
"Aku ingin pindah sekolah!!"
Gadis berumur 18 tahun, berna Ivy Lee, harus bergonta ganti sekolah demi mendapatkan ketenangan pikirannya.
Dia merasa tersiksa dengan kemampuan bawaan lahirnya yang diwariskan dari leluhurnya terdahulu.
Sudah lima sekolah yang dia pernah masuki, tapi semuanya sama saja. Setiap sekolah memiliki misteri tersendiri dan selalu ada mahluk halus serta penguasa tempat itu.
"Mau pindah berapa kali lagi, nak? Menghindar tidak akan pernah membuatmu tenang. Hadapilah, anggap mereka tidak pernah ada!!" Ucap pak Adam, ayah dari Ivy Lee.
Kata-kata itu yang selalu ayahnya ucapkan kepadanya. Ivy yang merasakan, Ivy yang mampu melihat kedatangannya dan Ivy yang terganggu dengan kehadiran mahluk halus yang tak kasat mata itu.
Di pintu gerbang sekolah, di dalam kelas, di toilet, mereka memiliki tempat masing-masing. Jenisnya berbeda-beda, dan mereka selalu mengganggu aktivitas Ivy Lee.
"Pokoknya Ivy mau pindah sekolah, titik!!"
"Sudahlah, pak. Turuti saja kemauan dia, toh sebentar lagi dia akan lulus SMA!!" Ujar Bu Siwi, ibunda Ivy Lee.
Sebenarnya pak Adam sudah lelah mengurus berkas-berkas kepindahan putri semata wayangnya. Jika hanya satu dua kali tidak masalah, ini lebih dari lima kali. Apa lagi kemauan putrinya kali ini adalah sekolah di Jakarta. Tentu saja bukan hanya mengurus berkas kepindahan sekolahnya saja, tetapi pak Adam harus pindah kerja di sana.
Satu Minggu kemudian, pak Adam serta Bu Siwi mengantarkan Ivy Lee ke sekolah barunya. Untung saja Ivy adalah anak yang sangat berprestasi, hanya satu keanehannya, sering berbicara sendiri dan ngamuk-ngamuk secara tiba-tiba.
Mobil yang ditumpangi mereka telah memasuki kawasan sekolah elite di Jakarta. Mata Ivy Lee berfokus pada sebuah tangga di dekat ruangan kelas X. Di sana dia melihat bayangan putih yang sedang naik turun di tangga itu.
"Ivy, ayo turun, nak!!" Ajak Bu Siwi.
__ADS_1
Ivy menggeleng, membuat ayahnya menjadi geram padanya. "Kamu kenapa lagi? Jangan bilang di sekolah ini juga ada hantunya. Kalau kayak gini terus, kamu mau sekolah di mana lagi, Ivy? Ayah tidak mau mengurus kepindahan mu lagi. Sekolah ini adalah sekolah terakhir kamu, mau tidak mau kamu harus sekolah di sini, titik!!"
"Ayo, nak. Benar kata ayahmu, kamu jangan takut, kamu harus melawan mereka. Jangan biarkan mereka mengalahkan mu. Kamu memiliki khodam dari leluhur, nak. Jadi kamu tidak perlu takut dengan mereka," ujar Bu Siwi.
Ivy sudah hampir mau menangis, dia sebenarnya gadis penakut. Dia tersiksa dengan kelebihan yang dia miliki. Padahal jika dia mau melawan, mahluk halus itu yang akan tunduk padanya.
Meskipun Ivy mampu melihat wujud setan yang naik turun di tangga sebelah kelas X, dia berpura-pura tidak melihatnya. Orang tuanya menggenggam tangannya menuju ke ruang kepala sekolah.
Banyak mata yang memandang ke arah mereka. Tidak heran banyak yang memandangnya, Ivy Lee adalah gadis yang sangat cantik meskipun tingkahnya sedikit aneh.
"Selamat siang pak!!" Sapa pak Adam kepada pak Budi, kepala sekolah di sana. Mereka langsung mendapat sambutan hangat dari pak Budi dan guru-guru yang lain.
Ivy tidak memperhatikan ketika pak Budi dan guru-guru yang lain hendak menjabat tangannya. Perhatiannya teralihkan pada sosok besar yang berada di pojok ruangan.
Bibirnya komat-kamit membaca surat yasin karena sosok besar itu sedang memandang ke arahnya dengan kondisi memelototkan matanya.
"Ivy, kamu kenapa, nak?" Tanya pak Budi, merasakan ada yang aneh pada murid barunya.
"Ah, Ivy, ayo Salim dulu sama pak kepala sekolah dan guru-guru yang lain, nak!!" Perintah ayahnya yang mengetahui arah pandang putrinya.
Ivey menyalami satu persatu guru yang sedang memandang ke arahnya. Setelahnya dia melirik kembali sosok besar di pojok ruangan itu telah menghilang. Ayahnya lah yang telah mengusirnya agar tidak mengganggu Ivy Lee.
"Setelah kami melihat-lihat raport Ivy, ternyata nak Ivy adalah siswi berprestasi di sekolah sebelumnya ya, pak? Tapi kenapa nak Ivy bisa pindah sekolah sampai lima kali? Maaf sebelumnya jika saya terlalu banyak bertanya," tanya pak Budi merasa ingin tahu. Tentu saja pak Adam tidak akan mengatakan alasan sesungguhnya.
"Itu karena saya yang selalu berpindah-pindah pekerjaan, pak. Jadi, mau tidak mau kami harus membawa Ivy pindah, karena hanya Ivy putri kami satu-satunya. Tentu saja kami merasa cemas jika meninggalkan dia sendirian di kota lama hanya untuk melanjutkan sekolahnya di kota lama, pak!!"
__ADS_1
Pak Adam terpaksa berbohong, walaupun kebohongannya percuma saja. Lambat Laun semua orang di sekolah itu akan merasakan keanehan pada diri Ivy Lee. Tapi apa boleh buat, kelebihan pada diri Ivy Lee merupakan warisan turun temurun yang tidak bisa dihilangkan.
Adam ayahnya pun juga mengalami seperti yang dialami Ivy Lee sebelumnya. Awalnya dia juga seperti Ivy Lee, tapi lambat Laun dia mampu berdamai dengan keadaan.
Dunia manusia dengan dunia mahluk halus memanglah menjadi satu. Hanya orang-orang pilihan yang mampu melihat pembatasnya.
"Bel pelajaran pertama telah berbunyi, Bu Ana selaku wali kelas akan menemani Ivy masuk ke kelas baru. Perkenalkan dirimu di kelas barumu, nak dan semoga kamu betah sekolah di sini. Bu Ana, silahkan bawa Ivy ke kelas anda!!" Pinta pak Budi.
"Ayo Ivy, ikut ibu ke kelas!!" Ajak Bu Ana.
Ivy Lee menggenggam kedua tangan ayah dan ibunya. "Jangan takut, ingat pesan ayah dan bunda tadi, nak!!" Bisik pak Adam.
Ivy mengangguk terpaksa, lalu dia berdiri dan mengikuti langkah Bu Ana wali kelasnya.
Ternyata kelas baru Ivy adalah kelas X yang bersebelahan dengan tangga. Ivy memejamkan matanya ketika melewati tangga itu. Bayangan putih tadi, masih naik turun di tangga itu.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah lindungi aku!!" Batin Ivy merasa ketakutan.
Dia telah memasuki ruangan kelas X yang cukup rapi dan di dalamnya terdapat banyak siswa yang berjumlah berkisar 40 siswa. Cukup banyak dan menjadi 41 karena kedatangan Ivy Lee.
"Ivy, ayo perkenalkan diri kepada teman-teman barumu!!" Pinta Bu Ana.
Karena melihat ruangan kelas itu cukup aman baginya, Ivy merasa lebih tenang. Dia memperkenalkan namanya kepada seluruh teman barunya. Semua teman barunya menyambutnya dengan sangat antusias. Karena selain good looking, Ivy juga adalah siswi pindahan dengan nilai tertinggi di semua mata pelajaran.
"Ivy, kamu boleh duduk di meja paling depan, ya. Murid-murid yang lain paling takut duduk berhadapan dengan saya!!" Perintah Bu Ana.
__ADS_1
Awalnya Ivy tidak tahu bahwa tempat duduk yang ditunjuk Bu Ana merupakan tempat duduk kosong. Selama ini murid-murid lain enggan duduk di bangku itu bukan karena takut berhadapan pada guru mereka, tetapi mereka takut di ganggu oleh setan penunggu bangku itu yang kadang datang dan kadang pergi.
"Sebentar lagi akan ada yang kerasukan. Kita lihat saja, apa murid baru itu kuat duduk di bangku itu!!" Bisik ketua kelas dengan wakilnya.