Jaket Tua

Jaket Tua
Bab 37. Bunda Sakit.


__ADS_3

Mentari belum terlihat dari ufuk timur. Lana, Rimba, Surya masih tertidur dalam balutan sleeping bag.


Kringgg...kringg....


Seketika suara alarm dari ponsel telah berbunyi Lana, Rimba dan Surya sontak saja terbangun dari tidurnya. Tangan Lana meraih ponsel nya untuk mematikan alarm yang berbunyi.


" Jam 4 kurang 15. " bisik batin Lana.


Bergegas mereka mengemas beberapa snack dan kopi untuk di nikmati di puncak nanti.


Ketika satu persatu dari mereka keluar dari dalam tenda, terlihat kabut tebal masih menyelimuti area sekitar. Seketika Surya menghampiri tenda sebelah untuk membangunkan tiga orang kawannya.


" Woy bangun udah jam segini, lo semua mau ikut summit gak? " ucap Surya.


" Lo duluan aja sur, ntar gua sama yang lainnya nyusul. " ucap salah seorang kawan surya.


Tidak ingin berlama-lama mereka berjalan perlahan menuju puncak gunung. Tidak berselang lama, akhirnya mereka tiba di puncak gunung.


" Cikuray!!! " bisik batin Lana.


Hari masih petang, sang surya belum memberikan tanda-tanda akan kehadirannya. Lana,Rimba dan Rimba lainnya duduk melingkar sembari menyiapkan kopi.


Tidak lama berselang, tiga kawan Surya tiba di puncak gunung kemudian bergabung duduk melingkar bersama Lana, Rimba dan Surya.


Seketika mentari pagi perlahan muncil dari ufuk timur, Bergegas Rimba mengabadikan moment tersebut lewat kamera digitalnya. Lana dan Surya hanya duduk santai dengan kopi dan rokok di tangannya. Secara tiba-tiba pendaki perempuan dan tiga orang kawannya datang menghampiri kami.


" Haloo bangg. " ucap pendaki tersebut.


" Eh halo, baru sampe? " tanya Lana.


" Iyaa ni bang heheh. " jawab pendaki tersebut.


" Yaudah duduk sini dulu, nih ada cemilan sama kopi biar anget. " ucap Lana menawarkan.


" Iyaa bang makasih banyak. " jawab pendaki tersebut.


" Gimana, temen lo yang kena hipo kemarin? " ucap Lana


" Di tenda bang sama pacarnya alhamdulillah udah enak an. " ucap pendaki tersebut.

__ADS_1


" Syukurlah. " jawab Lana singkat.


Hari semakin siang, begitu juga dengan mentari yang perlahan naik. Hari semakin panas, mereka bergegas untuk melangkah turun menuju pos 8.


Setibanya mereka di sana, bergegas mereka mulai memasak untuk mengisi perut. Hanya sekitar 1 jam, makanan pun siap di sajikan. Lana, Rimba, Surya dan 3 kawan lainnya langsung menyantap makanan tersebut dengan lahap hingga tak menyisahkan sebutir nasi.


Setelahnya mereka sejenak mengobrol sembari membakar rokok dan menikmati kopi. Tidak lama berselang ketika mentari semakin terik, Lana, Rimba, Surya dan 3 kawan lainnya mengemas barangnya dan melangkah turun.


Hari menjelang sore, akhirnya Lana, Rimba, Surya dan tiga orang kawannya tiba di basecamp. Mereka duduk sejenak di sebuah warung di dekat basecamp kemudian mereka pulang menuju kediaman Surya.


Pandangan mata Lana tercengang ketika melihat belasan pesan dan telfon dari kakak nya.


Bunda lagi sakit, sekarang di rumah sakit. Isi pesan dari kakak.


Hati Lana menjadi gelisah tidak karuan ketika melihat pesan tersebut, kemudian Lana memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


" Bang kayanya gua balik ke jatim hari ini, ibu gua lagi di rumah sakit. " ucap Lana.


" Yaudah na, gua anterin ke stasiun aja ya. Bentar lagi lewat stasiun kok. " ucap Surya.


" Iyaa bang makasih banyak ya. " jawab Lana.


Di dalam kereta api, perasaan Lana menjadi gelisah tidak karuan. Lana mulai menyalahkan dirinya sendiri karna tidak pernah menemani bundanya di rumah.


Jam demi jam telah berlalu, akhirnya Lana tertidur dalam dinginnya gerbong kereta api karna lelah mendaki gunung. Hingga ketika Lana terbangun, Lana melihat jam di pergelangan tangan nya yang menunjukan pukul 3 pagi. Ia mencoba tidur kembali untuk menenangkan fikirannya, akan tetapi hatinya masih resah berharap keadaan bunda segera baik-baik saja.


Setelah lelah duduk di kursi kereta berjam-jam akhirnya Lana tiba di stasiun kota tujuannya. Bergegas ia keluar dari gerbong kereta api dan berjalan cepat menuju luar. Tidak berselang lama, ojek pesanannya tiba di depan pintu gerbang stasiun, tanpa fikir panjang Lana langsung menyuruh pengemudi ojek segera menuju rumah sakit tempat bundanya di rawat.


Setibanya Lana di depan rumah sakit, bergegeas ia berlari menuju ruangan tempat bundanya di rawat. Setibanya di depan ruangan, Lana langsung membuka pintu ruangan dan berjalan masuk dengan carrier di punggungnya.


" Bagaimana keadaan bunda kak? " tanya Lana.


" Bunda baik-baik saja nak, cuma kecapean aja. " ucap bunda Lirih.


Kakak hanya duduk terdiam melihat Lana sedang memeluk bunda.


" Maafin Lana ya bun, Lana jarang banget di rumah nemenin bunda. " ucap Lana.


" Bunda gapapa kok nak, cuma kecapean aja. " ucap Bunda.

__ADS_1


" Kamu sudah makan? " tanya bunda.


" Udah kok bun. " jawab Lana.


Seketika perasaan hati Lana menjadi tenang ketika melihat bunda tersenyum.


" Bunda mau pulang nak. " ucap Bunda.


" Loh bunda kan masih sakit. " ucap Lana.


" Bunda gapapa tanya aja sama kakakmu. " jawab Bunda.


Kakak hanya menganggukan kepala sembari tersenyum mendengar ucapan bunda.


" Yaudah bun, ayo pulang. " ucap Lana.


Seketika Lana membantu bunda keluar dengan kursi roda menuju mobil milik kakak ipar Lana.


Setibanya mereka di dalam rumah, Lana duduk di samping kasur bunda sembari memijat kakinya.


" Kamu istirahat aja nak, kamu kan cape baru pulang. " ucap Bunda.


" Kan udah tidur tadi di kereta bun hehe. " jawab Lana sembari tersenyum.


Ketika hari mulai siang, tiba-tiba bunda tertidur di atas ranjangnya. Dengan hati-hati Lana melangkah pergi menuju kamar nya untuk istirahat.


Di dalam kamar Lana segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, setelahnya ia merebahkan badannya di atas ranjangnya sembari meregangkan otot-ototnya. Pandangan mata Lana melihat ponselnya yang dari kemarin terus memunculkan notif pesan dari Dara, tapi tidak Lana hiraukan pesan darinya. Di rasa kantuk belum menyerangnya, Lana kembali bangun dan duduk di kursi belajarnya menghadap ke jendela. Di bukanya laptop dan sebuah buku kecil untuk menyalin tulisan di dalamnya ke novel buatannya. Sesekali ia memandang fotonya bersama Dinda di sebuah pigora kecil di meja belajarnya. Seketika Lana merasa rindu dengan sosok Dinda.


" Gak kerasa, sudah selama ini kamu pergi din. " bisik batin Lana.


Lana kembali menyalin tulisan dari buku kecilnya sembari menghisap rokoknya.


" Gak kerasa juga novel ini sudah mau selesai, tinggal satu bab lagi. " bisik batin Lana senang.


Lana kembali melanjutkan menulis novelnya hingga rasa kantuk menyerangnya, akhirnya Lana memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan tidur di ranjang nya.


" Aku kangen kamu Dinda. " bisik batin Lana.


Lana pun terpejam terlelap ke alam bawah sadarnya.

__ADS_1


__ADS_2