
Hari berganti minggu kemudian berganti bulan. Setelah kepergian Lana dan Bang Nusa aku tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Kali ini aku menambah beberapa kawanku untuk membantuku mengawasi wisata ini. Aku dan Bang Apoy duduk di teras rumah dengan laptop di hadapan kami. Kian hari wisata air terjun semakin bertambah ramai dengan penambahan kegiatan baru yang kami buat. Di sela kesibukan, Bang Apoy bertanya kepadaku.
" Kabar Lana gimana ya bar? " tanyanya.
" Kalau menurut dari tulisan artikel nya sekarang ia berada di Jawa tengah bang." ucapku.
" Kalau kabar Bang Nusa gimana? jawabku.
" Ya, sesekali dia kasih kabar kalau dia baik-baik saja di sana " jawab Bang Apoy.
Aku hanya mengangguk paham dan pandanganku kembali menghadap ke laptop di depanku. Tidak terasa aku duduk begitu lama hingga sore hari. Aku masuk kedalam rumah untuk merebahkan badanku kemudian di susul Bang Apoy yang merebahkan tubuhnya di sampingku.
" Bang gua lagi bosen nih, kayanya besok gua libur kerja " ucapku.
" Sama gua juga, capek banget kayanya kita perlu jalan-jalan deh " jawabnya.
" Nah gua setuju tuh bang, tapi kemana? " tanyaku.
" Ke pantai aja gimana? " Ucapnya.
Aku mengiyakan pendapat Bang Apoy, kemudian aku memberikan saran untuk mengajak Lia dan Naya liburan ke pantai. Bang Apoy menyetujui saran dariku, kemudian aku dan Bang Apoy meraih ponsel untuk memberitahu rencana liburan ini kepada Naya dan Lia. Kami menununggu balasan dari mereka, tak lama sebuah pesan muncul dari layar ponselku. Naya mengiyakan ajakanku, akan tetapi Naya memintaku untuk meminta izin kepada orang tuanya. Aku menyanggupi permintaannya, kemudian ponsel Bang Apoy berbunyi.
Bang Apoy tersenyum ketika melihat layar ponselnya.
" Lia setuju bar sama rencana kita, tapi dia bisanya besok lusa bar. " ucap Bang Apoy.
" Oke bang gak masalah. " ucapku.
Besok paginya Bang Apoy pergi ke kota untuk menjemput Lia di Stasiun , sedangkan aku memilih untuk istirahat karna nanti sore aku akan ke rumah Naya, memintakan izin untuknya.
Ketika sore telah tiba, aku membawa sepeda motorku menuju rumah Naya. Setiba ku di rumahnya, aku telah di sambut ayah Naya yang sedang duduk di kursi terasnya.
" Naya... ada nak Bara ni. " teriak ayah Naya.
__ADS_1
Aku mendengar jawaban Naya dari dalam rumah, tak lama Naya pun keluar membawa kopi dan beberapa roti bolu. Setelah basa-basi dengan Ayah Naya, aku langsung membicarakan rencana mengajak Naya ke pantai besok.
" Om ngizinin kamu ngajak Naya, om percaya sama kamu " ucap Ayah Naya.
Aku merasa senang karena Naya mendapat izin dari ayahnya. Setelah mendapat izin tidak lama aku berpamitan pulang untuk menyiapkan perlengkapan.
Setibaku di rumah dekat air terjun, aku kembali duduk di teras rumah sembari memainkan gitar menunggu malam datang.
Saat malam datang, kesunyian semakin bertamah. Hanya gitar dan rokok yang menemani malam ini hingga larut malam.
Saat pagi datang, aku terbangun dari tidurku dan bersiap dengan carrierku menjemput Naya di rumahnya. Setibaku di rumah Naya, ternyata ia telah bersiap dengan ransel kecil di punggungnya. kami pun melaju dengan sepeda motorku menuju titik kumpul untuk bertemu Bang Apoy dan Lia. Tak lama kami pun tiba di titik kumpul .
Sembari menunggu Bang Apoy dan Lia yang belum datang, kami duduk di sebuah warung kosong di pinggir jalan.
" Kita nunggu Bang Apoy sama Lia dulu nay " ucapku.
Naya hanya mengangguk, tak lama Bang Apoy dan Lia datang dari belakang.
" Udah lama nunggu bar ?" tanyanya.
" Ini Naya bar? " celetuk Lia.
" Padahal gua belum cerita kenapa lo bisa tau? " jawabku keheranan.
" Ya siapa lagi klo bukan dia yang kasih tau gua " ucapnya sembari menoleh Bang Apoy.
Aku hanya mengambil nafas panjang, kemudian kami pun berangkat menuju pantai. Cukup lama kami berada di atas sepeda motor. Kami menyusuri jalanan pegunungan, yang menjelma menjadi jalanan perkotaan kemudian berubah menjadi jalanan pedesaan.Kami tiba di pantai saat sore hari. Bergegas kami membongkar carrier dan membangun tenda. Kami juga menyiapkan makanan serta api unggun untuk malam nanti.
Sinar mentari kini berwarna jingga, menandakan malam akan datang. Pandangan mata Naya seakan-akan terhipnotis dalam efouria. Wajar saja ini pertama kalinya ia melihat senja.
" Pemandangannya bagus banget " ucap Naya.
" Aku sudah sering melihat nya, tapi tak pernah membuat ku bosan " Jawabku.
__ADS_1
Tak lama sinar jingga pun perlahan menghilang meninggalkan gelap pada semesta. Hanya api unggun yang menjadi penerangan kami. Sembari menunggu makanan jadi, aku duduk sendiri menghadap ke arah laut. Tiba-tiba Naya menghampiriku dan mengajak ku makan bersama Bang Apoy dan Lia. Setelahnya aku duduk agak menjauh dari tenda bersama Naya menghadap ke arah laut dengan hiasan bintang di atasnya. Kemudian aku mengambil secarik surat yang kutulis semalam di teras rumah.
" Nay, aku punya sesatu untukmu" bisikku.
" Apa mas ? " jawabnya.
" kalo kamu mau buka, kamu buka aja " ucapku sembari memberikan surat kepadanya.
Naya
Aku tidak pandai berkata-kata seperti sahabatku Bang Nusa.
Aku juga tak pandai menulis seperti sahabat ku Lana.
Dan aku juga tak seberani sahabatku Bang Apoy.
Aku sayang kamu Naya, apa kamu mau jadi pacaraku?
Sebuah kalimat sederhana yang menjadi jawaban dari ketidak pandaikanku dengan sahabat-sahabatku.
Naya terkejut saat membaca isi surat ku. Aku hanya terdiam sembari menunggu jawabannya. Kami saling menatap satu sama lain, kemudian Naya mengangguk tanda ia menerima perasaan ku.
Seketika hatiku berbunga-bunga, aku merasakan kebahagiaan . Naya hanya tersenyum menahan malu. Aku memegang tangannya yang lembut hingga saat malam semakin larut Naya memutuskan masuk ke dalam tenda untuk istirahat begitu juga dengan Lia.
Kini aku dan Bang Apoy duduk menghadap ke laut dengan rokok di jemari kami.
" Aku telah menemukan jalan dari kebimbanganku bang " ucapku.
" Gua gak bisa memaksakan menjadi Lana, Bang Nusa ataupun Bang Apoy. Klo gua memaksakan gua akan gagal. Lebih baik gua pakai cara hidup gua buat nyatain cinta ke Naya " imbuh ku.
" Lo nembak Naya? " tanyanya memandangku.
" Iya bang heheh " Jawabku.
__ADS_1
Bang Apoy hanya menepuk bahuku sembari tersenyum. Aku yakin mungkin Lia telah mendengar ucapanku dari dalam tenda. Malam ini Bang Apoy lebih memilih menikmati suasana dengan diam.
" Memang benar kita tidak akan bisa menjadi mereka yang pergi meraih mimpi. Tidak masalah jika aku hanya sebuah rumah bagi mereka yang berpetualang karna aku telah menemukan sebuah impian. Terima kasih tuhan, terima kasih semesta" bisik batinku sembari tersenyum