Janda Beranak Dua

Janda Beranak Dua
bab 8


__ADS_3

" Selamat pagi Pak RT, mau pesan seperti biasa?" Tanya Mbak Asih kepada salah satu pelanggan yang ternyata adalah Pak RT di tempat mereka tinggal. 


" Iya dong Karena sepertinya saya sudah kecanduan makan di sini tidak hanya enak pelayanannya pun sangat memuaskan," ucapnya seraya melirik Adelia yang sedang menggoreng gorengan. 


" Asiiiip, pesanan akan segera diantar," kata Mbak Asih dengan semangat dia pun segera mengambil piring kosong kemudian mengisi nasi uduk beserta lauk pauknya seperti ayam goreng, orek tempe, bihun, bahkan Bakwan dan tahu goreng masing-masing satu dimasukkan ke dalam piring yang nyaris penuh tersebut. Tak lupa sambal merah yang pedas namun tidak bikin perut mulas dan yang terakhir kerupuknya namun kerupuk tersebut dipisah karena piring sudah tidak muat lagi untuk menampung nya.


" Silahkan dinikmati." 


" Terima kasih seperti biasa minumnya jangan lupa yang manis seperti Mbak Adelia," katanya menggoda sambil memicingkan sebelah matamu melirik Adelia yang acuh tak acuh yang tengah fokus menggoreng gorengan tersebut.


" Bu RT tidak masak lagi Pak?" Tanya Mbak Asih kepo.


" Ya begitulah tidak becus menjadi istri, kerjaannya tiap hari bangun siang dan main HP terus. Pergi berbelanja, foya-foya. Untung suaminya punya banyak duit sehingga saya tidak terlalu mengambil pusing akan tersebut." Pak Rt bercerita dengan nada sedih, dia menghentikan makan nya sejenak.


" Akan tetapi, saya sangat kesal  karena istri saya tidak bisa melayani suaminya dengan baik, seperti memasak masakan saja tidak pernah sehingga saya harus membeli makanan di luar padahal ingin sekali makan bersama anak istri dirumah. Tetapi istri saya malah sibuk dengan dunianya sendiri. Andai di dunia ini bisa memiliki istri yang pandai memasak apalagi makanannya enak, sungguh sangat bahagia sekali memilikinya," ceritanya mengeluh.


" Kenapa tidak ditegur saja Pak?" Tanya Mbak Asih.


Pak RT menghela nafasnya." Sudah ratusan kali saya menegurnya, tapi dia selalu membangkang dengan beralasan sibuk dan capek." 

__ADS_1


Pak RT meneguk teh hangatnya karena tenggorokan terasa kering.


" Mungkin ini memang salah saya karena terlalu memanjakan istri memberinya wewenang atas keuangan keluarga dan selalu bersikap lembut sehingga tidak bisa tegas kepadanya. Dan beginilah akhirnya setiap hari pagi siang malam saya harus pergi makan keluar membeli makanan, bahkan meminum kopi saja saya harus membeli di warung. Jika saya bisa memiliki istri kedua mungkin sejak lama saya akan menikahinya jika ada yang mau," lanjutnya dan ketika mengatakan jika ada yang mau menjadi istri keduanya dia melirik Adelia.


" What … istri kedua. Bapak bercanda kan?" Mbak Asih nggak percaya.


" Saya sudah pusing dengan kelakuan istri saya yang tidak bisa diatur jika ada yang mau menjadi istri saya, saya akan berperilaku adil dan memenuhi semua kebutuhannya dan apapun yang dia inginkan akan saya berikan asal dia mau menjadi istri yang baik dan penurut. Mau perawan ataupun janda bahkan memiliki anak pun saya akan bersedia menikahinya dan saya juga akan bersedia menyekolahkan anak-anaknya sampai setinggi mungkin dan menyayangi mereka seperti anak kandung saya sendiri," jelasnya seperti ucapannya itu tidak main-main namun lirikan matanya selalu mengarah ke Adelia yang hanya mendengar tanpa berkomentar apapun.


" Eheeem, mau pesan apa Pak?" Mbak Asih memilih untuk melayani pelanggan yang lain yang baru saja datang, dia sendiri tidak tahu harus berkomentar apa.


Pagi ini warung sangat ramai Asih dan Adelia pun sedikit kewalahan melayani para pelanggan yang datang untuk membeli sarapan atau hanya sekedar duduk-duduk sambil minum kopi dan menikmati gorengan. Akan tetapi di seberang jalan ibu-ibu melihat warung Adelia yang ramai tersebut mereka melihatnya dengan sinis bahkan tidak segan-segan mencibir atau menggosipkan Adelia yang bukan bukan. 


" Betul bahkan suamiku aja sering banget ke warung itu, sebel deh. Pasti bukan hanya untuk sarapan atau sekedar minum kopi, pasti ada lirik-lirik sama Adelia. Dasar janda genit." Sahut ibu pake baju merah.


" Makanya warungnya ramai pasti Adelia menggoda suami-suami kita supaya mereka pada betah makan di situ." Semuanya mengangguk mengiyakan ucapan ibu yang pake baju biru.


" Atau bisa jadi Adelia memakai pelet atau penglaris supaya warungnya ramai dan memikat para bapak-bapak. Bisa jadi kan?" Tempat ibu lainnya.


Sudah sebulan ini Adelia membuka warung makan dan setiap hari tanpa henti nggak pagi ataupun sore sampai malam barang itu tak pernah sepi selalu ada saja yang membeli dan meminum kopi bahkan ada juga bapak-bapak yang hanya sekedar mengobrol nongkrong sambil merokok dan minum kopi di warung Adel. Bahkan untuk mengusir jenuh mereka pun tidak segan-segan main kartu biasa, hingga warung tersebut menjadi sangat ramai jika malam hari.

__ADS_1


Adelia si janda beranak dua yang selalu menjadi bahan pembicaraan tidak di kaum bapak-bapak, anak-anak muda maupun ibu-ibu di setiap RT rw-nya seakan si janda beranak dua itu menjadi artis kampung yang terkenal. Bukan hanya masakannya saja yang enak, tetapi wajahnya yang cantik serta body yang aduhai sungguh sangat memikat para laki-laki untuk menggodanya.


Bahkan ada yang ingin melamarnya untuk dijadikan istri oleh bujangan, duda, maupun yang sudah memiliki istri. Tetapi semuanya ditolak oleh Adelia secara halus karena dia hanya ingin fokus mencari nafkah dan membesarkan kedua anaknya saja untuk saat ini, apalagi bayangan almarhum suaminya masih terngiang di benak hatinya sehingga tidak bisa menerima laki-laki lain karena cintanya yang masih begitu dalam kepada almarhum tersebut. 


Karena selalu menjadi bahan pembicaraan dan incaran oleh para laki-laki bahkan para suami-suami membuat para ibu-ibu sangat marah dan sangat membenci Adelia. Mereka pun selalu menggosipkan yang tidak-tidak tentang Adelia,  ada yang mau fitnah, ada yang mengatakan Adelia menggoda suami orang supaya mendapatkan keuntungan ada juga yang mengatakan jika Adelia pernah berzinah, melakukan hal senonoh di rumahnya demi mendapatkan uang. Tentu itu oleh ibu-ibu yang merasa iri padanya sehingga tega memfitnah Adelia seperti itu.


Sementara Adelia hanya diam tidak pernah menanggapi omongan-omongan tersebut, toh dirinya tidak bersalah dan tidak terbukti pula adanya hal tersebut. Adelia pun tetap fokus berjualan selagi semuanya itu masih baik-baik saja dan tidak mengganggu dirinya sehingga sangat santai dan terlihat tenang seolah semua ucapan yang sangat panas itu hanyalah angin lewat saja.


" Eh ibu-ibu bukan itu Pak RT?" Kata salah satu ibu si baju biru melihat Pak RT sedang menikmati sarapan di.


" Mana?" 


" Itu duduk di sebelah Pak Tejo pakai baju kemeja warna abu-abu!" 


" Oh iya ya …"


" Lagi? Dia makan di sini lagi, tadi malam saya melihat dia di sini, kemarin pagi juga saya melihatnya ada di sini juga, hampir setiap hari loh Pak RT makan di sini.  Wah, sangat mencurigakan, jangan-jangan mereka ada hubungan apa-apa …" kata si ibu baju merah sudah menuduh yang tidak-tidak.


" Apa perlu kita melaporkan ini kepada bu RT? Kasihan bu RT loh, suaminya mau direbut sama pelakor." Ucap si ibu baju biru mengompor-ngompori. 

__ADS_1


" Betul, ini tidak bisa dibiarkan. Janda beranak dua itu sudah semakin menjadi-jadi menggoda suami-suami kita. Ayo kita laporkan ke bu RT."


__ADS_2