Janda Beranak Dua

Janda Beranak Dua
bab 23


__ADS_3

Hari semakin larut saat ini Adelia hendak pergi ke kamar mandi karena tubuhnya masih terlalu lemah sehingga dia kesulitan untuk bangun dari tempat tidurnya sudah berapa kali mencoba dia benar-benar tidak sanggup untuk berdiri bahkan wanita itu saat ini terjatuh di lantai sudah beberapa kali memanggil suster namun tak ada sahutan mungkin hari karena sudah begitu larut sehingga membuat para suster yang menjaga malam sedang beristirahat. 


" Bagaimana ini ya Allah aku benar-benar tidak tahan lagi ingin pipis," ucap Adelia dia berusaha untuk bangun tapi lagi-lagi dirinya terjatuh karena kakinya masih terlalu lemah untuk berdiri dia sama seperti seorang anak kecil yang hendak ingin berlatih berjalan. 


Rasa ingin buang air kecil itu semakin tidak tertahankan Adelia mencabut selang infusnya mau tak mau dia harus mengesot untuk pergi ke kamar mandi tak ada pilihan lain selain melakukan dengan cara ini.


" Astaghfirullahaladzim Mbak Adelia!" Bergegas Alvin menghampiri dia begitu terkejut melihat Adelia berada di lantai bawah kemudian reflek Alvin mengangkat tubuh Adelia dan kembali membawanya ke tempat tidur. 


" Aku, Aku ingin pergi ke kamar mandi," ucap Adelia saat Alvin sudah meletakkan kembali dirinya di tempat tidur ranjang pasien. 


" Ah maafkan aku, mari saya gendong Mbak Adelia ke toilet," ucap Alvin dia tahu jika ada lihat belum masih belum bisa untuk menggerakkan kakinya sehingga dia pun berinisiatif untuk menggendong Adelia ke toilet.


" Tidak, aku bisa pergi sendiri." Masih keras kepala tak ingin merepotkan orang sehingga Adelia menolak bantuan dari Alvin padahal sudah tahu jika dirinya tidak mampu.


Namun Alvin tidak peduli dia tidak mendengar penolakan Adelia yang tidak ingin digendong namun laki-laki itu tetap saja menggendong tubuh wanita mungil tersebut hingga sampai ke dalam kamar mandi kemudian Alvin dudukan Adelia di kloset.


" Aku akan menunggu di depan pintu panggil aku jika sudah selesai," ucapnya seakan tak ingin dibantah lalu Alvin pergi meninggalkan Adelia yang terdiam akibat malu.


Setelah menutup pintu sontak Alvin langsung berjongkok di depan pintu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan karena saat ini wajah itu sudah merah Mbak ke tomat akibat sentuhan fisik dirinya dan juga Adelia jantungnya berdebar bahkan kedua tangannya gemetar. 


" Astaghfirullahaladzim ya Allah maafkan hambamu ini yang sudah lancang," ucapnya istighfar dia takut khilaf namun apa boleh buat saat ini Adelia sangat membutuhkan pertolongan ingin memanggil suster saat itu tapi melihat Adelia yang tengah sedang menahan sesuatu yang tak tertahankan, sepertinya tidak akan sempat dia takut Adelia akan malu sendiri karena pasti akan pipis di celana. 

__ADS_1


" Maafkan hamba ya Allah hamba sudah disentuh oleh laki-laki yang bukan muhrim." 


Adelia mengusap wajahnya dia merasa berdosa karena tubuhnya disentuh oleh laki-laki lain yang selain suaminya, namun Adelia memahami karena ini dalam keadaan gawat darurat. Mungkin Allah mengerti situasi tersebut. 


Perlahan Adelia berdiri dia berpegangan pada dinding lalu perlahan mengangkat kakinya langkah maju sedikit demi sedikit namun dia bisa sehingga tidak perlu lagi merepotkan orang lain untuk membawanya kembali ke tempat tidur.


Adelia mau buka pintu dia melihat Alvin yang tengah sedang berjongkok. Laki-laki itu menoleh kepadanya Adelia tersenyum canggung begitupun juga dengan Alvin. 


" Maaf tapi tolong jangan gandong saya kali biarkan saya berjalan sendiri saya bisa asal berpegangan dan pelan-pelan," ucap Adelia lembut bukan bermaksud menolak kebaikan hati Alvin namun ini masalah sentuhan fisik yang bukan muhrim sehingga dia harus menolak dengan tegas dan perusahaan untuk berjalan sendiri.


Alvin mengangguk mengerti dan kemudian dia mengikuti langkah Adelia pelan takut wanita itu tiba-tiba terjatuh dan dia bisa menangkapnya. Memang Alvin tidak bermaksud apa-apa dia hanya ingin membantu pasiennya saja.


" Bunda assalamualaikum," ucap kedua anaknya begitu bersemangat setelah bertemu dengannya…


" Waalaikumsalam, eh kalian sudah datang sini peluk Bunda benar kangen sekali." 


Najwa dan Fatih langsung berlari berhambur memeluk Adelia keduanya juga begitu sangat merindukan sosok ibunya. 


" Bunda udah sembuh?" Tanya Najwa.


" Iya nak hari ini Bunda sudah diperbolehkan untuk pulang," jawabnya sambil membelai rambut panjang anaknya.

__ADS_1


Mama minta tersenyum lalu dia duduk di kursi tepat di samping Adelia sambil menyodorkan makanan yang mereka bawa dari rumah.


" Makanlah Najwa tadi membantu saya membikin kue ini," ucapnya sambil menyodorkan kue yang tadi pagi dia bikin bersama Najwa yang membantu.


" Wah Najwa pintar sekali," pujinya pada Nazwa.


" Terima kasih, Nyonya. Apa anak-anak merepotkan hari ini?" Tanyanya.


" Tidak tidak sama sekali justru saya senang, "jawab mamah minta jujur. 


"Syukurlah kalau begitu saya takut jika anak-anak begitu merepotkan bunyinya di rumah, "ucap Adelia. 


" Sama sekali tidak tapi ngomong-ngomong ke mana kalian akan pulang?" Tentu Mama minta sudah mengetahui jika dilihat tidak ada tempat untuk pulang..


" Belum tahu Nyonya tapi setelah keluar dari rumah sakit ini saya langsung segera mencari kontrakan," jawabnya.


Mau tidak mau Adelia harus mengontrak toh dia tidak ada lagi rumah untuk mereka tempati. Untunglah dia masih ada uang simpanan sedikit yang sudah di bawa oleh Bude Ayu di dalam tabungannya saat Budi Ayu membawa barang-barang anak-anak saat itu.


Mama minta terlihat sangat sedih sekali karena dirinya akan berpisah dengan Najwa dan juga Fatih padahal dia sudah sangat dekat sekali bahkan rasa sayangnya sudah tumbuh seakan mereka adalah cucu kandungnya sendiri.


" Bagaimana kalau kamu tinggal saja di rumah saya di tempat saya jauh lebih aman dan anak-anak sudah sangat betah di rumah," ucap mamah minta dia tidak ingin berpisah dengan Najwa dan juga Fatih sehingga memberi usul jika Adelia tinggal saja di rumahnya dengan begitu dirinya tidak akan berpisah dengan anak-anak.

__ADS_1


__ADS_2