Jaka GEMBLUNG

Jaka GEMBLUNG
Diuji Empat Guru Raja Siluman


__ADS_3

Tiba-tiba Jaka Kelana terkejut sekali, karena batang pohon itu mendadak roboh. Justru disaat dia sudah berada di atas batang yang paling puncak. Dia melihat kalau si Raja Siluman Ular tak kelihatan duduk di pelepah daun seperti tadi dilihatnya.


"Wuaa..... !" teriak Jaka kelana, ketika tubuhnya meluncur dengan punggung terlebih dulu berikut batang pohon yang dipeluknya.


Jaka Kelana cuma merasa tengkuknya disambar orang. Selanjutnya dia sudah jejakkan kaki di tanah dengan perlahan. Ketika itu pandangan matanya tertuju pada batang pohon kelapa yang baru saja ambruk ke tanah dengan batang yang hancur dan kulit pohon yang mengelupas.


Ketika dia menoleh kebelakang, yang tampak adalah si Raja Siluman Ular yang tertawa mendesis terkekeh-kekeh.


"He....he....he...he......! Nyaris saja kau tertimpa batang pohon kelapa itu, bocah! Kalau kau gunakan jurus Ular Meliuk Menampar Awan, tentu kau akan dapat selamatkan diri dengan mudah!" kata kakek itu.


Membelalak mata pemuda itu. Serta-merta dia sudah jatuhkan diri bertutut di hadapan si


Raja Siluman Ular.


"Guru.. .! oh, ajarilah aku jurus ilmu yang hebat itu." kata Jaka Kelana dengan suara lirih penuh harap.


"Hsssy....hehehe...tentu! tentu, bocah muridku!" ujar kakek ini dengan tersenyum.


"Mari...! kita berlatih di bukit sebelah barat itu!" katanya lagi seraya mengangkat bahu


Jaka kelana .


Berkelebatanlah dua sosok tubuh ke arah bukit yang berada di sisi pantai itu, diiringi suara tertawa si Raja Siluman Ular yang semakin samar.


Sesaat dua sosok tubuh itu pun lenyap di balik tebing waktu berlalu bagaikan anak


panah, dan masa dua tahun itupun berlalu sudah.


Matahari hari itu bersinar terik. Menyinari air laut yang menggelombang, menimbulkan pantulan cahaya yang menyilaukan mata.


Sebuah perahu sampan tampak meluncur


pesat ketengah laut.


Seorang laki-laki bertudung gunakan dayungnya membantu mengayuh, hingga perahu kecil itu bagaikan melayang saja di atas air. Meluncur dengan pesat membelah gelombang.


Di ujung perahu tampak duduk seorang gadis berpakaian laki-laki. Gadis itu tak mengenakan tudung. Rambutnya dikepang dua. Menatap ke depan ke arah cakrawala.


Hempasan badan perahu yang melambung-lambung itu tak membuatnya merasa takut. Bahkan dengan wajah berseri, sebentar-sebentar dia tertawa.


Mereka tak lain dari si Dewa pengembara dan muridnya yang bernama Roro wening.


"Kakek! di depan tak ada tanda-tanda adanya sebuah pulau. Bagaimana mungkin kau terus mendayung tanpa belokkan arah. Apakah


kau tak salah arah?" tanya gadis itu.


"He...he...he...anak manis! aku tak salah arah. Kau perhatikan saja, tak lama lagi di depanmu akan tersembul sebuah pulau!" sahut si kakek dengan tertawa mengekeh. Lengannya tak berhenti mengayuh.

__ADS_1


"Lho" aneh! apakah pulau itu bisa timbul dari dalam laut?" tanya gadis itu lagi.


"Anak manis! tahukah kau bahwa dunia ini


bulat?" tanya si kakek. Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Kalau percaya atau tidak kalau dunia ini


bulat?" tanya lagi si dewa pengembara.


"Aku percaya kalau kau telah membuktikannya." sahut si Roro Wening..


"Haih! Roro Wening....Roro wening! Nah, tatapkan matamu ke depan. Nanti akan tersembul sebuah pulau. Pulau itu bukan muncul dari dasar laut, akan tetapi memang tak kelihatan oleh kita. Karena dunia ini bulat. Seandainya rata, tentu akan terlihat oleh kita walaupun berada jauh sekali!" seri berikan penuturan pada muridnya.


Gadis itu tak memberikan jawaban, karena pandangan matanya terus menatap ke arah


cakrawala. Selang tak lama segera tersembul sebuah pulau yang baru kelihatan ujungnya.


Makin lama makin besar. Hingga akhirnya terlihat keseluruhannya.


"Wah....betul, kek! Itu, lihatlah! sebuahpulau yang amat indah...!" teriak si gadis.


Si dewa pengembara tersenyum melihat si


gadis muridnya itu berjingkrak kegirangan.


Tiba-tiba perahu melaju lebih cepat, Gadis itu torlonjak kaget. Namun cepat-cepat dia berpegangan kuat pada pinggiran perahu.


mengekeh tertawa si kakek. Sementara perahu meluncur bagaikan terbang.


Sementara itu di pulau yang tengah ditujunya. Dua sosok tubuh tengah bertarung seru.


"Bagh....bugh.....bagh.....bugh...!"


"Bagh....bugh.....bagh.....bugh...!"


Saling pukul dan saling hantam. Sebentar-sebentar terdengar suara bentakan dan teriakan tertahan. Batu dan pasir bertaburan. Tampaknya pertarungan itu bukan pertarungan biasa. Karena hawa panas dan dingin silih berganti akibat hawa pukulan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.


Yang bertarung seru ternyata adalah seorang kakek berperawakan jangkung kurus melawan seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun lebih. Dialah Jaka Kelana alias Jaka Gemblung yang bertarung melawan si Raja Siluman Musang.


Sementara empat orang kakek berdiri mengitari arena berlaga itu dengan diam terpaku. Mareka adalah Raja Siluman Kera, Raja Siluman Ular, Raja Siluman Buaya dan Raja Siluman Harimau.


Keempat kakek ini memperhatikan setiap


gerakan muridnya dengan hati kebat-kebit.


Kemenangan dan kekalahan mereka terletak di tangan si pemuda muridnya itu untuk memperebutkan gelar Ketua Raja Gila.

__ADS_1


Enam puluh jurus telah berlalu. Jaka Kelana mengerahkan kekuatan dan segenap ilmunya untuk merobohkan lawan. Ilmu silat Kera, Ular, Harimau telah dipergunakan untuk


menangkis dan balas menyerang.


Tapi Raja Siluman musang memang berilmu tinggi, di samping dia dapat melompat, dan sekali kali memukul dan menggigit dengan ganas.


Hempasan lengan jubah kakek itu laksana taufan. Kalau pemuda itu tidak cekatan, dia sudah celakavsejak tadi. Pada jurus ke seratus, tampak si kakek Raja Siluman Musang itu merubah gerakan serangannya.


Kini dia gunakan gerakan menyambar yang dibarengi dengan pukulan yang ganas. Jaka Kelana terperangah karena saat itu dia agak lengah, serta tak menduga lawan robah serangan dengan cara menyambar.


"Wuuuut....Aiyaa...!" berteriak pemuda itu. Tubuhnya bergulingan dan berjumpalitan


beberapa kali.


Dengan gerakan seratus Ekor Kera Mendobrak bukit, dia lakukan serangan menghantam dengan kedua telapak tangan.


"Plak....!"


Terdengar suara benturan keras, ketika kedua telapak tangan beradu Raja Siluman Musang ternyata telah memapakinya. Terdengarlah teriakan tertahan dari pemuda lereng gunung Lawu itu.


Tubuhnya terlempar ketengah laut. Byuurr...!


Tak ampun lagi tubuh Jaka Kelana telah


tercebur ke dalam air. Empat kakek itu jadi


terperanjat. Masing-masing terperangah, bahkan si Raja Siluman Kera telah mengeluh.


"Ah, muridku! Nasibmu naas.....Kau pasti tewas....!"


"He....he...heh...! Raja Siluman musang tetap


nomor satu!" teriak kakek yang baru berhasil mempecundangi lawan bertarungnya itu.


Tiba-tiba tubuhnya meletik ke Udara. Dan seraya perdengarkan suara mirip Musang, tubuhnya melompat menyusul ke arah terceburnya Jaka Kelana.


Mata kakek ini jelalatan mencari-cari tubuh pemuda itu di antara alunan ombak. Tiba-tiba air di bawahnya menyemburat, bersama munculnya sosok tubuh Jaka kelana yang meluncur kearahnya. Begitu terkejut si Raja Siluman Musang, yang melihat kemunculan pemuda itu secara mendadak, tahu-tahu kakinya telah kena tersambar lengan pemuda itu.


"Aaah...!" tersentak kakek ini ketika satu betotan kuat menarik ke bawah.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2