Jaket Tua

Jaket Tua
Bab 22. Pesan Dinda.


__ADS_3

Hari telah berganti pagi, kemudian menjelma menjadi siang. Aku masih terbaring di atas ranjang ku yang sunyi tanpa mentari. Tak lama mataku terbuka, aku pun bangun dari ranjangku sembari mengucek mata. Kepalaku masih terasa pusing karna terlalu banyak minum alkohol. Aku duduk di kursi belajar ku menghadap jendela sesekali pandangan ku melirik ke sebuah coretan kertas saat aku menyatakan cintaku ke Dinda.


" Kamu sedang apa dinda? " bisik hatiku.


Tak lama aku pun mengambil sebotol alkohol yang ku sembunyikan di bawah kasur ku. Aku meminum beberapa teguk untuk menenangkan pikiran ku. Secara tba-tiba bunda masuk kedalam kamarku dan melihatku sedang minum alkohol.


" Lana! " jeritnya.


Seketika aku menoleh ke arah bunda dengan raut wajah tersenyum karna pengaruh alkohol.


" Kenapa kamu jadi begini nak, bunda pikir kamu sudah ikhlas dengan kepergian Dinda. " rengek bunda.


Aku hanya terdiam tak mengiraukan ucapan bunda. Tak lama bunda pun pergi meninggalkanku sendirian di kamar. Malam harinya Bara, Bang Nusa dan Bang Apoy datang kerumah menemuiku, sebab sejak kejadian itu aku sudah tidak pernah lagi ke air terjun. Mereka mengetuk pintu kamarku dan masuk ke dalam. Mereka terkejut ketika melihat botol minuman alkohol di kamarku.


" Sejak kapan na lo minum kaya gini ? " tanya Bara.


" Baru-baru aja sih bar, lo mau ? " jawabku.


" Ibu lo tau kalau lo minum gini ?" tanya Bang Nusa.


" Udah tau paling. " jawabku.


" Lo bukan Lana yang gua kenal, lo berubah. " ucap Bara.


Aku terdiam ketika mendengar ucapan dari Bara. Ia pun begitu kesal melihat ku akrab dengan minuman alkohol. Tiba- tiba Bara pun mengambil botol minuman ku dan membuang nya ke sampah.


" Anjing lo bar. " teriak ku.


Suasana menjadi tegang, aku yang telah terpengaruh alkohol seketika tangan ku memukul wajah Bara. Seketika Bang Nusa dan Bang Apoy menahan ku yang telah di kuasa i oleh emosi. Tak lama mereka pun memutuskan kembali ke pulang.


" Lo bukan Lana yang gua kenal. " Ucapnya sembari menunjuk ke arahku.


Bunda hanya dapat menangis ketika terjadi keributan di kamar ku, akan tetapi aku tetap berada di kamar ku menikmati sisa alkohol di gelas.


Esok siang ketika mentari telah di atas puncak nya, aku terbangun dalam tidur ku, kemudian langkah ku berjalan keluar dari kamar. Aku memanggil bunda, namun tidak ada jawaban darinya. Tak lama aku pun memakai jaket jeansku dan berjalan keluar membawa sepeda motorku untuk menuju ke warung dekat rumah ku. Seketika aku menghentikan sepeda motorku ketika pandangan ku tertuju pada sebuah truck yang terparkir di depan halaman rumah Dinda.


" Eh Lana. " sapa ayah Dinda.


" Iya om, mau pindahan sekarang om? " tanyaku.


" Iya na, rencana rumah ini gak akan di jual tapi hanya di kontrakan saja " ucapnya.


" Iyaa om, Trus kabar tante gimana om ? " tanyaku.


" Tante lagi merenung di kamar na, sangat berat bagi tante harus pindah rumah. " jawab nya.

__ADS_1


" Hmmm, boleh saya liat tante om? " tanyaku.


Ayah Dinda mengiyakan permintaanku. Ketika ku ketuk pintu kamar dan membuka nya kemudian kami melangkah masuk.


" Tante... " ucapku.


Bunda Dinda menoleh ke arahku dengan air mata yang masih mengalir. Seketika aku pun duduk di samping nya.


" Dinda sudah bahagia bunda. " bisik ku.


Air mata bunda semakin mengalir deras ketika mendengar ucapan ku.


" Lana , dulu Dinda sering banget cerita ke tante. kalau ia sangat ingin membaca novel hasil karyamu na. " Ucapnya.


Aku tak bisa berkata apapun ketika mendengar cerita dari Bunda , tak lama air mataku keluar begitu deras membasahi pipi. Seketika Ayah Dinda berpamitan kepadaku karna barang-barang telah selesai di angkut ke atas truck.


Langkah kami keluar menuju pintu gerbang rumah.


" Banyak kenangan tentang Dinda di rumah ini, tapi semakin kami ingat maka semakin sakit hati kami. " ucap ayah Dinda.


" Iya om, hati-hati di jalan. " Ucapku sembari tersenyum.


Kemudian aku membawa sepeda motorku menuju air terjun untuk menenangkan pikiran.


Di atas sepeda motor air mata ku tidak berhenti keluar. Aku memacu sepeda motor ku begitu kencang melewati sela-sela. Hingga akhirnya aku tiba di rumah dekat air terjun.


" Gua lagi butuh sendiri bar , maaf soal kemarin " ucapku sembari berjalan menuju air terjun.


Ketika aku sampai di air terjun, aku duduk terdiam di atas batu besar sembari mengingat kebersaaman dengan Dinda di atas batu ini.


Hari pun berganti petang. Langkah ku berjalan menyusuri jalan setapak yang telah sepi pengunjung. Aku duduk di teras rumah sembari menghisap rokok. Tak lama Bang Nusa datang duduk di samping ku.


" Gua pernah na, kehilangan sesuatu yang berharga. Sakit banget ketika gua ada di fase itu. Gua pernah kehilangan arah seperti yang lo lakuin kemarin, bahkan lebih parah tapi gua gak mungkin begitu terus. Karna apa ? karna gua harus melajutkan perjalanan na. Gua harus menyelesaikan apa yang telah gua mulai. Lo pernah bilang sama gua jika suatu tempat akan berubah karna zaman tapi tidak akan merubah kenangan di dalamnya. " bisiknya


Aku hanya terdiam mendengar ucapan Bang Nusa.


" Seminggu lagi gua bakal melajutkan perjalanan untuk menebus kesalahan di masa lalu, gua bakal lanjut S2. Selesaikan apa yang sudah lo mulai, wujudkan mimpi-mimpi lo na. gua yakin Dinda bakal senyum ketika mimpi lo terwujud, bukankah Dinda pernah berkata itu ? " imbuhnya.


Aku masih terdiam tak bisa berkata apa-apa.


Malam pun semakin larut, ucapan Bang Nusa seakan- akan memberiku tamparan yang membuat ku sadar. Kemudian Bang Nusa meninggalkanku dalam lamunanku. Kemudian aku pun menulis sebuah puisi pada sebuah kertas.


Ku tuliskan puisi berjudul namamu.


Sebagai maafku tak bisa mengantarmu.

__ADS_1


Sebagai maafku tak bisa menemanimu.


Seperti masa zaman kita sekolah dulu.


Kini masa itu telah berlalu.


menyisahkan hati yang sendu.


tanpa dirimu.


Hanya banyang mu.


Hidup, berarti, lalu mati


Kau sudah hidup


Kau sudah berarti.


tapi jangan mati.


menyisahkan aku sendiri.


aku sendiri...


Ucapku malam ini


Selamat tidur dan selamat bermimpi.


Maaf jika tidak ada dongeng malam ini.


Tapi aku akan bercerita suatu hari nanti.


Lana.


Air mataku seketika keluar membasahi kertas puisiku. Aku mencoba tersenyum mengikhlaskan kepergian Dinda. Ketika malam semakin larut, aku masuk ke dalam rumah. Aku melangkah melewati kawan ku yang telah tertidur pulas hingga aku membaringkan badanku di suatu kamar. Tak lama mataku pun terpejam.


*******


" Kenapa kau tersenyum Dinda?" Tanyaku.


" Kau akan tau jawabannya nanti sayang. " Jawab Dinda.


" Apa maksut kamu ?" ucapku.


" Lanjutkan perjalanan mu sayang, selesaikan apa yang telah kamu mulai. " Jawabnya.

__ADS_1


Aku terbangun dalam tidurku. Kemudian aku membuka ponsel ku melihat foto senyum nya.


" Terima kasih Dinda, akan aku lanjutkan perjalanan." bisik batinku tersenyum.


__ADS_2