Ivy Lee

Ivy Lee
Chapter 2


__ADS_3

Ivy duduk di meja paling depan yang ditunjuk Bu Ana. Dia merasa aneh, ketika tatapan teman-temannya terarah padanya. Mereka semua yang sedang memperhatikan Ivy, juga merasa was-was.


Belum ada tanda-tanda aneh yang akan terjadi. Ivy terlihat biasa-biasa saja, bahkan dengan sangat santainya Ivy menjawab pelajaran yang baru saja didengarkannya dari penjelasan Bu Ana.


Hingga jam istirahat pun tiba, bell sekolah menandakan waktunya semua murid beristirahat. Ivy belum begitu akrab dengan teman-temannya, dia juga belum tahu di mana letak kantin di sekolah itu berada. Gadis itu duduk menyendiri di dalam kelas, sementara murid-murid lainnya telah keluar semua.


Mendadak Ivy Lee ingin ke toilet, tapi dia tidak tahu letak toilet di sekolah itu. Dia keluar dari kelas, di depan kelasnya nampak sepi. Sedangkan teman-temannya kebanyakan berada di kantin dan lapangan basket.


Ada salah satu murid sedang lewat di depan kelasnya, Ivy segera menghentikannya. "Maaf, toilet ada di sebelah mana, ya?"


Seseorang yang Ivy tanyai bernama Haikal, mata Haikal meneliti wajah Ivy Lee yang terasa asing baginya.


"Kamu murid baru?" tanya Haikal yang tak lain adalah ketua OSIS di sekolah itu.


"Ya kak, saya baru masuk hari ini dan belum begitu mengenal sekolah ini!!" jawab Ivy Lee seadanya.


Haikal mengangguk, tangannya terarah pada lorong di sebelah kanan kelas X dan melewati tangga. Ivy susah payah menelan ludahnya, karena lorong itu terlihat menakutkan.


"Hati-hati, saranku jangan sendirian di dalam toilet!!" ucap Haikal sebelum berlalu meninggalkan Ivy Lee.


Ivy Lee mendadak merasa ketakutan, tapi disisi lain dia kebelet pipis. Dia belum memiliki teman akrab yang bisa di ajaknya untuk menemaninya ke toilet. Suasana sangat terjepit, tidak mungkin dia kencing di celana hanya karena rasa takutnya.


"Jangan takut, kamu harus melawan mereka, jangan biarkan mereka mengalahkanmu!!" pesan dari bundanya terngiang-ngiang di pikiran Ivy Lee.


Akhirnya Ivy Lee nekat berjalan menuju kamar  toilet seorang diri. Langkahnya semakin dipercepat saat dia melewati tangga samping kelasnya. Bahkan dia memalingkan muka, pura-pura tidak melihat meskipun sebenarnya dia melihat bayangan putih yang semakin jelas tidak samar-samar seperti tadi awal dia melihatnya.


Tangga angker telah terlewati, kini dia masih harus melewati lorong yang terlihat menakutkan. Untung saja ada beberapa murid yang berada di sana. Dan tak banyak juga ada yang keluar masuk toilet.


Ivy harus antri, karena toilet di sana hanya ada dua. Dia berada di antrian nomor tiga, di depannya ada dua siswi kelihatannya dari kelas yang berbeda. Ternyata dua siswi itu masuk ke dalam toilet secara bersamaan. Ivy juga melihat dua murid yang keluar dari toilet sebelah. Hanya dia yang sendiri di sana, bahkan dua murid yang baru keluar itu menatap aneh pada Ivy. Sontak Ivy teringat ucapan Haikal tadi.

__ADS_1


"Hati-hati, saranku jangan sendirian di dalam toilet!!"


Mendadak jantungnya berdegup sangat kencang, ketika satu kakinya telah memasuki toilet. Ivy sudah tidak kuat lagi, dia segera masuk dan menuntaskan hajatnya.


"Tes...tes!!" tetesan air dari atap membuat lengan seragamnya sedikit basah. Matanya melirik di atas sana, buru-buru dia memalingkan muka. Ivy segera menyiram bekas air kencingnya dan segera keluar dari toilet.


Dia berlari melewati lorong menuju ke kelasnya. Belum sampai di kelasnya, ada suara yang memanggilnya dari arah tangga.


"Ivy Lee!!"


"Ivy Lee!!"


"Aku tahu kau bisa melihat wujudku!!"


Suara itu mirip seperti suara bisikan, tapi terdengar sangat jelas di telinga Ivy Lee. Dia melanjutkan langkahnya, pura-pura tidak mendengar. Dia merasa gila, di mana-mana selalu melihat penampakan mahluk halus yang ingin sekali dia hindari.


Tak berhenti sampai disitu, suara yang memanggilnya tadi, mengikutinya sampai di dalam kelasnya. Ivy Lee menutup telinganya serta menutup matanya.


"Lihatlah ketua, sepertinya ucapanmu tadi benar. Murid baru itu berlaga aneh, apa mungkin dia sedang kerasukan?" 


Ketua kelas di kelas x langsung menolehkan wajahnya, melihat ke arah Ivy Lee. "Sepertinya benar, cepat panggil ketua OSIS sekarang juga!!" perintahnya kepada wakilnya.


"Pergi, jangan ganggu aku!!" teriak Ivy Lee seperti orang frustasi. Matanya masih terpejam, kedua tangannya masih menutup telinganya. Tiba-tiba ada yang memeluknya, membuatnya semakin histeris.


"Tenanglah, ini aku Haikal!!" ucap Haikal si ketua OSIS.


Ivy Lee mulai membuka matanya, Haikal melihat mata Ivy Lee telah berlinang air mata dengan wajah penuh ketakutan.


"Kak, dia menggangguku, aku tidak suka melihatnya, dia sangat menyeramkan. Wajahnya hancur sebelah, wajahnya dipenuhi  belatung dan darah, aku takut, aku tidak ingin dia menggangguku!!" 

__ADS_1


"Ivy Lee, berarti kamu memiliki kelebihan dibanding semua murid yang ada di sini. Mereka tidak pernah melihat wujud hantu itu, hanya kamu yang bisa melihatnya," ujar Haikal.


Ivy Lee menggeleng, dia tidak ingin melihatnya lagi, tapi bagaimana caranya. Bahkan dia sendiri tidak bisa membuang ilmu yang diturunkan dari leluhurnya.


"Ada apa ribut-ribut?" bu Ana telah masuk ke dalam kelas, karena waktu istirahat telah habis. Salah satu murid mengatakan bahwa murid baru yang bernama Ivy Lee baru saja kerasukan hantu. Sontak Bu Ana segera menghampiri murid barunya dan mengecek kondisi Ivy Lee sekarang.


"Ivy Lee, kamu kenapa, nak?" tanya Bu Ana, yang kini duduk di bangku sebelah bangku yang diduduki Ivy Lee. Melihat murid barunya masih menangis membuatnya merasa cemas.


"Bu, Ivy mau pulang, kepala Ivy sakit, Bu!!" pinta Ivy Lee.


"Biar saya yang mengantarnya pulang, Bu!!" tawar Haikal. Haikal merasa penasaran dengan sosok Ivy Lee. Terlebih hanya gadis itu yang memiliki kelebihan sepertinya. Berarti di sekolah itu sekarang ada dua murid yang mampu melihat sosok hantu gentayangan yang bernama Sekar.


Setelah mendapat persetujuan dari Bu Ana, Haikal mengantarkan Ivy Lee pulang ke rumahnya. Namun di perjalanan, dia tidak langsung mengantar Ivy Lee pulang, dia mengajak Ivy Lee ke sebuah taman. Ivy Lee ingin protes, tapi ucapan Haikal membuatnya mengurungkan niatnya.


"Aku ingin bicara sesuatu padamu, ini mengenai kejadian tadi!!" ucap Haikal.


"Jangan membahasnya lagi, aku tidak ingin membahasnya!!" timpal Ivy Lee dengan wajah menahan kemarahan.


"Tidak, entah kamu mau atau tidak, kita tetap harus membahasnya. Kau dan aku sama-sama mampu melihat wujud Sekar. Hanya bedanya aku pemberani sedangkan kau penakut."


"Sekar?" tanya Ivy Lee penasaran.


"Ya, hantu yang mengganggumu tadi bernama Sekar. Dia juga mengganggu ku, tapi aku tidak menghiraukannya. Dia akan terus mengganggu kita, karena hanya kita yang mampu melihat wujudnya. Sepertinya dia ingin meminta bantuan pada kita berdua," ujar Haikal.


"Bantuan?" tanya Ivy Lee dengan ekspresi terkejut disertai bingung.


"Ya, karena dia akan mengganggu kita terus sampai keinginannya terpenuhi. Apa kau akan pindah sekolah lagi, dan menghindar terus dari kejaran makhluk-makhluk itu?" 


"Bagaimana kau bisa tahu aku sering pindah-pindah sekolah?" 

__ADS_1


Ivy Lee semakin terkejut dan bertanya-tanya siapakah sosok Haikal sebenarnya. Kenapa Haikal bisa mengetahui tentang Ivy Lee. Haikal bahkan tersenyum ketika Ivy Lee menatap penuh tanya ke arahnya.


"Karena aku bisa melihat apapun yang pernah kamu alami lewat sentuhan tangan ini!!" ujar Haikal, menunjukan tangannya yang sedang menggenggam tangan Ivy Lee. Sontak Ivy Lee langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Haikal.


__ADS_2