
"Mau ke mana kalau anak muda? jalan keluarnya bukan disana, tapi ada disini!!"
Haikal menoleh, matanya terarahkan pada telunjuk Jin tua itu yang mengarah pada semak-semak berumput. Dia segera menghampiri semak-semak itu.
"Aku beritahu kepadamu, jika kau keluar dari tempat ini maka kau akan mengalami kejadian yang pernah kau alami sebelumnya. Kau harus menghadapi puluhan mayat itu lagi karena hanya itu kunci satu-satunya pintu di balik air terjun itu akan terbuka kembali. Karena saat ini pintu itu telah tertutup kembali."
"Apa? jadi aku harus menghadapi mayat-mayat itu lagi?"
"Ya, karena kau telah melewatkan kesempatan awal, maka kau harus mengulanginya lagi!!"
Haikal benar-benar terkejut Bagaimana mungkin dia harus mengulangi melawan puluhan mayat hidup itu lagi. Membayangkannya saja dia sudah tak sanggup. Belum lagi melihat tangan dan kakinya yang baru saja kembali seperti semula akan terluka kembali.
Tapi ketika dia mengingat temannya dan mengingat harus menyelamatkan nyawa temannya dan membawa temannya kembali lagi ke alamnya. Haikal bertekad apapun itu walaupun harus melawan puluhan mayat hidup kembali akan dia lakukan.
"Ivy Lee. Apapun itu akan aku lakukan, asalkan aku bisa menemukanmu dan membawamu kembali ke alam kita. Apapun bahaya kedepannya akan aku hadapi. Tunggulah, Aku pasti bisa menemukanmu!!" ucap Haikal.
Jin tua itu masih memperhatikan Haikal yang sedang berbicara sendiri. Kemudian jin tua itu mengambil sesuatu dari saku bajunya. Sehelai bulu merak yang nampak indah dan berkilau.
"Aku tidak bisa mengantarmu anak muda. Tapi setidaknya bulu merak ini akan sedikit membantumu. Kau bisa kembali ke alammu dengan bulu merak ini!!"
Jin tua itu memberikan sehelai bulu merak kepada Haikal. Haikal masih ragu-ragu untuk menerimanya. Tapi jin tua itu tersenyum dan meyakinkan Haikal, bahwa dia ikhlas memberikan sehelai bulu merak itu kepadanya.
"Terima kasih, tapi benarkah engkau ikhlas memberikannya kepadaku? karena aku tidak ingin berhutang budi terlalu banyak kepadamu. Kau tahu aku tidak bisa membalas semua Budi yang kau berikan kepadaku!!" ucap Haikal memastikan.
"Ha...ha...ha...ha! Tenang saja anak muda, Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku ikhlas memberikannya kepadamu. Anggap saja Itu hadiah atas pertemuan singkat kita. Sekaligus karena aku tidak bisa mengantarmu. Pintu keluar itu merupakan pembatas antara alam kami. Kalau sampai aku keluar dari pintu itu aku bisa dihukum oleh ketua kami!!" ujar jin tua Itu menjelaskan kepada Haikal.
Haikal mengangguk mengerti, dia sangat berterima kasih dan sangat bersyukur telah bertemu dengan sosok jin yang baik hati.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih atas pertolongan dan hadiahmu ini. Aku tidak akan melupakanmu, Senang bisa bertemu denganmu. Aku akan pergi sekarang, Assalamualaikum!!" pamit Haikal.
"Waalaikumsalam!!" jawab jin tua itu lalu membantu membukakan pintu keluar untuk Haikal.
Haikal pun telah keluar, dia bisa membedakan suasana yang berbeda antara dua alam tersebut. Di alam jin muslim terasa sejuk dan wangi. Tadi dia juga sempat melihat sekelilingnya sangat indah seperti negeri dongeng.
Sangat berbeda dengan alam sebelahnya yang merupakan alam jin kafir. Suasana disana sangat mencekam menakutkan penuh dengan kabut putih awan hitam dan udaranya pun terasa sangat panas.
Sebelum melangkahkan kembali, Haikal sempat memandang pintu yang telah tertutup. Iya memandang sehelai bulu merak pemberian dari jin tua tadi. Haikal pun tersenyum lalu terucap "Terima kasih" bulu merak ini sangat indah.
Sebelum melangkah Haikal menghirup napas sedalam-dalamnya. Mempersiapkan segala tekad, kekuatan untuk menghadapi kembali mayat-mayat hidup itu.
"Semua ini demi Ivy Lee. Ya, demi kamu aku pasti bisa mengalahkan mereka kembali dan aku pasti bisa menemukanmu setelah ini!!"
Haikal mulai melangkahkan kakinya. Suasana sangat sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali di tempat itu. Menyeramkan mengerikan begitulah gambaran tempat itu.
Dua anak panah melintas di depan matanya. Haikal segera menghindarinya sebelum dia terkena anak panah itu. Anak panah yang melintas di depan matanya bukanlah anak panah biasa. Anak panah itu mengeluarkan api dan bisa dibayangkan betapa sakitnya dan panasnya jika sampai terkena di kulit Haikal.
"Astaghfirullahaladzim!!" ucap Haikal sambil mengelus dadanya yang terkejut.
Sudut matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Dia harus lebih waspada, takut-takut jika ada anak panah susulan yang akan menyerangnya.
"Ssss Reeeek!!"
"Arrrrk!!" Haikal mengerang kesakitan. Tiba-tiba ada kuku tajam yang mencakarnya. Sehingga pakaiannya pun sedikit robek dan mengeluarkan darah di bagian punggungnya.
"Hey, siapa kamu? keluarlah jangan menjadi pengecut, aku tidak takut padamu!!" teriak Haikal menantang.
__ADS_1
Tidak ada sahutan bahkan tidak ada suara apapun suasananya kembali sepi hening. Haikal kembali melangkahkan kakinya tetapi dia tetap waspada.
Masih belum ada tanda-tanda mayat-mayat hidup itu bangkit untuk menyerangnya. Padahal dia sudah siap untuk melawan puluhan mayat hidup itu.
Dia sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam pintu di balik air terjun itu. Kini Haikal sudah berada di tengah-tengah di antara liang lahat yang didalamnya terdapat mayat-mayat hidup itu yang masih terbaring memejamkan matanya.
Haikal melihat satu persatu liang lahat itu. Mayat mayat hidup itu seperti mumi dan beraneka macam bentuk.
Karena menunggu sangat lama hingga Haikal pun duduk di atas tanah. Tidak sempat dia duduk tanah itu pun bergetar seperti adanya gempa. Kejadian yang pernah dialami pun kembali terjadi.
Memang itu yang dia tunggu dari tadi, bangkitnya mayat-mayat hidup itu untuk menyerangnya. Haikal bisa melihat suasana yang mulai berubah berkabut seperti yang pernah dialami.
Awan hitam pun kini tak terlihat tergantikan dengan kabut yang membuat matanya tidak bisa melihat apapun. Tak lama kemudian Haikal mampu mendengar suara-suara mayat hidup itu mulai bangkit dari liang lahat mendekatinya.
Dia pun mulai merasakan kuku-kuku tajam mulai meraba kakinya. Haikal bersiap-siap menggenggam erat liontin pemberian ayahnya dan mengeluarkan sehelai bulu merak pemberian jin tua tadi.
"Arrrrrgh!!" Haikal mengerang kesakitan. Dia kurang waspada, Haikal membiarkan mayat-mayat itu mencakar cakar kakinya hingga terkelupas kulitnya.
Haikal tak mampu lagi menahan sakit, dia sudah tidak sabar lagi. Akhirnya dia mengeluarkan liontin pemberian ayahnya yang memancarkan cahaya. Bibirnya berkomat-kamit membacakan doa.
"Arrrrrgh!!" terdengar suara mayat hidup itu mengerang kesakitan. Memohon agar Haikal berhenti dan menyingkirkan liontin yang memancarkan cahaya yang mampu menembus tulang-tulang mayat hidup itu.
Lalu pandangan Haikal terarahkan pada air terjun yang mulai membukakan pintu serta membukakan jalan menuju kesana.
Haikal pun berlari menuju ke sana, namun tangannya tetap memegang liontin kalung pemberian ayahnya serta bibirnya tidak henti-hentinya melafalkan doa sampai dia berhasil masuk ke dalam pintu di balik air terjun itu.
Haikal tidak memperdulikan mayat-mayat hidup itu yang terus mengerang kesakitan karena Haikal tidak henti-hentinya melafalkan doa.
__ADS_1
"Tunggu aku Ivy Lee, sebentar lagi aku akan menjemputmu!!" seru Haikal bersemangat berlari agar cepat sampai di tempat tujuan.