Janda Beranak Dua

Janda Beranak Dua
bab 26


__ADS_3

Sudah sebulan lamanya Adelia tinggal di kediaman mama Mita. Dia begitu sangat rajin dan telaten sekali saat melakukan pekerjaan, padahal mama Mita hanya memintanya untuk menjadi koki saja, tetapi wanita itu begitu keras kepala sehingga melakukan pekerjaan yang seharusnya bukan tugasnya, seperti menyapu dan mengepel lantai setelah memasak. Bahkan Adelia terkadang meminta pekerjaan pada pembantu lainya. 


" Udah Mbak, Mbak Adel istirahat aja. Toh ini bukan pekerjaan nya Mbak," ucap Nurul merasa tidak enak karena Adelia melakukan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan.


" Nggak apa-apa, Rul. Mbak nggak bisa beristirahat sementara kalian masih sibuk bekerja," jawabnya, Adelia kembali mencuci piring dengan semangat.


" Tapi …" 


" Udah, nanggung. Lagian gak baik loh bekerja kalau belum selesai sudah di tinggal, nanti dapat suami brewokan," canda Adelia. Dia nampak terlihat ceria seperti dulu lagi, selama tinggal di kediaman Mama Mita hidupnya tak ada lagi beban pikiran karena apapun yang dia butuhkan selalu tersedia sehingga tidak terlalu pusing lagi memikirkan apakah besok bisa makan atau tidak. 


" Bunda …" Teriak anak-anak yang baru saja pulang dari sekolah. 


Nazwa dan Fatih sekarang ini sudah kembali sekolah di sekolahan baru mereka. Dan mama Mita tidak tanggung-tanggung mendaftarkan mereka ke sekolahan universitas sekolahan tempat orang-orang kaya yang hanya mampu sekolah disana. 


Awalnya seperti biasa, Adelia menolak atas keringanan mama Mita itu karena menurutnya keduanya anaknya tidak layak masuk di sekolahan orang kaya. Toh nyatanya memang tidak layak, karena pendaftaran masuk nya saja membutuhkan biaya yang lumayan bahkan bisa membeli sapi 10 ekor sangking mahalnya apalagi bukan hanya satu anak saja melainkan dua. 


Namun bukan mama Mita namanya jika tidak mempunyai cara supaya keinginannya itu bisa tercapai. Dia mengatakan demi masa depan Nazwa dan Fatih juga, walaupun masuk di sekolah negeri masa depan mereka dapat terjamin, setidaknya ada harapan tinggi jika sekolah di sekolahan internasional.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya Adelia lagi-lagi mengalah, dia sangat bersyukur sekali atas perhatian mama Mita pada kedua anaknya padahal mereka bukanlah siapa-siapa bagi mereka.


" Hay sayang." Adelia berjongkok untuk mencium dan memeluk keduanya anaknya. Dia sangat merindukan mereka padahal hanya di tinggal setengah hari saja. 


" Ayo mandi habis itu kita makan bareng," ucap mama Mita. Dia yang mengantar jemput mereka dengan senang hati.


" Baik, Nek …" keduanya masuk ke kamar untuk segera mandi, Adelia membantu mereka karena pekerjaannya sudah selesai semua bahkan cuci piring nya tadi saja sudah selesai juga sehingga dia bisa ada waktu untuk mengurus kedua anaknya. Tidak sia-sia mengambil pekerjaan ini, karena jika di tempat lain belum tentu akan seperti sekarang ini.


" Adel, kamu gak ada keinginan mau menikah lagi?" Tanya mama Mita saat mereka makan siang bersama. 


Adelia yang sedang menyuapi Fatih spontan menghentikan pergerakan tangannya lalu menatap mama Mita yang bertanya dengan sangat serius sekali.


" Itu kan menurut kamu, lalu bagaimana jika menurut anak-anak kamu. Apa kamu tidak memikirkan mereka yang masih sangat membutuhkan sosok seorang ayah?" Ujar mama Mita, selama tinggal di rumahnya, dia selalu melihat jika Fatih dan Nazwa begitu bahagia saat bermain bersama Alvin. Jadi mama Mita yakin jika mereka sangat menginginkan sosok seorang ayah.


" Menurut saya tidak, mereka tidak perlu membutuhkan sosok seorang ayah karena saya masih bisa menjadi seorang ibu dan sekaligus seorang ayah bagi mereka." Adelia bener-bener keras kepala sekali.


Karena menurutnya, dirinya saja sudah cukup Adelia untuk menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah. Dia tidak ingin jika memiliki ayah tiri takutnya kebahagiaan mereka tidak dibandingkan dengan bersama ayah kandung mereka, dan Adelia takut jika dia memiliki anak kembali bersama suami barunya dan suaminya itu tidak akan menyayangi mereka lagi karena sudah memiliki anak sendiri. Mana tambah lagi seperti yang ada di tv-tv dimana suami baru menyiksa anak tirinya bahkan sampai kehilangan nyawa.

__ADS_1


" Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?" Tanya Adelia, karena tiba-tiba sekali majikannya itu bertanya soal pernikahan.


" Bukan apa-apa sih, hanya saja terkadang. Saya sering melihat mereka begitu akrab dengan Alvin. Jadi saya pikir mereka menganggap Alvin seperti ayah mereka sendiri," jawabnya, lalu dia kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Adelia terdiam, dia tidak lagi bertanya atau berbicara. Dia hanya fokus menyuapi anaknya makan saja dengan larut dalam pikirannya.


Hari sudah larut, Adelia hendak membuat teh untuk dirinya sendiri karena cuaca lumayan dingin sehingga dirinya membutuhkan minuman yang hangat -hangat. Kala itu disaat yang sama pula Alvin pulang. Dia baru pulang kerja kalau itu saat membuka pintu dia melihat Adelia berada di dapur Alvin pun menghampiri.


" Mbak Adelia," apanya dia membuka jas dokternya kemudian menaruhnya di kursi meja makan.


" Mbak Adel belum tidur?" Tanyanya sambil melihat jam di tangannya karena waktu sudah menunjuk pukul 10.00 malam.


" Mas ALvin baru pulang? Aku belum bisa tidur dan ingin membuat teh supaya badan jauh lebih hangat. Mas Alvin sekalian dibikinkan?" Tanya Adelia menawari.


" Boleh deh kalau tidak merepotkan tapi jangan teh kopi aja." Kebetulan dirinya juga membutuhkan minuman yang hangat-hangat. Karena tidak menyukai teh Alvin pemungutan kopi saja. 


" Mas Alvin udah makan, kalau belum mau aku masakin?" Adelia kembali menawarkan karena biasanya jika baru pulang kerja pasti perut dalam keadaan kosong karena sudah terbiasa dengan suaminya dulu jika suaminya itu pulang kerja dirinya selalu memasak makanan sehingga dia pun mengulangi adegan yang sama, tetapi orangnya saja yang berbeda.

__ADS_1


" Tidak Mbak terima kasih, tadi sebelum pulang saya sudah makan di luar. Kopi saja sudah cukup, kalau begitu saya bawa ke atas ya, sekali lagi terima kasih atas kopinya." 


Adelia tersenyum sambil mengangguk pelan kemudian dia menatap punggung Alvin yang kini sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya, Adelia belum kembali ke kamar dia duduk di meja makan sambil minum teh yang dia bikin tadi. 


__ADS_2