
Hari telah berganti pagi, Lana dan Bara yang telah bersiap untuk melakukan pendakian bergegas melangkah menuju pos pendaftaran. Pendakian kali ini di rasa sangat berat sekali bagi Lana, sebab ia harus menahan batuk yang bertambah parah. Sering kali Lana meminta Bara untuk beristirahat sejenak untuk mengatur nafas.
" Lo sakit na? mending kita balik aja deh, mumpung belum jauh. " ucap Bara.
" Gausah bar, gua gak papa. " jawab Lana sembari mengatur nafasnya.
Tidak berselang lama, Lana dan Bara kembali berjalan. Pos demi pos telah berhasil mereka lewati, hingga akhirnya mereka tiba di puncak ketika hari temaram. Bergegas Lana dan Bara memasang tenda karna hari semakin gelap. Setelah tenda telah siap di gunakan, mereka pun menyiapkan makanan untuk makan malam.
Setelah nya Lana dan Bara hanya duduk di luar sembari menatap bintang di langit.
" Gua kangen Dinda bar. " ucap Lana lirih.
" uhukkkk...uhukkk...uhukkkk " batuk Lana.
Dalam penerangan dari head lamp, Bara yang melihat Lana sedang menutup batuk nya dengan kain melihat terdapat darah.
" Na, kok batuk lo keluar darah nya? sebenarnya lo kenapa? " tanya Bara.
" Ohh itu lidah gua kegigit waktu makan, jadi ya keluar darah bar. " jawab Lana sembari tersenyum.
Bara yang melihat sikap Lana berbeda dari biasanya sejak tadi pagi, menjadi tidak percaya dengan ucapan Lana.
Lana hanya duduk menghadap langit dengan balutan jaket pemberian Dinda yang menyelimuti tubuhnya.
" Lo kenapa sih na, kok dari tadi aneh banget. " tanya Bara.
" Gua cuma kangen sama Dinda bar. " jawab Lana.
Bara hanya terdiam mendengar ucapan dari Lana.
Ketika malam semakin larut, Bara memutuskan untuk tidur terlebih dahulu meninggalkan Lana sendirian di luar tenda. Tidak berselang lama akhirnya Lana mengikuti jejak Bara, masuk kedalam tenda untuk istirahat.
...****************...
" Lanaaaaa " sapa Dinda.
Lana yang sedang berada di sebuah batu besar menghadap air terjun, sontak saja menoleh ke arah sumber suara.
" Dindaaaaa? " ucap Lana.
Sontak saja Lana terkejut dengan kehadiran Dinda di belakangnya. Bergegas Lana beranjak dari tempat duduknya kemudian memeluk Dinda dengan sangat erat.
" Din, aku kangen banget sama kamu. " ucap Lana sembari menetaskan air mata.
" Iyaaa, aku juga kangen sama kamu. " jawab Dinda.
__ADS_1
" Novel ku sudah selesai din, panjang sekali perjalanan yang harus aku tempuh. Sekarang aku cape banget. " ucap Lana.
" Hehehe makasih banyak ya sudah mau selesai in novel kamu, trus aku cerita in dong isi dari novel kamu. " ucap Dinda sembari tersenyum.
Lana hanya tersenyum, kemudian Lana mengajak duduk Dinda duduk di batu besar tersebut sembari melihat air terjuan dengan hiasan pelangi. Tidak berselang lama, akhirnya Lana mulai menceritakan isi dari novelnya kepada Dinda.
Cukup lama Lana bercerita, akhirnya ia menyelesaikan ceritanya.
" Kenapa kamu buat akhir cerita seperti itu? " tanya Dinda
" Entahlah din, aku hanya ingin istirahat saja. " jawab Lana.
Dinda hanya tersenyum mendengar ucapannya, seketika Lana tertidur di pangkuan Dinda.
...****************...
" Na... Lana...... bangunnn. " ucap Bara panik.
Sontak tangan Bara mengecek denyut nadi di tangan Lana yang tidak berdetak.
" Naaaa kenapa lo tinggalin gua. " jawab Bara sembari meneteskan air matanya.
Bergegas Bara keluar dari tendanya meminta bantuan kepada pendaki lain di tenda sebelahnya.
" Mass tolong jagain temen saya di tenda, temen saya meninggal. " ucap Bara sembari menetaskan air mata.
Keadaan menjadi tegang, beberapa pendaki telah berkumpul di tenda Lana, sedangkan Bara berlari turun.
Bara berlari tanpa henti, sesekali ia terjatuh kemudian bangkit lagi. Fikiran nya kacau tidak percaya melihat sahabatnya telah pergi selama-lamanya. Setibanya Bara di basecamp dengan nafas yang tidak beraturan, bergegas Bara melaporkan kejadian tersebut kepada petugas basecamp. Sontak saja petugas tersebut langsung bergerak menuju tenda, untuk mengevakuasi Lana.
Bara yang telah berlari turun kemudian berlari naik kembali membatu evakuasi. Setibanya Bara di tendanya, ia hanya terdiam menatap wajah sahabatnya.
" Mas ini ada surat yang kami temukan di saku jaket nya. " ucap pendaki tersebut.
" Makasih banyak mas. " ucap Bara lirih.
Setelah mengemas barang-barangnya, akhirnya Bara berjalan turun bersama tim evakuasi.
Setibanya di basecamp, Bara hanya duduk terdiam tidak berkata apapun. Fikirannya kacau, tidak berselang lama sebuah ambulan datang menjemput jenazah Lana untuk di bawa pulang ke kampung halamannya.
Di dalam mobil Bara membuka kertas yang berada di saku jaketnya.
Sahabat ku Bara.
Kamu adalah seorang yang mengerti mengapa aku melakukan sebuah petualangan.
__ADS_1
Kamu adalah seorang yang mengerti tentang kesendirian ku di kala malam.
Banyak kisah kita bersama, yang kelak akan kamu kenang dalam novel karyaku di keheningan malam.
Bara, sudah beberapa bulan ini, aku menyembunyikan penyakit paru-paru dari orang baik di sekitar ku. Tidak usah ku jelaskan alasanya, ku yakin kau sudah mengerti dengan jawabannya.
Kini perjalanan ku telah selesai, ingat lah kamu adalah aku. Darah ku telah mengalir dalam tubuh mu. Pintaku hanya satu, jagalah bunda seperti menjaga ibumu sendiri.
Salam ku Lana.
Sontak saja air mata Bara mengalir deras keluar dari matanya ketika membaca pesan terakhir dari Lana.
Lana sudah meninggal bang, tolong kerumahnya untuk mengabari kepada orang tuanya. Aku akan segera tiba nanti sore. Isi pesan Bara kepada Apoy.
Sirine ambulan berbunyi menyusuri jalanan menuju kediaman Lana. Setibanya mereka di sana, telah terdapat kawan dekat Lana yang menyambut kepulangannya. Bunda yang memaksa berdiri untuk melihat jenazah anaknya, tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. Bergegas Bara memberitahu pesan terakhirnya kepada kakaknya untuk segera membawa bunda menuju rumah sakit untuk operasi.
Setibanya di rumah sakit, setelah melakukan operasi bunda masih terbaring dengan ginjal Lana yang telah terpasang di tubuhnya. Cukup lama bunda terpejam, hingga akhirnya matanya terbuka secara perlahan.
" Lanaaaaaa. " ucap Bunda lirih.
" Lana sudah gak ada bunnn, bunda yang sabar ya. " ucap Kakak sembari menenangkan bunda.
" Bunda cuma pengen liat jenazah Lanaaa kak, tolong bantu bunda bangun. " jawab Bunda sembari menetesakan air mata.
Kakak membantu bunda pindah menuju kursi rodanya dan membawanya pulang menuju ke rumah.
Bunda menatap dalam-dalam wajah anaknya sembari mengelus kepalanya.
" Terima kasih untuk pemberian berhargamu nak, sampai ketemu lagi di sana. " ucap bunda lirih sembari meneteskan air mata.
Saat perjalanan menuju rumahnya, kakak bercerita kepada bunda jika ginjal yang ada di tubuhnya adalah permintaan terakhir Lana.
Ketika jenazahnya akan segera di kuburkan, banyak sekali sahabat nya yang datang termasuk Rimba dan Dara. Rimba dan Dara tidak menyangka jika Lana pergi secepat ini.
Setelah menguburkan Lana, mereka akhirnya pulang kediaman mereka masing- masing meninggalkan Bara sendirian.
" Terima kasih untuk perjalanan panjang kali ini na, terima kasih untuk darah yang lo sumbangin ke gua waktu SMA. Selamat beristirahat sang petualangan, perjalanan lo sudah selesai. " ucap Bara lirih kemudian beranjak pergi.
Di dalam kamar, bunda terbaring lemas diatas ranjangnya di temani kakak duduk di sampingnya.
" Bun ini ada pesan terakhir buat bunda. " ucap kakak.
Untuk Bunda.
Aku adalah bayi kecil yang kau timang di bawah mentari pagi. Kau sering mendekap ku di pelukan mu hingga aku merasa nyaman tidak menangis lagi.
__ADS_1
Aku meminta maaf untuk rasa kecewamu kepadaku pada waktu lalu. Tiada hal yang dapat menebus tentang mu bunda, walaupun hanya sebuah harapan hidup lebih lama untuk bunda berupa salah satu dari tubuhku yang masih berfungsi. Tidak apa-apa, aku telah benar-benar pulang dari perjalanan panjang ini bunda.
Terima kasih untuk semuanya, salam ku bayi kecil mu Lana.