan yang bisa menjaga matanya lebih baik dari yang lainnya.


Balapan akan segera dimulai, akankah Arash memenangkan balapan itu dan menempati supremasi tertinggi sebagai ketua geng motor paling superior di kota ini?


*


*


Galang merawat adiknya dengan cukup telaten. Walau tak dibantu dengan tenaga medis, tapi beberapa saat kemudian setelah mengalami pingsan, Nadira mulai siuman, mulai tenang tapi tatapan matanya kosong, pikirannya juga melabur jauh entah kemana.


Galang membuatkan teh hangat dan dengan telaten menghangatkan Nadira dengan minyak angin beraroma hangat.


"Si Arash masih suka neror kamu?" tanya Galang.


Nadira tak menjawab dan tatapan matanya tetap kosong.


"Nad, maafin kakak yaa ...." ucap Galang penuh sesal kemudian.


"Kakak nggak tahu kalau semuanya akan jadi begini. Kirain si Arash cuma mau ngambil haknya sekali aja," sambung Galang.


Nadira tetap senyap. Seolah dia tak merasakan apa pun.


"Nad ...."


"Antarkan aku ke Bandung!" Akhirnya Nadira bersuara, dan minta diantar ke kota Bandung.


"Ke Bandung?"

__ADS_1


"Ya! Antarkan aku ke rumah tante Dewi!"


Mungkin saja, Nadira ingin menepi dan menghindari Arash untuk beberapa saat. Nadira ingin memulihkan luka di hati dan jiwanya ....


__ADS_2