
Siang itu, anak-anak merasa sangat bosan sekali lantaran tidak bisa bermain di luar rumah seperti dahulu dimana tempat mereka banyak anak-anak tentangga dan mereka di perbolehkan keluar rumah asal tidak terlalu jauh saja. Namun sekarang mereka bagaikan terkurung dalam sangkar, meski ada banyak mainan mereka punya, tetap saja rasa bosan itu ada.
Nazwa dan Fatih duduk melamun dengan kepala bersandar di kepala sofa, sambil memandangi taman dekat kolam renang keduanya nampak terlihat murung sekali, bermain hanya berdua saja tentu tidaklah menyenangkan apalagi mereka adalah kakak adik dan lebih tepatnya tidak seumuran sehingga cara bermain mereka berbeda.
Nazwa bermain boneka Barbie, masak-masak. Sementara Fatih mobil -mobilan, tembakan dan mainan lainnya sehingga cara bermain mereka tidak sejalan dan lebih banyak bermain sendiri-sendiri saja. Tentu sangatlah membosankan bagi mereka.
" Bosan," keluh Nazwa, dia memangku kepala dengan tangan.
" Main tembakan yuk!" Ajak Fatih.
" Nggak ah, gak seru kan kakak perempuan. Masa main tembakan," tolaknya, pernah mencoba tetapi karena dia gak terlalu bisa memainkan perannya sehingga membuat Fatih menangis karena Nazwa tidak bersemangat saat menembaki musuh yang tak lain adalah bonekanya.
" Terus main apa dong?" Tanyanya, dia juga sangat merasa bosan sampai-sampai semua mainan mereka keluarkan dari box. Nazwa hanya menaikan kedua bahunya, dia sendiri saja merasa bosan.
Di saat bersamaan, Alvin baru saja mengerjakan pekerjaan rumahnya, dia melihat di arah luar taman dimana kedua anak tersebut begitu terlihat sangat murung sekali. Segera Alvin langsung menghampiri.
__ADS_1
" Hey, kalian kenapa? Kok wajahnya di tekuk gitu?" Alvin berjongkok menatap kedua wajah anak-anak tersebut. Kemudian dia melihat semua mainan berserakan dimana-mana.
" Bosen, Om. Bingung mau main apalagi," jawab Nazwa dengan nada malasnya.
" Fatih juga bosan." Fatih ikutan menjawab tetapi tangan dan mata fokus pada mobilan kesayangannya.
Alvin tersenyum lalu dia mengambil boneka Barbie lalu mengambil mainan tirek. Alvin memainkan keduanya hingga Nazwa dan Fatih memandang arahnya.
" Kyaaa, tolong ada tirex …" Ujar Alvin memperagakan suara layaknya seorang perempuan dengan menggerakkan boneka Barbie tersebut di tangan kirinya.
" Jangan khawatir Nona, saya akan membantu anda …" Alvin ambillah mainan superman setelah dia meletakan tirex di tempat lain, lalu mengangkat superman tersebut supaya terlihat sedang terbang.
" Woss, wos … syuuuut …" Entah suara apa dia buat, tetapi sesuai imajinasi nya jika bunyi tersebut adalah bunyi suara angin saat Superman tersebut sedang terbang dan mendarat.
" Hey T Rex, berani sekali kau mengganggu Nona yang cantik ini. Dia adalah pacar ku." Spontan Nazwa langsung tersenyum malu, sementara Fatih fokus pada Superman nya.
__ADS_1
" Aku akan memusnahkan mu, bersiaplah. Kame … kame … kameha aaa …" Alvin mengerjakan mainan superman itu seolah sedang mengeluarkan kekuatannya.
Nazwa otomatis langsung mengambil alih T Rex dan membuat T Rex tersebut terpelanting jauh.
" Waaarrrr, …" ujar Nazwa kemudian…
" Yeee T Rex nya mati, Superman menang, hore," sorak Fatih kesenangan.
Keduanya yang tadinya merasa sangat bosan kini aku merasa kebosanan itu seketika langsung hilang sejak adanya Alvin dan bermain bersama mereka.
Ketiga begitu asik sekali sehingga tanpa sadar jika ada dua orang wanita tengah melihat keseruan mereka. Siapa lagi jika bukan mama Mita dan juga Adelia. Mereka tersenyum kalau Alvin dan juga Fatih bersorak hore setelah mengalahkan musuhnya yang diperankan oleh Najwa Fatih memeluk Alvin dari belakang, mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu dan membuat Alvin langsung berdiri kemudian menggendong Fatih ke sana kemari berlarian kecil hingga membuat anak tersebut begitu sangat bahagia tertawa lepas seperti rasa bosan itu bener-bener hilang sepenuhnya.
" Mereka sama seperti ayah dan anak, seru sekali melihatnya. anak-anak seusia mereka pasti sangat membutuhkan sosok seorang ayah," ujar Mama Mita.
Adelia terus memperhatikan ketiganya yang sedang asyik bermain tersebut, wajah bahagia mereka begitu terlihat jelas berbeda sekali saat di mana mereka nampak terlihat murung setelah kepergian sosok ayah mereka. Mungkin bagi dirinya sosok seorang suami tidaklah begitu penting namun bagi anak-anak sosok seorang ayah sangatlah penting untuk mereka karena peran seorang ayah sangat dibutuhkan sekali untuk masa pertumbuhan dan juga cinta kasih sayang.
__ADS_1