
"Guru ...!" teriakan gadis itu girang, seraya melompat ke arah gurunya.
Raja Siluman Kura-kura perdengarkan suara mendengus, tapi mulutnya memuji.
"Ilmu pembuka jalan darah yang hebat! Hm, Ilmu kepandaianmu ternyata makin hebat, dewa pengembara!" seru kakek ini.
Wajahnya tak menampilkan perubahan. Masih tetap kaku dengan mata menatap tajam pada muridnya.
i"ni, kakek bangkotan?" Sambar lagi si kakek kepala botak ini dengan suara gereng
"He...he....he....!! burung Rajawali raksasa itulah yang telah mengundangku datang ke pulau ini. Tentu saja aku punya urusan dengan si pemilik burung Rajawali itu. Dia si Raja Sluman Musang!" sahut Si Dewa pengembara.
"Kalau itu yang kau tanyakan, orangnya sudah berangkat ke akhirat!" kata Raja Siluman Kura-kura.
"Hm, begitukah" Apakah kau yang telah
membunuhnya?" balik bertanya si Dewa Pengembara.
"Benar! Boleh aku tahu ada urusan apakah
kau dengan dia?" Dewa Pengembara tak menjawab.
Tapi sinar matanya menatap tajam pada wajah orang dihadapannya. Seperti mau membaca apa isi benak kakek botak itu.
"Hm, urusan Medali!" sahut si kakek kurus ini pendek.
"He...he...ha...ha.....! sudah kuduga! Kau tentu menduga Medali itu berada di tanganku, bukan?" tanya si Raja Siluman Kura-kura.yang terkekeh.
"'Bagus! kalau kau sudah mengerti, kenapa tak kau berikan padaku?" sambar si kakek Dewa Pengembara.
"Ha...ha...ha...ha...!"
Mengakak tertawa Raja Siluman Kura-kura. Lalu berkata dengan suara keras.
"Kau datang terlambat. Medali itu sudah jatuh masuk laut, bersama burung Rajawali celaka itu!" ujar si Raja siluman Kura-kura, yang seraya menunju ketengah laut.
"Heh! siapa percaya omonganmu?" bentak si kakek dewa Pengembara,
"Kau tentu mau mengangkangi benda pusaka itu sendiri. Hm, jangan harap si Dewa Pengembara mau terkecoh oleh bualanmu!" seru Dewa Pengembara.
"Huh! manusia sombong! apakah kau kira
kepandaianmu sudah setinggi langit hingga begitu memandang rendah padaku si Raja
Siluman Kura-kura?" balas membentak kakek kepala botak ini.
Pertarungan tak dapat dihindarkan lagi,bkarena kedua kakek itu sama-sama berwatak keras. Terjadilah saling terjang di antara keduanya.
__ADS_1
"Muridku! kau menyingkirlah yang jauh. Biar kuremukkan batok kepala si Kura-kura botak ini!" teriak Dewa Pengembara pada muridnya.
bTak ayal gadis itu telah melompat menjauh.
"Hati-hati, kek! Dia berilmu tinggi!" seru Roro Wening yang masih sempat berkata memperingati gurunya.
Tampak dia amat mengkhawatirkan keselamatan si Dewa Pengembara, dalam menghadapi si kakek Raja Siluman Kura-kura yang bertubuh tinggi besar itu.
Hantaman-hantaman pukulan dan teriakan serta bentakan menggeledek segera membaur di pulau yang lenggang itu. Hempasan-hempasan angin pukulan membuat tempat;sekitarnya seperti dilanda angin ribut.
Kedua tokoh tua yang sama-sama memilikiv
ilmu kepandaian tinggi itu tengah sama mengadu ilmu. Sementara itu Jaka Kelana yang memperhatikan dari tempat ketinggian cuma bisa termangumangu sambil menggendong tangan memandang pertarungan dua kakek, yang tak ubahnya bagai memperebutkan pepesan kosong.
Lima puluh jurus telah mereka lewati dan pertarungan semakin menghebat. Hawa panas dan dingin silih berganti mengembara dan menerpa akibat dari hawa pukulan yang
mengandung tenaga dalam.
Kedua kakek yang masing-masing punya julukan "Raja" itu sama-sama mempertahankan pamornya untuk membuktikan siapakah yang lebih unggul diantara mereka.
Jaka Kelana yang berniat mengorek keterangan dari si Raja Siluman Kura-kura mengenai si pembunuh gurunya Ki Wirya yang menemui jalan buntu. Karena kedatangan si Dewa Pengembara yang telah
menunda jawaban kakek itu.
Bahkan siluman kura-kura itu tengah bertarung mengadu jiwa dengan kakek
Pemuda ini jadi seperti kebingungan dan serba salah. Sejak tadi pandangan matanya selain melihat pertarungan, juga memperhatikan gadis muda murid si Dewa Pengembara.
Sepintas Jaka Kelana seperti pernah mengenali wajah serta perawakan dari gadis itu. Dia coba mengingat-ingatnya, akan tetapi sejauh itu Jaka Kelana tak mampu mengingatnya.
Tiba-tiba Jaka Kelana mendengar suara teriakan panjang yang menyayat hati, bersamaan dengan terdengarnya suara benturan keras yang menggeledek.
Itulah dua pukulah mengandung maut dari
kedua kakek "Raja" itu yang menimbulkan benturan dahsyat. Terlihat si Dewa Pengembara terlempar bergulingan. Dan si Raja Siluman kura-kura terhuyung beberapa tindak.
Nyata tenaga dalam Raja Siluman kura-kura masih diatas setingkat dari kakek Dewa Pengelana.
"Kakeeeeek!"
Teriakan gadis itu memecah keheningan tatkala dia berlari dan melompat menghampiri gurunya. Keadaan si Dewa Pengembara memang amat mengkhawatirkan. Sekujur tubuhnya melepuh. Dari sudut bibirnya mengalirkan darah berwarna hitam.
Terisak-isak si gadis memeluk tubuh gurunya. Sementara si Dewa Pengembara menatap pada muridnya dengan pandangan sayu. Bibirnya bergerak hendak mengucapkan kata-kata.
"Anak manis, jangan menangis! Semua manusia pasti akan mengalami kematian!" seru si Dewa Pengembara setengah membentak.
Hal itu membuat gadis itu terduduk dengan menekuk lutut dihadapan kakek sekaligus gurunya itu.
__ADS_1
"Hm, anak manis! bukankah kau selalu menanyakan kisah pedang buntung yang
kuhadiahkan padamu itu?" berkata lirih si Dewa Pengembaa itu bertanya pada muridnya.
"Eh, i..iya kek!" balas Roro Wening yang kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Ketahuilah, pedang itu adalah pedang
yang telah membawa maut! Pedang itu adalah pedang pusakaku yang telah menewaskan orang yang kucintai, tapi paling kubenci!" Suara si kakek agak tersengal dalam berkata-kata.
Roro wening menatap gurunya dengan tak
mengerti. Sudah lama dia selalu menanyakan
riwayat pedang di tangannya itu. Sang guru selalu mengatakan pedang itu punyakisah yang menyedihkan, tapi tak mau menceritakannya. Karena kini disaat keadaan sang guru dalam keadaan kritis, justru mau menceritakannya.
"Bagaimana kisahnya kek? Siapakah orang
yang amat kau cinta tapi kau amat membencinya itu?" tanya Roro Wening yang wajahnya menampakkan rona girang, tapi juga diliputi kesedihan.
"Dialah Ki Wirya!" sahut si kakek yang seketika wajahnya menjadi berubah sedih.
Dan setitik air mata menyembul disudut matanya.
"Ki Wirya adalah kakak kandungku. Tak dinyana dia harus tewas oleh pedang
pusakaku sendiri." lanjut ujar si Dewa Pengembara.
"A...apa!" seru Roro Wening yang sangat terkejut dan kedua alisnya mengerut memandang gurunya itu.
"Dimasa muda aku pernah punya seorang kekasih. Dia seorang gadis yang amat cantik." Dewa Pengembara tuturkan riwayat hidupnya.
"Kami berdua adalah satu perguruan. Lima tahun kemudian setelah menamatkan beberapa jurus aku hanya kembali pulang. Bukan main rasa girangnya hatiku, karena aku bisa berjumpa dengan kekasihku yang telah lama aku rindu itu. Sebelumnya kami telah mengikat janji untuk menikah setelah selesai pelajaranku. Adapun kakang Wirya telah menyelesaikan pelajarannya terlebih dulu setahun sebelum aku menyelesaikan pelajaranku. Akan tetapi betapa terkejutnya aku mengetahui kekasihku sudah tak ada lagi di kampung tempat tinggalnya. Dan....!" dewa Pengembara itu menghentikan ceritanya sejenak.
Setelah menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya secara pelan-pelan.
"Yang lebih membuat aku panas adalah aku mendengar kakakku Wirya telah menikahi kekasih sekaligus tunanganku itu!" lanjut cerita Dewa Pengembara dengan lirih namun masih bisa didengar itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...