
Jaka Kelana rupanya sudah kepalang untuk
mau melakukan apa saja, asal dia bisa belajar
ilmu pada keempat kakek gila itu.
Tiba-tiba dia melangkahkan kakinya untuk maju dan dengan tangan saling menangkup seraya menundukkan kepalanya.
"Baik, guru... ! Saya siap untuk mencium dan menjilat pantat anda." kata Jaka Kelana.
"Hah...!" semuanya terkejut karena ucapan Jaka Kelana itu.
"Raja Siluman Harimau tua bangka! Hari ini bukan giliranmu memberi perintah! Whuuk.... ! Nguk! nguk! Jadi singkirkan pantatmu itu, kakek peot!" seru si Raja Siluman Kera yang berbarengan dengan kata-kata hentakannya, mendadak tangan si Raja Siluman Kera mulur menjadi panjang.
"Whuttt.....!"
Nyaris saja pantat si Raja Siluman Harimau kena cengkeraman tangan si Raja Siluman Kera, kalau dia tak segera elakkan diri dengan melompat.
"Grrr.....!"
Menggeramlah Raja Siluman Harimau, hingga jenggotnya yang lebat itu bergerak dan bergoyang-goyang. Namun dia tidak marah dengan sikap si Raja Siluman Kera, selain buru-buru ikatkan lagi tali kolornya, dengan bersungut-sungut. Sementara kedua kakek Raja Siluman Ular dan Raja Siluman Biawak tertawa terkekeh-kekeh.
"Ha....ha....ha..... he...he...he ...! hari ini adalah
giliran si Raja Siluman Kera yang berhak memberi perintah, sobatku! Kau harusbbersabar menunggu giliran!" seru Raja Siluman Buaya dengan tergelak-gelak dan leletkan lidahnya.
"Hmmm baiklah!" sahut Raja Siluman Harimau.
"Grr....! Lalu kapan giliranku? ada baiknya ditentukan sekarang, siapa-siapa yang menjadi giliran setelah si Raja Siluman Kera!" seru raja siluman Harimau ini denganvmenggeram.
"Ya, ya! itu usul yang bagus. Sebaiknya diadakan undian untuk menentukan siapa giliran selanjutnya!" seru Raja Siluman Ular.
Setelah keributan itu berhenti, mereka berempat mulai bermusyawarah dan dari keempat kakek dari Raja-Raja Gila itu diadakan undian, merekapun mendapat masing-masing giliran, juga ditentukan
waktu lamanya menggembleng pemuda itu.
Akhirnya mereka terbagi masing-masing selama enam bulan, betapa bahagianya hati Jaka Kelana saat itu.
Pemuda itu merasa kalau nasibnya amat beruntung dapat tiba di pulau itu, dan berjumpa dengan para Raja aneh yang bakal
__ADS_1
menjadi gurunya.
Yang itu berarti kalau dirinya akan berhasil menjadi seorang tokoh persilatan yang kelak mempunyai nama besar di dunia persilatan.
Selain itu pula dia dapat membalaskan dendamnya pada si pembunuh gurunya Ki Wirya yang menjadi Ketua kaum Alas Ijo dari
golongan putih itu. Dan hari itu juga Jaka Kelana sudah siap menerima petunjuk dan perintah apapun dari Raja Siluman Kera untuk mempelajari ilmu- ilmu yang bakal diturunkan si kakek aneh mirip kera itu padanya.
Tiga kakek berkelebatan pergi untuk masing-masing mengundurkan diri sambil
menunggu tibanya waktu giliran mereka masing-masing. Kemauan keras serta tekad yang bagaikan baja untuk mengeruk ilmu-ilmu kedigjayaan dari Empat Raja Gila, membuat Jaka Kelana menjadi orang yang cerdas otaknya.
Setiap pelajaran dari Raja Siluman Kera cepat sekali diserapnya. Dan dalam waktu enam bulan, dia sudah bisa menguasai ilmu silat Kera. Tentu saja si Raja Siluman Kera amat berbesar hati, dan memujibkecerdasan otak Jaka Kelana.
Hingga dihari terakhir si kakek mirip kera itu berpesan padanya.
"Jaka kelana, muridku. Hari ini adalah hari
terakhir kau berguru padaku. Tiga pukulan sakti yang telah berhasil kau pelajari tak boleh kau gunakan jika tidak menghadapi musuh yang ilmunya melebihi di atas tingkat kepandaianmu."
"Selain itu kau harus menjaga nama baikku,
"Terima kasih, guru. Murid akan mentaati apa-apa yang menjadi pesan dan wejangan guru. Murid telah siap untuk mempelajari ilmu silat ular!" sahut Jak Kelana dengan menunduk hormat dihadapan gurunya.
"Bagus! nguk! nguk! nguk! hehehe... nah!
aku segera akan pergi sementara dari sini, sampai kelak datang hari pertarungan perebutan gelar ketua fari Raja-Raja Gila!" kata si kakek mirip kera itu melompat ke atas
dahan pohon. Dan lenyap dalam sekejap mata.
"Ah, guru...! betapa besar budimu menggembleng aku di pulau ini. Walaupun
waktunya amat singkat, tapi serasa aku tak dapat berpisah denganmu!" kata Jaka Kelana yang menggumam sendiri.
Tibalah saat yang dinanti-nanti Jaka Kelana pun tiba, dengan datangnya Raja Siluman
Ular yang menjadi giliran kedua. Jaka Kelana pun menjura dengan hormat dihadapan kakek kurus tinggi itu.
"Guru....! aku telah siap untuk menerima petunjukmu!" seru Jaka kelana.
__ADS_1
"Ha...ha....! Sssssssst.......!"
Si Raja Siluman Ular itu pun tertawa yang menyeringai, tongkatnya tiba-tiba meluncur ke arah batok kepala pemuda itu dan gerakan menghantam itu adalah di luar dugaan Jaka Kelana.
Lanjut dengan sambaran angin halus terasa meniup ubun-ubun kepalanya. Membuat dia cepat tersadar akan ancaman bahaya maut.
"Nguk! nguk! nguk!"
Jaka kelana telah lompat untuk menghindar. Gerakan melompatnya justru lebih cepat dari sambaran tongkat si Raja Siluman Ular. Bahkan tahu-tahu dia sudah menggelinding ke belakang si Raja Siluman Ular.
Mendenguslah kakek ini dan tiba-tiba saja tiga sambaran beruntun menyerangnya. Itulah jurus yang sangat berbahaya. Tongkat ular si kakek bagaikan bermata delapan, dapat melihat kemana arah tubuh Jaka Kelana melompat dan menggelinding.
Terkesiap Jaka Kelana melihat tiga serangan yang beruntun. Namun lagi-lagi dia berhasil loloskan diri dari maut, dengan bergerak lincah menghindari serangan.
Serangan-serangan selanjutnya berdatangan silih berganti. Nampaknya Jaka Kelana telah menguasai ilmu melompat yang mahir.
Gerakan-gerakan melompat dari jurus-jurus kera hasil yang dipelajari dari si Raja Siluman Kera langsung dia gunakan. Kira-kira sepuluh jurus, si kakek Raja Siluman Ular menghentikan serangannya.
"Bagus! kau telah mirip dengan si Raja Siluman Kera, bocah! Cukuplah untuk pembukaan pertama ini aku mengujimu!" seru si raja siluman Ular.
"Ha....ha....ha.....! kukira guru mau membunuhku!" seru Jaka Kelana sambil cengar-cengir dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian dia berjingkrakan sambil melompat-lompat. Kelakuan Raja Siluman Kera itu ternyata benar-benar telah diwarisi pemuda itu.
"Ha...ha....ha... he...he...he.....!;mari kau ikuti aku, bocah!" seru Raja Siluman ular, seraya melompat ke atas dahan pohon kelapa.
Lalu dengan gerakan gesit menggelosor hingga sampai ke puncak pohon. Gerakan tak ubahnya bagaikan gerakan ular. Jaka Kelana terperangah melihatnya. Pemuda itu langsung melompat untuk menyusul dengan menggunakan cara gerakan kera untuk memanjat batang pohon kelapa itu.
Tiba-tiba Jaka Kelana terkejut sekali, karena batang pohon itu mendadak roboh. Justru disaat dia sudah berada di atas batang yang paling puncak. Dia melihat kalau si Raja Siluman Ular tak kelihatan duduk di pelepah daun seperti tadi dilihatnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...