
Bisa saja Nadira bersikap acuh tak acuh saat di toko kosmetik, tapi begitu sampai di rumahnya, Nadira tak bisa berhenti memikirkan. Terutama memikirkan betapa sempurnanya sosok Vinara.
'Pantas aja sih, emang cantik banget, duuuh ... Bisa nggak sih nggak usah mikirin mereka terus!' Nadira gusar sendiri. Mie instan di dalam mangkuk bahkan sudah melar-melar sampai kehabisan kuah karena terlalu lama dianggurkan sebab Nadira lebih asyik melamunkan soal pertemuannya dengan Arash dan Vinara tadi.
Gruuung, Nadira mendengar suara deru motor masuk ke depan rumah. Sepertinya itu Galang dan memang Galang.
"Nad, ambil piring! Kakak beli makan nih, sekalian buat kamu juga," seru Galang begitu masuk ke dalam rumah, dia membawa kantong kresek berisi 2 bungkus makanan di dalamnya.
"Tumben ...." gumam Nadira dengan wajah mencibir. Memang jarang-jarang sekali Galang ingat pada perut adiknya.
"Nah kan? Nah kan? Kurang-kurangin dong makan mie instan, nggak baik buat kesehatan tauu," kata Galang lalu duduk bergabung di meja makan dengan Nadira.
"Tumben sih perhatian banget, kalo kayak gini tuh pasti ujung-ujungnya ada maunya," decih Nadira tak percaya dengan kebaikan dan ketulusan kakaknya.
"Jadi serba salah kan? Perhatian salah, nggak perhatian makin salah."
"Biasanya kan emang begitu."
"Nad, jauh di lubuk hati Kakak yang paling dalam, kakak tuh sayang sama kamu, sayang banget, kamu adalah satu-satunya orang yang tersisa di dalam keluarga ini. Nggak usah heran begitu dong kalo Kakak ngasih kamu perhatian kayak gini," oceh Galang lalu dia membukakan satu persatu bungkusan nasi yang ia bawa.
"Aku mau percaya akan hal itu, tapi nyatanya, kak Galang udah membuat masa depanku hancur," ucap Nadira dengan wajah penuh penyesalan. Galang menoleh lalu menatap pada adiknya.
"Udah dong, Nad. Yang itu nggak usah diungkit lagi, kan semuanya udah selesai! Si Arash nggak ngekang lagi, kan?"
"Tapi Kakak nggak tahu kalo apa yang udah dia lakukan itu berbekas di jiwaku! Kakak kira, itu akan mudah untuk dilupakan begitu saja?" Tiba-tiba air mata bergulir liar di pipi Nadira, Galang sampai kaget dan panik. Galang juga terdiam.
__ADS_1
"Apa yang udah kakak jual ke dia adalah masa depanku! Satu hal yang sangat berharga buatku, dan Kakak menjualnya pada seorang bajingan yang nggak tau gimana caranya menghargai orang!" tambah Nadira, Nadira semakin emosional.
Kali ini Galang tidak menyahut dengan emosi yang sama, barangkali Galang memang sadar kalau dirinya lah yang benar-benar bersalah.
"Dan sekarang semuanya udah terlambat ...." Nadira mengusap wajahnya dengan kasar dan beranjak begitu saja dari meja makan tanpa menyentuh makanannya sama sekali.
Galang juga sudah kehilangan selera makannya. Galang terdiam dan termenung. Makin ke sini, Galang mulai sadar kalau selama ini dia memang sudah sangat keterlaluan pada adiknya.
"Maafkan kakakmu ini, Nad ...." gumamnya penub sesal. Sayangnya Nadira sudah sampai di kamarnya sehingga tak mampu mendengar kata-kata Galang.
Kakak beradik yang sudah yatim piatu itu sama-sama menyesali apa yang telah terjadi. Tapi sesal mereka sudah tak ada guna lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi ....
*
*
Rima yang bersikap sangat dingin pada Nadira malah menunjukkan sikap yang sangat hangat pada Vinara, benar-benar berbanding terbalik.
"Tante tuh tahu banget kalo kamu suka sama gado-gado, makanya tante bikin ini khusus buat kamu ...." kata Rima penuh kehangatan.
"Makasih banyak, tante. Masakan tante adalah salah satu yang selalu aku kangenin di London, nyari di sudut kota mana pun, aku nggak pernah dapat rasa yang otentik dengan masakan Mami Juwi dan tante Rima," tukas Vinara dengan wajah berbunga-bunga. Dia dinaungi dengan kenyamanan di antara keluarga Arash.
"Sabar ya, study kamu kan cuma tinggal 1 semester lagi, setelah itu kamu lulus dan akan berkarir menetap di Jakarta, iya kan?"
"Maunya sih begitu, tan. Tapi beberapa rumah mode udah ada yang menyodorkan tawaran pekerjaan, entah lah, mungkin lihat situasi dan kondisi nanti."
__ADS_1
"Om rasa kamu emang masih perlu pengalaman kerja di luar negeri, setelah dapat ilmunya, baru kamu balik ke Jakarta dan membuat produk sendiri dengan brand sendiri," kata Teguh kali ini. Teguh sangat berwibawa, tidak seperti putranya yang begal dan berandalan.
"Nah itu, Om. Maksudku juga kayak gitu, setelah lulus, aku nggak mungkin bikin usaha sendiri, pastinya aku akan butuh experiences di luaran sana."
"Apa pun pilihan kamu kelak, kami akan selalu mendukung kamu, Vin," kata Rima.
"Thanks, Tante. Dukungan dan do'a-do'a dari tante senantiasa sampai kepadaku walau kita terhalang jarak ribuan mil jauhnya."
Makan malam itu begitu hangat dari biasanya. Meja makan di dining area rumah Arash biasanya sepi, sekarang terasa begitu lengkap dan hangat.
Hanya saja Arash tetap merasa hampa. Mau disangkal sekuat apa pun, Arash nyatanya juga masih kepikiran dengan sikap acuh tak acuh Nadira tadi siang. Sekelebatan, Arash merasakan bayangan saat dirinya bercinta memadu kasih dengan gadis 17 tahun itu. Bayangan-bayangan itu menghantui sampai Arash makin kesulitan membuang jauh bayang tentang Nadira.
"Ash, ****! Get out of my head!" Tiba-tiba Arash berdesis dan tidak nyaman dengan bayang-bayang yang Nadira yang terus memaksa masuk di dalam kepalanya.
Rima, Teguh dan Vinara kompak menoleh pada Arash. Mereka mendengar umpatan Arash dan mereka sampai terheran-heran.
"Ada apa dengan kamu, Arash?" tanya Teguh dengan tatap penuh curiga.
Baru lah Arash bisa lepas dari bayang-bayang Nadira setelah semua orang memperhatikan.
"What's wrong with you? Are you okay?" Vinara pun menunjukkan atensi yang begitu besar pada Arash.
"Kalo kebanyakan minum dan begadang ya emang begitu jadinya, kadang dalam keadaan sadar pun masih suka berdelusi, iya kan?" Rima malah menyindir pada Arash. Rima sangat mengenal putranya, kebiasaan Arash yang gemar menenggak minuman beralkohol disebut sebagai penyebab Arash yang belakangan selalu terlihat kosong dan tak bersemangat. Padahal tersangka utama yang membuat Arash tak fokus saat ini adalah Nadira.
"Ayolah, Nak. Mulai lah kurangi kebiasaan buruk kamu itu, papa tahu kalau kamu adalah orang penting di dalam komunitasmu, tapi harusnya kamu memprakasai hal-hal positif kepada teman-temanmu biar jadi contoh yang baik." Teguh memberi nasihat tanpa menggurui. Arash pun tak protes dan hanya diam saja.
__ADS_1
Vinara malah sudah curiga kalau sikap Arash semakin berubah setelah bertemu dengan sosok Nadira di toko kosmetik tadi siang. Vinara benar-benar curiga ....
'Adakah yang lain di hati kamu, Arash?'