
"Yang lebih membuat aku panas adalah aku mendengar kakakku Wirya telah menikahi kekasih sekaligus tunanganku itu!" lanjut cerita Dewa Pengembara dengan lirih namun masih bisa didengar itu.
"Guru....!" panggil Roro Wening dengan perasaan haru.
"Dapat kau bayangkan betapa hancurnya hatiku. Sedih bercampur dengan menggebu-gebu dalam dadaku. Aku bersumpah untuk mencari mereka! Berpuluh tahun aku mencari dan mencari tanpa putus asa. Hingga akhirnya aku mendengar juga tentang diri kakakku itu. Dia telah menjadi seorang kosen yang berkepandaian tinggi. Bahkan diangkat oleh kaum Alas menjadi Ketua Dunia Persiiatan. Aku tak munculkan diri. Tapi diam- diam mencari tahu dimana kekasihku yang telah diperistri olehnya." lanju cerita dewa Pengembara yang kembali menghela napasnya.
"Lantas apakah kakek dapat bertemu dengan tunagan kakek?" tanya Roro Wening yang penasaran.
"Akhirnya aku berhasil menemui bekas kekasihku itu! Apa yang kulihat adalah menjadi kenyataan. Kekasihku telah menjadi seorang yang cacad kaki dan tangannya. Cacad yang seumur hidup. Dia mengatakan bahwa semua itu adalah hasil perbuatan kakakku Wirya!" jawab Dewa Pendembara.
Sampai disini napas si Dewa Pengembara itu kembali tersengal. Namun dengan menahan mengalirnya darah yang mau tumpah dari mulutnya kembali dia teruskan penuturannya.
"Aku ...aku mencari kakakku dengan kemarahan yang luar biasa. Aku sudah seperti kehilangan otak warasku. Rasanya mau melumatkan saja tubuh kakak kandungku itu yang telah menganiaya kekasihku hingga demikian mengenaskan. Dan akupun berhasil menemui saudaraku itu. Kami bertarung. Tak sedikitpun aku mau mendengar penjelasan kakakku si Wirya, karena emosiku telah meluap! Untunglah
pertumpahan darah waktu itu tak terjadi. Dia
melarikan diri. Dan lenyap entah kemana.
Sejak saat itu aku tak pernah menjumpainya lagi." cerita Dewa Pengembara.
"Suatu malam ketika aku tertidur di suatu
tempat, aku terjaga ketika sebuah benda melayang ke arahku. Namun dengan cepat
aku telah menangkapnya. Masih sempat aku melihat berkelebatnya sesosok tubuh yang lenyap dikegelapan malam yang gulita. Benda itu ternyata segulung kertas. Setelah aku buka, ternyata sepucuk surat yang ditujukan
padaku." kata dewa pengembara.
"Siapa pengirimnya kek?" tanya Roro Wening yang penasaran.
"Si pengirimnya adalah kakakku sendiri. Surat itu menjelaskan duduknya persoalan, hingga dia mengawini kekasihku. Kekasihku didapati dalam keadaan mengandung, tanpa diketahui siapa yang telah melakukannya. Dia terpaksa mengawini, karena gadis kekasihku itu mau bunuh diri. Bahkan gadis kekasihku itu tak mau bertemu dengan ku karena merasa malu.
Oleh sebab itulah gadis kekasihku itu mengajak kakakku untuk dari kampung tempat tinggal kami. Cacad yang diderita bekas kekasihku itu dia sama sekali tak mengetahui, karena sudah sejak lama dia berpisah dengan "istrinya". Kakakku mengatakan dalam surat, bahwa dia belum pernah menggauli istrinya satu kalipun." jelas Dewa Pengembara.
"Lalu bagaimana kelanjutannya, kakek?" tanya gadis itu yang semaki penasaran.
__ADS_1
Kakek tua dihadapan Roro Wening itu tampak
terdiam agak lama mengatur napas.
"Hm, aku masih tak percaya agak lama dengan keterangannya pada malam itu juga aku mencari dia. Tapi jejak kakakku sukar dilacak. Datang dan perginya sukar diketahui." jawab Dewa pengembara.
"Lalu bagaimana selanjutnya kek?" tanya Roro Wening yang masih saja menyimak.
"Suatu malam yang na'as ketika aku tidur
kepulasan disebuah rumah tua. Aku terkejut
ketika mendengar suara gaduh. Ternyata ada
pertarungan yang telah terjadi. Terkejut aku
melihat yang bertarung adalah kakak kandungku sendiri Ki Wirya melawan seorang laki-laki yang mengenakan topeng menutupi wajahnya. Dan bukan main terkejutku ketika mengetahui seorang bertopeng itu telah mencuri pedang pusakaku! Kakakku telah memergokinya, dan berusaha merebut pedang itu sekalian membuka tabir siapakah sebenarnya si orang bertopeng itu. Sayang si orang bertopeng itu melarikan diri, dan kakakku mengejarnya. Sayang juga aku tak
berhasil menyusul mereka!" ujar si dewa pengembara.
Setelah menghela napas kembali dia teruskan panuturannya.
jejak kakakku juga si Manusia bertopeng, tapi tak menemui jejak mereka. Hingga aku memutuskan untuk menemui lagi bekas kekasihku itu. Dia masih hidup dan dalam keadaan cacad, yaitu lumpuh kedua kaki dan tangannya. Bekas kekasihku itu akhirnya membuka rahasia. Bahwa si orang bertopeng itu adalah anaknya sendiri. Anak itu adalah hasil dari perbuatan serongnya dengan guruku sendiri!" jelas si kakek tua itu lirih yang mampu membuat Roro Wening membelalakkan kedua matanya.
"Hah....! dengan guru kakek sendiri?" sentak Roro Wening yang sangat terkejut.
"Benar! aku sendiri tak menduga kalau guruku sendiri yang mengingini kekasih muridnya. Adapun Larasati kekasihku itu mempunyai dua dendam. Pertama dendam pada guruku, kedua dendam pada kakakku Ki Wirya. Dendam pada guruku karena dialah orang yang telah merusak kehormatannya, dan
menghancurkan harapan cita-citanya untuk hidup bersama denganku. Dendam pada Ki Wirya, adalah karena kakakku tak pernah mau menggaulinya walau mereka telah menikah! Anak laki-laki hasil perbuatan haram itu diambil murid seorang laki-laki asal Tibet. Laki-laki itulah yang mendidik anak laki-lakinya hingga berkepandaian tinggi.
Larasati telah bersumpah untuk membunuh guruku, dan membunuh Ki Wirya. Hal itu sudah terlaksana. Dan dia tunjukkan bukti dengan sepotong pedang yang kau pegang itu padaku!" jelas Dewa pengembara.
"Apakah kakek yakin akan keterangannya?" tanya Roro Wening yang masih penasaran.
"Ya, aku amat yakin. Karena selesai berikan keterangan, Larasati telah membunuh diri dengan pedang pusaka buntung itu!" jawab si kakek dengan menganggukkan kepala yang suara tandas dan tampak pilu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan si Raja Siluman Musang? Apakah dia terlibat dalam urusan Medali itu?"
Pertanyaan ini mengejutkan si kakek dan muridnya. Karena tahu-tahu Jaka Kelana telah berdiri didekat mereka.
Sejak tadi dia telah terkejut melihat gadis itu mencabut sebuah pedang yang ujungnya buntung. Lalu dengan seksama turut mendengarkan penuturan si Raja Pengemis.
"He....he....he...he....he ...! siapakah namamu
bocah gagah?" tanya dewa pengembara yang menatap Jaka Kelana dengan tatapan heran.
"Perkenalkan saya Jaka Kelana yang biasa orang menjuluki aku dengan sebutan Jaka Gemblung." jawab Jaka Kelana yang menatap dewa pengembara dan Roro wening secara bergantian.
Sementara dia melihat Raja Siluman kura-kura
sudah tak kelihatan lagi dan telah lenyap entah kemana. Cuma Jaka Kelana-lah yang tahu. Karena selang tak lama setelah terjadi benturan dua tenaga dalam kedua tokoh tua kosen itu, si Raja Siluman kura-kura yang terhuyung-huyung pergi menuju ke atas puncak bukit tertinggi, di pulau itu.
Jaka Kelana mau mengejar, tapi matanya
tertuju pada pedang buntung yang dicabut si gadis tadi. Pedang yang sinarnya sama dengan ujung utusan pedang yang berada di tangannya.
Hingga dia urungkan niatnya, dan memasang telinga lebar-lebar mendengarkan penuturan si Dewa pengembara itu pada muridnya.
Dengan mencuri dengar itu, merasa
rahasia si pembunuh Ki Wirya yang
pernah menjadi gurunya itu mulai tersingkap.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jaka Gemblung ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...