
Hari telah berganti, Aku terbangun dari tidurku melangkah keluar menyambut mentari yang masih malu-malu. Aku kembali membawa sepeda motorku menuju pasar untuk bertemu dengan Naya dan membeli kebutuhan.Setibanya aku di pasar, langkah ku berjalan masuk menuju tempat Naya berjualan. Aku menyapanya sembari tersenyum. Dalam obrolan kita terlintas dalam pikiran ku untuk mengajak Naya ke air terjun.
" Nay, nanti ikut aku yuk ke air terjun " tanyaku.
" Naya izin ibu dulu ya mas " jawabnya.
" Biar aku yang minta izin nay " ucapku sembari tersenyum.
" boleh mas, ntar lagi ibuku sampai pasar kok " ucapnya.
Aku menunggu ibunya Naya untuk meminta izin mengajak Naya ke air terjun. Tak lama ibunya Naya pun datang dari arah belakangku.
" Eh ada nak Bara " sapanya.
" Tiap pagi ada kok bu hahah" ucapku tertawa kecil.
Ketika pembeli telah sepi, aku miminta izin mengajak Naya ke air terjun.
" Tante, saya mau izin ngajak Naya ke tempat kerja saya di air terjun. gimana tante? " tanyaku.
" Boleh kok, tapi pulangnya jangan sore-sore ya " jawabnya.
Akupun mengiyakan ucapan bunda Naya. Setelah nya ketika pasar telah sepi pembeli aku dan Naya berjalan keluar pasar menuju sepeda motorku. Setiba ku di rumah dekat air terjun aku melihat Bang Nusa yang telah bersiap dengan carrier di sampingnya. Setelah kepergian Lana beberapa hari lalu, hari ini Bang Nusa juga akan mengikuti jejak Lana pergi meraih mimpinya.
" Eh Bara, Ini Naya bar ?" tanya Bang Nusa.
" Iya bang, ya biar pacarannya gak di pasar terus hahahaha? " jawabku sembari tertawa.
" Emang lu udah pacaran bar? " tanya Bang Nusa.
" masih usaha bang haha " jawabku.
Naya hanya terdiam tak berkata apa-apa dengan raut wajah senyum menahan malu karna ucapanku.
" Gimana Bang mau berangkat sekarang? " tanyaku.
" Sebatang dua batang rokok boleh lah bar haha. " jawabnya.
" Bakalan sepi dah nih tempat. " ucapku.
" Tenang Bar kan ada Naya sama Bang Apoy hahaha " jawabnya dengan tawa kecil.
Tak lama Bang Apoy dan yang lainnya keluar untuk berpamitan kepada Bang Nusa. Setelah berpamitan Bang Nusa pun melangkah menuju mobil nya yang terpakir dan membawanya menjauh dari kami.
__ADS_1
Aku dan Naya duduk di teras rumah dengan Bang Apoy di sampingku.
" Naya mau nyoba naik kapal ? " ucapku.
" Emang ada mas kapal di sini " jawabnya polos.
" Ada, tapi klo naik kapal harus pakai pelampung biar aman sama pake helm biar gak di tilang polisi hahah " ucapku becanda.
Bang Apoy hanya terdiam dengan tawa kecilnya sedangkan Naya masih bingung dengan ucapanku.
" Tenang nay ada aku, gimana nay mau " tanyaku.
" Boleh deh mas " jawabnya sembari tersenyum.
Kemudian aku dan Naya beranjak dari teras rumah meninggalkan Bang Apoy sendiri. Ketika sampai di pinggir sungai Naya seakan mencari dimana kapalnya.
" Kapalnya mana mas? " tanya Naya Kebingungan.
" Itu warna orange. " jawabku sembari menunjuk.
Naya terkejut ketika melihat perahu karet di pinggir sungai.
" Ini aman mas? " tanyanya.
Sembari menunggu beberapa pengunjung yang akan mencoba kegiatan Rafting, aku dan Naya mengenakan Pelampung dan helm. Setelah di rasa cukup pengunjung untuk menaiki perahu karet, kami pun memulai kegiatan Rafting menyusuri sungai. Terlihat jelas raut wajah Naya yang ketakutan karna ini adalah pengalaman pertamanya. Kami menyusuri sungai dan melewati beberapa jeram, seketika rasa takut yang di rasakan Naya pun hilang. Saat kami berada di aliran sungai yang tidak deras aku bertanya pada n
Naya.
" Naya kamu mau yang lebih seru lagi " tanyaku.
" Apa itu mas " jawabnya.
Aku hanya tersenyum kemudian membalikkan perahu karet, seketika kami semua terjatuh ke dalam sungai. Setelah permainan selesai kemudian aku mengajak Naya ke warung untuk mengisi perut. Setelahnya aku mengganti pakaian ku kemudianya menyusul menghampiri Naya ke warung.
" Baju mu basah Nay, ini pake bajuku dulu " Ucapku sembari memberikan bajuku.
Naya menerima tawaranku dan bergegas mengganti bajunya yang telah basah.
" Gimana nay, seru ?" tanyaku.
" Seruu bangett hahah " jawabnya.
Aku merasa senang ketika mendengar ucapannya. Setelah kami mengisi perut aku kembali mengajak Naya ke air terjun. Kami pun beranjak dari warung kemudian melangkah menuju air terjun. Setiba kami di air terjun, Seketika Naya terpesona melihat keindaahan air terjun dari bawah.
__ADS_1
" Kenapa diam nay, kamu gak pernah kesini? " tanyaku.
" Gak pernah mas, Setiap hari Naya sibuk bantu orang tua jualan jadi gak ada waktu" jawabnya.
" Oh ya nay, kamu punya impian gak? " tanyaku.
" Entahlah mas, Apakah ada mimpi bagi seorang pedagang pasar?, Apakah seorang pedagang pasar adalah suatu impian ?. Naya gak tau apa yang akan terjadi di depan, yang penting Naya ingin bersyukur untuk saat ini. " jawabnya sembari memandang air terjun.
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Tak terasa waktu bersama Naya begitu singkat, hari telah sore bergegas aku mengajak Naya untuk pulang kerumahnya.
Setibanya kami di rumah Naya, aku melihat ayah Naya yang sedang duduk di teras rumah sembari menikmati kopi .
" Assalamualaikum " ucapku.
" Waalaikumsalam " jawabnya.
Aku duduk di samping ayah Naya, serta menceritakan tentang hari ini kepadanya. Ayah Naya terheran kepadaku karna aku adalah satu-satunya laki-laki yang mengajaknya main keluar. Kemudian ayah Naya bercerita jika Naya adalah wanita yang sulit jatuh cinta kepada laki-laki. Ia sering di dekati laki-laki akan tetapi Naya menolaknya.
Tak lama Naya keluar dengan kopi dan cemilan kemudian duduk di samping ayahnya. Di sela obrolan kami, sesekali aku melihat Naya.
" Kamu berbeda Naya." bisik batinku.
Tak lama ayah Naya berpamitan untuk berangkat berjualan , begitu juga dengan ku untuk pulang ke rumah.
Setiba ku dirumah, aku duduk di teras rumah dengan Bang Apoy menunggu malam. Sembari menunggu malam aku membaca buku pemberian Lana. Sebuah buku tentang cara mendekati wanita, ya walaupun terdengar aneh tapi cara tersebut ampuh membuat Naya luluh.
" Udah sepi ya bang? " ucapku.
" Iya nih bar, kerasa banget " jawabku.
" Rencana kita mau ngembangin apa lagi ya bar? " tanyanya.
Aku hanya menggelengkan kepala. Seketika obrolan kami pun selesai, suasana menjadi sunyi kembali. Bang Apoy yang sibuk dengan ponselnya begitu juga dengan ku yang sibuk membaca buku pemberian Lana. Tak lama sebuah pesan singkat dari Naya muncul di layar ponselku, kini aku beradu pesan dengan Naya membahas cerita kami hari ini hingga malam pun tiba. Setelah Naya mengucap selamat malam sebagai ujung pembicaraan, kini aku sangat merasa sendiri di teras rumah, walaupun ada Bang Apoy yang sedang duduk di samping ku.
" Bang lo yakin bakal terus ada di sini? " tanyaku.
" Maksut lo gimana bar? " jawabnya.
" Lana dengan Bang Nusa sudah pergi untuk meraih mimpinya, klo lo gimana bang? apa mimpi lo ada disini ? " ucapku sembari membakar rokok.
" Bagi gua mimpi tidak lah penting, gua sangat bersyukur dengan apa yang ada sekarang. " ucapnya menjelaskan.
Aku mengerti arti dari ucapan Bang Apoy, tapi aku tak mengerti tentang arah hidup ku untuk mengikuti jejak Lana dan Bang Nusa meraih mimpinya atau mengikuti jejak Bang Apoy untuk bersyukur dengan apa yang ada.
__ADS_1