
Sore harinya dokter Alvin pergi ke rumah sakit, sesampainya disana dia langsung bertanya keadaan Adelia yang masih terbaring di ruangan ICU pada suster yang ditugaskan untuk menjaga pasien tersebut.
" Apa sudah ada kemajuan?" Tanyanya.
" Belum Dok." Nyatanya memang belum ada tanda-tanda akan kesadaran dari Adelia. Wanita itu masih betah berlama-lama di alam mimpinya seakan tak ingin memiliki niat untuk bangun.
" Baiklah kalau begitu, saya akan mengecek keadaan nya." Suster itu mengangguk lalu dia beranjak pergi, sementara Alvin membuka pintu ruangan tersebut dan masuk dengan langkah pelan.
Dokter Alvin mendekat kemudian menatap lekat wajah Adelia yang nampak terlihat pucat dengan selang infus yang menempel. Alvin terus memperhatikan wajah tersebut dengan mata yang sayu seolah melihat ada kepedihan dalam dirinya. Dan hanya mendengar cerita saja, Alvin bisa menggambarkan betapa menderitanya hidup wanita ini. Sudah ditinggal pergi selama-lamanya oleh suami, dan mendapat perlakuan buruk dari para laki-laki yang laknat, dan juga fitnah yang begitu kejam. Ditambah lagi mendapatkan luka fisik di tubuhnya akibat fitnah tersebut, sungguh Alvin tidak bisa membayangkan. Entah mengapa ia ikut merasakan perih dalam hatinya.
" Semoga kamu selalu menjadi wanita yang kuat, sabar dan tabah. Aku yakin kamu bisa menjalani cobaan yang begitu berat ini. Dan aku sangat berharap kamu akan mendapatkan kebahagiaan, maka dari itu berusahalah untuk bangkit, demi anak-anak kamu," ucap Alvin begitu saja keluar dari mulutnya tanpa dia sadari.
" Jangan khawatir dengan Najwa dan juga Fatih, mereka aman bersamaku, aku membawa mereka ke rumahku supaya aku bisa lebih leluasa untuk menjaganya. Dan mereka selalu berharap dan selalu mendoakan untuk kesembuhanmu. Maka dari itu cepatlah sadar, karena mereka sudah sangat merindukan ibunya," lanjutnya.
Kemudian Alvin mengecek kondisi kesehatan Adelia, detak jantung di layar monitor terlihat naik turun dan dia pun meminta suster untuk mengganti air infus yang sudah tinggal sedikit. Setelah semuanya selesai Alvin kembali memperhatikan Adelia dengan pandangan yang sulit diartikan.
" Baiklah, aku akan kembali bekerja. Besok aku janji akan membawa Najwa dan juga Fatih kesini untuk menemuimu. Semoga kamu lekas sadar dan kembali berkumpul dengan anak-anak mu lagi. "
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Alvin pun pergi keluar, sebelum menutup pintu, lagi-lagi dia menoleh ke arah Adelia kemudian tersenyum tipis lalu kembali untuk menutup pintu dengan pelan. Alvin merapikan jas putihnya lalu dia menghembuskan nafasnya sejenak kemudian barulah melangkah untuk menuju ke ruangannya. Sesaat berjalan di lorong-lorong rumah sakit banyak pasien maupun suster-suster yang lain menyapa. Alvin pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman yang begitu ramah.
Dokter Alvin memang terkenal dengan dokter yang sangat ramah dengan siapapun, tak peduli tua, muda atau anak kecil karena memang sosok dirinya adalah laki-laki yang penyayang. Padahal usianya masih 32 tahun namun dia sudah ber protektif sebagai dokter bedah dengan jabatan tertinggi di rumah sakit tersebut yang merupakan rumah sakit miliknya sendiri. Banyak para wanita mengidolakan dirinya, namun tak ada satupun yang membuatnya tertarik hingga sampai sekarang ini dia masih saja menjomblo. Padahal mamanya sudah ratusan kali untuk meminta dirinya segera menikah, karena ingin segera mendapatkan cucu supaya di rumahnya yang besar itu tidak terlalu sepi akibat tak memiliki anak lain selain dirinya yang semata wayang dan juga suaminya yang sudah almarhum 10 tahun yang lalu.
Setelah kepergian dokter Alvin tanpa disadari oleh laki-laki itu ternyata Adelia sudah sadar. Namun dia masih terlalu lemah untuk membuka mata sehingga masih beta ingin terus menutup matanya. Adelia sebenarnya menyadari kedatangan seseorang di ruangannya itu, dengan perasaan gelisah Adelia ingin tahu siapa yang datang dan apa tujuannya. Dan ternyata yang datang adalah seorang dokter dia pun merasa sangat lega, namun pada saat seketika dokter itu mengatakan hal yang membuatnya haru terutama tentang anak-anaknya yang berada di rumahnya. Sungguh sangat mengejutkan, dia bahkan tidak kenal dokter itu akan tetapi mengapa dokter itu begitu baik hingga mau menjaga kedua anaknya. Ingin sekali Adelia membuka mata namun rasa berat di kelopak matanya itu seakan tidak mampu sehingga dirinya hanya mendengarkan saja dan dalam hati berkata terima kasih untuk dokter tersebut.
Malam harinya, jam sudah menunjuk pukul 10.00 malam dini hari Alvin baru saja selesai bekerja dan dia pun bergegas untuk pulang ke rumah. Tetapi, sebelum pulang ke rumah Alvin menyempatkan diri untuk mampir ke ruangan Adelia, dia pun mengecek kondisi selang infus dan juga detak jantung. Setelah mematikan semuanya baik, kemudian Alvin berpamitan kepada Adelia dan mengatakan jika besok berjanji akan membawa kedua anaknya setelah mengatakan itu Alvin pun berpamitan pulang.
Setelah tiba di rumah Alvin langsung saja membuka jas putih miliknya dan melonggarkan dasi yang mencekik leher, kemudian ia duduk di sofa sambil membuka sepatu dan juga kaos kaki. Setelah itu barulah ia mencuci tangan kemudian hendak menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, namun ia teringat jika di rumahnya tersebut ada dua anak yang dia bawa. Kemudian Alvin mengurungkan niatnya untuk menuju ke kamarnya, dia malah pergi menuju ke kamar di mana Najwa dan Fatin tidur yang berada di lantai bawah.
" Hey jagoan, kamu kenapa? Kok belum tidur?" Tanya Alvin dia duduk di sisi kasur sambil menggendong Fatih dan ya dudukan di pangkuannya.
" Fatih ingin ketemu Bunda, Fatihi tidak bisa tidur kalau tidak memeluk Bunda," ucapnya dengan nada sedih sebenarnya Fatih dari tadi menangis secara diam-diam agar kakaknya Najwa tidak terbangun dan pasti akan memarahi dirinya jika mengetahui bahwa dirinya sedang menangis.
Alvin tersenyum padahal hatinya begitu sangat sedih mendengar ucapan Fatih, di usia anak yang masih sekecil ini pasti sangat membutuhkan sosok seorang ibu. Alvin pun memeluk tubuh kecil Fatih dia mengusap-usap punggungnya lembut bahkan mengecup keningnya sekilas.
" Bunda masih belum sembuh sayang, nanti jika sudah sembuh pasti bakalan boleh kok ketemu sama Bunda," ucap Alvin.
__ADS_1
" Tapi Fatih ingin ketemu sama Bunda, Fatih merindukan Bunda. Fatih ingin memeluk Bunda, Fatih tidak bisa tidur kalau nggak ada Bunda," rengeknya dia pun kembali menangis.
Alvin panik seketika namun ia mencoba untuk tenang kemudian dia berdiri dan membawa Fatih ke dalam gendongannya sambil ia timang-timang agar supaya Fatih bisa tenang.
" Om janji besok bakalan bawa Fatih dan kakak pergi menemui bunda di rumah sakit ya, tapi malam ini Fatih juga janji harus segera tidur supaya tidak ikutan sakit seperti Bunda, nanti jika Fatih sakit Bunda bakalan sedih," ucap Alvin menghibur sambil terus mengusap-usap punggung Fatih dengan lembut penuh kasih sayang.
Fatih masih saja menangis mungkin dia memang sangat merindukan ibunya.
" Bagaimana kalau malam ini Fatih tidur aja sama Om? Om janji bakal memeluk Fatih sampai Fatih benar-benar tidur dengan lelap, dan Om juga bakalan membacakan Fatih sebuah dongeng, apa Fatih mau?" Kata Alvin.
" Beneran?" Tanya Fatih memastikan dia bahkan sampai menghentikan tangisnya lalu mendengar menatap Alvin untuk mencari kebenaran di sana.
" Emmm, asal Fatih tidak lagi menangis," ucapnya Fatih pun kemudian mengganggu dengan semangat dia pun menghapus jejak air matanya lalu tersenyum lebar.
Alvin ikutan tersenyum kemudian dia menurunkan Fatih di tempat tidur dan membaringkannya di samping Nazwa, tak lupa menyelimutinya. Sementara dirinya hanya duduk bersandar saja kemudian membuka hp untuk mencari cerita dongeng anak pengantar tidur di internet, setelah hasil pencarian sudah ditemukan, Alvin mulai membacakan dongeng tersebut sambil menarik Fatih kedalam pelukannya dan membiarkan lengan nya itu menjadi bantal untuk kepala Fatih.
Dengan ikhlas Alvin membacakan dongeng, Fatih yang mendengarkan pun tiba-tiba saja air matanya keluar, karena dongeng yang di bacakan oleh Alvin adalah dongeng kesukaan nya dan sering sekali almarhum ayahnya membacakan cerita dongeng tersebut saat hendak tidur. Fatih menjadi teringat akan sosok ayahnya, tanpa sadar dia memeluk erat tubuh Alvin.
__ADS_1