
Mentari datang menyinari hari yang baru. Aku terbangun dari tidur ku dengan senyum baru. Kemudian melangkah keluar menyabut Bara, Bang Nusa, dan Bang Apoy yang duduk di kursi teras depan rumah.
" Terima kasih bang buat semalam, sekarang gua tau apa yang harus gua lakuin " Ucapku.
Bang Nusa hanya mengucap senyum sembari menepuk bahuku. Ketika hari mulai beranjak siang, aku berpamitan pada Bang Nusa, Bang Apoy dan Bara untuk pulang. Setiba ku di rumah, langkah ku berjalan masuk menemui bunda di kamarnya.
" Bun.. " bisikku.
" Iya nak ? " jawabnya.
" Bun ,aku minta maaf untuk yang kemarin. Aku khilaf bun " ucapku sembari menundukan kepala.
" Iya nak bunda maafin. Bunda hanya pesan untuk ingat bahwa ini hanya dunia nak, Bunda tau seberapa sedih nya kamu saat di tinggal Dinda. Percayalah kalau kamu tidak sedang di tinggal Dinda. Ingat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, ada yang lahir dan ada yang mati. Suatu hari Bunda juga akan meninggalkanmu. Yang bisa kamu lakukan hanya membuat kenangan indah, selesai kan tugasmu nak. " ucapnya.
" Iyaa bunda aku paham, Besok aku akan pergi berkelana bunda . Aku ingin meraih mimpiku. Aku janji bunda, aku bakal selesaikan apa yang sudah lana mulai. " ucapku.
" Bunda tau kamu bakal berkata begitu. Pergilah nak untuk meraih apa yang menjadi tujuan mu, Bunda sudah siapkan sepatu gunung mu sama carrier mu untuk perjalanan panjang mu " ucap bunda tersenyum.
Aku memeluk bunda dengan erat. Kemudian aku berpamitan kepada bunda untuk pergi ke kedai kopi. Setiba ku di kedai kopi langkah ku perlahan masuk menuju ruangan dan memesan kopi favoritku. Aku menikmati kopi pesanan ku sembari duduk dan mengingat saat Dinda memberikan jaket yang sedang ku kenakan. Kemudian aku keluar membawa sepeda motorku untuk menuju sekolah SMA ku. Aku berdiri di depan gerbang sembari melihat siswa yang keluar dari pintu gerbang, melihat siswa yang berboncengan seperti dahulu . Kemudian Aku kembali membawa sepeda motorku untuk menuju rumah Dinda yang telah kosong. Setiba ku di sana, aku berdiri sembari melihat setiap sisi rumah yang kotor. Aku berdiri dengan senyum seperti pesan bunda kepadaku. Tak lama aku pun kembali membawa sepeda motorku pulang ke rumah. Ketika langkah ku masuk ke dalam rumah yang hangat aku melihat bunda yang sedang memasak makanan kesukaan ku.
" Sebentar lagi jadi kok nak, sabar ya " ucapnya sembari tersenyum.
" Iya bunda " jawabku.
Aku menunggu dengan sabar di meja makan sembari melihat sisi rumah dimana tangisan pertamaku terdengar. Tak lama masakan buatan bunda telah siap di hidangkan di meja makan. Aku dan Bunda memakan masakan bunda yang masih hangat. Setelah nya kamipun masuk ke kamar masing-masing. Di dalam kamar aku kembali melihat dengan senyum pada sebuah kertas saat aku menyatakan cinta pada Dinda.
Kemudian aku pun merebahkan badanku dan tertidur dalam ranjang hangat ku.
__ADS_1
Saat mentari datang di situlah aku telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan ku. Aku pun memeluk bunda, seketika air mata keluar mengiringi langkah ku pergi. Bunda hanya tersenyum ketika aku melangkah pergi. Aku mengerti apa maksut bunda. Aku pun membawa sepeda motorku menjauh dari rumah.
Setiba ku di rumah dekat air terjun, aku menaruh carrierku dan langsung berjalan menuju air terjun. Di sana telah ada Bara dan Bang Nusa yang mengawasi wahana Canyoning.
" Gua pengen nyoba Canyoning nih, kan gua belum pernah nyoba haha " ucapku tertawa kecil.
Tak lama bara mengambil harnes dan memasangnya di pinggang ku. Aku sedikit di beri arahan kemudian aku berjalan turun dari tebing ait terjun. Aku merasa bebas seperti dahulu.
" Dinda, saat acara reuni kamu berkata jika ingin mencoba Canyoning, maka aku wujudkan mimpi mu " Ucap batinku.
Aku berteriak melewati tebing batu yang licin.
" Ia sudah kembali menjadi Lana yang kita kenal bang " Ucap Bara.
Bang Nusa hanya tersenyum sembari melihat ku berteriak dengan senyum karna mimpi Dinda untuk mencoba Canyoning telah terpenuhi. Aku menikmat saat seperti ini hingga tak terasa aku telah sampai bawah. Aku melepas harnes yang terpasang di pinggul ku kemudian aku mencoba lagi dan berteriak kembali.
" Bar lo tau kan novel gua belum selesai. " ucapku.
" Iyaa gua tau, kenapa na? " jawabnya.
" Kayanya besok gua lanjut berkelana na untuk waktu yang panjang, untuk merebut mimpiku dan untuk menyelesaikan novelku " ucapku.
" Gua bakal dukung lo na, gua seneng kalo lo kembali menjadi diri lo yang gua kenal " jawab Bara.
" Lana sama gua mau mengejar mimpi, gua nitip air terjun ini sama lo poy, na. " Ucap bang Nusa.
" Tenang nus gua sama Bara bakal kok ngejaga tempat ini, yakan bar? . " jawab Bang Apoy.
__ADS_1
" Iya bang, tenang aja ada gua hahaha " ucap Bara sembari tertawa.
" Gak bisa di jagain lo bar, masa bisa sampai babak belur hahaha" jawab Bang Apoy.
" Gua sengaja babak belur biar Naya kasian sama gua hahahah" jawab Bara.
Obrolan kami menjadi hangat karna canda malam itu. Kini sebuah gitar yang di mainkan Bara menjadi kehangatan tersendiri. Kami bernyanyi bersama menyanyikan sebuah lagu karya Iwan Fals berjudul Ujung Aspal Pondok Gede yang menjadi lagu favorit kami.
Tak terasa malam telah larut satu persatu dari kami masuk kedalam menyisahkan aku sendiri di luar teras yang masih terjaga. Kali ini fikir ku di penuhi oleh kalimat-kalimat yang akan ku tulis dalam novelku. Cukup lama aku di kesendirian malam dengan laptop yang terbuka hingga akhirnya aku berjalan masuk untuk istirahat.
Pagi telah datang menyinari hariku yang telah bersemi kembali. Aku duduk di teras rumah sembari menunggu Bara dari pasar. Belum habis rokok yang ku bakar, Bara pun menghentikan sepeda di depan rumah.
" Lu mau berangkat sekarang na? " Ucap Bara.
" Iya bar, tinggal pakai pakai sepatu aja " Ucapku.
" Tujuan pertama lo mau kemana ?" Tanyanya.
" Entahlah bar " ucapku.
Bara hanya menghela nafas, melihat ku yang telah siap untuk pergi. Tak lama Bang Apoy, Bang Nusa dan 3 kawan ku lainnya keluar menghampiriku. Aku memeluk semua kawan dan Bara menjadi pelukan terakhirku. Setelah memeluk Bara aku teringat dengan sebuah buku yang ku beli saat di Jogja bersama Dinda, ku rasa buku ini akan cocok untuk bara.
" Bar ini ada buku buat lo, semoga buku ini bisa membantu lo " Ucapku sembari memberikan buku.
" Buku apa ni na ?" tanyanya.
" Ntar aja lo buka " jawabku.
__ADS_1
Bara hanya mengangguk paham. Tak lama aku menghela nafas panjang sembari tersenyum menatap mereka kemudian aku menaiki sepeda motorku dan membawanya menjauh dari rumah dekat air terjun.