jangan baca sendirian

jangan baca sendirian
KUNTILANAK DIBELAKANG RUMAHKU


__ADS_3

Entah berapa jam Gw pingsan, Gw baru tersadar saat mendengar jeritan yang amat menyayat hati. Ya, suara jeritan itu adalah suara dari Dani yang sedang disiksa tanpa belas kasihan oleh bapak Gw dan Bu Yuni.


Gw ingin teriak, berlari menolong Dani tapi apa daya, tangan dan kaki Gw diikat dan mulut Gw dilakban. Suara jeritan Dani benar-benar sangat menyayat hati saat tangan kiri Dani dipotong menggunakan Kapak.


Bapak Gw : Silahkan teriakkkkkkkkk sekeras-kerasnya hahahahhaaahahhahhahaa... tak bakalan ada orang lain yang dengar teriakan kamu Gouuuublokkkkk..


Dani : Akkkhhh... tolongggggggg... (sambil merintih kesakitan).


Bapak Gw : Kalian tau ini dimana??? Ini diruanga bawah tanah Hahhahhhaaahhaa , loe-loe pada bakal Gw bunuh diruangan ini hahahaha.


Dani : Biadap kau.... bunuh aja gw sekalian..... Tapi lepaskan teman-teman Gw...


Bapak Gw : Ow... tidak bisaaaaa hahaaaha... kalian sudah ikut campur, berarti kalian harus matiiiiiiii..


Bapak Gw mengangkat kapakknya kembali dan mengayunkan ke tangan Dani yang sebelah kanan.


Teriakan kesakitan Dani semakin menjadi-jadi. Darah segar pun mengalir deras dari kedua tangan Dani. Dani yang sudah tak berdaya hanya bisa tergeletak lemas dilantai.


Bu Yuni datang menghampiri Adi sambil membawa besi panjang dan melepas lakban dimulut Adi. Tanpa basa-basi langsung mengayunkan besi panjang kekepala Adi.


Adi : Aaacckkkkkkkhhhhhh.. wanita biadapppppppp (sambil menahan sakit).


Mendengar ucapan kasar Adi membuat Bu Yuni tambah beringas, Bu Yuni kembali mengayunkan besi itu ke kepala Adi. Pukulan besi itu membuat Adi terkapar bersimbah Darah. Gw yang melihat kejadian mengerikan itu hanya bisa menangis dan berdoa semoga penyiksaan ini berhenti dan kami diselamatkan.


Melihat kondisi Dani yang sudah tak berdaya bukannya membuat kedua orang biadap itu kasihan, tapi malah semakin beringas. Bapak Gw datang menghampiri dari yang sudah tergeletak tak berdaya sambil memegang pisau, kemudian menggorok leher Dani dengan cara yang sangat keji.


Bapak Gw : Mammmpoosssss loeeee keparatttttt.. siapa suruh ikut campur urusan kami hahhahahaha.


Dani yang sudah tak berdaya tak bisa menjawab apa-apa, yang keluar dari mulut Dani hanya jeritan kesakitan. Dani terus menjerit hingga suaranya sudah tak terdengar lagi. Gw tak sanggup lagi melihat pemandangan mengerikan didepan mata Gw. Dani tewas dibunuh dengan cara yang biadap, leher Dani digorok hingga terputus.


Bapak Gw : Sekarang giliran kamu hahhahaahahahaa (sambil menunjukkan jarinya kearah Gw).


Saya : Sadarrrrr Pakkk!!!! Bapak benar-benar setannya manusiaaaaa!!!!! (Sambil teriak-teriak).


Bapak Gw : Kalian semua yang setannnnnn hahhahahahaha... kalian berani ikut campur urusan kami.. Kalian harus mati disini.


Bapak Gw berjalan menuju arah Gw sambil membawa pisau bekas menggorok leher Dani.


Bu Yuni : Tungguuuu duluuu sayanggggg (berkata ke bapak Gw).


Bu Yuni : Kita siksa mereka dengan cara lainnn hahahhahahaa. Bosan kalau digorok terus.


Bapak Gw : Cemerlang juga ide kamu sayanggggg (sambil mencium pipi Bu Yuni).


Bu Yuni : Kita lepaskan ikatan mereka dan telanjangi saja, lalu kita potong **** mereka hhahahahahaa..


Bapak Gw : Woooowwwwww... apapun keinginan kamu, bakal saya lakukan sayangggg hahahhahahaha.


Bapak Gw : tapi sebelum kita lepasin ikatannya, kita buat mereka tak berdaya terlebih dahulu ya sayanggggggg, biar mereka tidak bisa kabur hahhahaha.

__ADS_1


Tanpa basa basi lagi, bapak gw langsung memukuli Adi menggunakan besi hingga Adi tidak bergerak lagi. Apakah Adi sudah meninggal? (Gumam Gw dalam hati).


Setelah puas memukuli Adi, Bapak Gw langsung mendekati Gw dan tanpa basa-basi lagi melayangkan besi yang dipegangnya ke arah Gw.


Gw : Aaaaaaacckkkkkkkk (sambil menahan rasa sakit)


Bapak Gw : Rasaakannnn Ini!!!!


Entah berapa kali bapak Gw melayangkan besi ke kepala Gw hingga darah mengalir di kepala Gw, bahkan gw terkapar tak berdaya dilantai. Ingin rasanya Gw bangkit untuk melawan, namun apa daya, kaki dan tangan gw masih terikat.


Meski ikatan tangan dan kaki serta lakban dimulut Gw dilepas, namun Gw dan Adi tidak bisa berbuat apa-apa, tubuh kami serasa lemah sekali, tak ada tenaga maupun daya yang sanggup kami keluarkan untuk melawan.


Setelah dilepas, Tubuh Adi diseret oleh Bapak Gw. Bapak Gw menyeret Adi tanpa ada rasa kasihan, Rambut Adi dijambak dan ditarik secara paksa. Disisi lain, Gw melihat Bu Yuni menyiapkan Api dari kumpulan kayu-kayu yang dibakar. Entah apa yang akan mereka lakukan ke Adi.


Bu Yuni mengambil kayu yang sudah terbakar sebagian dengan api yang masih menyala-nyala dan langsung dibawa kehadapan Adi.


Bu Yuni : Rasakaannnn kematian yang menyakitkan ini anak muda hahhhahahahahaha.


Adi : Aammm.. aaammppunnn Bu.. Ampunnnnnnnnn... kami tidak akan lagi-lagi ikut campur urusan kalian...(Sambil mengiba)


Bu Yuni : Sudah terlambattt!!!!!!! (Sambil membentak).


Saat Bu Yuni hendak membakar kaki Adi tiba-tiba listrik padam. Suasana pun menjadi cukup gelap karena hanya ada penerangan dari api dari kayu-kayu yang dibakar. Saat Bu Yuni dan Bapak Gw sedang panik, tiba-tiba terdengar suara cekikikan. Suara itu sangat jelas terdengar dan suara itupun tidak asing lagi bagi kami.


Ya, suara cekikikan itu adalah suara Yanti.


Bapak Gw : Pergiiiii kauuu setannm keparattttttt..... (sambil berkeliling mencari sumber suara).


Gw mencoba berdiri dan berjalan dengan sisa-sisa tenaga yang masih Gw punyai. Gw menghampiri Adi yang terlihat masih tergeletak lemas di lantai. Dengan sekuat tenaga, Gw merangkul Adi dan memapah Adi untuk berjalan meninggalkan tempat jahaman ini.


Dilain sisi, Bu Yuni dan Bapak Gw masih disibukkan dengan suara cekikikan dari Yanti yang terus mengganggu mereka.


Kami berjalan pelan keluar dari ruangan itu. Karena suasana yang gelap membuat kami tidak kesulitan untuk melihat sehingga secara tidak sengaja, kami menabrak sebuah benda (rak piring) yang membuat suasana menjadi gaduh. Karena kerasnya benturan dengan rak piring itu membuat banyak piring yang terjatuh yang menimbulkan suara sangat berisik.


Bapak Gw : Heh.. mau kemana kaliannnnn? Jangan berani-berani kabur dari kami yahh!!!


Disaat yang bersamaan, muncul sesosok wanita berbaju putih, dengan mata yang tajam menatap ke arah Bapak Gw. Sesosok wanita itu cukup jelas terlihat karena tersorot api dari kayu yang dibakar oleh Bu Yuni.


Lama kelamaan, raut wajah sosok wanita itu terlihat jelas. Mukanya sangat menyeramkan, banyak belatung diwajahnya dan darahnya pun mengalir diantara sela-sela kulit wajah yang terkelupas. Ditambah lagi mata dari sosok wanita itu hampir terlepas dari tempatnya.


Penampakkan menyeramkan itu membuat Gw dan Adi ketakutan sekali, kami langsung merebahkan tubuh kami kelantai dan merayap kebawah meja yang ada diruangan itu.


Bu Yuni dan Bapak Gw pun terlihat sangat ketakutan sekali karena mereka berjalan mundur menjauhi sosok wanita itu yang rupanya adalah sosok dari Bu Minah.


Bapak Gw : Perrrgiiiii.. pergiiiii kau setannnnn jahanammmmmm..


Dengan rasa takut, bapak Gw mengambil kayu bakar yang masih menyala-nyala apinya dan dengan sekeras-kerasnya melempar kayu bakar itu kearah sosok Bu Minah yang berdiri melayang didepan Bapak Gw dan Bu Yuni.


Karena kerasnya lemparan kayu bakar itu, membuat terpental berbalik kearah Bapak Gw saat mengenai tembok. Kayu bakar itu tepat jatuh dibadan Bapak Gw yang membuat pakaian bapak Gw terbakar. Bu Yuni yang menyaksikan kejadian tersebut langsung monolong Bapak Gw dengan menyiramkan air ke tubuh Bapak Gw yang jatuh tergeletak dengan api yang semakin membesar sambil berteriak-teriak meminta tolong.

__ADS_1


Disaat api membakar tubuh Bapak Gw, tiba-tiba listrik menyala kembali dan Gw melihat dengan mata kepala Gw sendiri kondisi Bapak Gw yang sudah hampir terbakar sekujur tubuhnya.


Meski Bu Yuni berhasil memadamkan api yang membakar Bapak Gw, namun luka bakar yang dialami bapak Gw sudah cukup parah, dan Bapak Gw terus merintih kesakitan.


Saat Gw melihat ke arah Adi, Gw melihat Adi sudah memegang pisau sambil berusaha untuk berdiri.


Gw : Mau apa loe Di?


Adi : Gw mau bunuh Bapak Loe!!


Gw : Jangannnnnn Di!!!! Bapak Gw sudah tersiksa dengan luka bakar-nya!!! Biarkan dia hidup Di?


Adi : Laki-laki jahanam seperti dia tidak layak untuk hidup Bud!!!!


Gw mencoba menahan gerak langkah Adi dan hal itu membuat kami berkelahi memperebutkan pisau yang dipegang Adi. Namun, tenaga Adi cukup kuat membuat Gw jatuh tersungkur dan Adi pun berhasil menusuk perut Gw.


Darah segar pun mengalir dari perut Gw, rasa sakit pun tak dapat Gw tahan dan membuat Gw tergeletak dilantai dan tak mampu untuk berdiri lagi. Adi yang sudah bebas tanpa ada perlawanan dari Gw, berjalan mendekati Bapak Gw yang tergeletak di lantai sambil menahan sakit dan Bu Yuni pun terduduk disamping Bapak Gw sambil menangis.


Tanpa ba bi bu lagi, Adi pun langsung menancapkan pisau yang digenggamnya tepat dikepala Bapak Gw. Setelah pisau itu tertancap dikepala bapak Gw, Adi mencoba mengiris kepala bapak Gw hingga nyaris terbelah menjadi dua.


Setelah membunuh Bapak Gw, Adi menghampiri Bu Yuni yang sedang duduk ketakutan.


Bu Yuni : Ammmpuunnn... ampuuunii saya.... jangan bunuhhhhh sayaaaaa (sambil menangis).


Adi : Wanita jahanam sepertimu harus mati!!!! (Sambil membentak).


Bu Yuni : Ampunnnnn masssssss.. mas boleh minta apa saja asal jangan bunuh saya (sambil menangis). Kalau mas mau setubuhi aku juga aku rela mas..


Adi : cuuiihhhh (sambil meludah) tak ada nafsu sedikitpun untuk menikmati tubuh kamu (semakin emosi).


Adi langsung mengayunkan pisau yang masih dipegangnya kearah perut Bu Yuni, namun karena Bu Yuni menghindari mengakibatkan perut Bu Yuni hanya tersayat pisau yang dilayangkan Adi.


Sayatan pisau Adi membuat luka menganga di perut Bu Yuni, jeritan kesakitan pun terdengar cukup keras dari Bu Yuni. Namun Bu Yuni masih sempat bergerak mundur menghindari amukan Adi.


Gw yang tidak tahan melihat tindakan Adi yang begitu beringas, berinisiatif untuk melumpuhkan Adi. Gw ambil sebuah batu yang cukup besar namun masih dapat Gw genggam dengan satu tangan.


Gw berjalan tertatih-tatih menghampiri Adi sambil menyembunyikan batu yang Gw pegang dibalik badan Gw. Saat Adi sedang lengah karena fokus untuk membunuh Bu Yuni, Gw lemparkan batu yang Gw pegang dengan jarak yang cukup dekat ke arah kepala Adi.


Adi : Aaacckkkkkk.... aapaa-apaan kamu Bud? Apakah kamu juga bersekongkol dengan Bapak Kau? (Sambil memegang kepala).


Tanpa banyak bicara, Gw ambil batu yang Gw lempar dan langsung Gw lemparkan sekai lagi ke kepala Adi. Lemparan yang kedua membuat Adi jatuh tersungkur.


Gw : Maafkan Gw Di, Gw ga mau ada yang terbunuh lagi. Gw ga ada maksud membunuh loe tapi hanya membuat loe tidak berdaya saja (sambil menghampiri Adi yang sudah tergeletak lantai).


Gw berusaha membersihkan darah dan luka yang ada dikepala Adi, kemudian menyandarkan tubuh Adi ke kursi yang ada diruangan itu. Gw mencoba berjalan keluar ruangan namun yang Gw dapati hanya ada ruangan kosong. Gw benar-benar tidak tau sedang berada dimana. Karena kebinggungan, Gw kembali lagi keruangan tempat Bu Yuni dan Adi berada.


Gw : Ini dimana? (Tanya Gw ke Bu Yuni yang masih tergeletak dilantai sambil menahan sakit). Cepattt jawabbbb!!!!! Kalau Bu Yuni mau selamat, cepatttt jawabbbbbb!!!!!


Bu Yuni : Iii...ii..iniiii.. di..ba.. bawahhhh... tanahhhhhh... pi.. pintuuu.. keluuarrnya... aa.. adaaa.. di.. ruangan sebelah... Di.. disitu ..ada.. tangga kecil untuk naik ke atass.. (sambil terbata-bata).

__ADS_1


Gw pun bergegas menuju ruangan yang dimaksud dan memang benar. Diruangan tersebut ada tangga untuk naik ke atas. Gw segera naik keatas untuk keluar dari rumah Bu Yuni agar Adi dan Bu Yuni segera mendapatkan pertolongan.


TAMAT


__ADS_2