Jaka GEMBLUNG

Jaka GEMBLUNG
Tewasnya Si Rajawali


__ADS_3

Serentak tubuh mereka berkelebatan dari tempat itu. Apakah gerangan yang terjadi di atas puncak bukit itu.


Ternyata si Raja Siluman Musang yang telah terluka dalam akibat serangan pukulan Jaka kelana, tengah bertarung dengan seorang laki-laki tua berjubah gemerlapan dan bertameng tempurung kura-kura.


Kakek ini berkepala botak. Kumisnya yang putih terjuntai panjang bagai misai. Di lengan si kakek botak ini tercekal sebuah medali yang gemerlapan terkena cahaya rnatahari.


Benda itulah yang tengah diperebutkan oleh kedua kakek itu.


"Pencuri busuk! kembalikan benda itu!"teriak Raja Siluman Musang dengan nada marah.


Dalam keadaan terluka dan nampak disela bibirnya masih meneteskan darah, dia menerjang si kakek botak dengan jurus-jurus pukulan ganas.


Akan tetapi si kakek botak jubah bersisik perak itu tak membiarkan dirinya kena serangan yang bisa mencelakai jiwanya. Dengan lompatan gesit dia berhasil menghindar. Tiba-tiba dia telah cabut senjatanya untuk menabas.


Itulah sebuah kebutan bergagang perak. Ujung kebutuhan membersit menabas leher si Raja Siluman Musang, disertai bentakan keras.


"Berangkatlah kau ke neraka...!" seru si kakek botak.


"Whesss...!"


"Kaulah yang harus mampus!" balas dengan membentak si kakek Raja siluman Musang.


Tubuhnya mendadak melambung ke atas. Kibasan lengan jubahnya menyambar tubuh si kakek botak. Terhuyung beberapa tindak kakek ini karena hempasan keras yang menerpa tubuhnya.


Serangan kebutannya telah lolos dari sasaran, bahkan dia kini yang berbalik diserang.


Namun si kakek misai panjang itu bukan tokoh sembarangan. Dengan tiba-tiba dia


putarkan kebutannya. Menderulah angin keras yang membuat batu-batu kecil beterbangan.


Sejenak terpaku Raja Siluman Musang dan


pusaran angin yang menggebu itu membuat


tubuhnya bergoyang-goyang. Jubahnya yang telah sobek itu berkibaran. Sementara darah semakin banyak menetes dan mengalir dari sela bibirnya.


Diam-diam dia telah menghimpun tenaga dalam di kedua telapak tangan. Saat dimana si kakek botak telah menerjang dengan bentakan keras.


"Kini sampailah ajalmu, Raja Siluman Musang yang bodoh...!" seru kakek botak itu.


Dan kebutan maut ditangannya meluncur deras djbarengi hantaman telapak tangan kearah batok kepala Kakek itu.


"Whuuk....! Wheesss...! Bhlaaarr.....!"


Ledakan dahsyat terdengar. Benturan kedua teKura-kura dalam telah membuat bukit itu serasa bergetar. Tampak asap hitam dan putih


mengepul dari bekas ledakan yang menimbulkanbsuara menggeledek itu.


Kakek botak berjubah dengan perisai perak itu tampak terhuyung ke belakang beberapa tindak.


Wajahnya pucat bagai mayat tampak dari sela


bibirnya mengalirkan darah. Sedangkan si Raja Siluman Musang masih berdiri tegak. Sepasang kakinya amblas sampal sebatas lutut.


Dia masih berdiri tegak tak bergeming. Tapi apa yang terlihat, ternyata jubah si kakek Raja Siluman Musang telah hangus terbakar. Kulit muka dan sekujur tubuhnya berubah hitam.


Kakek sakti itu ternyata telah tewas dengan keadaan tubuh berubah hangus dan memandang tubuh lawannya takbbergeming, si kakek botak misai panjang itu tertawa terkekeh.

__ADS_1


"He...he...he...he ... he...he ...! akhirnya kau harus mengakui keunggulanku, sobat Raja Siluman Musang. Dan benda pusaka Lambang Ketua Persilatan ini aku yang berhak memilikinya! Ha...ha..ha....!" seru si kakek botak itu.


Terperangah Jaka Kelana ketika dia tiba di atas bukit. Dilihatnya Raja Siluman Musang dalam keadaan amblas kedua kakinya sebatas lutut, yang sudah tak bergeming lagi.


Tubuhnya berubah hitam hangus, menatap pada seorang kakek berkepala botak berkumis panjang bagai misai yang tengah berdiri dihadapan si Raja Siluman musang, semakin terkejut dia. Karena melihat orang ini mencekal sebuah medali yang dikenalnya.


"I...itu medali lambang Ketua Persilatan milik


gurunya Ki Wirya...." seru Jaka kelana yang menatap medali itu dengan tajam.


Ke empat kakek itu telah muncul pula di atas


bukit. Mereka sejenak tertegun memandang


kehadapannya. Segera saja mereka telah tahu


siapa adanya kakek botak jubah sisik perak itu.


"Raja Siluman kura-kura!" teriak mereka terkejut hampir berbareng.


"Raja Siluman musang, dia telah tewas?" gumam si Raja Siluman Kera dengan mata, membelalak.


Tahulah mereka kalau mereka datang terlambat. Pertarungan baru saja selesai.


Dan Sobat mereka si Raja Siluman Musang telah melayang jiwanya.


"He..he...he...! aku datang bukan berambisi


untuk menjadi ketua Raja-Raja Gila. Tetapi


Mata Jaka Kelana bersinar memandang benda itu.


"Dari mana kau dapatkan Medali itu, Raja


Siluman Kura-kura?" tanya Jaka Kelana dengan dadanya yang serasa bergolak. Segera dia teringat akan gurunya Ki Wirya yang telah tewas. Si pembunuhnya sudah dapat dipastikan adalah orang yang memiliki Medali itu yang telah direbut dari tangan gurunya.


"Ha....ha....he....he...he...,! benda ini berada di tangan si Raja Siluman Musang. Aku telah mencurinya. Aku tak tahu dia dapat dari mana!" sahut Raja Siluman Kura-kura


"Keaak......kaaakk....!"


Tiba-tiba terdengar suara mengiyak di udara. Dan sebuah bayangan besar menyambar ke


arah kakek kepala botak ini. Kibasan sayap


burung raksasa itu membuat tubuh si kakek


terhuyung. Tahu-tahu si Raja Siluman Kura-kura berteriak kaget, karena Medali ditangannya telah disambar paruh si burung


Rajawali raksasa.


"Dasar keparat...!" makian kakek botak ini.


Tubuhnya memdadak melesat bagai terbang


mengejar sang Rajawali.


"Mampuslah kau burung keparat!" bentak si Raja Siluman Kura-kura.

__ADS_1


Whuuuukk....! Bhukkk.....! Keaakk...!"


Melengking suara burung raksasa itu ketika hantaman pukulan si kakek botak mengenai sasaran telak. Ratusan helai bulu berhamburan. Terbang burung itu


Jadi limbung. Dan medali yang terjepit di antara paruhnya telah jatuh meluncur ke bawah.nRaja Siluman Kura-kura tak berayal untuk segera memburunya. Akan tetapi si Jaya kembali menukik. Dengan berteriak marah dia menyambar lagi benda itu.


Ternyata gerakan si Rajawali raksasa lebih cepat. Sepasang kakinya berhasil mencengkeram Medali.


"Whuuuukk....! Whuuukk...!" Raja Siluman Kura-kura ayunkan beruntun dua pukulan. Menyambarlah uap merah menerpa si


burung Rajawali.


Kali ini burung raksasa itu tak mau kena sasaran. Sayapnya digunakan untuk mengibas. Tubuhnya segara melambung tinggi.


Serangan itu lolos. Tapi sayap burung Rajawali itu masih kena terserempet oleh angin pukulan.


"Whuukkk......! Whuukk....!"


Kembali si Raja Siluman kura-kura menghantam dengan pukulan yang mengandung maut. Rajawali


mengiyak kesakitan. Sayapnya mengibas. Tubuhnya melambung lagi. Tapi hantaman telak lagi-lagi mengenal sasaran.


Terbang burung itu jadi semakin limbung.


Namun dia melarikan diri dengan Medali yang tak lepas dari cengkeramannya.


"Burung edan!" memaki Raja Siluman


kura-kura. Kakek botak ini menggenjot tubuhnya untuk melesat, mengejar. Namun Rajawali sudah melayang ke arah laut.


Dengan geram kakek botak ini berhenti. Tapi tiba-tiba lengannya terangkat, disertai bentakan.


"Mampuslah kau burung edan!"


"Whuuuussh...!"


Angin pukulan jarak jauh telah dilontarkan. Membersitlah uap merah menyambar si Jaya.


Hebat serangan kakek botak ini. Karena sejauh itu dia masih mampu mengantamkan pukulannya dengan telak.


Air laut menyemburat ke udara ketika tubuh si Rajawali raksasa itu terjungkal dan terjerumus masuk ke dalam laut.


"Burung sialan! lenyaplah sudah Medali itu!" gerutu Raja siluman kura-kura.


Burung raksasa itu timbul tenggelam di permukaan air. Tapi tak lama tak muncul lagi. Tewaslah sudah si Jaya yang bernasib malang itu mengapung di laut:


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2