Jaket Tua

Jaket Tua
Bab 21. Pelampiasan.


__ADS_3

Hari berganti hari, kami telah mencari selama 3 hari namun kami tidak menemukan hasil. Memasuki hari ke 4 aku kembali kenakan jaket jeans pemberian Dinda serta sepatu rimba. Langkah ku dan Bang Nusa mulai berjalan menyusuri hutan yang lebat. Sedangkan Bang Apoy dan Bara harus kembali ke Basecamp untuk membeli bahan makanan.


" Dinda aku yakin kamu kuat " Ucap batinku.


Kami terus menebas ranting dan dedaunan yang menghalangi jalan kami hingga sore pun datang.


Lagi-lagi kami kembali tak membawa hasil, hanya rasa kecewa yang kurasakan.


Dalam gelap malam aku kembali duduk termenung sendirian di depan tenda, sembari mengucap harapan dapat bertemu dengan Dinda. Tak lama Bara menghampiriku dengan makanan di tangan nya.


" Na makan dulu nih " ucapnya.


" Iya Bar, hmm gua bodoh bar, harusnya gua gak ngizinin Dinda pergi " Ucapku lirih.


Hampir setiap waktu aku mengucap kalimat itu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau Dinda tidak ketemu.


Esoknya kami kembali menyusuri hutan mencari Dinda dan Andin, akan tetapi kami tak menemukan apapun. Hingga akhirnya tim SAR memutuskan untuk menghentikan pencarian korban.


" na ayo pulang " ucap Bara.


" Kamu yang sabar ya na " Ucap Bang Apoy.


Mereka memeluk tubuh ku yang lemas tak berdaya, bahkan untuk berjalan pulang saja aku tidak bisa. Langkah ku di iringi air mata yang keluar.


Langkah ku terpatah-patah keluar dari pintu rimba menuju basecamp. Setiba ku di basecamp orang tua Dinda menghampiriku dan memelukku dengan erat.


" Makasih Lana, sudah mau bantu mencari Dinda " Ucap ayah Dinda.


Aku hanya menganggukkan kepala, kembali air mataku menetes.


" Maaf gabisa bawa Dinda pulang " Ucapku lirih.


" Iya Lana " Jawabnya.


Tak lama Bang Nusa mengajak ku untuk pulang. Di perjalanan pulang suasana begitu sunyi, Bang Nusa, Bang Apoy, dan Bara mengerti saat ini aku tidak butuh kata-kata karna itu tidak akan berguna. Pandangan mataku memandangi kaca mobil dengan penuh rasa bersalah. Karna rasa lelah setelah pencarian tersebut, mataku seketika terpejam.


*****


Aku dan Dinda duduk di atas batu besar dengan suara air terjun berjatuhan. Aku memegang tangannya yang lembut.


" Lanaaa .... " Ucapnya.


" Iya Dinda? "Ucapku.

__ADS_1


" Kamu ingat tentang ucapanku saat kita lulus sekolah? " Ucapnya.


" Suatu tempat akan berubah karna zaman, tapi tidak dengan kenangan di dalamnya " Ucapku.


" Aku akan selalu ada Lana , di hatimu " Ucapnya sembari tersenyum.


" Bagaimana dengan novel mu, apa kamu masih kesulitan menulis ?" ucapnya memandangiku.


" Begitulah Dinda, aku heran kenapa aku tak bisa menyelesaikan novel ku? " Jawabku.


" Aku yakin kamu pasti bisa, semangat ya na " jawabnya sembari tersenyum.


Seketika aku terbangun sembari memanggil namanya yang membuat Bang Apoy yang sedang menyetir kaget.


" Mimpi Dinda lagi na " ucap Bang Apoy.


" iya bang " jawabku lirih.


Aku kembali terdiam menghadap kaca di samping ku hingga kami tiba di rumah ku.


" Assalamualaikum " ucapku lirih sembari melangkah masuk ke kamar meninggalkan mereka.


Bunda terkejut ketika melihat keadaan ku yang lesuh. Bang Nusa pun menceritakkan yang sebenarnya kepada bunda.


" Biarin Lana sendiri dulu tante, dia lagi butuh sendiri sekarang " ucap Bang Nusa.


Hari demi hari berganti, ketika malam datang aku tetap menghabiskan waktuku di kamar merenungi kepergian Dinda. Tak lama bunda mengetuk pintu kamar ku dan masuk menghampiriku yang duduk di meja belajar ku menghadap jendela. Aku masih meratapi kepergian Dinda akan tetapi aku tak bisa menunjukan ke Bunda.


" Kamu makan ya nak " ucap bunda.


" Iya bun " ucapku.


" Kamu harus kuat nak, ini sudah takdir " ucapnya.


Aku menatap bunda sembari tersenyum seakan-akan bunda melihatku telah ikhlas dengan kepergian Dinda. Aku berpamitan pada bunda untuk ke kedai kopi.


" Bunda aku mau kerumah Dinda ya " ucapku


" Iya nak, hati-hati ya " ucap bunda sembari tersenyum.


Aku menganggukkan kepala kemudian aku membawa sepeda motorku ke rumah Dinda. Ketika aku tiba di depan rumah Dinda, aku melihat ayah Dinda yang sedang berada di teras sendirian.


" Assalamualaikum om " ucapku.

__ADS_1


" Waalaikumsalam na, ada apa na? " jawabnya.


" Cuma pengen tau kabar om sama tante aja kok " ucapku sembari tersenyum


" Ya begini lah na setelah kepergian Dinda, tante masih suka murung di kamarnya. Om jadi bingung klo tante sakit gimana " ucap ayah Dinda.


Aku menghela nafas panjang mendengar kabar ibunda Dinda.


" Maaf om, ini semua salah saya om. Andaikan saya gak ngizinin Dinda mendaki pasti gak bakalan kejadian seperti ini " ucapku lirih.


" Ini bukan salah mu na, ini sudah takdir yang harus kita terima " ucap ayah Dinda.


" Kayanya om sama tante bakal pindah dari rumah ini na, Kita butuh waktu untuk menerima ini semua. Kalo kita masih tinggal di sini kenangan Dinda selalu menghantui kami " imbuhnya.


Aku terkejut ketika mendengar rencana orang tua Dinda yang akan pindah dari sini. Akan tetapi aku menyadari tidak mudah untuk melupakan Dinda. Tak lama aku pun berpamitan pada ayah Dinda untuk pulang.


Di atas motor aku memacu sepeda motorku ku melewati jalanan yang mulai sepi, hingga akhirnya sepeda motorku berhenti di sebuah club malam. Langkah ku berjalan masuk ke dalam melewati orang-orang. Aku duduk di sebuah Bar, kemudian aku memesan bir untuk menenangkan pikiran ku. Tiba-tiba datang seorang wanita duduk di samping ku.


" Lana ?" ucapnya.


" Aku menoleh ke arahanya sembari mengingat wajah yang samar karna cahaya lampu diskotik.


" Siapa ya " Ucapku.


" Gua Nia temen SMA lo" Jawabnya.


" Oh iyaa Nia, lo ngapain disini " ucapku.


" Gua sering ke sini, biasalah hahaha, klo lo tumben amat kesini ? " jawabnya dengan tawa kecil.


" Lo pasti paham deh " Ucapku.


Kami mengobrol sembari minum bir. Cukup banyak bir yang telah ku minum hingga kepala ku mulai terasa pusing. Tak terasa juga malam semakin larut. Aku pun melangkah pulang, akan tetapi langkah ku di tahan Nia.


" Temenin gua yuk na " ucapnya menggodaku


" Temenin apa an? " jawabku.


" Udah ikut aja enak kok " ucapnya menggodaku.


" Gua lagi gak pengen di temenin na " Ucapku.


Nia tetap memaksaku untuk menemaninya tetapi aku tak menghiraukannya, langkah berjalan menjauh darinya. Aku membawa sepeda motorku pulang ke rumah. Ketika sampai rumah langkah ku berjalan perlahan melewati kamar bunda yang telah terlelap. Aku tak ingin membangunkan bunda, apalagi aku dalam posisi mabuk. Di dalam kamar aku merebahkan badan ku yang masih mengenakan jaket pemberian Dinda.

__ADS_1


" Selamat malam Dinda " Ucapku sembari tersenyum.


Seketika mataku pun terpejam.


__ADS_2