
Harti yang mendengar kita bercerita sampai beranjak keluar, penasaran.
Dilihatnya kita yang tengah berkumpul dan bercerita kisah horor.
Sesekali aku melihat kearah Harti. Matanya menerawang jauh, menelisik setiap jengkal lahan luas yang gelap.
"Assalamualaikum..." ucap Bowo yang baru datang. "Walaikumsalam..." jawab kita.
Bowo adalah orang yang polos dan setiap kata yang dia ucapkan membuat kita terpingkal.
"Wo, Kamu tahu? Rumah Kopel sebelah yang jauh di sana ada banyak pocong berkerumun?" tanya Parmin. Bowo lantas duduk disebelahnya.
"Iya tahu. Mereka berkerumun karena ada hajatan!" jawab Bowo sambil menyeduh kopi.
Kita yang mendengar mulai tertawa kecil.
"Hajatan apa Wo?" tanyaku dengan nada tinggi, seolah percaya dan kaget dengan apa yang Bowo ucapkan.
"Tuyul Sunatan!" jawab dengan wajah polosnya sambil menyeruput kopi.
Sehabis bertanya aku menyeruput kopi. Belum tertelan, aku mulai memuncratkan kopi. Untung kebawah, kalau tidak bisa-bisa kena muka Parmin.
Sedangkan Harti menggelangkan kepala dan melangkah masuk.
"Lah, kalau tuyul sunat, yang nyunatin siapa?" tanyaku setengah tertawa.
Bowo nunjuk kearah Parmin.
Muka Parmin ketakutan. Sambil tertawa kita mendorong tubuh Parmin seraya berucap,
"Udah Min, sana kamu sunatin dulu tuh Tuyul,"
"Bercandanya jangan ginilah, Aku takut," ucap Parmin dengan wajah yang memucat.
Kita melepaskannya. Parmin kembali duduk dan agak jauh dari tempat Bowo duduk.
"tetapi Wo, kata Parmin di sana kok banyak pocong?" tanya Pak Sardi setengah teriak.
Kita tertawa kecil. Sedangkan wajah Parmin terlihat suram.
"Iya, karena pocong duluan yang datang dan mereka sedang mengantri prasmanan," jawab Bowo yang tengah merokok sambil mengeluarkan asapnya 'pus...'
Kita tertawa terpingkal, begitu juga Parmin.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Mereka pun akhirnya pamit untuk pulang kerumah mereka masing-masing.
Suatu malam kami menghadiri kumpulan keluarga asal Jawa Tengah.
Setelah selesai acara kumpulan, kita biasa meluangkan waktu main remi (no money, hanya permainan biasa untuk membuang rasa jenuh).
Tak terasa, jam menunjukan pukul 2 pagi dan kami pamit untuk pulang.
Ditengah jalan kami dihadang sekawanan **** Hutan.
Motor sengaja aku pelankan karena takut.
di antara para **** ada yang bertubuh paling besar, bulu surainya panjang dan berwarna pirang. tampak jelas karena malam ini terang Bulan.
Terlihat wajah Harti memucat.
Kita berdoa, supaya mereka tak menggagu.
Mereka keluar hutan mungkin untuk mencari makan diwilayah warga.
Alhamdulillah, ternyata mereka tak menggagu. Seolah tak melihat keberadaan kami.
Waktu jagoan kecilku berumur 2 bulan, ada tetangga agak jauh main kerumah untuk mengajakku main kerambol. Dengan senang hati aku meladeni ajakannya.
Pukul 9 malam, tak ada sesiapa pun yang datang selain suara sayup-sayup yang terdengar. Entah suara apa, yang jelas kami tak meladeni suara tersebut karena saking fokusnya bermain.
Tak lama Harti keluar,
"Mas mengapa nyalahin radio kencang banget, ini kan sudah malam," ucapnya setengah teriak.
Aku dan tetangga (Waryo) saling menatap mata. kami tak mengerti mengapa Harti berkata seperti ini, sedangkan sedari tadi kami hanya bermain kerambol.
"Bukannya kamu yang nyalain Radio? Radio kan ada dikamar?" tanyaku penasaran.
"Tadi aku sedang di WC, bukannya Mas yang menyalakan Radio? Harti tanya balik.
"Sedari tadi aku belum beranjak dari tempat duduk," jelasku.
Suasana menjadi hening, kita terdiam untuk sesaat.
Wajah Harti mulai memucat.
__ADS_1
Kita terdiam untuk sesaat.
"Tadi aku dengar ada suara orang tengah berjalan dibelakang kamar mandi. Seperti orang tengah membawa Radio, tetapi suaranya Radio malah datang dari arah kamar," ucapnya lirih.
Belakng kamar mandi ada jalan setapak. Jalannya ditumbuhi rerumputan yang tinggi. karena itu jalanan tersebut tak pernah dilalui sama orang.
Dengan sedikit rasa takut, Harti memberanikan diri masuk kedalam kamar.
Dia heran, ketika melihat bacaan ayat Qursiy yang dipajang di atas almari tertelengkup.
Harti keluar kamar. Dia berjalan cepat menuju gudang untuk mengambil paku dan palu.
Setelah apa yang dia cari sudah dia dapatkan. Dia langsung balik ke kamar dan memasangnya. memaku bacaan ayat Qursiy dikeempat sudutnya, "Dog... Dog... Dog."
Mendengar Harti yang berisik. Aku teriak,
"mengapa gak besok aja?"
"Setannya udah berani masuk," jawab Harti dengan nada teriak.
Kami saling menatap. Kami tertawa kecil mendengar apa yang Harti ucapkan.
Beberapa hari telah berlalu.
Sore ini ada yang berkunjung.
3 guru, 1 mantri dan satunya lagi orang yang mengantar guru. Total 5 orang berkunjung, ditambah kami jadi kita sekarang bertujuh.
Sementara sikecil, kami biarkan dikamar.
Kita ngobrol didepan. Didepan ada kursi panjang yang mampuh menampung 5 orang.
Sebagai Tuan Rumah kami mempersilahkan mereka duduk, sementara kami sendiri memilih untuk berdiri.
Kita berbincang masalah daerah kita ini.
Sebentar lagi magrib, tetapi ditengah asiknya kita mengobrol... Terlihat ada balon besar terbang keudara, warnanya oranye.
Kita terdiam dan menatap kearah balon tersebut.
Lirih berucap salah satu dari kita,
" Balon dari mana kok gak meletus? Bukannya di sana ada rumput tinggi dan banyak alang-alang?"
Balon itu naik keangkasa dan "blem... Pretek pretek," terjatuh seperti ledakkan. Kopel berguncang seperti gempa.
Kita memegang apa yang kita dapat.
karena panik, aku tak sengaja memegang Bu Erni. Bu Erni menatapku, kami saling menatap.
Tiba-tiba telinga terasa panas.
Rupanya Harti sedang menjewer telingaku.
Kita tertawa, Harti melakukan itu juga dengan unsur bercanda. 'katanya'
"Bercanda si bercanda, tetapi kok telingaku sakit beneran," gumamku dalam hati.
Sementara ledakkan tersebut membakar yang ada disekitar.
Kebakaran?
Kita berdiri untuk memastikan. tetapi, tak ada api sedikitpun, seolah api besar tersebut padam dengan sendirinya.
Suasana langsung hening. Kita berusaha mencerna masing-masing tentang apa yang sempat kita lihat.
"Duh, takut. Itu apa ya?" tanya Bu Erni..
"Mirip Kemangmang?!" kita bergumam.
"Berarti bukan balon? Bola api? Atau sihir?" tanya Bu Erni ketakutan.
Sontak, kita berlarian. Kita masuk kekopel masing-masing.
Aku dan Harti masuk ke kopel dengan perasaan bimbang.
Kami kekamar dan Harti langsung mendekap anaknya. Harti ketakutan!
Keesokan pagi kami bertanya kepada warga sekitar. tetapi tak ada dari mereka pun yang tahu, apa lagi mendengar.
Beberapa bulan kemudian...
Warga Jawa Tengah mendapat pinjaman Gamelan dari Pemda setempat.
Rencananya mau diadakan ketoprak.
__ADS_1
Gamelan disimpan dalam gudang kopel sebelah yang berada didepan.
Kopel yang ditempatin Guru jadi makin ramai.
Melihat ramainya Kopel membuatku tak takut meninggalkan Harti dan Joko (Anak Kami) yang kala itu ada tugas yang lumayan jauh. Karena, hampir menempuh 2 hari untuk pulang-pergi.
Setelah magrib, warga baru memulai latihan ketoprak.
Harti merasa tenang karena banyak warga hilir mudik didepan kopel.
Ada yang bertugas sebagai pemain, nayaga atau cuma penonton biasa.
Gamelan mulai dipukul, bunyinya yang asal-asalan dan tak selaras dengan gerakan warga yang sedang latihan.
Canda gurau terdengar. Mereka menertawai pemain gamelan yang memang belum piawai memainkannya.
Kala itu suasana seperti pasar malam. Ramai lampu petromax menerangi setiap sudut kegelapan.
Hampir setiap malam warga berlatih karena ingin acara yang digelar nanti bisa sesempurna mungkin.
Warga libur kalau malam jumat. Karena, adanya acara yasinan rutin yang selalu diselenggarakan.
Sebenarnya acara ini adalah acara untuk menyambut Bapak Bupati yang akan berkunjung 2 bulan lagi.
3 minggu berlalu.
Sepulang hari itu, aku tak pergi lagi. Karena, berniat untuk menemani Harti dan Joko.
Dari arah gudang... Terdengar sayup suara gamelan.
Harti bergumam dalam hati,
"ini kan masih sore, jadi tak mungkin ada yang memainkan."
Harti langsung membangunkanku yang tengah tertidur.
"Mas, kamu dengar tidak ada suara gamelan?" tanya Harti lirih.
Sedangkan aku masih belum sepenuhnya sadar.
Aku menguap sambil mengusap mata melihat kearahnya.
"Sebenarnya siapa yang mainin? Sedangkan sedari tadi tak ada satu orang pun yang lewat. Pintu juga masih terkunci!" jelas Harti.
Namun aku masih terbengong melihatnya.
Harti penasaran, tubuhku ditarik olehnya untuk segera bangun dari tempat tidur.
Setengah sempoyongan aku berjalan. Sementara Harti hanya memandangiku lewat jendela.
Matahari masih bersinar terang. karena, waktu masih menunjukan jam 4 sore.
Benar apa yang dia ucapkan. Terdengar lirih suara gamelan. Suaranya merdu seperti ada orang profesional yang memainkannya.
Suaranya terdengar lirih, namun dekat dan terkadang suaranya terdengar jauh.
Aku pegang penyanggah tangga dengan kedua tangan, sambil menuruni anak tangga.
Sesampainya di bawah aku diam untuk sesaat. Aku berbalik kebelakang. Terlihat wajah Harti pemasaran. Aku tersenyum kepadanya dan berucap, "Oke," sambil melingkarkan jari telunjuk dengan jempol.
Aku berjalan dan berjalan...
Sesampainya digudang, terlihat gembok yang masih mengunci. tetapi penasaran karena suara tersebut terdengar dari dalam.
Daun pintu ku pegang, "ceklek... Ceklek..." ternyata tidak terbuka.
(Aku: ngapain sampai mastiin membuka pintu dengan daun kunci. Bukannya sudah terlihat kalau pintunya digembok?
Narasumber: Aduh, namanya juga buat mastiin. Lagian aku juga masih setengah mengantuk hehee)
Suara gamelan memang berasal dari dalam. Aku dekatin telinga, suaranya tak kunjung berhenti.
"Biarlah, mungkin mereka sedang senang," gumamku dalam hati.
Aku berbalik dan kembali menemui Harti yang menunggu jawaban.
Sesampainya didepan Harti dia bertanya,
"Benarkan pintunya terkunci?" "dia dan tak ada orang," jawabku dan kita terdiam sejenak.
Seketika, suara tersebut langsung berhenti.
Suara gamelan tak terdengar lagi.
#Bersambung... .
__ADS_1