
Ivy Lee POV
Semenjak kejadian hari ini, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat untuk hari esok. Aku sangat menderita dengan semua kelebihan yang ku miliki.
Sepulang sekolah tadi, ayahku menegurku karena pulang sebelum waktunya. Kak Haikal hanya mengantarku sampai depan gerbang rumah ku.
Hidupku terasa berat, tanpa seorangpun yang mengerti ku. Ayah selalu mengataiku gadis penakut. Beliau selalu tidak menganggap semua ceritaku tentang hantu-hantu yang pernah ku lihat. Aku sangat frustasi, tapi setidaknya aku sudah memiliki teman baru, dia bernama Haikal, ketua OSIS di sekolah baruku.
"Jangan pernah takut Ivy Lee. Kau dan aku sama-sama memiliki kelebihan yang tak dimiliki murid-murid lainnya. Jika kau takut, maka arwah Sekar akan membuatmu lemah tak berdaya. Lihatlah aku, bahkan Sekar selalu menggangguku. Karena aku pemberani, dia tidak mampu melemahkan ku. Kau sadar? Kau adalah orang yang dipilihnya untuk membantunya. Ingatlah baik-baik bagian wajahnya yang tidak hancur. Bukankah wajahmu memiliki kemiripan dengan wajahnya?"
Setelah mengingat ucapan kak Haikal tadi siang, ku ambil cermin dan ku amati wajahku baik-baik. Lalu ku ingat-ingat wajah Sekar, aku terkejut setelah menyadari wajahku memiliki kemiripan dengan wajahnya.
Sontak cermin yang tadinya berada di tanganku sudah terlempar jauh dan hancur berkeping-keping. Nafasku terengah-engah tatkala bayangan wajah Sekar semakin jelas di ingatanku.
Jendela kamarku tiba-tiba terbuka, padahal aku sudah menutupnya bahkan menguncinya dari dalam. Angin malam ini tiba-tiba berhembus sangat kencang, sehingga dedaunan kering sebagian masuk ke dalam kamarku lewat jendela yang terbuka.
Ku langkahkan kakiku, sebelum dedaunan dan debu mengotori kamarku, segera ku tutup kembali jendela kamarku. Ketika tanganku mulai memegang handle jendela, tiba-tiba ada tangan seseorang yang mencekal pergelangan tanganku.
Sosok berwajah pucat dan bagian sebelah wajahnya telah hancur sedang menatapku. Di keningnya terlihat jelas lubang bekas tembakan. Sontak aku menjerit ketakutan dan sosok itu malah tertawa menertawai ku karena takut.
"Ivy Lee, tolong aku!!"
"Siapa kau? Jangan menggangguku!!" teriakku ketakutan. Bahkan aku sampai terduduk di lantai tak mampu berdiri ataupun lari.
"Kamu harus membantuku!!"
"Tidak mau!!"
__ADS_1
" Jika kamu tidak mau membantuku, aku akan selamanya menghantui kamu!!"
"Siapa kau, pergi dari sini!!"
Aku terus berteriak memintanya pergi, bahkan ayah dan ibuku tidak mendengar teriakanku. Nafasku terasa sesak setengah mati, bahkan keringat dingin telah membuat sekujur tubuhku basah.
Tak lama ayahku membuka pintu kamarku, hantu itu tiba-tiba menghilang. Tubuhku sangat lemas, hingga akhirnya aku pingsan.
Aku baru sadar setelah waktu telah berganti subuh. Ayahku membangunkan ku untuk menunaikan kewajiban umat Islam di waktu subuh.
Setelah kami selesai sholat berjamaah, aku bingung akan keputusanku hari ini. Disisi lain aku tidak ingin masuk sekolah, di sisi lain semua menyuruhku sekolah. Ayahku, bundaku bahkan Haikal si ketua OSIS pun memintaku agar tetap bertahan di sekolah itu.
Setelah selesai sholat subuh, aku membantu ibuku menyiapkan sarapan. Tapi mataku melihat bayangan aneh berlalu lalang di jalan depan rumahku.
Begitulah keseharian ku, seolah batas dunia manusia dan dunia mahluk astral tidak ada pembatasnya. Ada yang bersentuhan tapi tak merasakan sentuhan. Ada yang bertabrakan tapi tak merasakan sakit.
Jika hanya melihat wujud-wujud yang tak menyeramkan, mungkin aku tidak akan takut. Tapi yang sering dijumpai hantu-hantu cacat yang membuatku takut.
Setelah hari sedikit lebih siang, matahari telah terbit dan jarum jam berhenti di angka 06:30 a.m. Terdengar suara motor berhenti di halaman depan rumahku. Ku intip di balik gorden jendela, ternyata kak Haikal benar-benar menjemputmu.
"Selamat pagi, om. Perkenalkan nama saya Haikal teman Ivy Lee di sekolah. Apa Ivy Lee sudah berangkat, om?" tanya Haikal.
"Pagi. Ayo masuk, om panggilkan Ivy mungkin masih di dalam kamarnya."
Beberapa detik kemudian ayahku memanggilku. Aku keluar dari kamarku, padahal aku sudah keluar sejak tadi. Bahkan aku telah menenteng tas dan memakai seragam lengkap.
Bisa ku lihat senyuman kelegaan di wajah ayahku. Mungkin ayahku khawatir jika sampai aku mogok lagi dan meminta pindah sekolah.
__ADS_1
"Pagi kak Haikal!!" sapaku.
Kelihatannya ayahku mempercayai Haikal. Baru berkenalan mereka sudah seakrab itu. Apa mungkin karena kak Haikal memiliki kemampuan seperti yang ku miliki.
"Ayah Bunda, Ivy berangkat dulu, Assalamualaikum!!" pamitku. Kak Haikal juga berpamitan kepada ayah dan bundaku.
Baru pertama kali ini aku berangkat sekolah dengan orang lain. Biasanya aku selalu diantar ayah dan bunda. Tapi kak Haikal beda, dia orang baik dan aku mempercayainya meskipun kami baru saja kenal.
"Ingat Ivy, sesampainya di sekolah nanti, buang rasa takutmu. Kau harus berusaha memberanikan diri. Kedepannya hantu Sekar tetap akan mengganggumu dan menggangguku. Kuncinya ada di kamu, tergantung kamu masih menjadi anak yang penakut atau pemberani."
Pesan-pesan dari kak Haikal telah masuk di telingaku. Tapi entahlah, apakah aku bisa memberanikan diri. Atau aku akan berteriak ketika berhadapan dengan hantu Sekar.
Wajahnya benar-benar mengerikan, sebagian wajahnya dipenuhi belatung dan darah. Oh ya, aku lupa menanyakan kepada kak Haikal tentang lubang di dahi hantu Sekar.
"Kak, apa kak Haikal pernah memperhatikan lubang di dahi hantu Sekar?" tanyaku menunggu jawaban dari kak Haikal.
"Ya, aku sering melihatnya. Aku rasa lubang itu bekas tembakan. Bisa jadi kematiannya karena tertembak atau ada orang yang menyiksanya sewaktu masih hidup!!"
"Sepemikiran, aku juga berpikir begitu!!" sahutku.
Motor yang kami tumpangi masih melaju dengan kecepatan sedang. Sebentar lagi kami segera sampai di sekolah.
Setibanya di depan gerbang, kak Haikal menghentikan motornya. "Jangan dilihat, mereka tidak akan mengganggu kita. Mereka hanyalah penunggu di sekolah ini. Satu-satunya yang mengganggu kita hanyalah hantu Sekar, dan persiapkan mental untuk hari ini!!" ucap kak Haikal, lalu mengakali masuk.
Seperti sarannya tadi, aku pura-pura tidak melihat dua makhluk yang berdiri di depan gerbang sekolah. Wujudnya seperti kera, tinggi dan besar tetapi bulu-bulunya serta matanya berwarna merah dan ada dua taring di mulutnya. Benar-benar menyeramkan, mungkin jika semua murid bisa melihat wujudnya, mereka pasti melakukan hal yang sama seperti yang ku pilih sebelumnya ," pindah sekolah".
Setelah aku melangkah beberapa langkah melewati dua makhluk penjaga gerbang. Aku menoleh kembali melihat mereka.
__ADS_1
"Astagfirullah!!" mereka berdua menatap ke arahku dengan tatapan mengerikan. Sosok itu sepertinya tahu aku bisa melihat mereka. Aku segera mengalihkan penglihatan ku, seolah aku tidak sedang melihat mereka. Dan lagi-lagi aku mendapat teguran dari kak Haikal.
"Sudah ku katakan jangan melihat mereka!!" tegur kak Haikal dengan nada penuh penekanan.