
Burung raksasa itu timbul tenggelam di permukaan air. Tapi tak lama tak muncul lagi. Tewaslah sudah si Jaya yang bernasib malang itu mengapung di laut.
"Guru! mari kita lihat ke sana!" seru Jaka Kelana.
Akan tetapi dia tak melihat adanya empat kakek itu berada di situ.
"Hei....! kemanakah kalian?" teriak Jaka Kelana.
Tubuh pemuda ini berkelebatan mencari ke empat gurunya. Namun tetap saja Jaka Kelana tak menjumpai mereka.
"Haih, kemanakah mereka! Apakah telah dengan meninggalkan pulau ini?" desis pemuda itu seraya menukik turun.
Baru saja dia jejakkan kakinya ketanah, suara tertawa terkekeh menyambutnya.
"He.....he....he ...he....he...! Hei Gemblung! Siapakah namamu?" Entah darimana munculnya si kakek Raja Siluman kura-kura telah berdiri disitu.
Jaka Kelana mundur selangkah. Sepasang matanya menatap tajam pada kakek botak jubah sisik itu.
"Hm, apakah kau perlu mengetahui namaku juga?" balik bertanya pemuda ini.
"Ya! karena kau adalah pewaris ilmu-ilmu si Empat Raja Gila. Juga pewaris ilmu si Raja
Siluman Musang!" tukas kakek botak itu dengan menyeringai.
"Heh...! keempat kakek itu memang guruku, tapi si Raja Siluman Musang bukan guruku. Aku tak merasa diangkat murid olehnya!" jelas Jaka Kelana dengan nada tandas.
"Si Raja Siluman Musang?" kata kakek ini dengan nada heran.
"Hm, aku hanya mencuri ilmunya saja!" sahut Jaka Kelana. Sementara diam-diam dia menilai si kakek ini.
"Apakah manusia ini tokoh baik-baik ataukah tokoh jahat?" kata dalam hati Jaka Kelana.
Raja Siluman Kura-kura jadi terbengong mendengar kata-kata Jaka Kelana. Tapi tak lama dia perdengarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.
"Ha...ha....ha ...he...he he ...kau memang bocah aneh! Baru aku mendengar ada orang mencuri ilmu. Tak apalah kalau kau tak mau sebutkan siapa namamu. Tapi ketahuilah, ilmu-ilmu empat orang gurumu ditambah dengan ilmu si Raja Siluman Musang masih belum apa-apanya, dlbandingkan kehebatan ilmuku!" ujar si kakek diantara derai tawanya.
"Buktinya empat orang gurumu sudah angkat kaki dari pulau ini. Dan kau lihat sendiri si Raja Siluman Musang itu sudah mampus berikut burung raksasa piaraannya!"lanjut kata si kakek.
"Sayang Medali itupun ikut terkubur di dalam laut!" gerutu si Raja Siluman Kura-kura dengan mendongkol.
"Eh, kakek Raja Siluman Kura-kura! harap
kau berikan penjelasan yang jujur. Apakah Medali itu si Raja Siluman Musang yang
memilikinya?" tanya Jaka Kelana yang penasaran.
__ADS_1
"Mau apa kau tanyakan tentang Medali itu? Kukira sudah tak ada gunanya lagi!" tukas si kakek dengan mata melotot.
"Ketahuilah! Medali itu ada hubungannya
dengan urusanku!" seru Jaka Kelana dengan suara tegas.
"Hm, hubungan apakah! Setahuku Medali
itu milik Ki Wirya, yang menjadi Ketua Kaum Rimba Persilatan!" ujar si kakek.
"Beliau itu adalah guruku!" seru Jaka Kelana.
"Apakah kata-katamu bisa dipercaya?" tanya si kakek raja siluman kura-kura yang penasaran.
"Mengapa aku harus berdusta!" seru Jaka Kelana.
"Kutemukan tewas dua tahun yang lalu di tempat kediamannya. Aku tak tahu siapa yang telah membunuhnya. Dan Medali itu yang setahuku selalu tak pernah lepas dari saku bajunya, telah lenyap. Aku cuma jumpai
jenazahnya yang keadaannya sangat mengerikan. Tentu saja aku harus mencari siapa yang telah membunuh guruku itu, di samping mencari lambang kekuasaan Ketua Rimba Persilatan yang telah hilang. Itulah sebabnya aku ingin tahu lebih jelas, apakah kau mengetahui tentang Medali itu, juga
peristiwa terbunuhnya Ki Wirya!" tutur Jaka Kelana dengan singkat.
Kakek Raja Siluman Kura-kura ini jadi manggut-manggut mendengarkan penuturan Jaka Kelana.
"Namaku Jaka Kelana. Orang selalu memanggilku dengan sebutan Jaka Gemblung, Aku pernah menjadi murid Ki Wid
Wirya. Aku cuma menemukan sepotong
pedang inilah yang menancap di tubuh jenazah mendiang Ki Wirya !" kata Jaka Kelana yang memperkenalkan diri tanpa diminta. Seraya menunjukkan potongan
pedang yang selalu diselipkan di balik bajunya.
"Apakah kau mengenali pedang ini milik siapa?"btanya Jaka Kelana seraya menunjukkan . Kakek ini tertegun menatap potongan pedang di tangan Jaka Kelana.
Kesempatan untuk mengungkapkan misteri si pembunuh gurunya dimanfaatkan
Jaka Kelana dengan mengorek keterangan dari si Raja Siluman Kura-kura. Saat itu pandangan mata si kakek itu menangkap adanya sebuah perahu layar yang meluncur pesat mendekati pulau. Itulah perahu si Dewa Pengembara.
Belum lagi menjawab pertanyaan Jaka Kelana, si kakek botak yang membawa tameng tempurung kura-kura itu telah
berkelebat memuruni bukit.
"Hei...! mau kemana kau kakek!" teriak Jaka Kelana yang tak ayal dia sudah berkelebat
mengejar. Gerakan tubuh Raja Siluman Kura-kura memang luar biasa cepatnya.
__ADS_1
Jaka Kelana menyusul dan kerahkan ilmu larinya yang juga dibarengi dengan gerakan jurus meringankan tubuhnya. Hingga dari kejauhan tampak kedua sosok tubuh itu bagaikan burung-burung aneh tanpa sayap yang saling berkejaran menuruni bukit.
Sementara itu, si kakek Dewa Pengembara yang telah lakukan pendaratan ke pulau itu. Tubuhnya melompat ke atas pasir menyusul si gadis muridnya yang telah melompat terlebih dulu begitu ujung perahu menyentuh pasir.
"Kakek, jadi maksudmu pergi ke pulau ini adalah mencari jejak burung Rajawali raksasa itu? Ah, sayang sekali ... burung raksasa itu justru sudah tenggelam di laut!" seru si gadis.
"Tebakanmu tak salah, muridku. Burung raksasa itu sudah lama kuperhatikan selalu
menuju ke pulau ini. Aku menduga dia bersarang di pulau ini. Tapi seperti kita lihat tadi, burung raksasa itu mengiyak keras
lalu terjungkal masuk laut. Pasti ada apa-apa yang telah terjadi di pulau ini!" balas seru si dewa pengembara itug dengan wajah tegang.
Tampaknya si gadis tak begitu memperhatikan kata-kata gurunya. Karena dia
amat tertarik dengan pemandangan indah di pulau itu.
"Ah, pulau ini amat indah, kek! Bagaimana
kalau kita menetap saja disini? Kalau tak dapat induknya aku kira kita bisa mendapatkan anak burung Rajawali raksasa itu. Telur yang dieraminya tentu telah lama menetas!" kat si gadis seraya melompat-lompat ke tengah pulau.
Tiba-tiba mata gadis ini jadi membelalak karena dihadapannya telah berdiri sesosok tubuh dari seorang kakek tinggi besar berkepala botak, berkumis panjang bagai yang membawa perisai yang seperti tempurung kura-kura, yang tampak berkilatan kena cahaya Matahari.
Belum lagi sempat si gadis bertanya, lengan kakek botak itu mengibas. Bersyiurlah angin halus menyambar tubuhnya. Gadis ini perdengarkan teriakan kaget. Karena tahu-tahubdia rasakan tubuhnya telah kaku tak dapat digerakkan.
"Ah ...!" terperangah si gadis dengan mata membelalak, saat itu terdengar bentakan keras dibelakangnya.
"Ilmu totokan jarak jauh yang hebat!"
Dan berkelebat sosok tubuh si Dewa Pengembara yang kemudian lengannya mengibas, terasa akan sambaran angin
yang agak keras ke arah tubuhnya.
Sekejap gadis itu merasakan totokan pada tubuhnya telah terbuka.
"Guru ...!" teriakan gadis itu girang, seraya melompat ke arah gurunya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...