
Setelah berada di tempat warung Adelia kini ke-empat ibu-ibu tersebut beramai-ramai menuju ke rumah bu RT untuk melaporkan situasi dan yang paling utama adalah suami bu RT yang selalu ada di warung makan Adelia tersebut. Mereka mulai memfitnah dan mengatakan yang tidak tidak mengenai Adelia terutama pak RT yang sering kerap kali terlihat di sana dan beranggapan jika pak RT dan Adelia memiliki hubungan secara diam-diam di belakang bu RT dan tentu saja itu membuat bu RT semakin marah dan panas mendengarnya, bukan hanya sekali dua kali saja mereka mengadu, ini sudah kesekian kalinya bu RT menerima laporan tersebut.
" Apa betul kalian melihat dengan mata kepala sendiri jika suami saya ada di warung makan Adelia?" Tanya bu RT memastikan.
" Betul Bu kami berempat melihat Pak RT dengan mata kepala kami sendiri jika Pak RT sedang berada di warung Adelia sambil menikmati sarapan di sana."
" Bukan hanya hari ini saja tadi malam dan kemarin pagi Bu Sri melihat Pak RT juga ada di sana, ini bener-bener sangat mencurigakan Bu?" Ibu memakai baju merah.
" Kurang ajar kamu Adelia, saya sudah berbaik hati dan sangat kasihan kepadanya karena dia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya terlebih lagi dia harus menghidupi kedua anaknya sehingga saya berbaik hati dan bersikap ramah padanya. Akan tetapi ternyata dia sangat busuk dan jahat bukan hanya menggoda para suami-suami orang lain, bahkan suamiku sendiri dengan tega dia menggodanya. Awas aja kamu Adelia."
Marah bu RT yang sudah terpancing oleh omongan parah warganya, awalnya bu RT yang bernama bu Ningsih tersebut sangat baik dan ramah kepada Adelia terutama kedua anaknya bahkan tidak segan-segan bu Ningsih atau bu RT sering memberi jajanan atau makanan bahkan duit sekalipun kepada Najwa dan juga Fatih karena mereka anak yatim yang sangat harus dikasihani. Akan tetapi mendengar ucapan-ucapan dari para ibu-ibu yang bukan hanya sekali dua kali ia dengar membuat hatinya panas dan marah, dan kali ini benar-benar dirinya sangat emosi karena suaminya memang beberapa hari ini bahkan minggu ini tidak pernah lagi makan bersamanya di rumah dengan alasan sudah kenyang makan di luar dan ternyata makan di warung Adelia, pantes aja masakannya tidak pernah disentuh suaminya tersebut, mungkin ini alasannya.
" Ya sudah kalian semua boleh pulang saya masih ada urusan." Kata bu RT dia pun masuk ke dalam sedangkan tempat ibu-ibu tadi bubar dan pulang ke rumah masing-masing.
Bu RT menangis di dalam kamarnya sebenarnya bu RT bukan seperti yang diceritakan oleh Pak RT tadi kepada Mbak Asih yang tidak mau memasak karena itu hanya buah-buahan Pak RT saja supaya bisa mencuri perhatian dari Adelia.
Bu RT selama sebulan ini merasa bingung dan heran dengan sikap suaminya yang mulai berubah menjadi cuek, dingin dan acuh padanya bahkan saat dia suguhkan kopi di meja makan atau menyiapkan makanan tidak pernah disentuh sama sekali oleh suaminya tersebut. Dan jika ditanya apa sudah makan atau belum, dan jawabannya selalu sama. "Saya sudah makan di luar."
__ADS_1
Tetapi bu Ningsih tidak pernah bertanya makan di mana, dengan siapa dan lauk apa, atau apapun itu. Bu Ningsih hanya diam, ketika sudah dijawab oleh suaminya, ditambah lagi dengan sikap dingin suaminya itu dia pun enggan untuk bertanya kembali.
Malam hari pun tiba seperti biasa bu Ningsih sudah menyiapkan masakan untuk mereka makan malam dan menunggu suaminya pulang bahkan anak-anaknya tidak dibolehkan makan karena sengaja menunggu suaminya supaya bisa makan bersama seperti dulu lagi.
" Bu papa masih lama ya pulang? Adek sudah lapar." Tanya si bungsu karena hari sudah jam 08.00 perutnya pun sudah terasa sangat lapar.
" Sebentar lagi ya nak biasanya kan bapak pulang jam segini sabar ya," pucuk bu Ningsih sambil mengusap kepala anaknya. Anaknya si bungsu tersebut kemudian mengganggu pasrah sambil memandangi makanan dan hanya menikmati aroma sedap dari masakan tersebut.
" Emang ada acara apaan sih Bu tumben-tumbenan nungguin bapak pulang?" Tanya si sulung anak laki-lakinya.
" Ya nggak ada acara apa-apa, tapi kan ibu ke pengen kita makan bersama lagi seperti dulu sama bapak," jawaban Ningsih.
" Hore bapak pulang," girang sih bungsu dia pun berlari segera membukakan pintu dan bu Ningsih pun menyusul untuk menyambut kedatangan suaminya pulang.
" Bapak, akhirnya bapak pulang hore …" teriak senang sang anak seketika pintu sudah dibuka dan masuklah Pak RT ke rumah.
" Ada acara apa nih tumben disambut segala?" Bingung Pak RT tak biasanya istri dan anaknya menyambut dirinya pulang walaupun istrinya selalu menyambutnya pulang tetapi tidak pernah anaknya diajak apalagi terlihat sangat gembira seperti ini.
__ADS_1
" Ya nggak ada acara apa-apa toh Pak ya wajar dong jika anak dan istri menyambut kedatangan bapak pulang kerja," hot bu Ningsih dia pun mencium pucuk punggung tangan suaminya dan mengambil tas bawaan suaminya.
" Ayo Pak kita makan, adek sudah lapar dari tadi nungguin bapak pulang," ajak si bungsu sambil menarik tangan bapaknya hingga ke ruang makan.
Pak rt menurut, dia melihat si sulung sudah duduk santai di meja makan sambil memainkan ponselnya, pak rt juga melihat hidangan di meja makan.
" Kenapa kalian belum makan, ini hari udah malam loh?" Tanya Pak RT kebingungan.
" Mereka mau makan sama bapaknya bareng-bareng, sudah lama kita nggak makan bersama ngumpul-ngumpul seperti ini seperti dulu," jawab bu Ningsih.
" Tapi bapak sudah makan, baru aja dan masih kenyang. Kalian kalau mau makan, silahkan. Bapak mau ke kamar, mau mandi gerah dan istirahat capek banget."
Pak RT pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata tersebut, kedua anaknya terbengong memperhatikan Pak RT sementara bu Ningsih dia mematung tak percaya lagi-lagi jawaban seperti itu yang dilontarkan oleh Pak RT ketika diajak makan, masakannya sama sekali tak pernah lagi disentuh oleh suaminya itu. Sungguh sedih hati bu Ningsih apalagi di hadapan kedua anaknya ia ingin sekali menangis suaminya mulai berubah semenjak Adelia membuka warung makan apa mungkin tuduhan dari warga benar adanya jika Pak RT dan Adelia memiliki hubungan khusus di belakangnya.
" Bu …"
" Kalian makanlah, Ibu mau ke kamar dulu." Beningsih meninggalkan meja makan dan membiarkan kedua anaknya makan tanpa dirinya dan juga suaminya kemudian bu Ningsih yang peri suaminya yang sedang membuka baju setelah sampai di kamar.
__ADS_1
" Pak ibu mau bicara!"