Istri Rahasia Sang Badboy

Istri Rahasia Sang Badboy
Kehilangan Jejak


__ADS_3

"Nggak tahu, Kak. Nggak ada kabar sama sekali, entah Nad itu sakit atau ada keperluan keluarga, aku beneran nggak tahu ...." kata Ami. Dia mendadak tremor saat berhadapan dengan Arash yang kembali mendatangi Harapan Bangsa untuk mencari keberadaan istri rahasianya.


"Coba telpon! Jangan bilang kalau aku ada di sini nyariin dia!" titah Arash. Hatinya sudah mulai panas karena merasa dipermainkan oleh Nadira.


"I-iya, Kak." Ami menurut. Ami menghubungi nomor Nadira dan berharap kalau Nadira sudah mematikan ponselnya.


Di jam istirahat tadi, Nadira sempat briefing dengan Ami via video call. Nadira meminta Ami untuk tidak mengatakan apa pun soal keberadaannya saat ini pada Arash. Nadira sudah tahu sejak awal kalau Arash pasti akan mencarinya ke sekolah.


"Nomornya nggak aktif, Kak." Ami menunjukkan kalau nomor Nadira memang sedang tidak aktif.


Arash gusar. Dia sedang mencari Nadira untuk memberi kejutan kecil, tapi Nadira malah sulit ditemukan.


"Ya udah," kata Arash lalu dia melengos pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Arash langsung pergi lagi dari depan sekolah itu.


"Sebenarnya ada apa sih, Nad? Tega bener deh kamu bikin aku penasaran begini ...." gumam Ami. Ami curiga kalau di antara Nadira dan Arash ada yang tidak beres. Tapi sayangnya, untuk saat ini, Nadira sedang tak ingin curhat apa-apa pada Ami sehingga Ami hanya menebak-nebak saja.


"Hey, Cupu!" Tiba-tiba ada yang menyapa dan menepuk pundak Ami dari belakang sampai Ami terkaget.


"Eh ...." Ami menoleh dan yang mendekat adalah Jenny and the gurls. Geng paling sok berkuasa di sekolah yang akhir-akhir ini selalu mengganggu Nadira.


"Orang-orang pada bilang kalau si Nad lagi deket sama cowok keren yang belakangan suka tiba-tiba muncul di depan sekolah sini! Apa orangnya yang tadi?" tanya Jenny lalu merangkul Ami, dirangkul seperti itu, Ami malah jadi takut.


"Nggak tahu," jawab Ami dan mencoba menghindar. Ami segera melepaskan diri dan naik berjalan cepat menuju ke dalam angkot yang sedang ngetem menunggu bubaran anak-anak Harapan Bangsa.


"Sialan! Makin hari makin rese banget yaa tuh anak cupu!" gerutu Jenny kesal.


"Udah bisa dipastikan kalau cowok keren yang dimaksud itu adalah Kak Arash! Ketua geng Thunder! Abang gue juga anggota Thunder, beberapa kali Kak Arash main ke rumah gue, dia emang keren sih, cuma yaa ... Berandalan ...." jawab Bella. Ternyata Bella tahu tentang Arash dan Thunder.


"Waah, berani banget yaa si Nad berurusan sama geng Thunder! Pasti si Nad genit-genitan biar digoda sama ketuanya! Dasar, cewek penjilat! Dia selalu berusaha menarik semua perhatian para cowok keren! Iihh, kesel banget gue jadinya!" Jenny misuh-misuh tak jelas. Jenny memang selalu iri pada Nadira.


"Easy, girl! Kalo si Nad udah jadi mainannya ketua geng Thunder, itu artinya lo bisa lebih leluasa buat balikan sama si Kai! Iya, kan? Ayo lah, ambil sisi positifnya aja. Palingan si Nad cuma dijadian boneka sama Kak Arash!" kata Bella.


"Iya sih, tapi betewe, gue penasaran sama ketua geng Thunder itu! Si Nad nggak boleh menguasai semua cogan yang ada di kota ini! Tolong bilangin sama abang lo buat ngenalin gue sama ketua geng Thunder dong!" pinta Jenny pada Bella.


"Ya udah nanti gue bilangin sama Bang Jimmy yaa, kita ke RS aja dulu buat nengokin si Kai, yuk!"

__ADS_1


Ternyata, Bella adalah adiknya Jimmy. Bisa jadi masalah besar jika suatu saat nanti Jimmy membocorkan status Nadira dan Arash. Hanya saja, Jimmy memang jarang ada di rumah, oleh sebab itu Bella tak bisa memiliki banyak waktu dengan sang kakak.


"Ya udah ayo, kita ke RS sekarang," ajak Jenny lalu dia segera memesan taksi online untuk dirinya dan teman-temannya.


*


*


Arash menunggu di depan pagar rumah Nadira. Sudah lebih dari 1 jam dia di sana dan tak ada tanda-tanda Nadira akan muncul.


Arash juga bolak balik mencoba menghubungi Galang, tapi Galang juga kompak mematikan handphonenya.


"Setan! Kompak banget lo pada bikin gue kesal!" gerutu Arash. Dan Arash masih penasaran, dia masih di sana menunggu seperti abang kurir yang menunggu pemilik paket keluar dari rumahnya.


Rasanya ingin sekali membakar rumah itu agar hatinya puas. Arash benar-benar merasa dipermainkan.


"Eh, Nak Arash?"


Tak lama, ada yang menyapa. Arash menoleh, Arash mencoba mengingat-ingat dan ternyata yang menyapa itu adalah Ustadz yang menikahkannya dengan Nadira malam itu.


"Oh, iya saya ingat," tukas Arash dan Arash merasa tidak nyaman.


"Gimana? Apa Nak Arash sudah bicara pada orang tua Nak Arash soal pernikahan siri malam itu?" tanya Pak Ustadz.


'Anjim! Ngapain sih pake ketemu sama ini orang?' Arash lanjut menggerutu di dalam hati. Hatinya sedang gusar, dia malah bertemu dengan orang yang tak ingin dia temui.


"Permisi, Pak. Saya harus pulang, kapan-kapan, kita bicarakan lagi soal ini, yaa, permisi!" Arash menghindar dengan memutuskan untuk pergi dari sana.


"Oh ya sudah, hati-hati di jalan kalau begitu ya ...." kata Pak Ustadz tak memaksa Arash untuk berbincang.


"Assalamualaikum, Pak." Pamit Arash, mengucap salam tapi hatinya tak berhenti menggerutu.


"Waalaikum salam," jawab Pak Ustadz.


Gruuuuung! Arash langsung meluncur meninggalkan tempat itu dengan hasil yang nihil. Arash tak menemukan clue apa pun soal keberadaan Nadira.

__ADS_1


*


*


Esok harinya, esok harinya dan sampai hari ke empat, Arash tak jua menemukan Nadira. Galang juga mendadak menghilang sehingga Arash tak bisa mendapatkan informasi apa pun soal Nadira.


Arash merasakan hari-hari yang penuh dengan kemarahan dan kegusaran. Baru kali ini Arash dihindari oleh perempuan seperti ini.


Di saat para perempuan lain berdatangan seperti magnet dan menawarkan tubuh mereka kepada Arash, Nadira malah pergi meninggalkan Arash dalam keadaan seperti orang yang putus obat. Disadari atau tidak, mau disangkal atau tidak, Nadira sudah seperti candu bagi Arash. Arash ingin menemukannya tapi menyangkal kalau saat ini dirinya sedang merindukan istri rahasianya itu.


Arash duduk di pojok markas, sudah 1 botol minuman dia habiskan sendiri. Sementara anggota yang lain cuma berbisik-bisik melihat ketua mereka galau setelah dighosting oleh seorang anak SMA.


"Dahsyat banget yaa adeknya si Galang, sampe bikin seorang Arash galau berat nggak karuan kayak gini," bisik Jimmy.


"Katanya udah dicari-cari 4 hari nggak ada tanda-tanda tuh bocil akan balik ke Jakarta! Rumahnya kosong, semua akses komunikasi juga putus, teman-teman sekolahnya juga nggak ada yang tahu! Sampe segitunya si Arash galau karena kehilangan jejak bocah ingusan itu!" sahut Irfan agak mencibir.


"Kayaknya tuh bocah bukan sembarang bocah!"


"Pastinya, si Arash ketagihan lah dikasih perawan yang lagi ranum-ranumnya begitu!"


"Gua tahu lo pada lagi ngumpat gue! Sini lo semua! Menghadap gue!" seru Arash dengan suara keras sehingga membuat teman-temannya kaget dan panik.


"Astaga! Peka banget kuping si Arash! Padahal lagi mabok berat juga," gumam Pradit jadi ketakutan.


"Sini lo semua, Anj***! Lo pada nggak dengar? Itu perintah!" Suara Arash semakin menunjukkan amarah.


Yang tidak tahu apa-apa pun harus berderet dan berbaris menghadap pada Arash yang sedang galau berat.


"Sorry, Bro ...." kata Irfan mewakili teman-teman yang lain.


"Lo pada nggak tahu kalo gue udah kayak orang sakau karena cewek ingusan itu?! Pokoknya gue nggak mau tahu, lo semua harus nyari dia sampai dapat! Kalo sampai besok malam kalian nggak dapat informasi tentang dia, mending gue bubarin aja The Thunder!" racau Arash yang sudah semakin mabuk tak karuan.


"Iya, Rash, beres! Kami akan mengerahkan bala bantuan buat nyari bini rahasia lo," kata Pradit.


Arash tak sadar kalau saat ini dirinya sudah menunjukkan gejala-gejala bucin. Hanya saja Arash membalut itu dengan kata 'nafsu belaka'. Arash tak ingin mengakui kalau dirinya telah tertarik pada Nadira, dia hanya ingin memanfaatkan Nadira sampai puas.

__ADS_1


__ADS_2