
Dan ketiganya segera terhempas jatuh melayang ke dasar jurang.
Tiga ekor lainnya terbang dengan cepat karena terkejut mereka melarikan diri. Namun salah seekor terbangnya limbung karena sebuah sayapnya terluka kena sasaran kerikil Jaka Kelana.
Dengan geram Jaka Kelana memandangi burung-burung yang kabur itu hingga lenyap dibawah tebing. Air mata pemuda ini masih menggenang di pelupuk mata ketika dia telah selesai mengebumikan jenazah gurunya Ki Wirya.
Pemuda itu pada saat ini sedang berdiri dengan tak bergeming sambil menundukkan kepalanya.
Sementara itu matahari sudah agak condong kearah barat dan langit begitu cerah tak berawan. Sedangkan angin kencang telah menghembus awan-awan hitam itu hingga membuat langit bersih tak berawan.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini!" gumam Jaka Kelana dalam hati seraya menengadah menatap langit.
"Entah siapa dan dimana si pembunuh keji itu berada, aku bersumpah untuk membalaskan dendam ini. Akan kucari dan tetap kucari selama hayat masih dikandung badan!" seru pemuda itu seraya dipandanginya gundukan
tanah basah yang ditimbuni batu-batu itu dengan mata yang merah.
"Guru, semoga arwahmu tenang di alam Baka. Muridmu yang tolol ini akan mencari
musuh yang telah membunuhmu dengan sekeji ini. Aku yakin dia adalah manusia yang
menginginkan Lambang Ketua Persilatan ditanganmu. Dengan sepotong pedang yang
tertancap di tubuhmu ini, aku yakin akan
menjumpai manusianya yang telah menyebabkan kematianmu!" seru Jaka Kelana dengan suara yang menggetar.
Di lengannya tercekal sepotong pedang bagian ujungnya. Hanya benda itulah yang dapat menunjukkan siapa yang telah menewaskan gurunya yang biasa dipanggil Ki Wirya itu.
"Kaaak....!"
Ketika suara burung-burung yang kembali terdengar di udara, pemuda itu telah berkelebat meninggalkan lereng tebing curam itu dengan menggunakan jurus meringankan tubuhnya.
Tak berapa lama dia telah tiba diatas bukit.
Berhenti sejenak untuk berpaling dan memandang lagi ke arah tebing curam yang akan ditinggalkan.
Lalu dengan hati yang remuk redam pemuda itu segera teruskan berlari menuruni bukit. Tak lama kemudian sosok tubuh pemuda itupun lenyap dari pandangan mata.
Sementara itu hari terus berlalu dan sore berganti malam,malam berganti pagi, padi berganti siang. Dan siang itu udara sangat panas, terik matahari membinar-binar membersihkan sinarnya seperti layaknya mau membakar bumi.
Terlihatlah seorang kakek yang sedang tiduran terlentang diatas batu dengan mata terpejam. Kakek ini bertubuh jangkung kurus, tanpa memakai baju. Kecuali celana pangsinya yang kumal dan penuh dengan tambalan itu yang dipakainya.
Rambutnya panjang yang awut-awutan dan hampir semuanya memutih. Lebih aneh lagi didepan si kakek ini tampak sebutir telur yang amat besar. Telur aneh itu terletak disela-sela batu yang beralaskan rumput dan ranting-ranting kayu kering.
__ADS_1
Keadaan ditempat itu amatlah lengang, seperti tempat yang tak pernah dikunjungi manusia. Hanya bukit-bukit batu terjal dan ranting-ranting kayu kering yang berserakan di sana- sini.
Ternyata kakek ini tengah mendengkur, tidur dengan nyenyaknya sesosok tubuh muncul diujung tebing. Dia seorang gadis yang menebarkan pandangannya seperti ada yang dicarinya.
"Ah, kemana gerangan kakek? makanan sudah matang tapi ditunggu orangnya tak muncul!" seru gadis ini yang menggerutu.
Ternyata dia seorang gadis berpakaian serba hijau yang juga penuh dengan tambalan. Tak lama dia sudah melompat-lompat dan berlari-lari dengan cepat menelusuri tempat itu.
"Eh! itu dia..!" teriak gadis ini dengan girang.
Pandangannya segera tertuju pada si kakek jangkung kurus yang tengah enak-enakkan
mendengkur terlentang diatas batu.
"Kakek...!" teriak gadis ini memanggil kakek itu.
"Bangunlah! makanan sudah kusiapkan. Apakah kau tak ingin makan sekarang?" ujar gadis itu.
"Brrzzz......brrrzz....brrrzz.....!"
Tapi yang dlpanggil seperti tak mendengar. Bahkan dengkurnya semakin menjadi-jadi.
Gadis ini jadi tak sabar memanggil. Apalagi
di panas yang terik begitu melihat si kakek terlentang diatas batu tak juga bergerak.
Dua kali jejakkan kaki dengan tubuh melambung dan berjumpalitan di udara. Sesaat dia telah melayang turun dihadapan si kakek dengan kedua lengan terentang.
Terkejutlah gadis ini ketika nyaris kakinya menginjak sebuah benda putih bulat, kalau saja pada saat itu si kakek yang mendengkur pulas itu tak menguap dan gerakkan tangan
seperti baru mendusin.
Yang membuat gadis ini dua kali terkejut adalah pada saat itu juga telah menyambar angin keras yang membuat dia terperangah.
Tak ampun gadis ini berteriak tertahan, karena saat itu juga tubuhnya terlempar lagi ke udara.
"Haiiiiit....!"
Gadis itu berteriak dan dia segera lakukan salto yang cepat sekali kalau tak mau terbanting ke tanah dengan kapala terlebih dulu.
Dan dengan usaha itu dia dapat menjejakkan kakinya di tanah dengan baik, kemudian dia telah melihat si kakek gurunya itu yang bangkit duduk sambil tertawa terkekeh.
"He...he...he.......! hampir saja kau melenyapkan impianku, muridku yang manis!" seru si kakek.
__ADS_1
"Impian? impian apa itu kakek? Dan telur apakah yang demikian besar itu?" tanya sang dara ini dengan kembali melompat mendekat.
"He...he...he....! aku justru sedang menunggui
telur ini, dan menunggu impian yang kelak bakal datang. Hingga sampai-sampai aku lupa bahwa aku telah memesan makanan padamu. He...he...he...!" jawab si kakek itu dengan terkekeh, sementara si gadis memandangi telur besar itu dengan mengrenyitkan kedua alisnya.
"Ayo kita pulang!" lanjut seru si kakek tanpa
memberikan penjelasan pada sang murid.
"Tidak! aku tak mau pulang sebelum guru
menjelaskan tentang telur itu. Dan apa maksud kakek menunggu impian yang kelak bakaibdatang?" ujar gadis itu yang sedang bersungut dengan cemberut.
Gadis itu duduk diatas batu sambil
membelakangi si kakek. Melihat sikap muridnya kakek ini jadi tertawa terkekeh-kekeh.
"He...he...he....! Baik-baiklah anak manis! Tapi nantilah di rumah saja aku akan ceritakan. Sekarang lebih baik kita pulang dulu. Perutku telah keroncongan. Bukankah tadi kau mengatakan bahwa masakanmu sudah matang?" tanya si kakek seraya lengan si kakek ini mengibas ke arah sang gadis.
"Whuuutt....!"
"Haii.....!'" teriak gadis ini dan dalam waktu sekejap tubuhnya telah melompat setinggi lima tombak untuk menghindari angin keras yang membersit menghantam ke arahnya.
"Duuimmm.......!"
Batu itulah yang jadi korban sasaran yang tak ampun lagi telah terungkit dan menggelinding bagai dihernpas angin badai. Saat tubuh si gadis masih melambung di udara, tubuh si kakek mendadak telah melesat dari atas batu.
Lengan kakek itu terulur menyambar lengan gadis itu. Segera saja sang gadis rasakan tubuhnya terbetot satu tenaga yang keras. Sekejap saja dia sudah melayang seperti terbang melintasi bukit itu.
"He...he.....he.....!"
Ternyata si kakek telah menyambar gadis itu untuk dibawa melesat menuruni bukit batu dengan perdengarkan suara tertawa terkekeh.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...