
Melihat sikap Jaka Kelana yang terpaku heran itu, kedua orang itu saling pandang. Sementara Jaka Kelana jadi garuk-garuk kepala seraya berkata.
"Namaku Jaka kelana. Ma'af aku tak
mengerti, benda apakah yang kalian maksudkan. Dan darimana peta itu
kalian dapatkan?" tanya Jaka Kelana yang merasa heran.
"Hm... sobat! sebelumnya kami mengira pulau kalau ini adalah pulau kosong. Tapi tak tahunya berpenghuni. Benda yang kami cari itu adalah sebuah Pedang Pusaka yang bernama Pedang Pusaka Inti Es! Peta ini kami dapatkan dari seseorang yang mana dia tak mau menyebutkan namanya!" sahut Bagus Ningrat yang memperhatikan
wajah pemuda itu dengan penuh menyelidik.
Dia penasaran dengan pemuda gondrong itu, apakah sebenarnya sudah mengetahui atau hanya berpura-pura saja.
"Pedang Inti Es?" gumam Jaka Kelana yang terheran-heran.
"Aku baru mendengar nama pedang Pusaka itu. Aneh! Akubtak tahu adanya benda Pusaka itu di pulau ini. Hm, jangan-jangan kau sedang
dikibuli oleh orang itu. Di pulau ini tak ada sepotongpun benda pusaka!" seru Jaka Kelana yang menatap Bagus Ningrat.
Mendengar jawaban Jaka Kelana, Bagus Ningrat saling pandang dengan Miri Pala,yaitu orang tua jubah kuning itu mendengus.
"Heh! Apakah kami bisa percaya begitu saja pada kata-katamu" Kau tentu tidak seorang diri tinggal di pulau ini. Kalau kau punya guru, tentu gurumu sudah mengetahuinya! Ketahuilah, kami tidak akan pulang kembali tanpa Pedang Pusaka Inti Es itu di tangan kami!" kata Miri Pala dengan ketus.
"Ha....ha....ha....!"
Mendengar hal itu, Jaka Kelana jadi tertawa tergelak-gelak hingga tubuhnya terguncang-guncang.
Adapun para anak buah perguruan Jejak Menggala segera saja telah membuat pagar betis mengelilingi Jaka Kelana.
Masing-masing dari mereka sudah siap menerima perintah untuk meringkus pemuda berbaju compang-camping itu. Akan tetapi belasan orang tetap berjaga dengan senjata terhunus untuk menghadapi segala kemungkinan dari serangan si burung Rajawali yang masih bertengger di puncak pohon.
"Ketahuilah kalau di pulau ini takkan kalian jumpai siapa-siapa kecuali aku sendiri. Aku memang mempunyai enam orang guru. Tetapi ke semuanya sudah berdiam di dalam tanah. Kalau kalian tidak percaya, silahkan periksa seluruh tempat. Di atas puncak bukit tertinggi itu kalian akan dapati sebuah goa, dan enam buah kuburan yang berjajar. Selain enam buah kuburan itu kalian tak akan dapat menemukan siapa-siapa. Ha...ha...! kalau toh ke enam guruku
mengetahui semasa hidup, tentu benda Pusaka itu sudah ada di tanganku!"seru Jaka Kelana dengan suara agak keras.
__ADS_1
Lengannya menunjuk ke arah bukit tertinggi di tengah pulau. Hampir semua mata menatap kesana. Dan suasana sejenak menjadi hening.
"Kami akan memeriksa!" seru Bagus Ningrat yang tiba-tiba suara pemuda itu memecah keheningan.
"Silahkan! silahkan! aku tak keberatan. Kalau kalian dapatkan benda apa saja di atas bukit itu ambil saja kalau kalian mau!" ujar Jaka Kelana.
"Hm, Paman Miri Pala dan kalian Bendana, Balantra dan Bojala serta dua regubberada disini. Yang lain ya ikut aku!" perintah Jaka Ningrat pada anak buahnya.
Segera saja anak buah itu memecah menjadi dua rombongan. Rombongan yang sebagian segera
mengikuti di belakang Bagus Ningrat. Dan yang lainnya tetap berjaga di tempat itu.
Jaka Kelana yang memperhatikan semua itu dengan tersenyum. Dilihatnya semua anak buah Bagus Ningrat seperti mengawasi dirinya. Akan tetapi tampak pula ada yang mengawasi si Jaya dengan sikap waspada.
Diam-diam di hati Miri Pala timbul niatnya untuk mengetahui sampai di mana ilmu kedigjayaan Jaka Kelana. Akan tetapi dia tak secara langsung
melaksanakan niatnya.
"Sobat muda. Bolehkah aku tahu siapa adanya ke lima orang gurumu yang sudah kaubkatakan mati itu?" tanya Miri Pala yang melangkahkan kaki menghampiri Jaka Kelana.
"Hm, aku tak pernah merahasiakan tentang diriku. Mereka adalah si empat para Raja Gila, termasuk Raja Siluman Kura-kura dan yang seorang lagi adalah si Raja Siluman Musang." jawab Jaka Kelana.
"Empat Raja gila,Raja Siluman kura-kura dan Raja Siluman musang?" ujar Miri Pala yang terperanjat.
"Ha...ha....ha... benar! apakah kau pernah mendengar nama-nama itu?" tanya Jaka Kelana dengan tawa cengar-cengir.
"Apakah mereka yang pernah mendapat julukan si Enam Iblis Gila pada puluhan tahun yang silam?" tanya Kulipala yang penasaran.
"He...he...he... betul! tidak salah!
Ketiga guruku si Raja Siluman Ular, Raja Siluman Harimau, dan Raja Siluman buaya juga pernah bercerita padaku!" jawab Jaka Kelana dengan menganggukkan kepalanya.
"Oh, maafkan kebodohanku sobat muda. Aku tak mengetahui kalau kau adalah murid mereka. Guruku bersahabat baik dengan keenam orang gurumu itu!" seru Miri Pala dengan ramah.
"Hm, begitukah? Boleh tahu siapa nama gurumu?" tanya Jaka Kelana dengan memandang Miri Pala dengan tajam.
__ADS_1
"Beliau adalah Ki Mowo Ireng, yang bergelar si Iblis Tengkorak!" Sahut Miri Pala dengan wajah berkeringat.
"Ha...ha..,ha...! kalau begitu kita adalah sahabat!" Seru Jaka Kelana seraya menatap ketiga pemuda yang bersama Miri Pala itu..
"Ya! Kita adalah sahabat!" balas Bojalu dan kedua kawannya yang
serentak ketiga orang itu menjura dihadapan Jaka Kelana.
Pemuda gemblung itu membalas dengan menjura, akan tetapi tiba-tiba melompat mundur.
"Eh, nanti dulu! Keempat guruku memang berasal dari golongan sesat, akan tetapi telah lama cuci tangan dan tak memunculkan diri di dunia persilatan hingga akhir khayatnya. Adapun si Raja Siluman kura-kura dan Raja Siluman Musang aku tak mengetahui perbuatan apa yang dilakukan di luar." ujar Jaka Kelana yang mulai waspada.
"Gurumu si Iblis Tengkorak adalah seorang manusia keji dan sadis!
seperti yang pernah diceritakan ketiga guruku yaitu Raja Siluman Ular, Harimau dan Buaya! Aku tak bisa mengaku kalian sebagai sahabat, karena aku belum tahu tindak tanduk apa yang kalian lakukan diluar!" lanjut seru Jaka kelana.
"Hm, kau sok alim, sobat! Di dunia ini susah menjadi orang baik-baik! Gurumu pernah menjadi seorang sesat, bahkan dua orang gurumu kau tak mengetahui tindakannya yang dilakukan di luar. Apakah tak mungkin kalau guru-gurumu mewariskan kejahatan kepadamu!" balas seru Miri Pala, yang segera ditimpali dengan anggukan kepala
ketiga orang kawan seperguruannya.
"Yah, kalau begitu terserah kalian sajalah! yang penting aku bisa mengakui kalian sahabatku bilamana tindakan kalian dijalan yang benar!" kata Jaka Kelana dengan garuk-garuk kepala. Dia tak dapat berdebat lebih jauh.
"Baik! baik! hal itu bisa kuterima! Kita bicara yang lain saja!" ujar Miri Pala. Kali ini dia sudah tunjukkan sikap seperti biasa lagi.
...~¥~...
...MOhon dukungannya dan terima...
...kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
"