Jaka GEMBLUNG

Jaka GEMBLUNG
Awal kisah


__ADS_3

Di sebuah pegunungan, dimana bertiuplah angin yang lumayan kencang dan seakan-akan meraung-raung seperti tangisan, selain itu ada juga awan hitam yang bergulung-gulung menebarkan hawa dingin menusuk ke tulang sumsum.


Terlihat sekelebat bayangan anak muda yang berlari cepat menuju kearah tebing-tebing curam yang membentang dihadapannya. Pemuda itu berpakaian lusuh dengan rambut gondrong dengan ikat kepala yang berwarna hitam.


Sesekali pemuda itu menengadah menatap ke langit. Burung-burung itulah yang jadi titik tumpu perhatiannya. Dimana burung-burung itu yang beterbangan memutari satu tebing curam, dimana dibawahnya membentang jurang-jurang dalam yang tak terukur dalamnya.


Pemuda yang bernama Jaka Kelana. Pemuda yang berasal dari lereng gunung Lawu.


Ada perasaan aneh yang membuat pemuda ini mempercepat larinya untuk segera tiba di tempat tujuan. Semakin dekat dengan yang dituju, semakin resah hatinya.


Burung-birung yang berterbangan, menjadi satu pertanda buruk bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di tempat itu.


Dengan melewati dua buah bukit, pemuda iniberhenti berlari. Dihadapannya kini membentang jalan-jalan licin dan terjal yang harus dilalui untuk mencapai kearah tebing batu yang paling ujung.


"Jederr....jederr....!"


Suara petir yang menggelegar diudara didahului dengan kilatan-kilatan yang menyambar membuat pemuda ini agak terkejut.


Tetes air hujan mulai turun. Dan tak lama hujanpun turun dengan derasnya membasahi bumi. Sementara burung-burung itu sudah tak memutari ujung tebing itu, karena mereka telah terbang untuk berlindung ke bawah tebing dari curahan hujan,lebat yang mengguyur bumi.


Pemuda ini mengertakan giginyq karena bertekad untuk segera tiba ditempat tujuan membuat dia tak pedulikan lagl segala macam rintangan. Dia mulai menggerakkan lagi kakinya untuk segera berlari dengan cepat.


Tapi kali ini dia harus hati-hati. Terpaan angin keras membuat tubuhnya bergoyang-goyang. Namun dengan gerakan yang gesit, dia terus melompat dan meniti tebing batu itu.


Keberanian pemuda ini memang luar biasa. Karena salah sedikit saja kakinya melangkah, tubuhnya bisa tergelincir ke bawah dimana membentang mulut jurang yang menganga siap untuk menamatkan hidupnya.


Aroma busuk mulai terendus dihidung, rona wajah pemuda ini semakin memucat. Detak jantungnya semakin cepat. Batu-batu licin yang diterpa hujan itu sudah sudah tak


dihiraukan lagi.


Bagi pemuda itu harus lebih cepat tiba untuk melihat apakah yang telah terjadi. Akhirnya Jaka Kelana tiba dimulut sebuah goa yang terletak di ujung tebing terjal.


Goa itu tersembunyi jadi sukar untuk ditemukan, karena diapit oleh dua jurang di kiri dan kanannya. Ketika pemuda itu jejakkan kaki di mulut goa dibibir jurang. Terperangah dia seketika melihat sesosok tubuh yang terlentang tepat dimulut goa. Sosok tubuh yang sudah membusuk dan dikerumuni lalat. Dengan tujuh luka di sekujur tubuhnya.


"Jedderr...jedderr.....jedder...!"


Petir dan kilat kembali menggelegar menimbulkan kilatan cahaya berkilatan. Dan bersamaan dengan dentuman petir itu terdengar suara pemuda itu berteriak.

__ADS_1


"Guru...!"


Sepasang kakinya berdiri menggeletar, sedangkan matanya membelalak memandang sosok tubuh yang segera dikenalinya dan dalam sekejap saja, dia teiah melompat mendekati sosok tubuh itu.


"Guru...! Oh, apakah yang telah terjadi Siapakah yang telah membunuhmu?" gumam Jaka Kelana denganbkata-kata menggetar dari bibirnya.


Pemuda itu duduk bersimpuh di hadapan jasad itu, dan nampak tubuhnya berguncang-guncang karena dia telah


menangis terisak-isak. Air matanya bercucuranbdengan air hujan yang membasahi wajah dan pakaiannya. Inilah rupanya pertanda buruk dari burung-burung yang berterbangan mengitari tebing.


"Guru...! maafkan aku! Maafkan muridmu yang tolol ini. Yang tak pernah kembali untuk


menjengukmu disini," berkata dia seperti


mengajak bicara mayat di hadapannya.


Kembali pemuda itu tenggelam dalam isak tangis yang menyedihkan disamping orang tua yang telah menjadi mayat yang bernama Ki Wirya.


Kakek yang berusia hampir seratus tahun itu adalah Ketua perguruan Alas Ijo. Walaupun pemuda yang berasal dari lereng gunung Lawu itu tak terlalu lama berguru pada kakek ini, namun dia telah merasa begitu kehilangan dengan kematian sang guru.


Tapi Ki Wirya yang dibantu boleh para pendekar golongan putih, mampu menggagalkan niat busuk Empat Serigala Maut


Sejak itu Jaka Kelana pergi tak tentu arahnya. Tapi apakah yang telah didapatkannya, cuma kesialan dia selalu mengalami kesialan belaka yang lebih banyak dihadapi, dan perbuatan tercela yang telah dilakukan.


Karena Jaka Kelana tidak mau wejangan-wejangan gurunya. Bahkan ilmu-ilmu hebat yang telah diturunkan guru-gurunya hampir dilupakan. Sejak turun gunung dari lereng


Jaka Kelana telah punya bekal ilmu kedigdajayaan dari Ki Wirya yang bergelar si Pendekar Bayangan. Pada dua puluh lima tahun yang lalu nama Pendekar Bayangan merupakan sebuah nama yang harum di mata kaum pendekar.


Tapi Jaka Kelana sebagai murid tunggalnya


tak punya nama secuilpun yang dapat


dibanggakan dimata kaum persilatan. Bahkan pedang pusaka warisan gurunya dari lereng gunung Lawu itupun tak ketahuan kemana lenyapnya akibat kecerobohannya.


Kini setelah berguru pada Ki Wirya yang punya nama besar bahkan menjadi orang yang disegani dimata kaum Alas Ijo, ternyata


Jaka Kelana juga bukanlah seorang murid utama, yang diharapkan dapat menjunjung nama gurunya. Hal itulah yang membuat dia bersedih setengah mati.

__ADS_1


Jaka Kelana mendapat sebutan sebagai Jaka Gemblung, julukan itupun didapati karena entah apa sebabnya hingga sampai-sampai dia menjadi pemuda gemblung.


Bahkan nama gurunya yang terakhir pun dia lupa. Ilmu-ilmu yang didapati dari Ki Wirya tak satupun yang pernah dia gunakannya lagi setelah peristiwa dipuncak gunung Lawu itu.


Jaka Kelana cuma mengejar cinta. Dia terlalu mencintai Nimas Ayu, hingga lupa segala-galanya. Selain itu tak sedikit pula dia jatuh ke tangan perempuan-perempuan ****** yang berilmu tinggi. Yang cuma menjadikan dia sebagai bulan-bulanan.


Sungguh hal ini membuat dia sangat bersedih setelah menyadari kelalaian serta kebodohannya. Pemuda itu semakin tenggelam dalam kepedihan hati. Tenggelam dalam kutukan yang menimpa dirinya


Sementara itu hujan semakin deras menyiram bumi. Diselingi sesekali oleh kilatan petir yang menimbulkan suara dentuman menggelegar merambah alam. Seolah akan membuat bumi menjadi lautan.


Jaka Kelana atau Jaka Gemblung duduk termangu memandangi mayat gurunya. Dibiarkannya tubuhnya basah kuyup tersiram air hujan. Selang tak berapa lama kemudian hujanpun berhenti. Jaka Kelana baru tersadar dari merenungnya ketika telinganya mendengar suara burung yang telah kembali berputar-putar:;diatas tebing.


"Dasar Burung keparat!"


Makian pemuda ini yang kemudian lengannya menjuput beberapa butir kerikil.


Detik berikutnya lengannya telah bergerak mengayun ke atas. Dengan sekuat tenaganya, dia lemparkan batu itu mengarah pada ke tiga burung yang sedang terbang merendah disekitarnya.


Tiga ekor burung yang terbang agak mendekat dan terdengar bunyikan suara,


"Eaaaak!"


Dan ketiganya segera terhempas jatuh melayang ke dasar jurang.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2