Jaka GEMBLUNG

Jaka GEMBLUNG
Mengalahkan Raja siluman Musang


__ADS_3

Aaah...!" tersentak kakek ini ketika satu betotan kuat menarik ke bawah.


"Byuurr....!"


Lenyaplah seketika tubuh si Raja Siluman Musang ke dalam laut. Empat kakek itu samasama belalakkan mata, tapi dengan senyum tersungging di bibir.


Keempatnya saling pandang. Dan serentak mereka telah memburu ke tepi pantai. Air laut mendadak jadi bergelombang, bergulung-gulung. Pertanda di bawah air tengah terjadi pertarungan seru antara kedua tokoh tua sakti dan pemuda itu.


Keempat kakek ini tak lepas menatap ketempat bergolaknya air laut dengan hati


berdebar.


"Mampukah si Jaka Gemblung itu menjatuhkan si Raja Siluman Musang?" tanya Raja Siluman Ular pada Raja Siluman Kera dan Raja Siluman Harimau yang tampak menahan napas


"Untuk melihat hasil pertarungan. Siapakah yang akan berhasil menjadi pemenang!" seri si Raja Siluman Buaya yang tampak tenang-tenang saja.


Karena dia tahu, kalau Jaka Kelana tengah menggunakan jurusnya dalam pertarungan kali ini Yanga ada di dasar laut. Hal itu menjadi kelemahan si Raja Siluman Musang, karena dia tak mungkin dapat bertahan lama di dalam air.


Ternyata Raja Siluman musang memang tokoh yang diakui kehebatannya. Dia berhasil


melepaskan cekalan kuat tangan Jaka kelana. Dan memberontak untuk melesat ke luar dari permukaan.


Akan tetapi kakek ini keliru kalau dia telah terbebas dari bahaya, karena Jaka kelana telah menyambar lagi kaki si kakek. Ketika air menyemburat ke atas permukaan yang dibarengi meluncurnya tubuh kakek itu ke udara, Jaka kelana ikut terbawa melayang.


Empat kakek terperangah melihat dua manusia itu melayang-layang di udara. Seolah-olah pemuda itupun ikut melayang dibelakang si raja siluman Musang.


Akan tetapi pada putaran kedua di atas permukaan laut itu, Raja Siluman Musang telah menghantamkan telapak tangannya ke arah Jaka Kelana.


"Whuuuuuk.....!"


Angin deras menghantam. Sebelum terkena


sasaran, terpaksa Jaka kelana lepaskan pegangannya, dan celakanya tubuhnya melambung di udara.


Dengan gerakan gesit Raja Siluman Musang menukik, dan mendarat di pasir.


"Ha....ha...he...he...heh.....! enak sekali rasanya


terbang...! Hei.....! Raja Siluman Musang tua bangka!" seru Jaka Kelana dengan terkekeh.


"Ayo bertarung di udara!" lanjut seru Jaka Gemblung itu yang sedikit menantang.


Tersentak kaget orang tua ini, dan memandang dengan mata membelalak. Karena melihat bocah muda itu justru bukannya tercebur lagi ke laut, tapi malah melayang-layang di udara dan berputar-putar


di atas permukaan air.


"Gila....! dari mana dia mendapatkan ilmu terbangku?" mendesis si kakek dengan mata

__ADS_1


dikucak-kucak tak percaya.


Tiba-tiba Jaka kelana menukik kearahnya. Lengannya bergerak memukul dengan dahsyat. Terkejut kakek ini bukan kepalang, karena jurus itu adalah jurus yang dimilikinya.


Dengan berteriak tertahan dia terpaksa jatuhkan dirinya bergulingan. Tapi Jaka kelana terus mencecar dengan pukulan-pukulan maut yang tiada hentinya.


Tubuhnya menyambarnyambar laksana Musang yang mengejar mangsanya. Tentu saja seketika berubah rias wajah si kakek Raja Siluman Musang yang menghadapi


serangan-serangan dan jurusnya sendiri.


Bahkannjurus serangan pemuda itu dibarengi dengan jurus Kera melompat dan harimau yangnmenerkam. Terkadang dengan jurus Ular yang dibarengindengan desisan keluar dari mulut pemuda itu.


Menghadapi serangan-serangan ininmembuat si kakek tak berayal lagi untuk


sebisanya menyelamatkan diri. Akan tetapi....


"Breet....! Breeeet....!"


"Bhukkk...!"


Terdengar teriakan parau si kakek Raja Siluman Musang ketika serangkaian serangan mendadak itu tak berhasil dihindari.


Jubahnya terkoyak dan dadanya terkena hantaman lengan pemuda itu. Terlemparlah tubuh si kakek Raja Siluman Musang ke udara. Dan jatuh meluncur ke dalam laut.


"Haih....! aku telah mencelakainya...!" teriak Jaka kelana yang baru saja jejakkan kakinya ke atas pasir. Pemuda ini tampaknya seperti menyesali akan kejadian barusan.


Empat kakek itu belalakan mata memandang Jaka kelana. Dan serentak berseru sambil


"Horeee! kau menang! kau menang! Kita


menaaang....!" teriak si Raja Siluman Kera seraya melompat dan berjingkrakan.


"Bagus, muridku, kau berhasil mengalahkannya dan melenyapkan kesombongannya!" berkata Raja Siluman Harimau.


Raja Siluman Buaya dan Ular cuma tersenyum sambil acungkan jempolnya. Mereka tampaknsenang atas hasil pertarungan yang dimenangkan oleh pemuda murid mereka itu.


Akan tetapi Jaka kelana justru tak merasa


bangga atas kemenangannya. Dia amat


mengkhawatirkan keselamatan si Raja Siluman Musang yang terkena hantaman telak pukulannya.


''Terima kasih atas sambutan kalian para guruku. Semua itu adalah atas jasa kalian yang membimbingku dengan ilmu-ilmu yang kalian berikan padaku... " kata Jaka kelana dengan menjura dihadapan ke empat kakek raja siluman itu.


' Tapi, dari mana kau dapatkan ilmu si Raja Siluman Musang itu?" tanya Raja Siluman Kera dengan menatap tajam pada Jaka kelana.


"Ha....ha....ha....ha...! aku telah menirunya. Selama bertarung aku terus menghapal dan mempelajari jurus-jurus serangan kakek yang melawanku itu. Bukankah guru sendiri yang memberi contoh? Bukankah sifat seekor Kera adalah selalu meniru tingkah laku orang?" sahut Jaka kelana sambil tertawa.

__ADS_1


Mendengar jawaban pemuda itu, Raja Siluman Kera jadi garuk-garuk kepala. Tiba-tiba dia melompat-lompat seraya


berteriak kegirangan.


"Nguk....! nguk....! nguk....!"


"He....he....he...he...! dasar bocah cerdik!


bocah pintar! kau memang bocah hebat!" puji sikakek dengan membelalakkan mata.


"Apakah kau hapal semua jurus-jurus yang digunakan si Raja Siluman Musang?" bertanya si kakek mirip kera itu.


"Ha...ha...ha... nguk...nguk...! hampir seratus jurus gerakan dan pukulan si Raja


Siluman Musang telah hapal diluar kepala." jawab Jaka kelana dengan tirukan suara kera mirip gurunya.


"Hebat! hebat! He...h3...h3...!" puji Raja Siluman Kera dengan membelalakkan mata. Lalu mengekeh tertawa.


Sementara ketiga kakek Raja Siluman Ular,


Buaya dan Harimau cuma bisa belalakkan mata dan menatap kagum pada Jaka kelana.


Saat itu di atas puncak bukit tertinggi di pulau itu tampak si Rajawali raksasa perdengarkan suara mengiyak tiada henti, dengan berputar-putar di atas bukit.


"KEAAAAAK! KEAAAK...!"


Terdengar suara mengiyak di udara. Sebuah bayangan hitam dan amat besar telah menyambar tubuh si Raja Siluman musang


sebelum tubuhnya menyentuh permukaan air.


Itulah si burung Rajawali bernama Jaya, yang mana sepasang kakinya telah mencengkeram tubuh kakek itu. Lalu dengan keluarkan suara mengiyak tiada henti, burung raksasa itu meluncur pesat ke atas bukit tertinggi di pulau itu.


Sejenak keempat kakek dan Jaka kelana memandang ke sana dengan terpukau.


"Guru! mari kita ke sana!" teriak Jaka Kelana tiba-tiba. Dan tanpa menunggu jawaban lagi, dia sudah mendahului berkelebatan ke arah rajawali itu.


Keempat kakek sejenak saling pandang. Namun satu isyarat dari si Raja Siluman Kera telah membuat mereka setuju untuk menyusul.


Serentak tubuh mereka berkelebatan dari tempat itu. Apakah gerangan yang terjadi di atas puncak bukit itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2