Jaket Tua

Jaket Tua
Bab 28. Gunung Kembang.


__ADS_3

Siang menjelma menjadi temaram. Lana menghentikan sepeda motornya di parkiran dekat basecamp Gunung Kembang.


" Ahhh capek banget. " ucap Lana sembari berjalan menuju ruangan basecamp.


Di dalam ruangan telah ada beberapa pendaki yang mengobrol sembari menghisap rokok. Lana duduk di dekat mereka sembari melepas jaketnya.


" Baru sampek mas. " ucap basa-basi seorang pendaki.


" Iya mas, baru sampek. " jawab Lana tersenyum.


" Dari mana mas? " tanya nya.


" Dari rumah temen di Jogja mas " ucap Lana.


Obrolan Lana dan beberapa pendaki tersebut begitu sangat akrab. Tiba-tiba Lana teringat untuk mengabarkan Dara jika dirinya telah tiba di basecamp Gunung Kembang. Bergegas Lana mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan kepada Dara.


Ra, aku sudah sampai di basecamp Gunung Kembang. Isi pesan Lana


Tak lama Dara membalas pesan dari Lana.


Iya Lana, makasih sudah berkabar :'). Jawaban dari pesan Dara.


Malam telah larut, Lana duduk di luar dengan jaket pemberian Dinda sembari merokok. Tidak lama, penjaga basecamp datang menghampiri Lana yang duduk di luar.


" Eh Lana belum tidur ? " tanya penjaga basecamp.


" Masih belum ngantuk pak " jawab Lana tersenyum.


Malam semakin larut, tapi obrolan Lana dan penjaga basecamp semakin erat. Setelahnya karna hawa yang semakin dingin Lana memutuskan untuk beranjak dari tempat duduk nya dan beristirahat di dalam.


Sinar matahari telah muncul dari ufuk timur, bebarengan dengan hawa dingin yang perlahan menghilang. Lana terbangun dari tidurnya ketika suara ramai dari pendaki lain menerobos masuk ke telinganya. Seketika pandangan matanya menoleh ke arah jam yang menempel di dinding.


" Ohh baru jam segini, nyantai dulu lah " bisik batin Lana.

__ADS_1


Lana meraih tasnya untuk mengambil ponselnya. Seketika sebuah pesan masuk dari Dara membuat ponselnya berbunyi.


Pagi Lana :'). Isi pesan Dara.


Pagi juga Dara. kamu sedang beneran senyum atau hanya sebuah emot saja haha ? Balasan pesan Lana.


Menurutmu wkwk? Balasan pesan Dara.


Lana dan Dara saling beradu pesan. Hingga Lana sadar saat ketika waktu yang terus berjalan. Bergegas Lana beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, serta mengemas barangnya.


Di dalam warung sembari menunggu pesanan makanan di anter, Lana duduk di kursi kayu. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Lana pun kaget dan menoleh ke arah belakang.


" Loh Bang Rimba? " ucap Lana terkejut.


" hahaha iya na " ucap Rimba sembari tertawa kecil.


" Kok ada di sini bang? mau ndaki juga? " tanya Lana.


" Gua juga tau na, kabar pacar lo Dinda hilang di gunung ini. Nah waktu itu gua mau bantu nyari pacar lo, tapi gua gabisa na soalnya gua lagi bantuin temen kerja nganter barang ke Jawa Timur. Gua ngikutin cerita di blog pribadi lo, ni kebetulan gua mau lanjut perjalanan jadi ya bisa ketemu disini. " ucap Rimba menjelaskan.


Lana tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan Rimba di sini. Setelahnya setelah mengisi perut, akhirnya Lana dan Rimba memulai pendakian. Langkah demi langkah mereka lewati, sesekali mereka juga berhenti untuk beritirahat. Kemudian mereka berjalan kembali langsung menuju puncak. Cukup lama mereka berjalan untuk tiba di puncak, sebab Lana dan Rimba tidak sedang terburu-buru. Mereka ingin lebih menikmati perjalanan mereka.


Lana dan Rimba tiba saat langit menjingga, saat matahari akan tenggelam di ufuk barat.


Lana dan Rimba tidak ingin terburu-buru membongkar isi carrier dan membangun tenda, mereka lebih memilih duduk dengan rokok di jemari nya sembari melihat ke langit jingga. Mereka mengerti bahwa diam adalah cara untuk menikmati alam saat itu.


Saat matahari telah terbenam, kemudian mereka membangun tenda dan memasak makanan. Setelah nya Lana dan Rimba keluar dari tendanya. Hari ini puncak cukup sepi, hanya ada beberapa tenda yang terpasang serta beberapa api unggun yang terlihat.


" Lo mau gabung sama mereka na biar rame?" ucap Rimba.


" Lo duluan aja, gua mau sendiri dulu. " ucap Lana.


Kemudian Rimba pun dari duduknya menuju ke tenda pendaki lain meninggalkan Lana seorang diri di depan tenda.

__ADS_1


" Dinda kamu sedang apa? " bisik batin Lana.


Seketika rasa rindu dengan Dinda muncul dalam hatinya. Cukup lama Lana diam sendiri di depan tendanya, hingga membuat Rimba menghampiri Lana.


" Yah katanya lo mau nyusul gua. " ucap Rimba.


" Gua mau nyusul lo, eh lo malah nyamperin gua. " jawab Lana.


" Mereka udah mau tidur na. " ucap Rimba.


Tangan Lana mengambil kopi di sampingnya menawarkan kepada Rimba.


" Nih minum dulu, kita adalah kelompok manusia yang tidak ingin membuang waktu berharga dengan cara tidur, walaupun tidur itu suatu kebutuhan. " ucap Lana.


" Lo bener na, gua juga sudah males jadi model di gunung. Bagi gua itu gak menarik lagi na, gua gak tau kenapa tapi itu yang gua rasain. ucap Rimba. sembari meminum kopi.


" Model di gunung ?" Ucap Lana keheranan.


" Ya kaya orang pertama kali naik gunung gitu na, foto ini foto itu, gaya ini gaya itu hahah. " jawab Rimba tertawa kecil.


" hahaha lo bener, sama gua juga palingan cuma dokumentasi buat di taruh di artikel doang. Tapi gua gak menyalahkan mereka yang jadi model gunung karna manusia itu unik, dan punya fase dalam kehidupannya " ucap Lana menjelaskan.


Lana dan Rimba mengobrol hingga lupa waktu. Sudah berbatang-batang rokok yang mereka habiskan di depan tenda. Setelah rimba memutuskan masuk ke dalam tenda untuk beristirahat meninggalkan Lana sendirian lagi di luar.


" Gua tau apa yang lo rasa in di gunung ini, Gua tau lo rindu seseorang. Gua masuk dulu na. " ucap Rimba menepuk bahuku kemudian melangkah masuk ke tenda.


Di dalam kesendiriannya Lana pandangan matanya melihat sebuah bintang jatuh di atas langit. Bergegas Lana memejamkam matanya dan membuat permohonan.


" Dinda, aku tau kamu sudah pulang. Tapi ku harap kita akan bertemu lagi ketika aku telah menyelesaikan perjalananku." bisik batin Lana.


Seketika Lana membuka bukunya yang berisi ratusan kalimat indah di dalamnya. Kemudian Lana mengambil pena dan menulis pada buku tersebut.


Bagiku menulis adalah kegiatan orang tua. Seperti duduk manis di kursi sembari minum kopi, hanya saja kali ini ia sedang menulis. Padahal raganya masih kuat dan jiwanya masih sehat. Benar, aku gemar menulis akan tetapi aku menolak tua. Aku butuh perjalanan untuk dapat menciptakan dongeng sebelum tidur yang akan membawamu terlelap. Walaupun tulisan ku hanya beberapa rangkaian kata sederhanya, tapi percayalah itu sangat bermakna. Sebab itu Dinda, aku datang di tempat terakhir kau berada belum mengabarkan keberhasilan novel ku.

__ADS_1


Lana.


Setelahnya Lana tersenyum dan masuk kedalam tenda untuk beristirahat karna malam semakin larut .


__ADS_2