Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Adek Ketemu Gede


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Arash dan Nadira sama-sama mempertahankan penyangkalan atas perasaan mereka. Mereka juga sama-sama berusaha menepis bayang kenangan biru yang pernah mereka lalui.


Arash berusaha melupakan Nadira dan begitu juga sebaliknya. Sisi positifnya, Arash tak lagi mengusik hidup Nadira dan semua orang yang ada di dekat Nadira, termasuk Arka yang waktu itu sempat mendapat ancaman samar dari Arash.


Sekarang, setiap weekend Arka selalu meluangkan waktu untuk pulang ke Jakarta dan masih dalam upaya pencarian Nadira. Dan hari ini, akhirnya Arka menemukan keberadaan gadis SMA penuh pesona itu.


"Pake seragam putih abu malah tambah gemesin," gumam Arka saat melihat Nadira di antara keramaian siswa/siswi Harapan Bangsa yang baru bubaran sekolah. Arka tetap menunggu di dalam mobil dan matanya fokus menatap Nadira yang berjalan bersama dengan Ami.


"Besok deh kita ke toko buku buat nyari referensi, tugasnya kan harus selesai sampai akhir bulan ini," kata Ami.


"Oke, pokoknya besok kita janjian di toko bukunya aja ya langsung," sahut Nadira.


"Oke oke ...."


Perhatian Nadira teralihkan dengan mobil berwarna putih yang cukup Nadira kenali. Mobil itu adalah mobil yang sempat ia gores di depan warung seblak waktu di Bandung.


"Kok kayak kenal mobilnya? Jangan-jangan?" gumam Nadira dan menghentikan langkah.


"Ayok, Nad. Angkotnya keburu penuh tuh," ajak Ami sambil menarik-narik tangan Nadira.


"Bentar, Mi. Itu kok kayak mobil Kak Arka ya?"


"Mana? Kak Arka siapa sih? Yang mobilnya sempat kamu gores waktu di Bandung?" Ami celingak celinguk mencari mobil yang Nadira maksud.


"Iya."


Dan benar saja, tak lama setelah Nadira menyadari keberadaan mobil Arka, sang pemilik muncul dan melempar senyum manis jauh ke arah Nadira yang ada di seberang jalan.


"Ya ampun! Itu yang namanya Kak Arka? Cakep banget woyy," kata Ami penuh rasa kagum.


"Mau ngapain sih Kak Arka ke sini?" gumam Nadira merasa tidak nyaman lagi sebab Arka malah menyebrang menghampiri dirinya.


"Serius, Nad! Nggak kalah cakep sama Kak Arash! Kenapa sih nasib kamu selalu dikerubuni sama cogan-cogan kualitas premium? Kenapa?" Ami terus mengoceh tak bisa menahan perasaannya di saat Arka semakin mendekat.


"Setelah 2 minggu, akhirnya saya menemukan kamu di sini," sapa Arka dengan wajah sumringah. Seolah Arka baru saja menemukan berliannya yang hilang.


"Kok Kak Arka ada di sini?" tanya Nadira bersikap tidak nyaman karena lagi dan lagi dirinya menjadi pusat perhatian teman-temannya.


"Tiap weekend saya pulang ke sini, orangtua saya kan emang ada di sini."


Ami meleleh dan tak bisa berkedip menatap Arka yang tampil lebih sopan dan berwibawa dari pada Arash.


"Lebih mature, lebih hangat, lebih lebih deh pokoknya, Nad." Ami berbisik-bisik di belakang Nadira, tapi Nadira tidak terpengaruh.


"Saya anterin pulang ya," tawarkan Arka.

__ADS_1


"Aku sama temanku mau ke toko buku dulu, kak." Nadira mencari alasan agar tak pulang dengan Arka. Sungguh, Nadira hanya tak ingin dipandang sebagai seorang 'play girl'.


"Nad, ke toko bukunya sekarang aja, kan lumayan hemat ongkos kita jadinya," bisik Ami tapi bisikannya terdengar oleh Arka.


"Ami, iih!" Nadira menoleh lalu melotot pada Ami.


"Ide bagus. Kebetulan banget saya juga mau nyari beberapa buku buat tugas kuliah," sela Arka yang memanfaatkan keadaan.


"Nah? Kayaknya hari ini kita emang udah ditakdirkan buat sama-sama ke toko buku sama Kak Arka," kata Ami dengan wajah innocent-nya membuat Nadira sebal.


"Ya udah tunggu apa pagi? Ayo, kita pergi sekarang," ajak Arka dan mengajak kedua anak SMA itu untuk menyebrang menuju ke mobilnya.


"Ayok ayok kak," sahut Ami penuh semangat dan menyebrang lebih dulu, sementara Nadira masih diam di tempat.


"Ayo, Nad ...." ajak Arka.


Melihat semangat Ami, Nadira pun tak bisa mencari alasan untuk menolak lagi. Akhirnya Nadira mau.


Tanpa Nadira sadari, di sudut lain jalan ada Jimmy yang kebetulan diberi tugas menjemput Bella yang merupakan adiknya oleh ibunya.


"Wah, bini si Arash udah move on kayaknya!" pikir Jimmy. Jimmy sudah tahu kalau Nadira dan Arash sudah mengakhiri hubungan toxic mereka.


*


*


Ini adalah hari terakhir Vinara ada di Jakarta, setiap hari Arash selalu menemani kemana pun Vinara ingin pergi, dan siang ini Vinara meminta untuk diajak ke toko buku. Mungkin kali ini semesta akan kembali mempertemukan Arash dan Nadira di dalam situasi yang tidak menguntungkan.


"Ini book store yang paling lengkap di sini, kan?" tanya Vinara saat turun dari motor Arash.


"Iya," jawab Arash lalu melepaskan helm Vinara dengan hati-hati.


Momen itu terjadi di saat mobil Arka masuk ke dalam halaman parkir toko buku itu. Tentu saja Nadira bisa melihat hal itu dengan jelas sebab Arka memarkir mobilnya tepat di samping motor Arash terparkir.


'What? Ketemu lagi???' gusar Nadira di dalam hati. Nadira jelas tak senang jika harus bertemu lagi dengan Arash dan Vinara.


"Omegat! Kak Arash lagi, Nad?" Ami ikut kaget dan memberi kode pada Nadira. Lagi dan lagi Arka bisa mendengar desas desus di antara Nadira dan Ami.


"Bisa nggak kita nyari bukunya di book store lain?" tanya Nadira pada Ami.


"Tapi di sini yang paling lengkap, di tempat lain belum tentu buku yang kita cari akan ketemu," sahut Ami.


Arka hanya tersenyum, tapi tampaknya Arka tidak merasa asing dengan Arash dan Vinara. Arka turun lebih dulu dari mobilnya dan menoleh ke arah Arash dan Vinara yang masih di sana.


"Vin?" sapa Arka.

__ADS_1


Vinara menoleh dan wajahnya terlihat surprise ketika melihat Arka.


"Rash, kalian di sini juga? Apa kabar kalian?" sapa Arka pada Arash kemudian.


Nadira dan Ami malah hanya terbengong dan menonton dari dalam mobil acara sapa menyapa di antara Arka, Arash dan Vinara.


"Arka? Hey, long time no see! Sejak lulus SMA kita kayaknya belum pernah ketemu lagi dan lost kontak sama sekali!" sambut Vinara dengan sangat hangat.


"Ya, gue aja yang nggak ke luar negeri hampir nggak pernah ketemu lagi sama lo, Ar!" Tanpa disangka, Arash juga bersikap sangat hangat pada Arka, sepertinya mereka bertiga memang sudah saling mengenal dengan baik.


"Begitu lulus gue emang langsung cabut ke Bandung. Gue udah follow akun ig lo tapi nggak pernah lo follback, Rash!" kata Arka sambil berkelakar.


"Sorry, gue jarang buka medsos soalnya."


"Follower lo udah puluhan ribu gitu lo malah abaikan gitu aja?"


"Tau nih kamu, Rash. Akun kamu itu kayak rumah nggak berpenghuni tahu nggak?" goda Vinara.


"Udah lupa kapan terakhir dibuka, males lah, banyak reel viral gaje lewat," kata Arash.


Mereka berbincang akrab bertiga, sementara Nadira dan Ami merasa tak percaya kalau ketiga orang itu saling berhubungan. Apa Arash tak menyadari kalau Arka adalah orang yang sempat dia bentak via telpon kala itu?


"Kamu datang sendirian, Ar?" tanya Vinara.


"Nggak sih, aku datang sama adek," jawab Arka lalu agak salah tingkah.


"Ha? Adek? Bukannya kamu anak bungsu? Kok tiba-tiba punya Adek?" Vinara heran, di dalam hati, Arash juga merasa heran.


"Adek ketemu gede, he he ...." jawab Arka sambil senyum-senyum karena salah tingkah.


"Oh, waah? Kenapa dianggurin di dalam, suruh ke luar dong, kenalin sama kita-kita," goda Vinara.


Arka setuju, dia membukakan pintu mobilnya dan kebetulan yang duduk di sebelah kiri memanglah Nadira.


Saat pintu dibukakan, hati Arash berdebar sebab dia mengenali rok seragam anak Harapan Bangsa. Walau Nadira belum keluar, tapi Arash malah sudah mengira itu adalah mantan istrinya.


"Ayo keluar, kok malah diam di sini sih?" kata Arka.


"Iya, Kak." Ami begitu semangat dan keluar lewat pintu di sebelah kanan.


"Ayo, Nad ...." ajak Arka. Mau tak mau, Nadira pun tak bisa lama-lama membuang waktu. Akhirnya dia mau ke luar dan menunjukkan diri pada Arash dan Vinara kalau 'adek ketemu gede' yang dimaksud Arka adalah dirinya.


Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi Arash ketika Nadira menunjukkan diri.


'Wtf!' teriak Arash di dalam hatinya sambil menatap Nadira dengan tatapan mata super tajam bagai mata elang yang hendak memangsa anak ayam.

__ADS_1


__ADS_2