
Denyut nadinya ternyata telah berhenti. Nyawanya telah melayang dan tempat itu kini sunyi serta mencekam.
Senja kian merayap jua. Pelahan-lahan Mataharipun tenggelam di balik bukit. Sementara puluhan kelelawar terlihat bermunculan mengitari puncak bukit.
Dua musim telah lewat berturut-turut. Waktu berlalu seperti melesatnya anak panah.
Di pertengahan musim dingin itu tampak lima buah perahu bergerak mendatangi pulau terpencil itu, kelima perahu itu masing-masing pada bagian depan tegak berdiri salah seorang dari belasan orang
yang berada pada tiap-tiap perahu.
Perahu yang berada dibagianbtengah mempunyai ukuran lebih besar dan tampak lebih bagus dari yang lainnya berada paling depan di antara semua perahu.
Hingga kelihatannya barisan perahu itu membentuk ujung tombak. Dilihat dari sikap orang yang berdiri didepan perahu itu, dapatlah diduga kalau laki-laki berpakaian serba hitam itu adalah pemimpin dari rombongan itu.
"Kita segera mendarat!" kata laki-laki itu dan usia laki-laki ini dapat ditaksir yaitu berusia sekitar tiga puluhan tahun lebih. Sikapnya gagah dan berwibawa. Dlia tak lain dari ketua rombongan ini.
"Apakah ketua yakin pulau ini yang dimaksud dalam peta?" tanya salah seorang yang duduk di belakang laki-laki ini tanpa memegang dayung.
Dia seorang laki-laki berjubah kuning yang usianya sekitar 40 tahun, berwajah lancip dengan sejumput jenggot didagunya.
"Aku yakin pulau inilah yang dimaksud, paman Miri Pala! Apakah kau melihat kalau ada pulau lagi ditempat ini?" balik bertanya laki- laki itu.
Yang ditanya putarkan kepala memandang ke sekitar tempat di perairan itu seraya bangkit untuk berdiri. Lalu kembali menatap ke depan.
"Aku kira tak ada lagi selain pulau ini, ketua!" ujarnya pelahan.
"Akan tetapi entah kalau di belakang pulau ini ada lagi sebuah pulau....!Hm, nanti kita periksa. Nah, kalian kayuhlah lebih cepat. Aku sudah tak sabar untuk memeriksa pulau ini!"bkata sang ketua.
Perahu dibagian tengah itu tampak melaju lebih cepat, yang segera diikuti oleh empat perahu yang mengiringnya.
Hingga dalam waktu tak seberapa lama ke lima perahu itupun mendarat di pulau tersebut. Dan serentak para awak perahu itupun berlompatan ke pasir.
Sementara laki-laki ketua ini telah melompat lebih dulu. Dari saku bajunya dikeluarkannyq secarik kertas kulit. Lalu tampak dia mengamati kertas kulit itu yang tak lain dari sebuah peta.
Lima orang pemimpin dari masing-masing regu yang mengetuai belasan anak buah, segera berkumpul untuk mengelilingi sang ketua itu.
"Kalian berlima segera berpencar. Bawalah masing-masing anak buah kalian untuk melacak situasi pulau
ini. Kita perlu mengetahui ada tidaknya penghuni di pulau ini dan...." ujar sang ketua seraya menunjuk setelah sejak tadi menatapkan pandangannya pada puncak bukit yang tertinggi itu.
"Nah, aku beri kesempatan beristirahat beberapa saat. Bubarlah! Nanti setelah ada tanda isyarat dariku, kalian mulai jalankan tugas!" seru laki-laki yang berjubah kuning.
Kelima orang itu menyahut dengan serempak.
__ADS_1
"Baik, Ketua....!"
Lalu mereka bubar. Masing-masing
kembali ke kelompoknya. Kecuali laki-laki tua berjubah kuning itu yang masih berada didekat sang ketua.
Akan tetapi baru saja kelima orang itu bubar, tiba-tiba terdengar suara para anak buah mereka menjadi riuh.
Masing-masing kepala menengadah keatas, ketika melihat bayangan benda yang terbang diatas mereka.
Kiranya bayangan itu adalah seekor burung Rajawali yang cukup besar, yang suaranya berkiak-kiak.
"Rajawali raksasa....! Ah, baru sekali ini aku melihat burung sebesar itu!" seru laki-laki ketua itu dengan mendongak ke atas memandang kagum.
"Santapan lezat! Dagingnya tentu enak!" seru si laki-laki tua jubah kuning.
Tiba-tiba lengannya bergerak ke balik jubah. Seutas rantai yang berbandulan sebuah trisula hitam telah berada dalam genggaman tangannya.
Ketika putaran burung rajawali itu berada di atas kepalanya, laki-laki bernama Miri Pala ini mendadak melemparkan trisula itu ke udara.
"Siiiing......weeenggg....!"
Suara mendesing yang disertai
menyambarnya senjata itu ke arah leher, membuat burung Rajawali itu terkejut.
Rajawali itu mengiyak panjang dan sayapnya yang digunakan untuk menghempas benda pembawa maut itu. Hempasan sayap burung itu menimbulkan angin keras hingga trisula maut itu miring ke kiri.
Dia berhasil menghindarkan diri. Tentu saja dia jadi marah karena ada yang mengganggunya. Tiba-tiba sekali memutar, dia telah menukik menyambar si jubah kuning.
Cakarnya terentang memperlihatkan kuku-kukunya yang runcing, paruhnya terbuka mengeluarkan suara yang mengiyak dengan nyaring.
Terkesiap seketika si jubah kuning karena tak menduga serangannya akan menemui kegagalan, dan diluar dugaan justru si burung Rajawali itu justru telah menyerangnya dengan
ganas.
"Sssuuuuiiiit......!"
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara suitan nyaring yang diiringi seruan oleh seseorang.
"Jaya...! jangan kau kurang ajar! Tamu yang datang biarlah aku yang menyambutnya!"
Mendengar suara suitan itu si burung rajawali seketika batalkan serangannya. Dia terbang kembali ke udara dan berputar-putar, lalu meluncur terbang untuk hinggap di
__ADS_1
puncak pohon.
Namun tiada hentinya dia mengeluarkan bunyi keras mengiyak.
"Kaaakkk.....kkaaakk....kaakkk....!"
Saat itu sesosok bayangan tubuh
manusia berkelebat. Dan membelalak mata si jubah kuning karena dihadapannya telah berdiri tegak seorang laki-laki muda berambut gondrong. Memakai ikat kepala dan ikat pinggang kulit ular.
Bajunya yang compang-camping tapi bertampang gagah.
"Ha...ha...ha....! daging burung itu tidak enak sobat! Harap kau tidak
menginginkannya!" seru pemuda itu, yang tak lain adalah Jaka Kelana atau Jaka Gemblung yang selama ini menetap di pulau itu.
"Apakah anda pemilik burung Rajawali itu?" tanya Miri Pala yang memandang dengan tajam.
"Hm, benar! Aku juga penghuni tunggal di pulau ini!" Sahut Jaka Kelana dengan lantang.
"Ada apakah kalian datang beramai-ramai ke pulauku?" tanya Jaka Kelana dengan mengkrenyitkan dahi memandang puluhan orang di tempat itu.
Cepat-cepat si laki-laki ketua dari rombongan itu menjura dihadapan Jaka Kelana seraya berkata.
"Kami adalah orang-orang dari perguruan Jejak Manggala, Aku sendiri sebagai ketuanya. Namaku Bagus Ningrat. Dalam Rimba Persilatan orang menggelari diriku dengan sebutan si Jalak Kuning!" jawab si pemimpin dengan menjura memberi hormat.
"Kedatangan kami kemari adalah mencari tahu kebenaran tentang adanya sebuah benda pusaka di pulau ini yang kami ketahui dengan petunjuk sebuah peta! Bolehkan aku tahu siapa anda?" lanjut tanya Bagus Ningrat.
"Benda pusaka?" tanya Jaka kelana yang tersentak karena kaget.
"Benda pustaka apakah yang mereka maksudkan?" kata Jaka Kelana dalam hati. Karena selama dua tahun lebih dia menetap di pulau itu dia tak mengetahui adanya benda pusaka itu ditempat itu.
Melihat sikap Jaka Kelana yang terpaku heran itu, kedua orang itu saling pandang. Sementara Jaka Kelana jadi garuk-garuk kepala seraya berkata.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima...
...kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...