
Tapi dengan gerakan reflek dia telah lakukan salto dengan gerakan melompat.
Karena hal itu membuat dia selamat dari bahaya. Karena nyaris tubuhnya terlempar ke laut. Dan dia berhasil jejakkan kakinya di atas pasir dengan gwrakan kuda-kuda yang kuat.
Jaka Kelana memandang si kakek Raja Siluman Musang itu denga terbelalak, napasnya memburu dan jantungnya yang berdetak lebih cepat.
Kejadian tersebut membuat dia menjadi gusar, akan tetapi dia juga tak mengerti kenapa tiba-tiba kakek itu menyerangnya.
"He...he..he.....! kau kurang waspada, anak muda. Tapi kau punya otak encer yang bisa
bertindak cepat merobah keadaan. Siapakah
gurumu, bocah?" tanya kakek itu dengan tawa terkekehnya.
"Aku murid si Pendekar Bayangan Ki Wirya dari Gunung Lawu" jawab Jaka Kelana.
"He...he...he....! sudah ku duga. Biar aku tebak kalau gerakan melompat yang kau lakukan barusan adalah gerakan Bayangan Elang?" tanya si Kakek Raja Siluman Musang yang menatap Jaka Kelana dengan tajam.
Melengak pemuda ini mendengar kata-kata si kakek yang ternyata mengetahui gerakannya.
"Benar! dari mana kakek bisa mengetahuinya?" tanya Jaka Kelana yang penasaran..
"Kakek tua ini pasti ada hubungan dengan almarhum guruku. Hm, aku harus hati-hati dengan si kakek ini. Apakah dia lawan atau kawan?" kata dalam hati Jaka Kelana yang berusaha untuk selalu waspada.
Raja Siluman Musang kembali perdengarkan suara tertawanya.
"Ha...ha...ha...! Apakah gurumu tak pernah menyebut-nyebut tentang aku?" tanya kakek tua itu yang penasaran.
Jaka Kelana mengerutkan keningnya, mengingat-ingat kalau ada kenangan yang terlewatkan.
"Rasanya tidak pernah! Ada hubungan apakah anda dengan almarhum guruku?" tanya Jaka Kelana dan pertanyaan itu justru membuat si Raja Siluman Musang jadi melompat kaget.
"Hah....! apa katamu? Dia sudah mampus?" bentaknya bertanya karena saking terkejutnya.
"Benar! Beliau tewas dalam satu pertarungan secara jujur dengan si Raja Tengkorak!" sahut Jaka Kelana yang menegaskan.
"Dewa Tengkorak...!" seru si kakek itu yang lagi-lagi si Raja Siluma Musang yang terkejut sekali.
"Haih...! sungguh tak disangka! Apakah kau yakin pertarungan itu berjalan dengan jujur? Setahuku si Dewa Tengkorak adalah seorang pembunuh bayaran berdarah dingin!" seru si Raja Siluman Musang.
"Aku sendiri kurang mengetahui. Karena si pembawa berita itu adalah orang lain. Yaitu orang yang masih terhitung saudara seperguruanku." kata Jaka Kelana.
"Siapakah dia itu?" tanya Raja Siluman Musang yang penasaran.
__ADS_1
"Dia Nimas Ayu yang dijuluki orang si Pendekar Wanita Pantai Selatan!" sahut
Jaka Kelana.
"Cuma dia seoranglah yang mengetahui pertarungan itu, yang disaksikannya di
Bukit Kera pada lebih dari tiga tahun yang lalu" sambung Jaka Kelana.
Sejenak Raja Siluman Musang tercenung
sambil mengelus jenggotnya yang cuma sejumput itu.
"Haiiih! lebih dari sepuluh tahun aku berdiam di pulau ini, sampai-sampai aku tak tahu keadaan diluaran!" terdengar dia berkata setelah didahului dengan menghela napas panjang.
"Kakek! kau belum memperkenalkan diri, bagaimana aku bisabmengetahui kalau kau orang tua lawan atau kawan?" tanya Jaka Kelana dengan jujur.
Mendengar pertanyaan itu si kakek tertawa lagi terkekeh-kekeh, hingga sampai-sampai air matanya bercucuran.
"He...he...he...! dibilang lawan, aku adalah lawan. Tapi dibilang kawan aku adalah kawan.
Kau anak muda berjodoh denganku hingga kau sampai ketempat ini! Mengenai hubunganku dengan Mi Wirya akan kuceritakan nanti, setelah kau berhasil melewati ujian penentuan dariku!" seru Kakek itu yang menatap Jaka kelana dengan mengulas senyumnya.
"Apa maksudmu sebenarnya, kakek tua?" tanya Jaka Kelana dengan kesal.
Yaitu kau harus dapat menghadapi 100 jurus
serangan dari aku. Bila kau mampu bertahan, kau selamat dari kematian. Akan tetapi bila kau tak mampu, yah! apa boleh buat terpaksa kau cuma tinggal nama saja di dunia ini!" seru Raja Siluman Musang itu yang masih menyunggingkan senyumnya.
"Gila....!" teriak Jaka Kelana dengan mata melotot.
"He...he...he.....! aku yang punya pulau ini, tentu saja aku bebas membuat peraturan-peraturan gila!" jawab si kakek itu dengan seenaknya.
"Kaaak....kaaakk.....kaaaakk....!"
Pada Saat itu si burung rajawali bernama Jaya tiba-tiba perdengarkan suara mengiyak yang tiada henti, seraya melayang diudara berputar-putar diatas mereka.
Raja Siluman Musang kerutkan keningnya, hingga alisnya bergerak menyatu. Tiba-tiba dia membentak keras.
"Jaya....! kau kembalilah kesarangmu! Tapi ingat! Kau tak boleh kemana-mana! Kau eramilah telurmu sampai menetas. Kalau kau masih membandel aku akan menghajarmu, biar kau tahu rasa!" seru Kakek itu yang kemudian burung Rajawali raksasa itu mengiyak perlahan.
"Kaaak...kaaa....kaakkk....!"
Tubuhnya menukik melayang turun, lalu menyambar telurnya. Sekejap dia sudah terbang lagi untuk menuju ke puncak bukit yang tertinggi dipulau itu.
__ADS_1
"He ..he...he....! tak lama lagi kita akan kedatangan tamu. Aku sudah siap menantinya!" seru si kakek yang terkekeh itu dengan menatap pada Jaka Kelana.
"Dan kau anak muda. Nasib penentuan hidup
matimu adalah hari ini!" sambungnya.
Jaka Kelana menatap pada si kakek dengan
tak mengerti. Akan tetapi saat itu telinganya telah mendengar suara-suara aneh yang berdatangan dari beberapa arah di sekeliling pulau itu.
"Suara apa pula itu?" sentak Jaka Kelana berdesis. Diam-diam keringat dingin telah
membasahi sekujur tubuhnya.
Suara-suara aneh yang tertangkap di telinga Jaka Kelana adalah seperti suara harimau, kera, ular, dan entah suara binatang apalagi. Suara itu semakin lama semakin santar, membuat hati Jaka Kelana semakin kebat kebit.
"Oh, apakah nasibku harus mati di pulau ini?" sentak Jaka Kelana berdesis, seraya berpaling ke beberapa arah dengan wajah pucat.
"Makhluk-makhluk siluman apalagi yang bakal muncul, yang menjadi tamu si Raja Siluman Musang ini?" kata Jaka Kelana dalam hati.
Terperangahlah Jaka Kelana ketika mengetahui yang muncul adalah empat orang kakek tua yang sudah renta yang bertampang tak sewajarnya.
"Bagus! bagus! ternyata kalian muncul tepat pada waktunya, sobat-sobat yang gagah perkasa!" seru Raja Siluman Musang telah menyambut kedatangan mereka ini dengan
melompat keatas batu besar. Lalu perdengarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.
"He...he...he....! kita masih belum komplit!" seru seorang kakek yang bermuka hitam dan mencekal sebuah tongkat berkepala ular.
"Aku tak melihat adanya si Raja Siluman Naga! kecuali seorang bocah ingusan didepanmu! Siapakah dia, sobat Raja Siluman Musang?" tanya kekek tua yang lainnya.
"Benar, sobat Raja Siluman Ular! Rupanya dia enggan datang untuk memperebutkan gelar Raja Gila dipulauku ini!" seru Raja Siluman Musang dengan tersenyum.
"Bocah muda dihadapanku ini adalah seorang bocah yang kesasar ke pulauku. Menurut katanya dia bernama Jaka Kelana. Dia murid si Pendekar Bayangan Ki Wirya dari lereng gunung Lawu!" jelas Raja Siluman Musang, yang disimak ke empat kakak tua dihadapannya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...