Jaka GEMBLUNG

Jaka GEMBLUNG
Tewasmya Si Dewa Pengembara


__ADS_3

Dengan mencuri dengar itu, merasa rahasia si pembunuh Ki Wirya yang pernah menjadi gurunya itu mulai tersingkap.


Tapi pemuda yang berjuluk Jaka Gemblung itu amat penasaran karena kakek itu tak menyinggung-nyinggung nama si Raja Siluman Musang dan Medali Lambang Ketua dunia persilatan Alas Ijo.


"Namaku Jaka Kelana.yang biasa dipanggil Jaka Gemblung." sahut Jaka Kelana yang memperkenalkan dirinya.


"Ah, nama yang sesuai orang ya, gemblung! apakah kau pemuda yang pernah kulihat dua tahun yang lalu dibawa terbang burung Rajawali raksasa itu?" tanya si kakek.


Sejurus kata tanya itu membuat Jaka Kelana tercenung, lalu dengan cepat dia menyahut.


"Benar! tidak salah. Memang aku adanya..." sahut Jaka Kelana dengan menganggukkan keplanya.


"Kak Jaka Kelana...? Jadi kau----kau si Jaka Kelana?" tanya seorang gadis yang tak lain murid dewa pengembara.


"Siapakah kau ini?" tanya Jaka Kelana yang pandangannya tertuju pada gadis itu dan pada saat ini jantungnya berdetak keras.


"Aku Roro Wening, anak Ki Banyu Biru! Kak


Jaka Kelana, kau sudah tak mengenal adik angkatmu lagi?" tanya gadis itu dengan cemberut


"Oh ... ah, aku ... aku lupa lagi!" kata Jaka Kelana yang tergagap.


"Ya, ya ... aku ingat sekarang, kau si gadis kecil putri paman Banyu Biru itu! Ah, kau sudah sebesar ini. Dan.... sudah jadi seorang gadis yang cantik!" seru Jaka Kelanai yang inghngat siapa adanya gadis di hadapannya itu.


Jaka Kelana memang pernah tinggal bersama Ki Banyu Biru, ketika dia pertama kali turun gunung dan membawa surat dari gurunya, Ki Wirya untuk menetap dirumah, Ki Banyu Biru yang menjadi sahabat baik dengan gurunya Ki Wirya.


"He...he...!" beberapa dari kalian ternyata kalian saling mengenal.


"Bagus! Bagus! kalau begitu aku tak merasa khawatir untuk meninggalkanmu, muridku ..." Kata Dewa Pengembara dengan napas yang semakin tersengal.


"Tidak, kakek! kau tak boleh meninggalkan aku! kau jangan mati, kek! Jangan tinggalkan aku...!" teriak Roro wening yang kembali terisak-isak memeluki tubuh gurunya.


"He...he...he ... anak bodoh! Kalau Malaikat


pencabut nyawa sudah siap-siap mencabut


nyawaku apakah aku bisa menghalangi"' kata

__ADS_1


si Dewa Pengembara.


Tiba-tiba kakek ini berpaling pada Jaka Kelana. "Kau jagalah, dia, bocah gagah!" ujarnya pada Jaka Kelana. Jaka Kelana cuma bisa mengangguk.


"He....he...he... he...! ceritaku tadi belum habis.


Nah dengarkanlah baik-baik. Medali itu memang kuketahui berada di tangan kakak kandungku Ki Wirya. Karena sebagai orang penting yang pantas menjadi Ketua Alas Ijo karena memegang Medali itu. Tapi waktu itu Medali itu sudah berada ditangan si Raja Siluman Musang. Tentu saja aku mencari dia untuk merebut Medali itu. Setelah berusaha menanyakan hubungan apa si Raja Siluman Musang dengan si manusia bertopeng anak Larasati bekas kekasihku itu. Menurut keterangan si Raja Siluman Musang, dia bersahabat baik dengan tokoh dari Tebet itu. Dan medali itu dihadiahkan padanya. Sedangkan anak si Larasati itu telah kembali ke Tebet setelah selesai melakukan tugasnya. Tentu saja dia tak mengetahui kalau ibunya telah mati bunuh diri..." cerita panjang si kakek itu.


Sampai disini si Dewa Pengembara hentikan penuturannya. Wajahnya semakin memucat. Dan, berkali-kali dia keluarkan darah kental berwarna hitam yang keluar dari mulutnya.


Tak lama kemudian dia pingsan, cukup lama nyawa si Dewa Pengembara itu bertahan. Hingga selama dua hari dua malam dia masih bisa bertahan. Tapi di pagi hari yang cerah, dia telah bembuskan napasnya yang penghabisan, setelah banyak memberi wejangan dan banyak menuturkan bermacam peristiwa hidupnya pada Jaka Kelana dan muridnya.


Jaka Kelana berusaha untuk memulihkan kesehatan kakek tua itu tak menemukan hasil. Dan wafatlah si Dewa Pengembara


dengan diiringi ratapan sedih Roro Wening, yang telah menganggap orang tua itu kakeknya sendiri.


Ternyata setelah penguburan jenazah si


Dewa Pengembara, juga jenazah si Raja Siluman Musang yang dikebumikan sebagaimana mestinya oleh Jaka Kelana.


Roro wening pergi dengan dendam kesumat, yang ketika kelak akan dibalaskannya. Jaka Kelana baru sadar setelah perahu dan gadis itu lenyap. Dia cuma bisa menghela napas.


Tapi niatnya untuk berguru pada Raja Siluman


Kura-kura tetap akan dilaksanakan. Karena dia berpendapat belum cukup ilmunya untuk


berpetualang di Alas ijo. Apalagi mengingat


akan si pembunuh Ki Wirya adalah seorang pemuda yang berilmu tinggi, yang telah


berhasil menewaskan tokoh kosen dunia persilatan itu.


Jaka Kelana berjanji suatu saat akan mencari laki-laki gagah itu ke Tebet. Dengan menuntut ilmu pada si Raja Siluman Kura-kura berarti


akan menambah ilmu kedigjayaannya, walaupun dia tak tahu apakah si kakek itu manusia golongan putih atau hitam.


Hal itulah yang membuat Jaka Kelana tak akan meninggalkan pulau itu belum dia berhasil mengeruk ilmu si Raja Siluman Kura-kura..

__ADS_1


"Roro wening... ! kelak aku akan mencarimu. Kau harus kulindungi, demi pesan si Dewa Pengembara!" gumam Jaka Kelana yang memandang ke arah laut lepas.


"Ah, aku harus segera kembali ke puncak bukit. Kakek botak Raja Siluman Kura-kura gila itu telah tak sabar menungguku. Dan anak burung Rajawali itu perlu rawatanku... !" Jaka Kelanatersadar dari lamunannya. Saat vsitu dikejauhan terdengar suara yang datangnya dari atas bukit tertinggi dipulau itu?' gumam Jaka kelana yang menebarkan pandangannya.


"Hooooiii! bocah gendeng! sudahlah! jangan


kau hiraukan gadis itu. Kelak kau bisa mencarinya tahun dimuka, setelah kau keluar dari pulau ini!" itulah suara si Raja Siluman kura-kura. Nyengirlah seketika Jaka Kelana.


"Baik, kakek gendeng! aku segera datang ...!


Nguk! nguk! nguk! Kalau aku tinggalkan pulau ini tentu kaupun akan mampus siangsiang! bukankah alasanmu untuk aku mempelajari ilmu darimu itu adalah untuk memperpanjang


umurmu? ha...ha....ha... he...hw...ha...!" teriak Jaka Kelana sambil melompat-lompat dengan gaya ilmu Kera.


"Bocah gemblung! kalau kau bicara macam itu lagi anak burung Rajawali ini akan akan an mampus!" terdengar lagi teriakan si Raja Siluman kura-kj membentak marah.


Seketika wajah Jaka Kelana menjadi pucat pasi,


"Wah, wah....! Jangan hai kakek Raja Siluman Kura-kura yang gagah dan sakti. Baiklah, aku tak akan bicara macam itu lagi. Aku akan segera datang! He....he....he... nguk! nguk! nguk!" seru Jaka Kelana seraya berteriak yang mempercepat larinya dengan melompat-lompat.


"Kakek botak itu kukira tak lama lagi umurnya.


Akibat benturan pukulan dengan si Dewa Pengembara telah membuat luka-luka dalam yang parah." gumam dalam hati Jaka Kelana.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima...


...kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2