Janda Beranak Dua

Janda Beranak Dua
bab 12


__ADS_3

" Sebenarnya ada apa ini kenapa tengah larut malam begini kita semua dikumpulkan di rumah kepala desa? Dan kenapa juga Pak Asep membawa Adelia dan Pak RT, apa sebenarnya yang terjadi?"


" Iya sebenarnya ada apa?" 


" Mohon tenang, semuanya mohon tenang!" 


Tak ada yang menyangka jika di mana seharusnya hari sudah larut begini sedang menikmati waktu istirahat di kamar di tempat tidur yang empuk kan tetapi sebuah pengumuman jika RT 1 sampai 5 harus berkumpul di rumah kepala desa. Tentu sangat membuat penasaran apa sebenarnya yang terjadi begitu banyak pertanyaan-pertanyaan dari para warga ditambah lagi terlihat sudah ada Pak RT dan Adelia yang tengah di introgasi oleh ketua kepala desa di dalam rumahnya sementara warga menunggu di luar rumah. Bisikan demi bisikan pun terdengar Pak Asep mencoba untuk menenangkan semua warga tersebut.


" Apa sebenarnya yang jadi Pak Asep? Kenapa kami semua dikumpulkan di sini apalagi ini sudah jam 10.00 lewat saya capek lelah pengen istirahat besok pagi-pagi saya harus bekerja," tanya salah satu warga yang tak sabaran.


" Mohon bersabar dan jika bapak sudah tidak bisa berkumpul di sini dan menunggu, silahkan pulang. Saya tidak memaksa, akan tetapi jika anda mau mendengar berita besar, mohon tunggulah sebentar saja," ucapan Pak Asep. Bapak yang tak sabaran tadi memilih untuk tetap diam di tempat demi sebuah berita besar tersebut.


" Ada ramai-ramai apa ini?" Tanya bu RT dia baru saja tiba dan sangat terkejut sudah begitu banyak warga berkumpul di depan rumah kepala desa.


" Bu RT silakan masuk Pak RT dan kepala desa sudah menunggu," kata Pak Asep. Bu RT atau bu Ningsih pun menaikkan sebelah alisnya bingung karena sangat penasaran dia pun segera masuk ke rumah kepala desa dan alangkah terkejutnya melihat Adelia ada di sana dan duduk di sebelah suaminya.


" Ada apa ini, sebenarnya apa yang terjadi?"  Bu Ningsih baru saja masuk dia langsung melontarkan pertanyaan kemudian menatap suaminya dan Adelia bergantian.


" Silakan untuk bu Ningsih," kata ketua kepala desa mempersilahkan meningsi masuk di sana bukan hanya kepada desa saja yang hadir, ada beberapa wakil nya dan wakil ketua RT menemani tak lupa dengan sang istri. 


Dengan langkah bingung bu Ningsih duduk disamping suaminya, dia menatap tajam pada Adelia. Perasaannya tidak enak saat ini seakan sesuatu yang menyakitkan akan terjadi pada hatinya.


" Tolong jelaskan, sebenarnya ini ada apa? Kenapa para warga berkumpul disini ramai-ramai dan …" Bu Ningsih melihat suaminya dan juga Adelia yang sedang menundukkan kepalanya sambil menangis tanpa suara.

__ADS_1


" Begini Bu Ningsih, kami terpaksa harus mengumpulkan para warga karena atas permintaan bapak-bapak yang sudah menangkap basah suami anda atau Pak RT tengah berduaan dengan Mbak Adelia di tempat gelap," jelas kepala desa. 


Sontak saja langsung terkejut, dia langsung menoleh pada suaminya kemudian menampar nya.


" Jadi ini yang kamu lakukan setelah pergi dari rumah Pak?" Marah bu Ningsih pada suaminya.


" Sabar Bu." Istri kepala desa menenangkan bu Ningsih.


Bu Ningsih menahan amarahnya kemudian duduk kembali, tetapi tatapannya sangat tajam pada Adelia.


" Dan tujuan kami membawa mereka berkumpul disini untuk menjadi saksi jika Pak RT dan Mbak Adelia akan menikah besok pagi, dan itu sudah disetujui oleh Pak RT sendiri," ujar kepala desa melanjutkan.


" Tidak! Saya sudah katakan tidak setuju untuk menikah? Kenapa kalian semua tidak ada yang percaya sama saya? Saya dan pak rt tidak melakukan apapun, dan kami tidak memiliki hubungan apapun, semuanya hanya salah paham saja," bantah Adelia menolak keras dengan nada tinggi.


Bu Ningsih langsung bangkit kemudian dia menampar pipi Adelia bahkan sampai dua kali kiri dan kanan.


" Dasar wanita murahan, jadi begini kelakuan kamu selama ini, hah? Apa salah saya sehingga kamu tega merebut suami saya? Apa segitu tidak tahannya kamu karena tidak pernah dibelai laki-laki sehingga harus merebut suami orang? Dasar pelakor tidak tahu diri." 


Amarah Bu Ningsih tidak bisa di tahan lagi, dia mengamuk bahkan sampai menjambak jilbabnya Adelia dan berkali -kali memukulinya. 


" Astaghfirullah, Bu jangan Bu. Tenang lah." Istri kepala desa mencoba untuk menenangkan. 


Sementara Pak RT mengamankan Adelia di belakang tubuhnya agar terhindar dari amukan sang istri. 

__ADS_1


" Berhenti Bu, kamu bisa masuk penjara atas tindakan kekerasan," kata pak rt. Sontak perkataan itu membuat bu Ningsih semakin marah.


" Oh, jadi kamu senang jika aku masuk penjara, supaya kamu bisa lebih leluasa menikah dengan janda murahan ini, iya? Tega kamu Pak, tega kamu mengkhianati aku? Apa salah ku …" Bu Ningsih menangis, dia memukul dada suaminya. Sungguh sangat terluka hatinya. 


Orang-orang di luar heboh mendengar teriakan bu Ningsih yang sangat kuat, hingga semuanya tahu apa yang di katakan oleh wanita itu. Banyak yang merasa kasihan pada bu Ningsih dan banyak pula yang membenci Adelia terutama para ibu-ibu. 


" Tampangnya saja yang polos tapi hatinya busuk." 


" Tidak menyangka jika Adelia berselingkuh dengan pak rt, pantas saja pak rt selalu makan di warung makannya." 


" Saya yakin pasti bukan hanya pak rt saja yang di godain sama dia." 


Begitu lah cibiran dari para ibu-ibu, tuduhan demi tuduhan yang mereka lontarkan untuk Adelia. Sementara bapak -bapak merasa kecewa karena pak rt jauh lebih gercep ketimbang mereka. 


" Pak rt tidak segan-segan lagi, langsung saja di jadikan bini kedua, hebat ey …" 


" Kita kalah cepat dari Pak rt." 


" Ch, padahal aku sudah susah payah mengejar Adelia, ternyata Pak RT lebih jago. Sial seharusnya aku mengeluarkan duit lebih banyak dari pada pak rt." Ucap salah satu bapak yang berstatus duda. 


" Hahahaha, sudah nasib bro. Ente kurang beruntung mendapatkan si janda semok." 


" Aku yakin Adelia tidak mungkin melakukan itu?" Ternyata masih ada yang mempercayai Adelia, dia adalah bude Ayu tetangga dekat Adelia. Bude Ayu langsung masuk kedalam rumah kepala desa, dia yakin jika sekarang ini Adelia tengah terpojok. 

__ADS_1


__ADS_2