
Tiba-tiba saja kedua matanya terbelalak melihat sebutir telur besarnya hampir sebesar nyiru (tampah). Benda aneh itu berada di sela-sela batu karang yang penuh dengan tumpukan ranting dan rumput kering.
"Hei...! telur apakah itu? besar sekali! Baru seumur hidup ku melihat telur sebesar ini!" gumam Jaka kelana yang terkejut sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Pemuda itu berpikir sejenak untuk menduga-duga telur apakah yang sebesar itu. Akan tetapi dia tak dapat menerkanya.
"Ah, peduli dengan telur apapun. Perutku sudah dua hari tak diisi makanan. Tentu telur ini bisa menangsal perutku yang sefang keroncongan ini!" berpikir Jaka Kelana sembari mengulas senyumnya.
Tak ayal dia sudah melompat untuk memeriksa. Lalu coba mengangkat telur itu.
"Ha...ha....ha.....! cukup berat juga!" desisnya sambil tertawa memeluk telur.
Sebuah titik putih meluncur pesat di udara. Makin lama makin dekat, dan ternyata seekor burung Rajawali yang amat besar, menukik tajam dari atas tebing itu.
Jaka Kelana sangat terkejut, ketika tahu-tahu terdengar suara mengiyak santar di atas kepalanya. Dalam terkejutnya dia bergulir dari atas telur.
Belum lagi dia sadar apa yang terjadi, tahu-tahu tubuhnya telah kena di cengkeram sepasang cakar yang amat kuat.
Dalam sekejap tubuhnya telah terangkat danmelayang ke udara. Membelalaklah kedua mata pemuda itu pada saat mengetahui yang menyambar tubuhnya adalah seekor burung Rajawali raksasa.
"Celaka aku...aku dibawa terbang!" seru Jaka Kelana yang terperangah.
Hempasan angin keras yang datangnya dari
kepakan sayap burung membuat Jaka Kelana
memeluk erat telur itu. Tak terduga justru sang Rajawali mencengkeram telur itu.
Sekejap saja pemuda itu sudah terbawa membumbung tinggi kebudara. Dua sosok tubuh berkelebatan dari atas tebing dan Keduanya tak lain dari si Dewa pengembara
Mdan muridnya.
Kedua mata kakek itu membelalak melihat sesosok tubuh manusia yang memeluk erat telur raksasa telah dibawa terbang oleh seekor burung Rajawali yang amat besar.
Sekejap sang Rajawali telah melayang jauh,
hadan lenyap dibalik tebing yang menjulang ke langit.
"Kakek...! itukah burung besar yang kau ceritakan?" tanya murid Dewa Pengembara yang penasaran.
"Iya!" jawab Dewa Pengembara dengan lantang.
"Oh dia mencengkeram sesosok tubuh manusia!' teriak Roro Wening yang sangat terperanjat.
"Hah....! Kau benar, muridku! Kita terlambat datang, rupanya ada manusia yang mau mencuri telurku.Dia dicengkeram burung raksasa itu!" seru si kakek dengan hati masygul.
"Oh, dasar nasibku yang sial dangkalan Lenyaplah sudah "impian" ku untuk memiliki anak burung Rajawali itu, dan menangkap induknya!" gerutu si Dewa pengembara itu dengan wajah kecewa.
"Aku yang salah, kakek, kalau aku tak menyuruhmu pulang, tentu kau akan berhasil
menangkap burung Rajawali itu. Akupun ingin
__ADS_1
sekali memiliki anak burung raksasa itu" tukas Roro Wening dengan menundukkan kepalanya.
"He...he...he...! kau tak bersalah apa-apa muridku! Cuma nasib kita saja yang sedang sial!".seru Dewa Pengembara itu dengan terkekeh.
"Entah siapa manusia yang telah digondol burung Rajawali itu!" gumam Roro Wening yang penasaran.
Keduanya masih menatap ke tempat lenyapnya burung raksasa itu, hingga beberapa saat. Tapi tak lama terdengar suara helaan napas si kakek dewa pengembara.
"Sudahlah, muridku! mari kita pulang!" ajak si dewa pengembara itu pada muridnya.
Gadis ini mengangukkan kepalanya dan tak lama kemudian, guru dan murid itu telah kembali melesat meninggalkan tebing itu. Lalu lenyap tak kelihatan lagi.
Jaka Kelana yang tergantung-gantung di udara melewati bukit, lembah dan sungaiai curam.
Sementara burung Rajawali itu terus membumbung tinggi. Kalau saja Jaka Kelana tak cepat menangkap kaki burung raksasa itu dan mencekal erat-erat, tentu tubuhnya sudah
smelayang jatuh.
Selang beberapa saat burung Rajawali itu terbang merendah. Lalu hinggap di atas
daratan. Ternyata sebuah pulau yang cukup luas. Sebuah pulau terpencil di tengah laut.
Burung Rajawali perdengarkan suara mengiyak. Lalu melepaskan telur dari cengkeramannya. Jaka Kelana telah lebih dulu
,,melompat turun. Dan jejakkan kaki di atas pasir.
Akan tetapi sang Rajawali itu perdengarkan
Tentu saja pemuda ini jadi terperanjat
ketika tahu-tahu burung raksasa itu telah
Mm menerjangnya. "Hah! celaka! dia marah...!" sentak
Jaka Kelana. Agaknya sang Rajawali baru sadar kalau ada manusia yang terbaw.berikut telurnya. Menghadapi terjangan-terjangan
Jaka Kelana melompat-lompat menghindar. Hebat
Serangan burung Rajawali ini. Kibasan sayapnya menerbitkan hempasan angin keras. Dan patukan-patukannya menyerbu dengan ganas.
Terperangah pemuda ini. Tapi dia tak berhasrat untuk balas menyerang, kecuali gunakan kegesitan tubuhnya untuk menyelamatkan diri.
Pada saat itulah terdengar seruan seseorang.
"Jaya, hentikan.....!""
Dan sesosok dari atas tebing melayang kedua tangan terpentang. Mirip sekali dengan gerakan terbang seekor bangau.
Hinggap di atas batu tepat di hadapan Jaka Kelana tanpa timbulkan suara. Kakek ini
bermuka lancip dengan rambutnya agak kecoklatan. Dia mengenakan jubah serba putih. Berkumis tipis jenggotnya cuma sejumput kecil mejuntai divbawah dagu.
__ADS_1
Mendengar suara bentakan itu sang Rajawali ternyata telah hentikan serangannya, lalu terbang kembali mendekati telurnya.
"Ha ..ha...ha....! anak muda, bagaimana kau sampai bisa berada di tempatku ini?" bertanya si kakek, menatap Jaka Kelana dengan sorot mata tajam. Yang menjawab ternyata si burung Rajawali, dengan perdengarkan suara mengiyak.
"Iyaaaaak...!"
Sambil menutupi telur dengan paruhnya.
"Diamlah kau Jaya! aku tak bertanya
padamu!" seru kakek tua itu.
Tampaknya sang Rajawali itu mengerti bahasa manusia. Dia telah hentikan suara gaduhnya.
"Si... siapakah kakek?" Ginanjar bertanya karena rasa ingin tahu, seusai berikan penuturan singkat hingga dia bisa sampai di pulau ini.
"Hm, aku si tua bangka ini dijuluki si Taka Soliman Bamgaiu menjadi penghuni pulau ini!" menyahut si kakek. Sementara sejak tadi dia memperhatikan sekujur tubuh pemuda dihadapannya dari kepala sampai ke kaki.
"Kau...kaukah si pemilik burung raksasa ini?" bertanyalah Jaka Kelana.
"Benar!" sahut si kakek.
"Siapakah namamu sendiri anak muda?" kakek ini mengulangi
pertanyaannya "Namaku NANJAR ! Aku berasal dari lerenggunung Rogojembangan" sahut Jaka
perkenalkan diri seraya menjura menekuk lutut.Sengaja Ginanjar mempersingkat namanya. Wajah
si kakek ini tampak berubah. Tiba-tiba lengannya mengibas, seraya membentak.
"Bangunlah anak muda! Tak usah banyak
peradatan!" Hebat kibasan lengan si Raja Siluman
Bangau. Karena saat itu juga bersyiur angin keras menyambar tubuh Ginanjar.
Karena tak menyangka kalau akan diserang, Ginanjar jadi
terperanjat. Dia berusaha mengelak, tapi sudahterlambat. Tubuh pemuda itu terlempabergulingan.
Tapi dengan gerakan reflek dia telah lakukan salto dengan gerakan melompat.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...