
Benar saja sungguh sukar diduga kalau Raja Siluman kura; tiba-tiba mencabut lagi serangannya. Sepertinya dia sudah menduga kalau si Raja Siluman Kera akan melompat ke arah kiri. .
Gerakan melompat si Raja Siluman Kera itu memang amat luar biasa gesitnya. Dengan gerakan melompat yang begitu cepat kakek kurus itu melompat ke sisi. Akan tetapi justru Raja Siluman kura-kura telah mendahuluinya berada disana.
Belum lagi Raja Siluman Kera jejakkan kaki di tanah, tiba-tiba pukulan Tenaga Dalam Sungsang telah menghantam kearah dadanya.
"Aaarghh....!"
Dan menjeritlah si Kakek Raja Siluman Kera dengan suara parau.
Pukulan dahsyat itu telak mengenai dadanya. Itulah pukulan tenaga dalam Inti Es yang telah dipergunakan dengan digabungkan dengan ilmu Tenaga Dalam Sungsang.
Tak ampun lagi tubuh kakek kurus itu terlempar beberapa tombak dan terkapar tak berkutik lagi. Sementara hawa dingin seperti membuat beku sekitar tempat itu.
Apa yang terlihat adalah di antara uap yang menyelimuti sekitar pertarungan itu tampak terkapar tubuh si Raja Siluman Kera dalan keadaan terbungkus oleh lapisan es.
Kejadian barusan itu ternyata telah dilihat oleh Jaka Kelana yang pada saat itu baru saja siuman dari pingsannya. Akan tetapi dia tak dapat gerakkan tubuh bahkan kaki dan tangannya. Semua persendian tulangnya serasa lemah lungiai tak bertenaga.
Tenaganya serasa punah semua. Dia cuma bisa menatap keadaan sesosok tubuh yang terbungkus oleh lapisan es. Tubuh siapakah gerangan dia tak mengetahui sama sekali.
Sementara yang membuat heran adalah dia melihat si Raja Siluman kura-kura yang dalam keadaan jungkir balik memperlihatkan sepasang kakinya yang telah hancur putus.
Tahu-tahu kakek tinggi besar itu sudah berkelebat ke arahnya. Kakek ini melototkan matanya menatap Jaka Kelana. Dengan cepat pemuda itu berbuat seolah-olah masih tak sadarkan diri.
"Huh! kau masih hidup, bocah! Ternyata kesialanmu telah merembet padaku!" seru Raja Siluman kura-kura dengan hati mendongkol pada Jaka Kelana.
"Bret.....! bret....!"
Kakek ini tiba-tiba merobek jubahnya. Dan dengan duduk di rumput itu dia membalut kedua kakinya yang putus itu.
Sementara Jaka Kelana yang dalam keadaan baru tersadar itu menyipitkan kedua matanya mengintip apa yang dilakukan oleh kakek itu.
__ADS_1
Sementara dia mulai mengingat-ingat kejadian yang telah dia alami. Dia mulai teringat akan katakata si Raja Siluman kura-kura yang tertawa terbahak-bahak disaat sebelum dia pingsan.
"Hahaha.... haha.... bocah tolol! Habislah sudah tenaga dalammu! Sia-sialah semua ilmu kepandaianmu yang kau miliki! Ha.... ha.... ha...!.kau memang bocah sial yang membawa keberuntungan padaku Kelumpuhan kakiku akan segera sembuh tak
berapa lama lagi ! Kau memang bocah sial yang membawa keberuntungan padaku!"
Kata-kata itu masih terngiang ditelinga Jaka Kelana.
"Siluman tua ini telah menipuku! Tapi mengapa justru kedua kakinya hancur sedemikian rupa? dan siapa orang yang terkena pukulan Inti Es itu?" tanya dalam hati Jaka Kelana yang penasaran.
"Pasti orang yang terkapar itulah yang telah mengakibatkan kehancuran kedua kaki si Raja Siluman Kura-kura." masih kata dalam hati Jaka Kelana yang merasa penasaran.
Diam-diam pemuda itu mengeluh dalam hati.
"Celaka....! Ternyata manusia ini tak lain dari manusia telengas.bAku terjebak dalam perangkap karena kurang waspada. Haiiih! betapa dungunya aku. Entah apa lagi yang akan diperbuatnya padaku. Aku sudah tak berdaya!"
Walaupun pemuda ini mengeluh dalam keputus asaan namun tidaklah diam begitu saja menerima nasib. Diam-diam dia mengerahkan sisa tenaganya. Lengannya digerakkan untuk menggapai sebongkah batu sebesar kepalan tangan didekatnya ketika si Raja Siluman Kura-kura yang tengah sibuk membalut kakinya dengan menyeringai menahan sakit.
Usahanya berhasil. Kini batu sebesar kepalan tangan itu telah berada dalam genggaman tangannya. Pemuda itu berusaha menghimpun sisa-sisa tenaga dalam untuk disalurkan ke lengan.
Tekad Jaka Kelana ternyata membawa hasil, dengan sisa-sisa tenaga dalamnya ternyata berhasil dikumpulkan pada lengan kanannya yang mencekal batu.
Jaka Kelana masih berusaha berbuat agar tangan kirinya bisa di gerakkan. Akan tetapi ternyata dia tak mampu untuk memindahkan tenaganya ke lengan kiri.
Kekuatan terakhir yang diandalkan Jaka Kelana hanyalah pada tangan kanannya yang mencekal batu itu saja.
Hati Jaka Kelana kebat-kebit menanti saat-saat yang menentukan, menunggu selesainya si Raja Siluman Kura-kura yang sedang membaiut kakinya. Dan saat-saat tegang itupun akhirnya tiba.
Si Raja siluman Kura-kura telah selesai membalut kakinya dan dia menoleh menatap Jaka Kelana yang masih terkapar tak berkutik menyender di dinding batu gunung.
"He...he...heh...! dalam keadaan seperti sekarang ini rupanya aku masih memerlukan kau bocah! Terpaksa aku mengulur waktu kematianmu. Akan tetapi kau harus menjadi seorang yang lupa akan asal-usulmu, juga lupa pada apa yang pernah kau alami! He....he...heh....!" seru si Raja Siluman kura-kura itu dengan suara mendesis.
__ADS_1
Dia mengira kalau Jaka Kelana masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Kakek ini beringsut mendekati Jaka Kelana. Semakin dekat semakin kebat-kebit hati pemuda ini.
Tiba-tiba Raja Siluman Kura-kura mengulurkan tangannya kearah kepala Jaka Kelana.
"He...he....he....! totokan pada urat syarafnya ini akan membuat dia menjadi orang yang linglung. Dia takkan mengetahui kalau aku telah memperdayainya!" gumam Raja Siluman Kura-kura dalam hati.
Akan tetapi beberapa inci lagi sebelum jari tangan si kakekbmenyentuh kulit kepala Jaka Kelana, tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangannya dan menghantam ke arah mukanya.
Kejadian yang di luar dugaan itu terlalu cepat, si kakek tak dapat mengelakkan diri lagi. Dia menjerit parau ketika benda keras menghantam mukanya. Terdengar suara tulang yang hancur beradu dengan batu.
"Aaargh....!"
Darah memuncrat seketika, namun jeritan kesakitan si Raja Siluman kura-kura yang bersamaan pula dengan keluhan Jaka Kelana,karena toh jari-jari tangan si Raja Siluman Kura-kura masih sempat menotok urat syarafnya.
Seketika Jaka Kelana merasakan kepalanya seperti digigiti ratusan semut. Pandangannya menjadi nanar. Dan dia kembali roboh tak sadarkan diri.
Adapun si Raja Siluman Kura-kura meraung panjang mengerikan. Tubuhnya berguling-guling dan berkelojotan bagai ayam yang akan disembelih. Namun tak berlangsung lama karena sesaat kemudian tubuh si Raja siluman kura-kura itu diam tak berkutik.
Darah merah masih keluar dari muka si Raja si Raja Siluman Kura-kura. Keadaan muka kakek itu amat mengerikan, karena tulangnya telah hancur melesak ke dalam hingga sudah tak berbentuk lagi.
Denyut nadinya ternyata telah berhenti. Nyawanya telah melayang dan tempat itu kini sunyi serta mencekam.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima...
...kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...