
" Terima kasih ya Om makanannya sangat enak kamu tahu aja kalau mau jual lagi laper." Kata Najwa polos sambil terus mengunyah hingga mulutnya penuh dengan makanan dokter Alvin tersenyum lalu mengusap sudut bibir Najwa yang belepotan.
" Sama-sama kamu makan yang kenyang ya biar cepet besar," jawab dokter Alvin dia pun kembali memperhatikan.
" Najwa sekarang umur berapa, dan udah sekolah belum?" Sambil memberikan minum supaya gadis itu tidak tersedak.
" Umur 5 tahun dan Najwa sudah sekolah TK 0 kecil," sahutnya seraya mengunyah makanan walaupun ada bicaranya kurang jelas akibat mulut penuh dengan makanan namun Alvin bisa mengerti ucapan dari gadis kecil tersebut.
" Najwa mau nggak ikut ke rumah Om, sama Patih juga. Soalnya Bunda kan belum sadar dan belum sembuh juga dari sakitnya otomatis belum boleh keluar dari rumah sakit ini. Nah karena Bude Ayu sibuk kerja sehingga tidak bisa menjaga Fatih dan Najwa di rumah sakit ini, gimana kalau ikut sama Om dokter aja ke rumah Om dokter. Di sana ada mamanya Om dokter yang bisa menjaga kamu dan Fatih, pasti mamanya Om dokter senang deh karena kalian begitu lucu dan imut."
Alvin tidak mengerti dengan dirinya karena apa yang diaucapkan itu keluar begitu saja dari mulutnya hanya karena dirinya memperhatikan Najwa yang benar-benar sangat memprihatinkan nasibnya. Sungguh membuat hatinya tidak tega ditambah lagi Bude Ayu yang sebentar lagi akan pulang karena harus bekerja, dan tentu saja tidak ada yang menjaga Najwa maupun Fatih di rumah sakit ini sementara Adelia masih dalam keadaan. Hati nuraninya pun berkata ingin mengajak mereka tinggal di kediamannya untuk sementara hanya ingin menjaga mereka supaya tidak kenapa-napa dan jauh lebih aman ketika berada di rumahnya.
" Emangnya bunda sakit apa sih Om kok sampai sekarang masih belum bangun dari tidurnya?" Tanya Najwa dengan wajah polosnya.
" Bunda kalian terkena demam berdarah, maka dari itu kamu dan Fatih tidak bisa tinggal di rumah lama kalian lagi, takutnya nanti kamu dan juga Fatih akan terkena demam yang sama seperti Bunda." Alvin terpaksa berbohong karena tidak mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi terhadap Adelia anak-anak seumuran Najwa dan Patih tidak mungkin mengerti biarlah mereka tidak perlu tahu perlu tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
" Oh begitu ya Om, kasihan sekali Bunda. Semoga Allah memberikan kesehatan untuk Bunda, dan semoga Bunda cepat sembuh, Amin …" Najwa ma doakan kesembuhan ibunya dia mempercayai ucapan dokter jika bundanya terkena demam DBD setelah mengusap wajahnya dengan kedua tangan Najwa kembali melanjutkan makannya yang masih belum habis.
" Amin ya Allah, semoga badan cepat sembuh ya dan bisa berkumpul lagi dengan kalian." Alvin pun mengaminkan doa dari anak polos tersebut sambil mengusap pucuk kepalanya lembut penuh kasih.
" Terus gimana dengan tawaran Om tadi? Mau kan Najwa sama Fatih tinggal sama untuk sementara."
Najwa pun berpikir sejenak sebelum ia menjawab Bude Ayu datang bersama Fatih di gendongannya yang baru saja bangun.
" Selamat pagi, ganteng," sapa Alvin. Yang disapa acuh saja, malah dia sibuk melihat sekeliling karena merasa asing dengan tempat dirinya berada sekarang ini.
" Kata sarapan dulu ya sama Bude, lihat Mbak Najwa makannya udah mau habis, pintar banget ya … sekarang giliran Fatih, ya. Sini Bude suapin, oke. Aaaak …"
Melihat Bude Ayu yang belum makan karena sibuk menyuapi Fatih Alvin pun berinisiatif untuk mengambil alih.
" Ibu makan aja dulu biar Fatih saya yang akan menyuapinya," pinta Alvin.
__ADS_1
Bude Ayu menoleh ke arah Alvin sungguh pemuda yang sangat baik hati sampai-sampai dirinya malu sendiri.
" Nggak apa-apa Dok, takutnya ngerepotin. Apalagi dokter kan sibuk, biar saya aja yang mau nyuapinnya."
" Justru karena saya mumpung masih belum sibuk, maka dari itu biarkan saya yang menyuapi Fatih supaya ibu sendiri bisa sarapan bareng sama anak-anak."
Jam masih menunjukkan jam 07.00 pagi, di rumah sakit ini jam 07.00 para dokter masih belum ada yang datang karena dijadwalkan dokter akan datang jam 08.00 atau jam 09.00 pagi itu pun tidak semua dokter ada jadwal di pagi ini terutama Alvin yang tidak memiliki jadwal di pagi ini, dirinya akan sangat sibuk hanya disore sampai malam hari saja.
Karena permintaan dokter Alvin yang begitu tulus Budi Ayu pun tidak tega untuk menolak Karena sejujurnya perutnya juga sudah sangat lapar sekali sehingga dia pun memberikan nasi bungkus itu kepada Alvin dan membiarkan Alvin menyuapi Fatih dan dirinya pun bisa ikut sarapan bersama.
" Dokter Alvin sendiri tidak sarapan?" Tanya Bude Ayu sambil membuka nasi bungkus tersebut.
" Sudah Bu sebelum membeli ini tadi saya sarapan dulu di luar," jawabnya tanpa menoleh karena tangannya sudah mengangkat dan memasukkan sendok yang sudah berisi nasi ke dalam mulut hati yang kecil.
Untunglah Fatih begitu pintar tidak memilih siapa yang ingin menyuapinya, dia duduk anteng sambil menikmati sarapannya dengan mata yang masih melihat sekeliling lorong lorong rumah sakit ini.
__ADS_1
" Oh ya Bu kan katanya Ibu hari ini tidak bisa meninggalkan pekerjaan lalu Najwa dan Fatih tidak ada yang menjaga di rumah sakit yang sebesar ini saya takut mereka kenapa-napa dan tersesat," ucap Alvin sambil terus menyuapi Fatih dengan sangat telaten.
" Bagaimana kalau Najwa dan Fatih bersama saya dan saya akan membawa mereka pulang ke rumah supaya lebih aman dan nyaman, di sana mereka ada yang menjaga seketika saya sudah mulai berangkat kerja."