
Bu Ningsih masuk ke kamar, dia dapat melihat suaminya tengah sibuk membuka baju kemeja. Bu Ningsih pun mendekat kemudian dia duduk di sisi kasur sambil memandang arah suaminya. Suaminya itu memang tak lagi muda, akan tetapi di usia menginjak 43 tahun ketampanannya masih terlihat di mata bu Ningsih sehingga rasa takut akan kehilangan sosok suaminya sangat dalam di tambah lagi dirinya yang sudah berusia 38 tahun kalah jauh jika di bandingkan dengan janda beranak dua tersebut terutama kecantikannya.
" Pak, Ibu mau bicara."
Pak rt atau sebut saja namanya Pak Wahyu. Laki-laki itu menoleh sambil menaikan sebelah alisnya menatap sang istri.
" Bicara ya tinggal bicara Bu, ada apa?" Tanyanya heran.
" Ini soal sikap Bapak yang mulai berubah sama Ibu," kata bu Ningsih tanpa ragu.
" Berubah bagaimana?" Tanya balik pak rt.
" Selama sebulan ini sikap Bapak mulai dingin dan cuek, ditambah lagi Bapak tidak pernah lagi mau makan masakan Ibu apalagi makan bersama. Selama itu, Bapak makan dimana?"
Bu Ningsih masih dengan nada lembut saat bertanya, dia ingin bicara masalah ini dengan kepala dingin dan berharap kecemasan yang dia khawatir tidak terjadi.
" Kamu ini ngomong apa sih? Bapak jarang makan dirumah ya karena lagi kepingin makan di luar saja, apa masalahnya?" Seakan tak merasa bersalah, pak rt malah pandai bersilat lidah.
" Tentu saja masalah Pak, selama ini Bapak selalu makan di warung Adelia kan? Padahal jarak rumah kita tidak terlalu jauh, tapi kenapa Bapak selalu makan disana ketimbang di rumah, masakan Ibu, istri Bapak sendiri," kesal bu Ningsih.
" Bapak kan beli bukan minta, kamu ini kenapa sih? Masalah sepele seperti itu dibesar-besarkan, sudahlah Bapak ini capek, tujuan pulang ke rumah itu mau istirahat, bukan debat seperti ini." Marah pak rt bahkan dengan nada tinggi.
__ADS_1
" Masalah sepele?" Bu Ningsih tertawa.
" Apa Bapak memiliki hubungan dengan Adelia itu?" Lanjutnya dingin.
" Iya, dan Bapak berniat menjadikan Adelia istri kedua Bapak. Puas kamu sekarang?" Setelah mengatakan hal tersebut pak rt mengambil baju kemeja nya kembali lalu keluar dari kamar dengan membanting pintu keras.
Sementara Bu Ningsih mematung, air matanya keluar begitu saja. Mendengar jawaban dari pak rt sangat menyayat hatinya.
" Istri kedua? Hah … jangan harap kamu bisa menikah lagi Pak. Ibu tidak rela jika di madu!" Ucapnya sambil mengepalkan tangan.
Wanita mana yang rela ingin dimadu, membayangkan nya saja sudah sangat menyakitkan apalagi jika sampai terjadi. Bu Ningsih tidak akan membiarkan hal tersebut sampai terjadi, dia harus menemui Adelia.
" Benar, pelakor janda murahan itu harus pergi dari kampung ini. Jangan meremehkan bu RT Adelia, kau pikir bisa merebut suami ku." Rasa benci itu tumbuh di dalam hatinya, bu RT berniat akan mengusir Adelia bersama kedua anaknya dari kampung tersebut supaya suaminya tidak jadi menikahinya.
Sementara itu, pak rt pergi ke posko dimana para bapak-bapak suka nongkrong di sana. Tadinya dia tidak ingin mengatakan hal tersebut pada istrinya lebih dulu sebelum bisa menaklukkan hati Adelia. Pak rt memang berniat ingin menjadikan Adelia istri keduanya, dia sudah sangat tertarik dengan kecantikannya apalagi status Adelia seorang janda, tidak ada yang melarang jika dirinya ingin menikah lagi. Masa bodo jika wanita itu memiliki dua anak, toh dirinya banyak uang dan jabatan tinggi sehingga mampu membiayai dua orang anak lagi walaupun bukan anak kandung. Dan tanpa izin atau tidak dari bu rt, pak rt akan tetap menikahi Adelia. Sehingga dia harus secepatnya mengambil hati wanita itu.
Sesaat sedang mengendarai motor, seketika pak rt langsung menghentikan kendaraannya karena melihat sosok wanita yang tengah berjalan seorang diri. Wanita itu tentu dia sangat kenal, karena wanita itu pula hatinya menggila, dan berniat ingin menjadikan nya istri kedua dan tega menduakan istrinya tersebut. Siapa lagi jika buka Adelia si janda kembang yang sedang jadi incaran banyak pria.
" Loh, Dek Adel baru pulang?" Tanyanya.
Adelia pun kaget karena ada pak rt, dia pun tersenyum ramah. " Selamat malam Pak RT, mari …" Adelia pun melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan pertanyaan dari pak rt.
__ADS_1
" Tunggu sebentar, Dek. Hari sudah semakin malam, tidak baik seorang wanita berjalan sendirian, bahaya. Gimana kalau saya antarkan saja," ucap pak rt.
" Terima kasih atas tawarannya, tetapi alangkah baiknya jika saya pulang sendiri ketimbang menimbulkan fitnah nantinya. Permisi!" Adelia kembali berjalan dengan langkah cepat, bahaya yang sebenarnya adalah ucapan dari orang -orang jika melihat dirinya bersama dengan laki-laki apalagi berduaan saja di malam yang sudah larut dan gelap gulita.
Pak rt tak mau menyerah, dia menjalankan motornya lalu mengejar Adelia, setelah tepat disampaikan pak rt melambatkan motornya supaya sejajar.
" Tidak apa, tidak ada yang melihat. Ketimbang kamu jalan sendiri seperti ini. Ayo naik, biar saya antarkan saja, toh siapa yang berani membicarakan saya. Mereka bakalan tutup mulut dan mata ketika melihat atau mendengar," paksanya.
" Tidak Pak, terima kasih banyak." Adelia menolak keras, dia terus melangkah cepat. Sebenarnya sudah sangat risih dengan adanya pak rt, Adelia bener-bener takut akan menjadi fitnah.
" Baiklah jika kamu tidak mau naik di motor, kalau begitu biar saja saya antar kamu berjalan kaki supaya aman. Saya khawatir, ini demi keamanan warga saya."
Pak rt memarkirkan motornya di pinggir jalan, setelah mengunci stang kendaraan lalu dia sedikit berlari mengejar Adelia yang terus melangkah cepat. Pak rt rela berjalan kaki yang belum pernah dia lakukan demi bisa bersama dengan wanita yang dia sukai.
" Pak rt ngapain ngikutin saya? Saya mohon jangan seperti ini, tolong pergilah, saya bisa pulang sendiri." Adelia memohon agar pak rt berhenti mengikuti nya.
" Sudah tidak apa-apa, saya hanya ingin mengantarmu pulang saja tidak untuk macem-macem," jawabnya santai seraya tanpa dosa.
Adelia sungguh khawatir, dia sangat berharap tidak menjadi fitnah. Dengan langkah cepat Adelia terus berjalan tanpa menghiraukan pak rt lagi yang mulai mengajaknya berbicara. Keringat mulai bercucuran, nafasnya sudah tak beraturan tetapi Adelia tetap terus melangkah cepat.
" Astaghfirullah, kalian berdua habis dari mana? Kenapa berduaan saja di tengah gelap gulita seperti ini?"
__ADS_1
Bener saja seperti yang di takutkan. Adelia memejamkan kedua matanya, masalah besar mulai terjadi, seharusnya dia pulang di awal sehingga tidak akan terjadi hal seperti ini. Akibat membersihkan warung dulu hingga selesai barulah dia pulang, dan tidak menyangka jika berpapasan dengan pak rt dan laki-laki. Orang-orang terkadang lebih percaya dengan apa yang mereka lihat ketimbang penjelasan.