
Adelia Adele setelah pulang dari mengantar kedua anaknya dia melihat keadaan warung yang lumayan cukup ramai sehingga Mbak Asih agak kewalahan melayani para pelanggan. Dengan langkah cepat Adelia pun langsung membantu Mbak Asih.
" Maaf ya Mbak agak lama," sesal Adelia.
" Iya Mbak nggak apa-apa lagian para pelanggan mau sabar kok menunggu. Iya kan Pak?" Kata mbak Asih saat menghantarkan sepiring nasi uduk kepada salah satu pelanggan yang di sana.
" Iya Mbak Asih apalagi Mbak Adele nya sudah datang semakin enak menyantap sarapan apalagi pemandangannya sangat cantik," jawabnya seraya tertawa dia kemudian dia menyantap sarapannya dengan lahap.
Di RT 1, 2 dan 3 hampir seluruhnya mengetahui jika Adelia adalah seorang janda beranak dua yang ditinggal mati oleh suaminya sejak 3 bulan yang lalu. Apalagi melihat janda muda beranak dua tersebut sangat cantik dan bodinya bahenol, sungguh membuat para mata laki-laki tak ingin berhenti untuk memandangnya dan banyak yang mencari perhatian dari si janda tersebut. Buktinya tadi beberapa saat yang lalu sebelum Adelia mengantar kedua anaknya ke sekolah, bapak-bapak yang kebanyakan datang untuk menikmati sarapan mereka sambil mengobrol bahkan tak segan-segan untuk menggoda Adelia padahal mereka sendiri sudah memiliki anak dan istri di rumah. Akan tetapi Adelia tak pernah untuk menanggapinya karena dia berpikir itu hanyalah gurauan semata, dia pun hanya menanggapinya dengan senyuman saja.
" Baru buka warung nya sudah rami ya Mbak Adel!" Kata salah satu ibu-ibu yang baru saja mampir di warung Adelia terlihat di kendaraannya begitu banyak sayur-sayuran dan sudah dipastikan jika ibu-ibu tersebut baru saja pulang dari pasar.
" Alhamdulillah bu rezekinya anak-anak," jawab Adelia singkat.
Si ibu itu melihat hidangan yang tersusun rapi di etalase dengan teliti dia memandangnya satu persatu bahkan dari sudut kiri hingga ke sudut kanan entah apa yang dia cari. Setelah puas memandangi keseluruhan warung tersebut barulah ibu itu duduk dan melihat kiri dan kanan para laki-laki tua maupun muda sedang asyik menikmati sarapan mereka ada yang minum kopi bersama gorengan ada jual yang lahap memakan bubur dan juga nasi uduk mereka si ibu itu melihatnya dengan ekspresi sulit ditebak entahlah apa yang ada dalam pikirannya Adelia pun tidak ingin diambil pusing lebih baik dia membereskan sisa piring-piring kotor yang berserakan di belakang.
" Tolong dong nasi uduknya sepiring saya mau nyobain seenak apa sih makanannya sampai -sampai serane ini, bahkan restoran bintang 5 pun bakalan kalah saing deh kayaknya," katanya seakan mengejek dan meragukan masakan Adelia.
__ADS_1
" Duh Bu Darmi ini berlebihan, masakan saya itu biasa aja kok. Ya mungkin rame karena penasaran pengen nyobain, kan awal baru buka. Jika ramai sampai seterusnya berarti memang rezekinya anak-anak," sahut Adelia santai sambil mengambilkan pesanan bu Darmi.
" Ya mudahan rame terus deh, kasihan juga anak-anak kamu nantinya," katanya lalu memakan makanan tersebut.
" Ck, si lambe. Pasti sengaja deh datang kesini buat bahan gosipnya nanti," gumam mbak Asih yang sudah mengetahui sifat bu Darmi tersebut.
" Suuuut …" Adelia memukul pelan-tangan Mbak Asih untuk diam karena tidak baik berkata seperti itu apalagi sampai didengar oleh Bu Darmi. Makasih pun langsung diam kemudian dia mencari kesibukan seperti mencuci piring.
" Ini tutup sampai jam berapa Mbak Adel?" Tanya salah satu bapak-bapak yang sudah selesai sarapan dan tinggal membayar lagi.
" Untuk sarapan buka dari jam 06.00 pagi sampai jam 10.00 aja Pak kemudian tutup dan buka kembali jam 03.00 sore sampai jam 09.00 malam tapi nanti berbeda menu. Jam 03.00 sore sampai malam menunya pecel ayam, pecel lele, nasi goreng dan mie goreng. Insya Allah," jawab Adelia mantap.
Laki-laki itu yang sekitar umur kurang lebih 40 tahun dengan tulus memberikan kembalian yang senilai rp5.000 untuk diberikan kepada kedua anaknya Adelia.
" Terima kasih banyak Pak, tapi mohon maaf. Tolong di simpan saja kembaliannya," tolak Adelia secara halus, walaupun tahu jika anaknya adalah seorang yatim dan sangat dikasihani tetapi Adelia merasa masih sanggup untuk memberikan kehidupan yang layak sehingga dia dengan halus menolak pemberian dari orang. Karena Adelia berpikir masih banyak anak-anak yatim dan piatu atau fakir miskin yang lebih membutuhkan daripada anak-anaknya. Terkesan sombong memang, tetapi inilah prinsip Adelia.
" Udah nggak apa -apa, memang gak banyak tapi saya ikhlas kok," ujarnya lalu bapak tersebut tak mengambil uang kembalian tadi dan malah pergi ke motornya.
__ADS_1
" Maaf ya sekali lagi, jika memang niat ingin bersedekah bagaimana jika uang ini saya masukan saja ke kotak amal?" Ucap Adelia mengejar bapak tadi dan memberikan usul untuk memberikan uang tersebut ke kotak amal yang sudah dia sediakan untuk nantinya dia serahkan ke masjid atau tempat yang lebih membutuhkan.
" Baiklah terserah kamu saja," katanya lalu menjalankan motornya, sementara Adelia bergegas memasukkan uang tersebut ke kotak amal dan kembali membersihkan piring kotor lalu mengelap meja.
" Kenapa gak di ambil saja Mbak Adel, kan lumayan loh satu orang lima ribu, kalau sepuluh orang? Lumayan tuh," ucap bu Darmi yang sedari tadi terus memperhatikan.
Adelia tersenyum sambil menggeleng." Selagi saya masih mampu mencari uang untuk kedua anak-anak saya. Insyaallah Allah akan memberikan rezeki yang lebih halal. Karena lebih baik tangan di atas ketimbang tangan yang di bawah," jawab Adelia santai.
" Tapi kan orang mau sedekah sama anak-anak kamu, gak baik lok menolak rezeki. Kesannya sombong," sahutnya mulai ketus.
" Apa yang sombong Bu Darmi?" Tiba -tiba seorang wanita yang menyahut ucapan benar.
" Eh Bu Ela sini mari duduk," ajak Bu Darmi kemudian Bu Ela pun duduk.
" Ini lho Bu Ela tadi ada bapak entah siapa lah itu nggak kenal. Dia memberi uang lima ribu sisa kembalian dari sini untuk kedua anak mbak Adel. Tapi malah di tolak sama mbak Adel, kan kurang sopan kesannya nggak menghargai orang yang mau bersedekah," ceritanya pada bu Ela.
" Bukan tidak menghargai Bu Darmi, tetapi sayang bermaksud menolak karena alangkah baiknya diberikan pada yang lebih membutuhkan jika berniat ingin bersedekah seperti kotak amal disana, nanti uangnya akan saya serahkan kepada masjid yang sangat membutuhkan sumbangan," sahut Adelia cepat.
__ADS_1
" Duh Bu Darmi ini ada-ada saja, kirain tadi tuh ada apa. Kan Mbak Adel tidak membutuhkan belas kasihan karena duitnya masih banyak, kan masih ada asuransi uang santunan dari almarhum suaminya, gimana sih?" Kata bu Ela sambil mengedipkan sebelah matanya pada bu Darmi.
" Oh iya, lupa. Pantesan di tolak duh bodohnya aku." Bu Darmi menepuk keningnya. Adelia hanya menghela nafasnya saja sambil geleng-geleng kepala kemudian pergi untuk menggoreng gorengan kembali dari pada harus mendengarkan omongan dua ibu -ibu itu.