Jaket Tua

Jaket Tua
Bab 15. Bertemu Rama.


__ADS_3

Adzan shubuh telah berkumandang, Lana terbangun dari tidurnya. Bergegas Lana untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat. Setelahnya, Lana pandangan matanya mengarah ke ponselnya yang bergetar sejak secara terus menerus. Tetap saja, Lana tidak menghiraukan dering ponselnya yang terus bergetar.


" Kenapa ia bercerita kepada ku " ucap batin Lana.


Ketika sinar mentari mulai tampak dari sudut cakrawala, kini Lana berjalan menyusuri jalanan kota pagi yang mulai ramai lalu lalang. Langkahnya terhenti pada sebuah warung kecil untuk sekedar meminum kopi dan makan gorengan. Seketika dalam fikirannya Lana berencana untuk pulang hari ini, petualangannya di Kota Yogyakarta telah selesai.


Ketika Lana sedang menikmati sajian di warung, secara tiba-tiba Lana terkejut saat pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang.


" Loh, ini mas yang kemarin kan? " ucapnya.


" Eh iya mbak, lagi ngapain ? " tanya Lana tersenyum.


" Mau ke warung beli beras " Jawab wanita tersebut sembari tersenyum.


" Mas nya mau kemana kok dari kemarin bawa tas besar ?" imbuh wanita tersebut.


Lana hanya terdiam mendengar pertanyaan wanita tersebut.


" Mas ayo kerumah, saya buatin makan. " ajak wanita tersebut.


" Saya udah kenyang mbak, makasih. " tolak Lana sembari tersenyum.


Tidak berselang lama, akhirnya wanita tersebut pergi meninggalkan Lana di warung.


Setelah puas menikmati kopi dan beberapa gorengan, Lana kembali berjalan menuju stasiun yang jaraknya tidak begitu jauh.


Setibanya Lana di stasiun, secara tiba-tiba ia melihat wajah yang tak asing berlari ke arahnya.


" sayangggg " ucapnya sembari memeluk Lana.


Lana hanya diam mematung beberapa saat.


Dinda yang mengetahui niatan Lana untuk pulang hari ini, langsung menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Seketika pandangan mata orang di sekitar tertuju pada mereka. Bergegas Lana menarik tangan Dinda untuk mengajaknya keluar dari stasiun.


" Kamu tau dari mana aku bakalan ke sini? " tanya Lana.


" Gatau, pokok nya aku pengen jelasin semuanya ke kamu kalau aku sama Rama gak ada hubungan apa-apa. " jelas Dinda.


Kami duduk di dalam warung sederhana , Dinda menceritakan jika sampai detik ini Rama tetap mengejar untuk mendapatkan hatinya Dinda. Ia juga sering mengirim beberapa makanan untuk Dinda walaupun selalu ia tolak. Dinda tak ingin aku tau dengan masalah ini sebab Dinda hanya menganggap Rama sebagai angin yang tak berwujud. Rama juga telah menyatakan perasaan nya berkali-kali hingga membuat nya risih, Dinda sering menjelaskan jika ia telah mempunyai pacar akan tetapi Rama tak menghiraukannya. Dinda juga tak ingin jika aku kepikiran dengan nya.


"Dinda punya Lana, Lana punya Dinda. Maaf ya Lanakuu " ucapnya lirih sembari memegang tangan ku.


Lana terdiam sembari tersenyum kemudian, memegang wajahnya sembari mengusap air mata yang telah menetes. Lana juga mengucap kata maaf, karna saat itu ia tak mendengarkan penjelasaan dari Dinda.

__ADS_1


Dinda tersenyum dan memeluk Lana dengan sangat erat hingga tidak memperdulikan orang yang di sekitarnya.


" Boleh aku ketemu rama?" ucapku sembari tersenyum.


" Buat apa na? jangan ribut ya ?" jawabnya menatapku.


" iyaa, tenang aja sekarang aku anter kamu kuliah ya " ucapku sembari tersenyum.


" Masih kangen lanaaa " jawabnya.


" Aku jemput kamu sepulang kuliah, aku janji " ucapku sembari menunjukan jari kelingking.


Dinda hanya tersenyum dan menuruti permintaan ku. Akhirnya kami pun beranjak dari warung ini kemudian menuju sepeda motor untuk mengantar Dinda kuliah.


Setelah mengantar Dinda pulang, Aku mengirimkan sebuah pesan pada Kawan baruku Rimba Jika hari ini aku ingin bertemu dengannya berpetualang dengannya. Tak lama Rimba membalas isi pesan dariku mengirimkan tempat keberadaannya sekarang. Tanpa berfikir panjang aku melaju menggunakan sepeda motor Dinda. Aku mengehentikan sepeda motorku saat tiba di sebuah rumah di sesuai informasi dari Rimba. Tak lama ia keluar dari rumah tersebut mengenakan celana pendek dan kaos oblong.


" Eh Lana, masuk na " ucapnya.


Kemudian aku masuk, di dalam nya ternyata ada beberapa kawan Rimba.


Aku menjabat tangan mereka serta memperkenalkan diri.


"Lana" ucapku.


" Kita besok mau mendaki Gunung Merapi na, klo lo mau ikut mending lo tidur di sini aja." ucap kawan Rimba menawarkan.


" Boleh bang, kayanya seru" ucapku.


Hingga tak terasa telah waktunya untuk ku untuk menjemput Dinda, lantas aku pun berpamitan pada kawan baru ku untuk pergi sejenak meninggalkan tas carrier ku Tidak lupa aku mengenakan jaket pemberian Dinda kemudian akuu memacu sepedaku menyusuri jalanan kota tua. Setiba ku depan gerbang kampus Dinda aku memarkir sepedaku, tak lama Dinda keluar menghampiriku.


" Dinda aku ingin melihat senja " ucapku.


" Boleh na, ayo kita ke Bukit Paralayang" Jawabnya.


Aku tak bisa menolak permintaan dari Dinda, akhirnya kami berboncengan menuju Bukit Paralayang. Cukup lama kami menyusuri jalanan. Jalanan yang datar menjelma menjadi tanjakan. Akhirnya kita tiba di tujuan kita dengan pemandangan samudra dan langit yang mulai menjingga. Kami duduk pada sebuah batu karang dengan minuman hangat serta beberapa cemilan sederhana. Dinda memelukku begitu erat seraya berkata tak ingin melepaskanku.


"Lana, maaf untuk kemarin " ucapnya.


" Iyaa Dinda " jawabku sembari tersenyum.


Perlahan tapi pasti senja pun menghilang meninggalkan kenangan dengan ku dan Dinda. Kami beranjak dari tempat kami duduk untuk pulang.


Setiba kami di kost Dinda, aku melihat seorang pria yang sedang membawa sebuah kotak. Kami menghampiri pria tersebut.

__ADS_1


" Hai Rama" ucapku.


Dia terdiam tak berkata apa-apa ketika terkejut melihat ku bersama Dinda.


" Eh ini buat Dinda kan, tuh ada tulisannya " ucapku tertawa kecil.


Aku langsung mengambil sebuah kotak yang berada di genggamannya sembari mengucap terima kasih kepadanya. Bergegas aku membuka kotak tersebut berisikan terang bulan di dalamnya dan memakan sepotong terang bulan.


" Rama makasih banyak makanan yang sering kamu kirim ke Dinda " ucapku.


" Iyaa " jawabnya cuek.


" Aku Lana, pacar Dinda " ucapku.


Tak banyak bicara, ia bergegas membawa sepeda motornya pergi tanpa berpamitan.


Aku menoleh ke Dinda, terlihat dia tersenyum. kemudian Dinda mempersilahkan aku masuk ke teras kost nya. Aku bercerita jika esok akan mendaki Gunung Merapi bersama kawan baruku.


" Pengen ikutttt " ucapnya memohon.


Aku tersenyum akan tetapi aku tak mengijinkannya sebab ia harus kuliah esok.


Malam mulai larut aku harus bergegas kembali ke rumah kawan Rimba. Ojek yang ku pesan juga telah tiba di depan pintu. Aku berpamitan pada Dinda dan memeluknya.


Di tengah perjalanan yang telah sepi aku di hadang oleh Rama. Ternyata ia telah mengintaiku dari warung depan gang kost Dinda.


" Turun lo" ucapnya bernada tinggi.


Aku menyuruh tukang ojek untuk berhenti sejenak.


" Ada masalah apa? " ucapku.


" Jangan banyak bacot lo, gua gak terima lo ngambil makanan itu" jawabnya.


" Kan lo kasih ke Dinda, ntar juga Dinda ngasih ke gua. Ya mending gua ambil aja dari lo kelamaan " ucapku.


" Bacot Anjing!!! " ucapnya sembari menendang ku.


Aku terpental ke tanah karna tendangannya yang cukup keras. Bergegas aku bangun kemudian berlari ke arahnya meluncurkan beberapa serangan telak di wajahnya serta perutnya yang membuat nya harus meringkih kesakitan.


" Gua Lana, Pacar Dinda " ucapku sembari menatap tajam ke arahnya yang tersungkur ke tanah.


Aku tak memperdulikan dia yang tergeletak di pinggir jalan. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju rumah kawan Rimba.

__ADS_1


__ADS_2