
Tanpa terasa sudah hampir setengah tahun Adelia dan kedua anaknya tinggal dikediaman mama Mita. Adelia bekerja begitu sangat telaten, dia juga tidak ingin hanya numpang gratis dan makam gratis. Tentu bayaran nya dengan tenaga yang dia punya walaupun sebenarnya Adelia bekerja di gaji juga. Tetapi tetap saja rasanya tidak sesuai dengan atas kebaikan keluarga yang mau menampung dirinya dan juga kedua anaknya tersebut.
" Mas Alvin mau sarapan dulu?" Tanya Adelia, dia sudah tidak canggung lagi sekarang pada Alvin. Bahkan kedekatan keduanya semakin lengket.
" Om Alvin sarapan bareng kita, ayok!" Ajak Nazwa. Sambil menarik tangan Alvin dan membawanya ke meja makan.
" Fatih mau makan juga, nanti Om suapin Fatih ya." Tentu anak laki-laki tersebut tidak mau kalah, dia bahkan mendorong belakang kaki Alvin supaya berjalan cepat.
" Iya-iya, sini Om gendong. Duh makin berat saja kamu ini." Alvin langsung menggendong Fatih dan mereka bertiga berjalan bersama menuju meja makan.
Sementara Adelia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya yang setiap hari selalu mengganggu Alvin. Mereka terlihat sangat begitu dekat sekali layaknya keluarga.
" Fatih duduk yang bener, Om Alvin mau sarapan abis itu mau kerja. Nanti kalau suapin kamu bisa-bisa Om Alvin datang telat ke rumah sakitnya," tegur Adelia sambil mengambil sarapan untuk Fatih yang sekarang ini tengah duduk di pangkuan Alvin.
__ADS_1
" Nggak apa-apa Mbak, lagi pula sudah lama sekali saya tidak makan pagi bersama dengan kalian. Mungkin Fatih rindu," ujar Alvin. Memang selama seminggu ini dia sibuk terus dengan jadwalnya sehingga tidak ada waktu di rumah.
" Ya tapi kan jangan terlalu memanjakan mereka, Mas. Lihatlah kelakuannya. Aku takut malah mengganggu kamu," ujarnya merasa tidak enak.
Alvin tersenyum. " Tidak apa-apa, lagian aku seneng kok. Kan mereka anak-anak aku juga."
Deg … darah seakan mengalir cepat, jantung seakan berhenti berdetak. Adelia menjadi salah tingkah, wajahnya sedikit memerah. Entah kenapa kata-kata tersebut membuat hatinya bergetar, padahal dia sendiri sudah tahu jika Alvin memang sudah menganggap anak-anaknya itu adalah anak Alvin sendiri.
" Bunda, Nazwa mau roti aja."
" Ah, i-iya." Sungguh sangat gugup sekali. Bahkan saat hendak mengambil selai strawberry sendok nya sampai jatuh saking groginya karena berada di dekat Alvin.
" Aku mau juga ya," pinta Alvin. Semakin tak karuan saja hati dan jantungnya sekarang ini apalagi nadanya begitu sangat lembut. Adelia mengangguk lalu dia menggelengkan selai ke roti.
__ADS_1
" Ini, Mas. " Adelia mendekatkan piring di hadapan Alvin kemudian dia kembali duduk tak jauh dari laki-laki itu.
" Boleh minta tolong suapin gak?" Ujar Alvin tiba-tiba.
" Hah …" Tentu saja kaget, Adelia membulatkan kedua matanya. Apa tidak salah dengar pikir Adelia.
" Lihatlah kedua tangan aku penuh, terus gimana aku mau memakan nya? Sementara tanganku yang kiri memegang piring dan yang kanan menyuapi Fatih," ujar Alvin santai.
Adelia kebingungan, dia tidak tahu harus bagaimana. Masa iya dia menyuapi laki-laki yang bukan suaminya. Tetapi apa yang di ucapkan Alvin benar juga karena tangannya penuh dan sibuk menyuapi Fatih makan sementara dirinya sendiri belum makan dan jam semakin berjalan takutnya telat pergi ke rumah sakit Adelia pun terpaksa menyuapi Alvin roti dengan tangan yang sedikit gemetar, dan detak jantung semakin bergetar hebat.
" Bunda sama Om Alvin kayak suami istri," ledek Nazwa sambil tertawa di sela-sela sarapan nya.
" Tapi Nazwa mau kan?"
__ADS_1