
Hari ini cuaca diperkirakan cerah sehingga sangat mendukung untuk memulai membuka usaha tersebut, dan pagi-pagi buta sekali Adelia sudah menyiapkan diri seperti menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya berangkat sekolah, menyiapkan keperluan sekolah dan membersihkan rumah dan tentu terutama untuk menyiapkan usahanya yang akan dimulai dibuka pagi hari ini.
" Wah sarapan pagi ini mau sekali Bunda terlihat bersemangat?" Kata Najwa setelah melihat hidangan di meja makan yang cukup istimewa menurutnya karena tak biasanya bundanya tersebut memasak banyak.
" Iya dong hari ini bunda harus semangat, kan mau buka usaha. Doain ya semoga usahanya Bunda lancar dan laris manis." Memberikan sarapan kepada Najwa yang sudah duduk manis di kursi dan sudah memakai seragam sekolahnya.
" Amin …" ucap Nazwa tulus.
" Bunda hari ini Atih nggak sekolah ya," rengek Fatih.
" Lho emangnya kenapa, hem?" Adelia berjongkok menatap anaknya tersebut yang tiba-tiba tidak ingin berangkat ke sekolah.
" Atih mau ikut bunda, Atih mau bantuin Bunda," ucapnya dengan nada lirih dan pelan dengan wajah yang tertunduk.
Adelia tersenyum lalu mengusap pucuk rambut anaknya dengan sayang. Dia sangat terharu karena Patih mau membantu dirinya sungguh anak yang berbakti padahal usianya masih 3 tahun.
" Tapi kalau Patih bantuin bunda, terus yang sekolah siapa dong? Fatih nggak mau kan bolos sekolah. Katanya mau jadi anak pintar supaya bisa jadi kayak ayah. Kalau bolos sekolah terus gimana dong sama cita-citanya," kata Adelia lembut mengingat jika keinginan Fatih ingin menjadi seperti sosok ayahnya.
"Tapi nanti yang bantuin Bunda siapa?" Fatih tak tega melihat bundanya yang bekerja keras, padahal usianya masih sangat belia tetapi jalan pikirannya seperti orang yang sudah cukup umur saja.
" Kan kita bisa bantuin Bunda setelah pulang sekolah, Bunda kan tutupnya malam," sahut Najwa menimpali di sela-sela sarapan paginya yang lahap sekali.
" Gimana masih mau tetap bolos sekolah, atau bantuin Bunda setelah pulang sekolah nanti." Adelia memberi pilihan, dia sendiri juga tidak ingin memaksa anaknya untuk pergi ke sekolah jika bukan keinginan dari hati anak tersebut.
" Ya udah deh pulang sekolah nanti aja Atih bantuin Bunda." Jawabnya mengalah.
" Tuh pintarnya anak soleh nya Bunda." Adelia mengecup pipinya gemes." Yaudah yuk sarapan nanti telat berangkat ke sekolah."
Setelah usai sarapan pagi, Adelia membawa Fatih dan Najwa ke warungnya sebentar karena hari masih jam 06.00 pagi untuk berangkat ke sekolah tentu belum buka dan orang-orang pun pasti belum ada di sana sehingga Adelia bisa membuka warung makannya sebentar karena yakin pagi-pagi sekali bakalan ada yang mampir ke warungnya untuk sekedar minum kopi atau meminta sarapan pagi.
__ADS_1
Adelia menyiapkan masakan untuk sarapan pagi ini seperti bubur ayam, nasi uduk beserta lauknya dan gorengan seperti bakwan, tahu bunting, pisang goreng dan singkong goreng yang akan dimasak di warung tersebut sementara nasi uduk dan bubur ayam sudah dia masak sendiri di rumah saat pagi-pagi sekali tadi.
" Assalamualaikum Mbak Asih, udah lama nungguin ya maaf ya sedikit terlambat," sesal Adelia karena melihat mbak Asih yang sudah menunggu kedatangan dirinya.
" Nggak apa-apa Mbak toh belum lama juga kok saya menunggu. Tapi anak-anak kok ngikut Mbak?" Mbak Asih melihat Nazwa dan Fatih.
" Iya mbak daripada saya tinggal di rumah kasihan nggak ada siapa-siapa toh 07.30 nanti mereka ke sekolah jadi mending saja saya bawa ke sini aja, habis itu baru deh langsung dibawa ke sekolahan. Biar gak bolak-balik," jawab Adelia, Mbak Asih mengangguk mengerti.
" Wah ini bubur ayam sama sudutnya langsung disusun aja ya mbak?" Tanya mbak Asih melihat satu panji berukuran sedang di dalam panci dan magic com yang berisi nasi uduk beserta lauk pauknya yang sudah ada di meja tertata rapi. Adelia sudah mengantar semuanya lebih dulu sebelum sarapan pagi bersama Nazwa dan Fatih tadi supaya tidak terlalu repot menggunakan sepeda motor dengan cara membawanya bergantian atau bolak-balik.
" Iya, tolong ya. Saya mau menyiapkan untuk menggoreng gorengan." Keduanya nampak sibuk. Sementara Nazwa dan Fatih duduk anteng di kursi sambil melihat hp menonton film kartun kesukaan mereka tanpa mengganggu.
" Assalamualaikum, apa sudah di buka?" Tanya seorang pemuda.
" Waalaikumsalam sudah Mas mari silakan duduk," jawab mbak Asih semangat, dia bergegas mencuci tangan lalu menghampiri pemuda tersebut.
" Ayo silahkan pilih mau sarapan apa? Ada nasi uduk beserta lauknya yang banyak sekali pilihan tinggal pilih mau yang mana. Ada juga bubur ayam atau hanya mau sekedar minum kopi, teh hangat atau susu beserta gorengan yo silahkan. Monggo mau yang mana asal jangan pilih saya aja ya, saya sudah ada yang punya hihihi."
" Si Mbak bisa aja, saya mau nasi uduk sama lauk nya yang murah meriah saja. Apa ada, maklum lagi tanggal tua," kata si pemuda tersebut, dilihat dengan berpakaiannya dia terlihat karyawan yang bekerja di minimarket karena tanggal gajian biasanya tanggal muda jadi wajar saja jika di tanggal tua seperti sekarang ini sedang mode hemat, maklum anak rantau.
" Oh tentu ada, cukup nasi uduk dengan tempe orek dan oseng bihun beserta satu gorengan bakwan cuma harga lima ribuan saja, gimana mau ndak?" Kata mbak Asih.
" Boleh Mbak yang penting kenyang, hehehe." Pemuda tersebut bersyukur setidaknya ada makanan harga murah meriah sangat cocok untuk isi dompetnya sekarang ini.
" Minuman nya apa Mas?" Tawar mbak Asih.
" Teh anget saja mbak, tapi yang manis ya. Jangan pahit," jawabnya.
" Kalau pahit jangan lihat saya Mas, tapi liat si janda kembang yang itu tu …" Mbak Asih menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
" Oh janda," gumam pemuda itu lalu melihat ada dua anak tak jauh di seberang nya.
" Mungkin anak-anaknya." Pikirnya dalam hati melihat kedua anaknya tersebut sangat cantik dan ganteng pasti anak si janda karena kecantikannya.
" Silahkan dimakan dan diminum ya." Mbak Asih memberikan sepiring nasi uduk tak lupa dengan teh hangat nya.
" Terima kasih." Pemuda tersebut langsung saja memakannya dengan lahap.
" Mas ini tinggal di mana?" Tanya mbak Asih basa basi, dari pada sunyi pikirannya.
" Di rt 5 Mbak."
" Oh pantesan gak pernah melihat, Mas kerja di depan?"
Pemuda tersebut hanya mengangguk saja.
Tak lama kemudian ada dua bapak-bapak mampir.
" Wah sudah buka ya Mbak Adel," katanya seraya duduk kemudian tangannya langsung mencomot satu bakwan dan memakannya.
" Alhamdulillah Pak rt," jawab singkat Adelia sembari terus menggoreng gorengan nya.
" Tolong buatkan saya kopi dong Mbak Adel," pintanya.
" Kopi apa Pak rt?" Sahut mbak Asih.
" Kopi hitam saja, tapi saya mau yang bikin kopinya Mbak Adelia saja ya, saya pengen merasakan." Pintanya, Adelia dan mbak Asih saling pandang tak mengerti.
" Merasakan apa loh Pak RT?" Tanya temannya.
__ADS_1
" Merasakan kopi bikinan Mbak Adelia yang cantik pasti rasanya enak dan manis," jawabnya seraya tertawa bercanda temannya pun ikutan tertawa. sementara Adelia hanya tersenyum tipis saja dan langsung membuat kopi untuk keduanya karena temannya pak rt pun memesan minuman yang sama.