Janda Beranak Dua

Janda Beranak Dua
bab 15


__ADS_3

" Innalillahi wa innalillahi roji'un." Tuturnya berduka cita.


" Pasien sebenarnya tidak apa-apa secara fisik namun secara mental sepertinya pasien akan mengalami trauma sebenarnya apa yang terjadi?" 


Karena ini menyangkut pasiennya dokter itu pun bertanya masalah yang terjadi walaupun tidak secara rinci setidaknya dia harus tahu apalagi dengan keadaan Adelia yang seperti sekarang ini dan ditambah lagi dirinya tidak tahu kenapa seperti sangat tertarik mengenai masalah yang ditimpa oleh Adelia mungkin Jiwan nalurinya sebagai manusia terpanggil apalagi mengetahui fakta jika pasien tersebut adalah seorang janda sungguh sangat memprihatinkan pikirnya.


Bude Ayu pun menceritakan kronologi kejadian naas yang menimpa Adelia hingga menjadi seperti ini. Bude menceritakan dengan menggebu-gebu bahkan sampai dirinya menangis kepada dokter tersebut, Bude Ayu pun mengatakan jika Adelia difitnah hingga membuatnya nyaris terbunuh akibat para warga yang murka entah apa penyebabnya hingga membuat Adelia sangat dibenci oleh warga terutama para ibu-ibu. Bude Ayu sendiri juga bingung apa salah dan dosa Adelia sebenarnya di kampung itu, padahal dulu semasa almarhum suami Adelia masih hidup Adelia ataupun suaminya selalu baik kepada semua orang termasuk juga dirinya maka dari itu dirinya sangat terpercaya sekali dengan Adelia. 


Dokter itu pun mengangguk -anggukan kepala, dadanya terasa sesak mendengar cerita dari Bude Ayu. Dokter itu pun memperhatikan kedua anaknya Adelia yang tengah tertidur pulas di kursi tunggu, dia yakin jika keduanya merasa tidak nyaman karena tidur di kursi yang keras dan hanya di alas beberapa tumpukan baju sebagai pengganti bantal. 


Sebelum ke rumah sakit bude ayu menyempatkan untuk membawa barang-barang berharga milik Adelia dan juga anak-anak terutama surat-surat rumah perhiasan uang tabungan Dan terakhir baju-baju untuk beberapa helai dan semuanya ia masukkan ke koper. Bude Ayu feeling jika besok rumah ini pasti tidak akan baik-baik saja, pasti ada saja yang berniat jahat untuk menghancurkan rumah sepeninggalan almarhum Adam itu maka dari itulah Bude Ayu bergegas membawa kedua anak Adelia walaupun dia sendiri tidak tahu akan dibawa kemana kedua anak ini sementara dirinya tidak bisa terus berada di samping mereka.


" Keluarga yang malang," ucapnya dalam hati. Lalu dia melihat kedua anak -anak Adelia kembali. 


Ada satu hal yang sangat membuat dokter itu tertarik pada salah satu anaknya Adelia, dokter itu pun mendekati Fatih dan mengamati wajah dalam.


" Sangat mirip," ucapnya lalu membelai kepalanya Fatih lembut. Bude Ayu hanya diam memperhatikan.


Dokter laki-laki ini sangat tampan, dia juga terlihat masih begitu muda. Bude Ayu melihat nama yang tertulis di tanda pengenalnya yang tertera Alvin. 


" Jadi, anak-anak ini nanti akan tinggal dimana?" Tanya dokter Alvin yang masih membelai kepalanya Fatih. 


" Mungkin untuk malam ini saya yang akan menemani mereka bermalam di rumah sakit ini. Akan tetapi tidak tahu esok hari, soalnya saya harus bekerja. Dan jika saya bawa kerumah saya, saya tidak yakin akan keamanan mereka," ucap bude Ayu sedih. 


" Saya berharap semoga Adelia lekas sembuh, kasihan mereka terutama anak-anaknya gak ada yang menjaga." 

__ADS_1


Dokter Alvin kembali menatap wajah Fatih yang tertidur lelap seakan merasa sangat nyaman dengan elusan di kepalanya. 


" Tidur disini sangat tidak nyaman untuk mereka, bagiamana kalau pindahkan saja keruangan saya, disana ada ranjang pasien dan juga shopa sehingga mereka dan juga ibu bisa tidur dengan nyenyak disana," tawar dokter Alvin tulus.


" Itu sangat merepotkan dokter, mungkin disini saja sebaiknya," tolak bude Ayu. 


" Tidak apa, kasihan mereka sangat tidak nyaman tidur di kursi yang keras seperti ini. Ayo bawa mereka ke ruangan saya, tidak jauh kok dari sini," paksa dokter Alvin dan bahkan dirinya sudah mengangkat tubuh Fatih bersiap membawanya ke ruangannya. 


" Terima kasih, Dok." Bude Ayu merasa sangat bersyukur atas kebaikan dokter Alvin. Dia pun membangunkan Nazwa untuk berpindah tempat ke ruangan dokter Alvin supaya jaub lebih nyaman untuk tidur. Mungkin dirinya masih tidak apa tidur dalam keadaan duduk di kursi tunggu, akan tetapi anak-anak yang masih sangat kecil pasti akan sangat tidak nyaman bagi mereka. 


Sesampai di dalam ruangan dokter Alvin, bude Ayu melihat jika Fatih sudah di letakan di tempat tidur pasien. Dia tersenyum tipis karena anak laki-laki itu bisa bergerak bebas. 


" Kakak nya mau tidur di samping adiknya?" Tanya dokter Alvin pada Nazwa yang sedang kebingungan situasi nya. 


Dokter Alvin mengangguk saja, untung nya hari sudah sangat larut sehingga dirinya tak ada lagi pasien dan bisa meminjamkan ruangannya pada anak-anak Adelia dan juga bude Ayu. Dokter sangat kasihan padahal jam segini sudah saatnya dirinya untuk pulang akan tetapi dia tidak mungkin meninggal ruangannya sehingga dokter Alvin Alvin pun mengerjakan tugas dan berniat untuk bermalam di rumah sakit. 


Sementara Adelia masih belum sadarkan diri di ruangan ICU.


" Semoga pihak polisi bisa menangkap pak rt karena sudah memfitnah Adelia hingga sampai seperti ini," gumam Bude Ayu dalam hatinya sangat berharap jika pak rt mendapatkan ganjarannya. 


Pagi harinya Adelia masih belum sadar juga, ini sungguh membuat bude Ayu begitu sedih dan sangat khawatir. Apalagi dirinya harus bekerja, akan tetapi dia sungguh tidak tega meninggalkan Nazwa dan Fatih di rumah sakit hanya berduaan saja tanpa ada yang mengawasi. 


" Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Kerjaan gak bisa di tinggal, begitu juga dengan kedua anak malang ini. Semoga engkau segera menyembuhkan Adelia ya Allah, kasihan mereka." 


Nazwa baru bangun dari tidurnya, dia melihat sekeliling sedang dimana dirinya berada. Nazwa seakan lupa jika dirinya sedang berada di rumah sakit. 

__ADS_1


" Ini dimana?" Ucapnya tanya pada bude Ayu.


" Dirumah sakit, emangnya Nazwa gak ingat?" Tanya bude Ayu ingin sekali tertawa.


" Loh kok kita bisa di rumah sakit? Emangnya ngapain dirumah sakit ini Bude?" Tanya Nazwa, dirinya memang tidak mengetahui keadaan ibunya.


" Bunda lagi dirawat di sini sayang, kamu dan Fatih yang pinter ya. Jangan lupa untuk mendoakan bunda supaya lekas sembuh." Bude Ayu mengatakan singkat saja sambil mengusap pucuk kepalanya lembut.


" Bunda sakit?" Tanya Nazwa polos, bude Ayu hanya mengangguk saja sembari memberikan senyuman. 


Nazwa terdiam sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong, entah apa yang dia pikirkan. Bude Ayu hanya memperhatikannya saja. 


" Assalamualaikum." Dokter Alvin datang, dia membawa dua kantong plastik di tangannya.


" Ini saya bawakan sarapan, mari dimakan dulu pasti Nazwa sangat lapar kan." 


Dan ternyata isinya adalah bungkusan nasi untuk sarapan, dokter Alvin sengaja pergi keluar dan membelikan sarapan untuk kedua anaknya Adelia tak lupa dengan Bude Ayu. Dokter Alvin sangat baik dan perhatian.


" Masya Allah, anda begitu baik sekali Dok. Terima kasih banyak," ucap bude Ayu sangat terharu. Kebenaran sekarang perut rasa lapar, tidak gengsi untuk menolak rezeki bude Ayu pun membuka bungkusan nasi tersebut. 


" Ayo sayang kita makan, pasti sudah lapar kan." Nazwa mengangguk. 


" Tunggu disini sebentar ya, bude bangunin Fatih dulu."


Saat bude Ayu bangkit dari teno duduk dan pergi keruangan dokter Alvin untuk membangun Fatih, dokter Alvin pun duduk disamping Nazwa dan tersenyum menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2