
Pinggangku terasa ngilu. rupanya isteriku yang menendang pinggangku. Aku mengejap-ngejapkan mataku, melihat sekelilingku. Ternyata aku masih berada di atas tempat tidurku. Ditepian tempat tidur, hampir terjatuh. Mungkin kalau dia menendangku lebih keras lagi, baru aku benar-benar terjatuh.
"Kunti-mu datang lagi itu loh! Masuk lagi ke kamu. Tertawamu keras sekali, nanti kalau anak-anak bangun bagaimana? Atau malah sampai terdengar oleh tetangga, bisa malu tahu!?".
"Memang aku kenapa?", tanyaku pada tersayangku.
"Tertawamu itu loh, seram sekali. Dan keras! Mimpi apa sih??", jawab sekaligus tanya isteriku sambil melotot.
"Ndak mimpi apa-apa.", jawabku datar.
"Ya sudah, suruh pergi saja. Ganggu orang tidur aja!", lanjut isteriku.
Tanpa menjawab komentarnya, akupun kembali memejamkan mata, melanjutkan tidurku yang terganggu.
...
Mataku kembali terbuka. Aku sekarang ada di dalam sebuah ruangan. Sepertinya ruang tamu. Banyak perabot yang bagus-bagus di sini. Sofa dan kursi kayu, hiasan-hiasan. Bagus-bagus semua.
Tersadar aku dari lamunanku karena sentakan di tanganku. Ternyata disebelahku ada seorang pria yang menggandeng tanganku.
"Ayo, kita harus cepat bersembunyi!", pria itu berkata setengah berteriak dengan panik.
Aku jadi kebingungan, ada apa ini sebenarnya? Ingin aku bertanya sesuatu kepadanya. Tapi ucapan yang keluar dari bibirku hanyalah suara seorang wanita yang gelagapan.
"Tunggu dulu!", suara wanita? Aku menunduk. Aku melihat diriku mengenakan semacam pakaian wanita.
Terusan, seperti daster. Atau apalah, aku tidak begitu paham jenis-jenis pakaian wanita.
Pokoknya aku sedang mengenakan pakaian perempuan.
Dengan sedikit nakal, aku melirik ke arah dadaku sendiri. Tidak seperti yang aku duga, aku malah jadi pusing. Kepalaku jadi pusing.
"Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin aku jadi seroang perempuan?"
"Apalagi ini?"
"Dimana lagi aku?"
Tanpa ada kesempatan buatku untuk menganalisa kejadian-kejadian ini, tubuhku atau tanganku makin ditarik oleh pria tadi. Eksperesi wajahnya yang penuh ketakutan dan rasa panik membuatku juga ikut merasa panik bercampur bingung.
Kami berdua berlari-lari. Seperti orang gila. Berlari-lari mengelilingi ruangan. Jika sewaktu aku kecil, saat bermain petak umpet, akupun berlari-lari kesana kemari mencari-cari tempat bersembunyi, tapi dengan riang gembira.
Saat ini, rasa itu berbalik seratus delapan puluh derajat, dan berlipat-lipat. Kami berdua berlari-lari kesana-kemari, dengan penuh kepanikan dan ketakutan.
"Bersembunyi dimana? Sembunyi dimana?", aku bertanya.
Dia membuka lemari perabot atau mungkin itu lemari hias?
Hampir marah aku dibuatnya. Bagaimana mungkin kita bersembunyi di dalam lemari itu? Memangnya kita bisa dilipat-lipat dan menyempil di sana!
__ADS_1
"Di kamar!!", sahutnya dengan keras. Tanganku kembali diseretnya. Untuk dapat menyamai jalannya yang setengah berlari, terantuk-antuk kakiku jadinya.
Kamipun berlari memasuki sebuah kamar tidur. Pria di sampingku sempat terdiam sejenak. Dia memandang lurus ke arah jendela kamar. atau mungkin sebenarnya dia memandang keluar melalui jendela kamar itu.
"Waktunya sebentar lagi. waktunya sebentar lagi.. kita harus cepat bersembunyi."
Sempat aku ingin bertanya; "Kenapa kita tidak lari saja ke luar dari rumah ini? Tinggalkan tempat ini?".
Belum sempat ucapanku keluar dari mulutku, pria itu berkata lagi; "Dia sudah datang.. Dia sudah datang.. Duh, terlambatlah kita.. Dia sudah datang.!".
Tanpa aku sadari, kamipun sudah sampai di tepi jendela kamar. Sama-sama kami melihat keluar melalui jendela kamar itu.
Seharusnya malam ini terang bulan. Tetapi awan tebal sepertinya enggan melepaskan pelukannya dari sang rembulan. Dan entah mengapa, perasaanku berkata bawah itu bukanlah mendung.
"Duh, kenapa aku jadi mellow begini? Kalau aku benar-benar panik, untuk apa aku memikirkan terang bulan, awan, dan ***** bengek mengenai suasana malam ini?? Yang terpenting seharusnya adalah bagaimana menyelamatkan diri sendiri!"
"Itu dia di sana!", tunjuk pria disampingku. Dia menunjuk sebuah pohon yang rindang, tidak begitu jauh di luar rumah. Aku mencoba ikut melihat, tapi kenyataannya aku tidak bisa melihat apa-apa, selain sebuah pohon yang rindang. Sepertinya sebuah pohon mangga.
"Bagaimana dia bisa tahu, kalau mahkluk itu sudah datang?", aku bertanya-tanya dalam hati. Sedikit banyak aku mulai mengerti apa yang sedang terjadi pada diriku. Sedikit banyak aku sudah mulai bisa merangkai kejadian-kejadian yang baru saja aku lalui.
"Ayo, kamu sembunyi saja di dalam lemari ini!", sahut pria itu dengan keras. Sekonyong-konyong tanganku ditariknya, dan aku di dorong ke dalam sebual almari pakaian. Baju-baju yang tergantung di dalam lemari itu sebagian dilemparnya ke luar. Sebagian jatuh ke tempat tidur.
"Ini hanya cukup untuk satu orang. Mas mau sembunyi dimana?", teriakku bertanya dalam suara wanita.
"TOLOL!!! Kenapa pula aku harus mengeluarkan pertanyaan itu? Ini bukan kejadianku. Ini bukan hidupku. Harusnya aku menyelamatkan hidupku sendiri.
Biar saja dia mencari jalan untuk bersembunyi bagi dirinya sendiri.". Aku sudah mulai bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya, dan itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Aku ditariknya ke kolong tempat tidur. Kami berdua bersembunyi di dalam kolong tempat tidur
"What the hell!!! Kamu ini jangan-jangan laki-laki paling tolol yang ada di dunia ini! Sembunyi di bawah tempat tidur sama dengan tidak bersembunyi sama sekali, GOBLOK!!!!!!"..
Aku mencoba menatap wajahnya di dalam gelapnya tempat kami bersembunyi. Seakan-akan dia bisa membaca pikiranku, didorongnya aku keluar dari kolong tempat tidur. Dan kamipun bersama-sama bangkit keluar dari bawah tempat tidur.
Bersamaan dengan itu, sebuah bayangan berputar-putar mengelilingi kami berdua.
Suasana menjadi semakin dingin.. semakin dingin.. semakin dingin.. Gelapnya malam di luar, seakan-akan terkalahkan oleh kegelapan yang makin menyelubungin seluruh ruang-ruang di dalam rumah ini.
"Hihihihihiiiii.. Hihihihihiiiiii.. Hihihihihihiiiiiii.."
Kami menjadi semakin panik. Sekarang AKU BENAR-BENAR TAKUT DAN PANIK!!!
"Kejadian berulang, tapi aku menjadi dua tokoh yang berbeda. Ini seperti dejavu, tapi aku mengalami kejadian dari dua orang yang berbeda. Ada apa ini????"
Terseret-seret aku mengikuti pria itu berlari ke luar dari tempat tidur ini. Banyangan itu tetap mengejar kami. Sepertinya dia benar-benar tak ingin melepaskan kami berdua.
Di ruang tamu ini, kami berdua berdiri mematung melihat banyangan itu di sudut langit-langit rumah.
Terhenyak aku melihat wajahnya. Lututku menjadi gemetar. Berdiriku makin susah..
__ADS_1
"Seram sekali.. mengerikan sekali.."..
Dia kembali melayang, menyerbu, menyerang kami. Kami kembali berlari-lari. Seperti anak kecil. Berlari tak tentu arah. Hanya mencoba berputar-putar mengitari ruang tamu ini.
"Tolong!!!!!.. Tolong!!!!!!.. Tolong!!!!!!..", Pria itu berteriak. Dia melepas genggaman tangannya pada tanganku. Dia mau meninggalkanku?
"Eaaaaaa.. Cemen sekali kau! Sekarang kau lepaskan aku. Akupun bisa berlari lebih kencang darimu tahu!!", Maki diriku dalam hati. Dan aku sekarang bisa menyusul larinya.
Mahkluk itu semakin dekat.. Tiba-tiba..
"CRAAAAASSSSSSSS!!!!"...
Pria itu roboh.. "Arrrgggghhhh.. errrrrgggggghhhhhh.. errrrggghhhhhhhhh.."..
Terdengar jelas suara erangannya. Seperti suara orang yang nyawanya mau putus karena lehernya kena tebasan senjata tajam.
Aku jadi semakin ketakukan.. dan aku terus berlari panik dan makin tak tentu arah.
"AMPUNNNNN!!!!!!.. AMPUNNNNNN!!!!!!!... BUKAN SALAHKU!!!.. BUKAN AKU... TOLONG!!!!!! TOLOOOOOONGGGGG!!!!!!".
Tiba-tiba pundakku terasa pedih.. nyeri dan perih...
Leherku seperti dicengkram tangan yang besar... semakin lama cengkraman itu semakin kuat.. pandanganku semakin gelap...
"Kkkkkaaaaarrrgggghhhh.. kkkkeeeerrrrrgggggghhhhhh.. kkkkkerrrrggghhhhhhhhh.."..
Tapi aku terus berusaha berlari.. Pandanganku menjadi gelap gulita.. Kakiku seperti tarantuk sesuatu dengan keras..
Dan Aku roboh...
"Sudahkan aku mati?"
...
"Kamu itu loh!!", bentak isteriku.
"Sudah aku katakan, kalau kunti-mu itu mengganggu!",
"Sekarang malah teriak-teriak melolong-lolong, seperti anjing saja.", sahut isteriku marah.
Aku masih mengerjap-ngerjapkan mata dan bingung menatap matanya. Dia kelihatannya serius ya?
Betis kakiku terasa pegal. Aku elus-elus kakiku.
"Kenapa? Iya, tadi aku yang tendang kakimu.", kata isteriku. Terjawab sudah penyebab biru di betis kananku.
"Kamu mimpi apa sih?", dia bertanya.
"Ndak mimpi apa-apa.", sahutku menjawab pelan.
__ADS_1
Isteriku kembali melanjutkan tidurnya.
Sedang aku. Aku duduk bersila di atas tempat tidur, sambil bersenandung