
Resah dan gelisah melanda. Masalah nafsu makan yang terganggu, Nadira tak terlalu peduli soal itu. Dia sedang menghitung hari demi hari dan menantikan siklus bulanannya dan sudah lewat beberapa hari, dia tetap tidak haid juga.
Hal itu mendorong Nadira untuk membeli tespek dan menggunakannya sepulang sekolah.
Sesampainya di rumah, Nadira langsung pergi ke kamar mandi dan menggunakan tespek itu. Dia mengikuti langkah-langkahnya dengan cermat. Hati bergemuruh, tangan gemetar dan Nadira sedang menunggu hasilnya.
"Nggak! Jangan garis dua, jangan garis dua ...." gumamnya sambil duduk menunggu di toilet. Nadira memejam mata dan rasanya tak siap untuk melihat hasilnya.
Perlahan Nadira membuka mata dan apa yang dia lihat?
Seketika Nadira menangis frustrasi detik itu juga. Hasil yang dia harapkan tidak terjadi, nyatanya, hasil tespeknya adalah 2 garis merah yang mana artinya adalah Nadira telah hamil. Arash sudah berhasil menanamkan benihnya di rahim Nadira dan sungguh Nadira hancur dibuatnya.
Hancur sekali ....
*
*
Arash sudah pulih walau belum fit 100%. Dia bosan jadi pesakitan di rumah. Malam minggu dia kembali beredar bersama kawan-kawannya mencari kesenangan.
Tapi dia tidak segagah biasanya. Tawaran untuk turun balapan juga tak bisa dipenuhi oleh Arash karena merasa sedang tidak maksimal.
"Lo sakit apa sih, Rash? Udah cek ke dokter?" tanya Jimmy agak heran.
Selepas acara balapan, Arash dan Jimmy menepi ke sebuah angkringan, tiba-tiba Arash memang ingin minum wedang sementara anggota Thunder yang lain melanjutkan night ride mereka menyusuri jalan-jalan arteri di Ibukota.
"Nggak! Ini bukan sakit yang pernah gue alami sebelum-sebelumnya, bawaannya mual, nggak ada nafsu makan, maunya makan yang seger-seger! Random banget pokoknya, sialan sih, rasanya nggak enak banget," jawab Arash sambil misuh-misuh.
"Lah, kok kayak orang ngidam aja lo, Rash?"
"Ngidam? Ngaco lo!"
"Yaa, setau gue gitu! Pas nyokap hamil adek gue yang paling bontot, tiap hari misuh-misuh karena semua gejala yang lo alami itu!"
__ADS_1
"Lo jangan ngawur! Gue laki woy! Gue jantan! Maksud lo gue ngidam apa? Otak lo emang cuma separoh ya?" Arash ngegas lagi.
"Ya kan gue cuma ngasih contoh! Ya kali si Nad hamil terus lo yang ngerasain semua gejalanya! Bisa aja kan?"
Arash terdiam. Arash mencoba mencerna kata-kata Jimmy. Apa mungkin itu terjadi? Arash ingat-ingat lagi, dan dia memang sudah meluncurkan miliaran kecebongnya ke ruang rahim mantan istri rahasianya itu.
"Make sense sih," gumam Arash dan kembali dia ingat pada Nadira.
"Ya udah, coba aja lo tanya langsung ke orangnya! Mumpung baru awal, kalian masih bisa akalin pake nanas muda," usul Jimmy dengan entengnya.
"Nanas muda? Ngapain?"
"Yaelaaa, lo nggak ada pengalaman ya Bro? Ya itu, biar bakal kecebong lo yang udah nemplok di rahim si Nad luruh, nggak akan jadi bayi! Gimana sih lo, masa gue harus jelasin sampe detail!" bisik Jimmy.
Baru lah Arash mengerti maksud Jimmy. Arash hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Sebelum ketahuan orang-orang! Sebelum ketahuan bokap nyokap lo, terutama sebelum ketahuan sama si Vin!" bisik Jimmy lagi.
"Biarin aja lah! Gue nggak peduli. Dia udah blok nomor gue, gue juga udah blok nomor dia! Tiap ketemu dia sok jual mahal seolah nggak pernah kenal gue! Males gue urusan lagi sama bocah ingusan itu!" kata Arash sok cuek, padahal hatinya makin terusik dan tiba-tiba ingin menemui Nadira untuk membahas soal dugaan kehamilan itu.
"Yang hamil kan si Nad, yang ngurus paling nyokap gue, santai aja lah. Kalo gue gugurin anak itu, yaa sama aja lah gue kayak pembunuh."
"Ciih, lagak lo! Udah berapa korban yang udah lo bully sampai hampir bunuh diri karena frustasi?"
"Aah, omongan lo melebar kemana-mana! Nggak nyambung!"
"Yaa gue sih cuma nyaranin aja, tanggung sendiri akibat kalo lo nggak dengerin saran dari gue tadi, Rash."
"Serah lu aja!"
Arash terlihat tak peduli walau di dalam hati dia juga ikut gelisah. Bagaimana kalau benar Nadira hamil? Apa yang selanjutnya akan terjadi nanti?
*
__ADS_1
*
Nadira dan Galang duduk bersama di meja makan. Sekali lagi Galang dibuat merasakan penyesalan terbesar di dalam hidupnya. Kedua anak yatim piatu itu duduk dengan tespek bergaris 2 di atas meja.
Nadira cukup tertekan. Wajahnya muram dan basah sepanjang hari ini, Nadira tak bisa berhenti menangis.
"Ya udah, nanti Kakak bilangin ini ke si Arash," kata Galang tak bisa memberi solusi tepat apa pun.
"Nggak! Dia nggak boleh tahu!" cegah Nadira penuh emosi.
"Tapi kamu hamil anaknya si Arash kan, Nad? Ya dia harus tahu lah! Dia harus tanggung jawab!"
"Aku kira urusanku sama bajingan itu udah selesai! Aku baru aja menghela udara segar beberapa minggu saja, dan sekarang malah timbul masalah besar kayak gini?" Biasanya Nadira quite tak banyak bicara, kali ini dia mencurahkan seluruh emosinya. Sambil menangis, sambil meluapkan amarah.
"Yaa masalah kayak gini nggak bisa kita tutup-tutupi, Nad. Tante Dewi sama Om Ryan juga perlu tahu, biar mereka nyari solusi buat kamu ...."
"Nggak! Mereka jangan sampai tahu? Apa kata mereka nanti, huh?"
"Ya sekalian aja Kakak bilangin kalo kalian sempat menikah siri, dan Kakak akan akui kalo ini semua kesalahan kakak!" tegas Galang.
Nadira hanya geleng-geleng kepala dan tetap tak bisa berhenti menangis.
"Yang penting ini nggak sampai bocor ke orang luar biar kamu bisa tetap nyelesein sekolah kamu, Nad!" tambah Galang.
"Apa aku gugurin aja sebelum orang-orang tahu?" Nadira berpikir gila dan terlintas untuk menggugurkannya.
Sejenak Galang terdiam lagi. Di dalam pergaulan bebasnya, Galang pernah mengetahui beberapa teman perempuan yang melakukan aborsi dan itu sangat riskan, apa lagi Nadira masih sangat belia.
"Tapi ... Itu sama aja aku kayak seorang pembunuh ...." lanjut Nadira lalu step down lagi menjatuhkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
"Dan itu cukup riskan ...." sambung Galang.
"Dan Kakak lah yang membuat hidupku jadi penuh resiko kayak gini!" bentak Nadira belum bisa mengendalikan emosi.
__ADS_1
Galang hanya menunduk dan tak membantah. Memang benar, semuanya berawal dari hutang 20 juta itu, hingga kini menyeret masa depan adiknya sendiri.
"Ya Tuhan, ampuni aku ... Ayah, Ibu ... Maafkan aku ...." ratap Nadira dan belum ada solusi yang mereka dapatkan. Entah bagaimana nasib Nadira setelah ini, akankah semuanya akan menjadi lebih baik?