Jaket Tua

Jaket Tua
Bab 26. Dara.


__ADS_3

Hari telah pada puncaknya,mentari telah berada di ujung kepala. Aku duduk di sebuah warung sembari membuka laptop mengerjakan artikelku.


" Gak kerasa udah sebelum lebih gua di jalan " bisikku.


Aku beranjak dari warung menuju sepeda motorku. Aku berencana, besok akan mendaki Gunung Lawu. Di atas sepeda motor aku menyusuri jalanan yang berkelok-kelok khas pegunungan. Tiba-tiba beberapa mobil Basarnya melewati ku di sisi kanan.


" Semoga tidak ada kejadian pendaki hilang lagi " bisik batinku.


Aku tetap membawa sepeda motorku melewati tanjakan dan turunan. Akhinya aku tiba di basecamp pendakian. Pandangan ku terfokus pada beberapa mobil Basarnas yang terparkir tepat di depan pintu gerbang pendakian. Langkah ku berjalan menuju pintu gerbang menghampiri petugas.


" Ada apa ini pak? " tanyaku.


" Ada pendaki hilang mas " jawabnya.


" Saya mau ikut nyari pak " ucapku.


" Maaf mas yang tidak berkepentingan dilarang masuk " jawab petugas.


Di sela perselisihan kami, tiba-tiba datang petugas menghampiriku.


" Loh mas Lana? " ucap petugas tersebut.


" Saya mau bantu nyari pendaki hilang pak " jawabku.


" Kalau mau mencari ayo mas " ucapnya.


Pak Amir seorang petugas yang mengenalku karna aku terlibat dalam pencarian Dinda di Gunung Kembang. Tidak ada keraguan lagi bagi petugas tersebut untuk mengajakku karna skill ku yang telah terbukti. Setelah mendapat informasi bahwa pendaki hilang adalah 2 perempuan dan 1 laki-laki, bergegas kami langsung melangkah masuk ke dalam mencari pendaki hilang tersebut. Kami masuk menyusuri hutan sembari berteriak memanggil nama pendaki hilang tersebut.


" Dara....Sekar....Rendy....." teriak ku.


Kami menyusuri hutan hingga malam tiba, karna tubuh yang telah lelah akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan pencarian hari ini. Setiba kami di pintu gerbang, aku melihat orang tua dari korban datang dengan tangisan. Aku hanya duduk di teras basecamp sembari melepas sepatu. Tak lama Pak Amir menghampiriku dan duduk di sampingku.


" Saya pernah berada di fase itu pak " ucapku sembari melihat ke arah orang tua korban yang menangis.


" Tapi saya sudah ikhlas dengan kepergian Dinda " imbuhku.


" Terima kasih mas, sudah mau bantu kami


hari ini " ucapnya.


Aku hanya menganggukan kepala. Tak lama Pak Amir pun beranjak meninggalkan ku, bergegas aku membersihkan diri kemudian istirahat karna besok pencarian masih berlanjut.


Saat pagi datang seusai mengisi perut, kami kembali masuk untuk menyusuri rimba. Langkah ku menerobos hutan yang rapat. Ketika aku dan kelompokku sedang duduk istirahat aku mendengar suara lirih orang meminta tolong. Bergegas aku beranjak dari duduk ku dan berlarian sembari berteriak ke arah sumber suara meninggalkan kelompokku. Aku menerobos masuk ke dalam hutan, akhirnya aku menemukan pendaki hilang tersebut. Aku melihat wajah pucat dari meraka karna kedinginan. Tak lama aku disusul oleh kelompok ku yang datang dari arah belakang.

__ADS_1


" Baju mu basah Dinda, kamu pake baju ini dulu " ucapku sembari memberikan baju.


" Saya Dara mas, bukan Dinda " jawabnya


" Oh iya mbak maaf maksut saya itu" ucapku.


Setelah mereka mendapat pertolongan pertama, Kemudian kami membawa mereka turun menuju basecamp. Setibanya kami pintu gerbang pendakian tangis keluarga kembali pecah ketika kami menemukan pendaki yang hilang dalam keadaan selamat.


" Alhamdulillah anak bapak selamat " ucapku.


Aku tidak banyak berbicara, kemudian aku melangkah pergi menuju basecamp. Aku merasa senang ketika mereka berhasil di temukan. Saat akan melepas sepatu, ayah dari pendaki yang hilang tersebut datang menghampiriku.


" Terima kasih mas sudah menemukan anak saya " ucapnya.


" Iyaa pak sama-sama " jawabku.


" Kalau berkenan, boleh saya minta nomer ponselnya mas? " ucapnya.


Aku memberikan nomer ponselku kemudian ia pergi. Tak lama Pak Amir datang menghampiriku.


" Terima kasih na sudah menemukan pendaki hilang " ucapnya.


" Alhamdulillah aku bisa menemukannya pak, tapi kenapa aku gak bisa menemukan Dinda pak ? " jawabku lirih.


" Mungkin besok saya mau ke Jogja pak " jawabku.


" Hati-hati na, ini ada sedikit dari kami sebagai ucapan terima kasih " ucap Pak Amir sembari memberikan amplop.


" Gak usah pak, saya ikhlas " jawabku.


Pak Amir terus memaksaku untuk menerima amplop darinya, akhirnya aku menerima pemberian dari Pak Amir. Kemudian Pak Amir melangkah pergi menjauh dariku.


Malam pun datang. Setelah aku membersihkan diri, aku duduk sembari menghisap rokok. Pikiran ku masih terbayang dengan Dara yang wajah nya sama seperti Dinda. Seketika aku merindukan Dinda. Kupandangi sebuah foto saat sedang bersamanya.


Dinda, kamu sedang apa hari ini?


Aku rindu kali ini.


Akan tetapi, kamu tidak ada disini.


Membiarkanku sepi sendiri.


Hari ini aku menemukan pendaki yang hilang.

__ADS_1


Wajah nya seperti mu.


Dengan lesung di pipinya.


Aku berhasil menemukannya, tapi kenapa aku tak bisa menemukan mu.


Malam semakin larut, aku masuk ke dalam karna udara semakin dingin. Dalam balutan sleeping bad masih terbayang wajah seorang pendaki perempuan tersebut.


Hari pun berganti, begitu juga dengan ku yang akan pergi. Aku terbangun terlalu siang, Aku membuka ponsel ku, ternyata ada sebuah pesan dan panggilan dari nomer tak di kenal.


Saya Anwar, ayah dari pendaki kemarin yang hilang. isi pesannya.


Aku membalas isi pesan tersebut hingga kami saling beradu pesan. Ia menanyakan sedikiti tentang perjalananku. Kemudian ia mengajakku untuk bertemu di Kota Yogyakarya. Aku pun mengiyakan ajakannya. Setelah mengemas barangku, aku membawa sepeda motorku menuju Kota Yogyakarta. Hanya beberapa jam saja akhirnya aku tiba di Kota Yogyakarta sore hari. Sebuah warung kopi menjadi tempat tujuan ku. Aku membuka ponsel ku untuk memberi kabar pada ayah korban bahwa aku telah tiba di Yogyakarta. Tak lama ponselku berdering, menampilkan sebuah pesan singkat di layar ponsel.


okee, saya kesana sekarang. isi pesannya.


Kota Yogyakarta selalu menampilkan kesan damai bagi para penikmatnya, di tambah lagi dengan sajian kopi bercampur arang yang sedang ku nikmati sembari menunggu Pak Anwar. Cukup lama aku menunggu, akhirnya Pak Anwar datang dari arah belakangku.


" Maaf kelamaan na, tadi kena macet. " ucapnya.


" Iya, pak santai aja. " jawabku.


" Oh iya pak, ada keperluan apa ya pak tumben ngajak saya ketemuan? " tanyaku.


Pak Anwar telah mengetahui sedikit dari perjalananku kemudian ia menjelaskan jika ia adalah kepala dari salah satu siaran tv nasional.


" Kebetulan di kantor saya sedang ada lowongan untuk menjadi jurnalis, bagaimana kalau kamu kerja di kantor saya ?" ucap Pak Anwar.


Tanpa fikir panjang, aku mengambil tawaran bekerja menjadi jurnalis di kantor Pak Anwar.


Setelah nya aku di ajak untuk bermalam di salah satu rumah Pak Anwar kota Yogyakarta. Aku mengikuti mobil yang ia kendarai dari belakang, hingga tibalah kami di depan pintu gerbang besar. Kemudian kami berjalan masuk menuju ruang tamu.


" Kamu bermalam disini saja, saya sudah siapkan kamar di sebelah sana buat kamu " ucapnya sembari tersenyum.


Aku mengiyakan ajakannya, setelahnya aku berjalan menuju kamar yang mewah untukku. Aku merebahkan badan ku di sebuah kasur yang empuk. Saat akan memejam kan mata terdengar bunyi suara ketukan pintu. Aku membukanya ternyata seorang asisten rumah tangga yang menyuruhku untuk makan bersama. Langkah ku berjalan menuju ruang tamu, seketika aku terkejut dengan keberadaan Dara di ruang tamu. Aku duduk di meja makan yang cukup besar .


" Kamu udah enak an " jawabku.


" Sudah mas, terima kasih banyak ya " ucap Dara.


Aku hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum, tak lama Pak Anwar memimpin doa dan kami pun makan. Di sela-sela saat makan kami mengobrol berbagi cerita. Setelah makan aku kembali menuju kamar untuk beristirahat. Saat akan terpejam aku berdialog dengan diriku.


"Dinda, apakah kamu sedang menjelma menjadi Dara ?" ucapku.

__ADS_1


__ADS_2